google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Adu Politik Giring vs Anies, Warganet Sorot Giring Pernah DO

Giring Ganesha Ketua Umum PSI Pernah DO Dua Kali

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha selama ini kerap melayangkan kritikan sangat pedas kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam berbagai kesempatan. Sebelumnya, Giring viral lantaran menyebut Anies sebagai Gubernur pembohong dan baru-baru ini dia kembali menghebohkan publik dengan kritikan kepada Anies lagi. 

Kali ini kritikan itu dilontarkan Giring pada acara puncak Hari Ulang Tahun ke-7 PSI pada hari Rabu tanggal 22 Desember 2021 lalu. Dalam pidatonya di acara tersebut, Giring menyindir Anies Baswedan. Video pidato Giring itu pun kemudian viral dan kembali menyita perhatian publik. 

Sayangnya, publik kali ini bukannya memberikan simpati kepada Giring atas sindirannya terhadap Anies, namun cenderung tidak setuju dengan apa yang diucapkan Ketua Umum PSI tersebut. Giring pun menjadi bulan-bulanan warganet di sejumlah media sosial. 

Karena merasa mulai muak dengan tindakan Giring yang terus-menerus melontarkan kritikan, sementara Giring sendiri dianggap tidak banyak pengalaman dalam politik dan pemerintahan, warganet pun mulai mengorek-ngorek latar belakang Giring. 

Seorang warganet mengunggah latar belakang pendidikan pria bernama lengkap Giring Ganesha Dumaryo tersebut, yang diketahui pernah menimba ilmu di Universitas Paramadina. Dalam status unggahan itu, Giring tercatat mengambil S1 jurusan Ilmu Hubungan Internasional. 

Cuitan itu juga membagikan tangkapan layar dari data yang ada di situs pddikti.kemendikbud yang menuliskan bahwa Giring adalah seorang mahasiswa pindahan. Menariknya, pada kolom status mahasiswa saat ini, tertulis Giring telah dikeluarkan dari Universitas itu. 

Unggahan itu kemudian mendapatkan tanggapan dari pengguna lainnya. Akun tersebut lantas juga membagikan profil dari Anies Baswedan dengan halaman yang sama, di mana Anies ternyata juga memiliki hubungan dengan kampus Universitas Paramadina. Giring dan Anies juga tercatat pada program studi yang sama di Ilmu Hubungan Internasional. Perbedaannya adalah, Anies statusnya di Universitas tersebut adalah sebagai rektor dan dosen tetap. 

Warganet pun kemudian menghubung-hubungkan mengapa Giring begitu getol dalam memberikan kritikan kepada Anies, dengan masa lalunya saat menimba ilmu di Universitas Paramadina. Warganet menilai, Giring memiliki dendam tersendiri kepada Anies, karena telah dikeluarkan dari kampusnya oleh Anies. 

Giring Dua Kali DO

Kabar mengenai Giring yang dikeluarkan dari Universitas Paramadina itu lantas menjadi viral, mengalahkan hebohnya kabar saat Giring mengkritik Anies ketika acara ulang tahun PSI. Hingga akhirnya, pihak kampus pun mengklarifikasi mengenai kabar tersebut. 

Wakil Rektor Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda mengkonfirmasi bahwa Giring Ganesha memang pernah menimba ilmu di kampusnya. Fatchiah juga tidak menampik bahwa Giring statusnya sudah dikeluarkan dari universitas itu, bahkan dijelaskan lebih lanjut ternyata Giring telah dinyatakan putus studi atau drop out sebanyak dua kali. 

Fatchiah kemudian menjelaskan, bahwa dikeluarkannya Giring dari kampus tersebut diketahui karena ada beberapa hal yang menjadi alasannya. 

“Iya drop out, tidak menyelesaikan studi ya, ya karena banyak hal lah ya,” ujar Fatchiah saat memberikan keterangan. 

