google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Aksi Reuni 212 Dibubarkan Karena Tak Berizin, Panitia Pilih Gelar Diskusi dan Acara Virtual

Massa Aksi Reuni 212 Hendak Menuju Kawasan Patung Kuda

Aksi Reuni 212 yang seharusnya digelar di Patung Kuda, Jakarta Pusat akhirnya batal. Hal ini setelah aparat kepolisian dan juga TNI melakukan blokade di sejumlah jalan dan meminta massa yang hendak melakukan aksi untuk mundur dan pulang ke rumah masing-masing. Meski acara tersebut batal, sejumlah peserta aksi yang masih bertahan berkumpul di Masjid Nurul Islam, Rawabogo, Bekasi dan menggelar acara dialog bersama ulama. 

Acara dialog yang dihelat di Aula Lantai 1 Masjid Nurul Islam itu berlangsung hingga menjelang maghrib, sekitar pukul 18.00 WIB. Meski demikian, peserta dialog tersebut tidak begitu banyak, karena dari pihak panitia memutuskan untuk menyelenggarakan acara tersebut secara terbatas. Para peserta yang diizinkan ikut adalah mereka yang telah mendapatkan undangan khusus dari PA 212. 

Sementara itu untuk masyarakat umum, diberikan acara tersendiri yang berbeda yakni Silaturahmi dan Dialog 100 Ulama, Habaib dan Tokoh Nasional dengan tajuk ‘Bersama Mencari Solusi Untuk Keselamatan NKRI’. Acara ini digelar secara virtual dan peserta bisa mengikuti dengan cara menonton dari kanal Youtube. 

Sebelumnya, acara tersebut sebenarnya telah direncanakan untuk digelar di Masjid Az Zikra, Sentul, Bogor. Sayangnya, acara tersebut batal digelar di tempat tersebut, karena Yayasan Az Zikra sedang dalam suasana berkabung. Oleh karena itu kemudian panitia memilih Masjid Nurul Islam sebagai lokasi dialog yang baru. 

Dijelaskan bahwa hanya Masjid Nurul Islam yang berani menerima digelarnya acara tersebut, karena tempat lain dikatakan telah didatangi pihak-pihak tertentu. 

“Karena yang mau menyanggupi hanya pihak Masjid Nurul Islam saja. Sementara yang lainnya tidak berani karena sudah didatangi oleh pihak-pihak tertentu,” jelas Eka, Ketua Panitia Penyelenggara Reuni 212. 

Acara tersebut pun berjalan lancar dan panitia Reuni 212 mengaku bersyukur rangkaian kegiatan yang telah direncanakan itu bisa digelar dengan tidak ada masalah yang berarti, meski sempat mengalami kendala yang berada di luar jangkauan mereka. 

Seperti yang telah dijelaskan di atas, acara reuni alumni 212 sejatinya digelar di kawasan Patung Kuda, luar Monas, Jakarta Pusat pada hari Kamis kemarin. Namun acara tersebut tidak mendapatkan izin dan aparat keamanan pun melarang acara itu digelar, serta memblokir sejumlah jalan yang hendak dijadikan akses ke acara tersebut, dengan kawat berduri sampai water barrier. 

Pada akhirnya, massa aksi reuni 212 pun tidak bisa berkumpul, dan hanya mampu bergerombol di luar titik yang dibarikade aparat keamanan. Sebelum tengah harinya, panitia penyelenggara pun mengeluarkan pengumuman dan massa aksi pun bubar ke rumah masing-masing. 

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan pun mengatakan bahwa kondisi di sekitar Patung Kuda dan Monas terpantau aman dan terkendali. Walau di beberapa titik sempat sedikit tegang, karena adanya peserta aksi yang memprotes pemblokiran yang dilakukan aparat, namun tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya aparat keamanan dari TNI-Polri saja yang bertugas, namun juga didampingi oleh Satgas Covid-19. 

“Situasi di Jakarta khususnya kawasan Patung Kuda dan sekitarnya sampai siang hari syukur alhamdulillah terkendali aman ya,” kata Zulpan kepada sejumlah awak media yang meliput. 

Dalam keterangannya itu Zulpan mengaku memang sekitar pukul 10 pagi, ada 500-an orang yang mencoba menerobos masuk ke area Patung Kuda dan melakukan longmarch ke Jalan Wahid Hasyim, dan kemudian membubarkan diri setelah diberikan arahan dan pemahaman oleh aparat. 

Rangkaian Acara Yang Batal Digelar

Slamet, salah satu panitia acara reuni 212 mengatakan bagaimana sulitnya mendapatkan izin untuk menggelar acara tersebut. Padahal pihaknya sudah menyusun rapi serangkaian agenda yang akan digelar dalam acara Reuni 212 sejak jauh-jauh hari. 

Pengajuan izin pertama dilakukan panitia dengan meminta untuk menggelar acara di kawasan Monas, namun tempat tersebut nyatanya sedang ditutup setidaknya sampai tahun depan karena adanya wabah pandemi. 

