google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Ada Kepentingan Di Balik Konflik Puan vs Ganjar

Konflik Ganjar vs Puan Maharani

Konflik yang terjadi di dalam internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) semakin santer diperbincangkan. Kini, konflik itu semakin memojokkan posisi Ganjar Pranowo di dalam partai. Pasalnya, tidak hanya Puan Maharani yang sebelumnya menyindir Ganjar dalam pidato, namun hal itu diikuti oleh rekan-rekan Ganjar yang semakin keras menyuarakan pernyataan nyelekit di media massa. Bahkan, ada yang secara terang-terangan meminta agar Gubernur Jawa Tengah itu untuk meninggalkan PDIP. 

Ganjar pun akhirnya memberikan respon atas omongan panas yang dikeluarkan rekan-rekannya tersebut. Dirinya kemudian lebih memilih untuk menyerahkan penyelesaian dari masalah ini kepada Megawati Soekarnoputri. Menariknya, sampai detik ini Megawati belum menyampaikan klarifikasi sama sekali mengenai situasi yang terjadi di internal PDIP terkait Ganjar Pranowo. 

Saat dimintai tanggapannya lebih lanjut, Ganjar enggan menjawab pertanyaan wartawan. Dirinya lebih memilih untuk memfokuskan diri pada penanganan wabah pandemi Covid-19. 

“Saya masih berkonsentrasi untuk menangani wabah Covid. Rakyat saat ini masih memerlukan bantuan dan perhatian. Untuk masalah seperti itu, biar itu urusan Ketua Umum,” jawab Ganjar. 

Megawati pun dituntut untuk bisa segera turun tangan dan menyampaikan pernyataan ke publik. Pasalnya, jika Megawati tetap mendiamkan permasalahan ini, maka bisa berdampak pada posisi PDIP dalam menghadapi Pilpres 2024 mendatang. Spekulasi publik akan terus bermunculan dan akan semakin mudah untuk menghakimi. Apalagi, sosok Ganjar di PDIP itu juga memiliki jumlah pendukung yang tidak bisa disepelekan begitu saja, khususnya untuk wilayah Jateng yang selama ini dikuasai oleh PDIP. 

Akan tetapi, popularitas dan kesuksesan Ganjar hingga menjadi Gubernur Jawa Tengah sekarang ini, disebutkan tidak lepas dari sosok Puan Maharani. Hal ini disampaikan oleh Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul. 

Bagi Bambang, Puan itu telah menjadi sosok panglima tempur yang memiliki tugas meningkatkan elektabilitas Ganjar yang saat itu masih kecil saat menjelang Pilgub Jateng 2013 silam. 

“Saat itu kalau tidak salah elektoralnya Ganjar masih 3 persen, dan itu mohon maaf saya jelaskan, yang menjadi panglima tempurnya Jateng, komandan tempurnya itu namanya Puan Maharani,” kata Bambang. 

Disebutkan juga oleh Bambang bahwa Puan begitu bekerja keras selama kurang lebih 3,5 bulan untuk bisa mendongkrak elektabilitas Ganjar, sampai akhirnya berhasil memenangkannya di Pilgub Jateng 2013. 

Serangan ke Ganjar Telah Direstui

Melihat Ganjar yang begitu tersudutkan oleh rekan-rekannya sendiri di PDIP, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga mengatakan hal yang cukup mengejutkan. Menurutnya, serangan-serangan keras ke Ganjar itu telah mendapatkan restu dari Puan Maharani, dan tentu saja Puan juga mendapatkan restu dari Megawati. 

“Tanpa restu Megawati, tampaknya Puan tidak akan menjadi nekat seperti itu. Kenapa demikian? Karena Megawati menjadi pusatnya PDIP. Kalau Megawati mengatakan hitam, maka akan hitamlah hingga ke bawah,” kata Jamiluddin.

Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri

Jadi terkait apa yang dihadapi oleh Ganjar, akan sangat tidak mungkin dan tidak bisa dibayangkan apabila ada kader partai yang nekat dengan berani menyerang kader sesama partai lainnya tanpa mendapatkan restu dari Megawati. Hal inilah yang nantinya akan menjadikan Bambang Pacul untuk terus menyerang Ganjar. 