Secara lebih jelas, Fatchiah memaparkan bahwa Giring mendaftar di Universitas Paramadina pada tahun 2002 silam, di mana saat itu dia memilih menimba ilmu ke jurusan Hubungan Internasional. Kemudian pada tahun 2011 Giring drop out dari kampus. Namun Fatchiah tidak tahu persis secara mendetail kenapa Giring putus studi saat itu. Dirinya memperkirakan bahwa putus studi Giring itu dikarenakan dirinya sibuk dengan band Nidji-nya. 

Meski statusnya dikeluarkan, Fatchiah tidak melihat dan mendengar mengenai ada tidaknya catatan buruk yang pernah dilakukan Giring saat menjadi mahasiswa Universitas tersebut. Dia justru mengatakan bahwa Giring sebenarnya sangat aktif dalam perkuliahan di awal dia masuk. 

“Giring itu pernah mendaftar ke kampus ini pada tahun 2002 pertama kali mendaftarkan diri. Tapi memang dia tiap menyelesaikan studinya ya, karena memang waktu itu kan dia sedang aktif sekali ya sama bandnya. Kalau saya tidak begitu mengenal anaknya, tapi dia aktif sebagai mahasiswa sesuai aturan. Cuma waktu menyelesaikan studinya itu yang agak ini ya,” kata Fatchiah menjelaskan bagaimana Giring saat menimba ilmu di Universitas Paramadina. 

Setelah DO, Giring kemudian kembali mendaftar di Universitas Paramadina lagi pada tahun 2017, dengan jurusan yang sama. Sayangnya dia kembali mengalami putus studi pada tahun ajaran 2020/2021. 

“Memang mungkin ada alasan lainnya ya, sehingga baru semester tidak aktif lagi dia. Jadi akhirnya ada Surat Keputusan keluar pada semester genap 2020/2021 untuk status pemberhentian dia sebagai mahasiswa di Paramadina,” tambah Fatchiah. 

PSI Heran Latar Belakang Pendidikan Giring Diviralkan

PSI mengaku sangat heran dengan viralnya latar belakang pendidikan Giring yang statusnya DO dua kali dari Universitas Paramadina. Juru Bicara PSI Ariyo Bimmo berharap bahwa manuver politik yang dilakukan oleh Giring, seharusnya ditanggapi secara proporsional, dan tidak malah menyerang secara pribadi. 

“Saya jadi heran kenapa tanggapan yang muncul menjadi ad hominem? Mengapa tidak didebat saja argumentasi dari PSI mengenai pemimpin 2024? Apakah ini karena apa yang disampaikan oleh Giring tidak lagi bisa dibantah dengan jawaban yang lebih relevan, sehingga harus masuk ke sisi seperti ini?” ucap Ariyo kepada awak media. 

PSI juga mempertanyakan, apakah seseorang yang tidak selesai dalam menjalani pendidikan di masa kuliah dilarang untuk menjadi pemimpin. Menurut Ariyo antara latar belakang pendidikan dengan kepemimpinan seseorang itu tidak selalu berkorelasi. Apalagi ternyata status DO Giring itu diberikan karena yang bersangkutan memilih karirnya di industri musik. 

Dia kemudian membandingkan dengan mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang diketahui juga tidak menyelesaikan pendidikannya. 

“Ketika itu juga aktivitas musik dan band Giring sedang banyak-banyaknya. Jadi ya wajar ketika anak muda sudah mengenal uang, popularitas dan mandiri harus memilih mana yang diprioritaskan. Pilihan hidup semacam ini adalah hal yang wajah di kehidupan kaum muda. Mark Zuckerberg saja yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia juga pernah mengalami DO, Bill Gates juga pernah. Lantas tidak ada juga yang bilang Zuck dan Gates itu orang bodoh, itu karena mereka memiliki prioritas sendiri,” tambah Ariyo. 

Anies Baswedan dan Serangan Bertubi-Tubi dari PSI

Gaya Politik PSI Yang Kerap Serang Anies

Nama Giring dan Anies Baswedan selama ini memang seringkali muncul dalam pemberitaan media untuk urusan politik. Namun itu bukan karena hubungan keduanya yang harmonis, melainkan karena Giring dan juga partainya seringkali melontarkan sindiran keras kepada Anies di media publik. 

Giring sendiri pernah mengaku bahwa dirinya dan PSI tidak akan pernah melakukan kompromi terhadap pihak-pihak yang mencoba menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisi politiknya. Termasuk mereka-mereka yang biasanya memperalat agama, menggandeng kelompok yang intoleran agar mereka memenangkan kontestasi politik, dan menjatuhkan lawan dengan cara yang tidak beretika. 

Giring bahkan pernah bersesumbar bahwa partainya siap untuk menjadi pihak oposisi apabila figur semacam itu terpilih menjadi presiden nantinya. Sementara itu Ketua DPP PSI Isyana Bagoes Oka enggan untuk menyebutkan siapa sosok yang disinggung oleh Giring tersebut, dan mengembalikan kepada penafsiran publik. 

Isyana hanya menegaskan bahwa sebenarnya apa yang disampaikan Giring selama ini dengan kritikannya itu, karena tidak ingin persatuan Indonesia menjadi korban. Karena saat ini memang sudah banyak pihak yang mencoba menghalalkan segala cara untuk berpolitik, demi menjadi penguasa namun tidak peduli rusaknya hubungan antar anak bangsa. 

Manuver Politik PSI

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai bahwa gaya politik Giring dan PSI yang kerap mengkritisi Anies Baswedan adalah strategi untuk bisa mendapatkan suara dari kelompok yang selama ini juga tidak suka dengan Anies. Kemungkinan juga, karena masih adanya dendam karena Anies telah berhasil mengalahkan Ahok pada kontestasi Pilgub DKI Jakarta sebelumnya. 

Menurutnya, langkah PSI itu tidak akan cukup untuk meningkatkan elektabilitas partai di Pilpres 2024 mendatang, karena masih ada banyak faktor lain yang perlu dibereskan oleh Giring dan rekan-rekannya. Oleh karenanya, bisa saja apa yang dilakukan PSI bisa menjadi bumerang tersendiri karena menunjukkan politik permusuhan. 

Giring seharusnya bisa memilih untuk berpolitik dengan berbagi atau menyampaikan gagasan untuk membangun Indonesia, bukan malah terus melakukan serangan terhadap lawan politiknya, yang pada akhirnya membuat publik menjadi tidak simpatik. 

Kader Partai Solidaritas Indonesia

Makin Diserang Anies Makin Melejit

Ketika PSI begitu gencarnya menyerang Anies, namun di sisi lain Gubernur DKI Jakarta itu terlihat tidak begitu ambil pusing. Pakar politik Muhammad Qodari mengatakan memang menjadi seorang pemimpin itu harus siap untuk menghadapi kritikan. Dia berpendapat, justru seperti Anies Baswedan yang terus mendapatkan serangan politik dari PSI tidak akan banyak memberikan pengaruh, dan bisa saja popularitas Anies malah semakin meningkat.

Menurut Qodari, saat ini pemilih di Indonesia terbagi dalam dua kategori, yakni mereka yang memiliki pertimbangan rasional dan mereka yang memilih dengan melihat identitas. Bagi mereka yang memiliki pertimbangan rasional, bisa saja lantas sependapat dengan PSI, namun mereka yang melihat identitas, akan semakin kuat dukungannya terhadap tokoh politik yang diidolakan ketika mendapatkan serangan dari lawan politiknya.

“Kecenderungannya adalah, pemilih yang berdasarkan identitas itu justru ketika diserang, malah makin cinta dan kuat. Dan itu yang ingin saya sampaikan bahwa ketika PSI menyerang, sesungguhnya itu bisa jadi membuat para pendukung Anies semakin kuat dan solid, atau bahkan bertambah banyak,” ungkapnya. 

Namun kemungkinan lainnya adalah bisa saja dua pihak yang saling beradu itu sama-sama akan mendapatkan kenaikan popularitas, dan sama-sama diuntungkan. Ini merupakan sebuah dinamika dalam perpolitikan, dan juga telah sering terbukti pada pengalaman dan kasus yang ada sebelumnya.