Dirinya menilai bahwa serangan terhadap Ganjar baru akan berhenti kalau Gubernur Jawa Tengah itu mengurungkan niat untuk maju sebagai Calon Presiden di Pilpres 2024. Sebab apa yang dilakukan Ganjar itu menjadi penghalang bagi Puan untuk maju sebagai Capres dari PDIP yang menjadi rencana partai sudah sejak lama.

“Kalau Ganjar mundur, maka niat mengantarkan Puan jadi terbuka lebar. Hal itulah yang tampaknya jadi rencana yang telah disiapkan sejak lama. Itu artinya, tidak boleh ada kader lain yang menjadi penghalangnya, siapa pun itu pasti akan dilucuti termasuk Ganjar,” tambah Jamiluddin. 

Elektabilitas Ganjar Makin Moncer

Perseteruan antara Ganjar dengan Puan Maharani dipandang akan memberikan dampak buruk terhadap citra PDIP. Namun sepertinya hal itu justru tidak akan memberikan dampak buruk terhadap Ganjar. Elektabilitas Ganjar dalam survei terakhir bahkan menunjukkan telah mengalami kenaikan cukup drastis. 

Hal ini pun memunculkan anggapan bahwa konflik antara Ganjar dengan Puan memang telah disengaja atau diatur untuk kepentingan tertentu.

Hasil dari survei yang dilakukan oleh Y-Publica menyebut bahwa elektabilitas Ganjar mampu menembus angka 20,2 persen. Ini adalah pencapaian terbaik sejak survei yang diadakan bulan Maret 2020 lalu. Bahkan angka itu mampu mengungguli Prabowo Subianto yang selama ini terus berada di posisi teratas sejumlah survei Capres. 

Sebagai informasi, elektabilitas Prabowo dalam survei Y-Publica itu sebesar 16,7 persen yang disusul setelahnya oleh Ridwan Kamil dengan persentase sebesar 15,9 persen. Menariknya, elektabilitas Puan Maharani sendiri mengalami penurunan. Besaran elektabilitas Puan bahkan tidak sampai 1 persen, yakni di angka 0.7 persen. Posisi itu tidak pernah bergerak naik, dan cenderung tetap berada di papan bawah.

Puan Atau Ganjar Lebih Layak Nyapres?

Meski dari sejumlah hasil survei nama Puan kurang begitu menarik, namun pihak PDIP kerap menggembar-gemborkan bahwa Puan paling layak untuk maju ke Pilpres 2024. Sementara Ganjar cukup moncer di hasil sejumlah survei. 

Lalu siapa yang lebih layak untuk maju nyapres di antara keduanya?

Sejumlah pendapat pun muncul dengan beragam pandangan yang berbeda mengenai siapa yang lebih layak untuk maju di Pilpres antara Puan ataukah Ganjar Pranowo. Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing misalnya yang menilai bahwa Puan lebih layak untuk diusung mengikuti bursa Capres-Cawapres di 2024, daripada Ganjar. 

Bagi Emrus, Puan selama ini telah memiliki rekam jejak yang sangat mumpuni untuk diperhitungkan dan maju menjadi calon presiden dari PDIP. Emrus mencontohkan hal ini di kala Puan menduduki jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dalam menjabat, tidak ada masalah yang berarti yang dialami oleh Puan.

Elektabilitas dan Popularitas Puan Maharani

Sementara itu pandangan berbeda disampaikan oleh Ketua Aktivis 98 Immanuel Ebenezer atau yang kerap disapa Noel itu. Menurutnya, sosok Ganjar dia anggap memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan tokoh-tokoh lain, termasuk Puan Maharani. 

Noel menilai bahwa Ganjar mampu untuk berdiri di berbagai entitas, baik itu nasionalis, religius maupun milenial. Dia menyamakan sosok Ganjar seperti Bung Karno dan Jokowi. Selama ini Ganjar dianggap bisa dekat dengan rakyat kecil layaknya Soekarno dan cukup matang dalam mengelola birokrasi mirip Jokowi. 

“Seperti Bung Karno, Ganjar dekat dengan wong cilik dan mampu fokus dalam memikirkan pembangunan kualitas manusia. Ganjar juga matang dalam hal birokrasi seperti Jokowi. Beliau begitu paham mengurusi rakyatnya dan tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada,” kata Noel. 

Oleh karena itu, dirinya begitu yakin bahwa PDIP pada akhirnya akan menunjuk Ganjar untuk maju di Pilpres 2024, meskipun sekarang ini internal partai sedang tidak kondusif karena adanya konflik Ganjar dengan Puan. Namun hal tersebut dinilai Noel hanya bagian dari dinamika politik semata, dan Megawati tentu memiliki kecerdasan dalam mengeksekusi keputusan politik yang tepat. 

Mungkin sosok Puan Maharani tidak begitu mendapatkan nilai apik dalam elektabilitas Capres belakangan ini. Namun nama Puan rupanya cukup kuat untuk posisi Cawapres, seperti yang diungkap dari hasil survei Y-Publica. 

Nama Puan mampu mencapai angka 16,2 persen untuk survei Calon Wakil Presiden dibandingkan nama-nama populer lainnya. Itu karena nama-nama Cawapres tersebut diambil dari mereka yang cenderung ada di luar empat besar nama seperti Ganjar, Prabowo, Ridwan Kamil dan Anies Baswedan. Sementara nama Puan berada di urutan setelahnya, lebih unggul dari Sandiaga Uno di angka 15,6 persen dan juga Agus Harimurti Yudhoyono di angka 10,1 persen.

“Di antara tokoh-tokoh yang kurang diunggulkan sebagai calon presiden, nama Puan merupakan kandidat paling kuat di bursa cawapres,” ungkap Direktur Eksekutif dari Y-Publica Rudi Hartono. 

Kejanggalan Konflik Ganjar vs Puan

Disinyalir, di balik konflik antara Ganjar dengan Puan Maharani itu menyimpan maksud tersembunyi, yang sebenarnya bagian dari strategi yang telah disiapkan oleh PDIP. Hal ini diutarakan oleh Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona.

Menurutnya, apa yang sedang terjadi ini adalah “bunuh diri palsu”. Dirinya melihat sejumlah kejanggalan dari perseteruan yang sedang dipertontonkan oleh Ganjar, Puan dan PDIP. Pasalnya, sebelum masalah ini mencuat dan menghebohkan, Ganjar melakukan pertemuan khusus dengan Megawati beberapa hari sebelum akhirnya ramai-ramai diserang rekan satu partainya.

Ganjar Pranowo Temui Megawati

“Hanya dalam hitungan hari, Ganjar justru diserang oleh Puan dan kader PDIP lainnya dengan pernyataan-pernyataan yang sangat beringas. Lalu ada peristiwa Ganjar yang tidak diundang oleh Puan dalam hajatan partai di wilayah yang dia pimpin. Hal ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada koordinasi sebelumnya. Artinya kasus ini hanya permainan drama politik yang bertujuan menaikkan popularitas PDIP dan dua tokoh yang berpeluang untuk direkomendasikan oleh Megawati di Pilpres 2024 mendatang,” kata Mikhael. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Pemerintahan Unpad Professor Muradi, bahwa memang ada strategi politik yang dijalankan oleh PDIP. Menurutnya, partai sekelas PDIP tentu sudah memilih protap dan mekanisme sendiri dalam menentukan siapa yang akan menjadi Capres. 

Dia begitu yakin bahwa Ganjar tidak akan keluar meninggalkan PDIP, dan begitu juga sebaliknya partai dengan julukan Moncong Putih itu tidak akan menendang kadernya sendiri, apalagi sosok Ganjar cukup menonjol. 

Muradi menduga bahwa konflik ini memang sengaja dimunculkan oleh PDIP sebagai bentuk testing water, untuk mengetahui posisi Ganjar di mata publik. 

“Apakah Ganjar hanya sebatas populer di media daring atau mungkin memang benar-benar diperhitungkan,” tutur Muradi. 

Tak Pernah Berseteru Dengan Puan

Meskipun begitu ramai diperbincangkan dan diserang oleh Puan maupun kader PDIP lainnya, Ganjar Pranowo mengaku tidak pernah memiliki perseteruan dengan Puan. 

“Sampai hari ini saya tidak pernah berkonflik dengan Puan, baik-baik saja semuanya, bahkan pada saat saya sowan Ibu Megawati untuk halalbihalal, Mbak Puan juga ada di sana dan kami pun sempat bercanda,” terang Ganjar saat menanggapi polemik yang ada.