Panitia pun kemudian mengambil pilihan alternatif yakni dengan menggelar di daerah Patung Kuda. Agenda acara pun telah disusun dengan tetap mempertahankan ciri khas acara-acara yang pernah dilakukan dalam Reuni 212 sebelumnya. Seperti melaksanakan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan zikir, munajat, maulid nabi, tausyiah, sampai dengan pembacaan doa. 

Izin yang diajukan untuk menggelar acara di kawasan Patung Kuda juga menyebutkan bahwa akan menutup sejumlah akses jalan serta mendirikan sebuah panggung besar. Sayangnya, pihak kepolisian menolak pengajuan tersebut apabila pihak panitia tidak mendapatkan rekomendasi dari Satgas Covid Pemda DKI. 

Di sisi lain, pihak kepolisian sebelumnya juga mengaku telah melakukan rapat bersama Satgas Covid yang dijembatani oleh Pemda DKI, di mana rapat itu juga melibatkan sejumlah unsur mulai dari Dinas Pemadam Kebakaran, Satpol PP, Polda Metro Jaya dan pihak-pihak yang terkait lainnya. 

Hal tersebut membuat panitia reuni 212 pun memutar otak dan mencari tempat lainnya. Diputuskan kemudian memilih Masjid Az-Zikra yang berada di Sentul sebagai pilihan. Pihak panitia mengatakan telah menghubungi pihak yayasan Az-Zikra seminggu sebelum acara. 

Az-Zikra dipilih karena dianggap memiliki sejarah yang kuat dengan acara 212, karena menjadi tempat rapat sejumlah ulama dan tokoh pencetus lahirnya 212. Sayangnya, pihak Yayasan Az-Zikra menolak untuk menggelar acara reuni 212 di tempat mereka dengan alasan masih dalam suasana berkabung. Pihak panitia 212 merasa kecewa, karena keputusan itu dikeluarkan di menit-menit akhir, padahal sebelumnya pihak Yayasan Az-Zikra menyetujui tempatnya dijadikan sebagai lokasi reuni. Slamet menuding, pihak yayasan telah mendapatkan tekanan dari pihak-pihak tertentu sehingga tidak berani menjadi lokasi berlangsungnya acara. 

Gabungan Polisi TNI dan Satgas Covid Saat Jaga Keamanan Reuni 212

Tidak Mendapat Izin Pemprov DKI

Sejumlah massa aksi Reuni 212 yang berkumpul di beberapa titik dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian, dengan alasan tidak memiliki izin keramaian. Terlebih, lokasi Patung Kuda sebagai titik kumpul utama tidak mendapat izin dari pihak Pemprov DKI Jakarta. 

Zulpan menjelaskan bahwa izin keamanan di wilayah Patung Kuda Arjuna Wiwaha itu berada di bawah wewenang Pemerintah Daerah, dan Pemprov DKI Jakarta juga tidak mengeluarkan izin penggunaan kawasan itu untuk berbagai kegiatan yang mengundang massa dalam jumlah besar. 

“Kawasan Patung Kuda ini bukan berada di bawah wewenang Polda Metro untuk izinnya, tetapi berada di Pemerintah Daerah. Nah, Pemprov DKI tidak mengeluarkan izin untuk itu,” jelas Zulpan. 

Zulpan juga ingin memberikan penjelasan kepada semua pihak, khususnya kepada seluruh massa aksi bahwa Polda Metro Jaya tidak pernah menghalangi dan membedakan masyarakat yang ingin menyatakan pendapatnya. Namun semuanya bergantung pada ada tidaknya izin keramaian dari pihak yang berwenang. Sehingga aparat keamanan pun terpaksa harus membubarkan massa yang berkumpul. 

Pihaknya juga mengingatkan kembali bahwa akan ada ancaman hukuman pidana untuk kelompok-kelompok yang nekat memaksakan diri untuk melakukan kegiatan di kawasan Patung Kuda. Adalah Pasal 212 sampai Pasal 218 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun lebih, bagi mereka yang melanggaran aturan tersebut.

“Bukan kita ingin menyumbat masyarakat yang ingin menyampaikan pendapatnya untuk berdemokrasi, tetapi waktunya tidak tepat terlebih di situasi pandemi sekarang ini. Tetapi kami tidak ingin mengharapkan sampai sejauh itu menindak secara hukum, kami lebih mengharapkan langkah yang humanis, persuasif agar masyarakat mau menahan,” ungkap Zulpan. 

Peserta Aksi Reuni 212 Protes Pembubaran Oleh Polisi

Tak Ada Peserta Yang Ditahan

Setidaknya ada sekitar 500-an orang yang sempat berkumpul di sekitar Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Mereka bertahan di kawasan tersebut, karena tidak mendapatkan akses untuk bergerak ke Patung Kuda. Kepolisian pun menjelaskan bahwa massa tersebut tidak dikenakan sanksi pidana. Polisi beralasan, mereka cukup tertib dan tidak memaksakan diri untuk nekat menerobos barikade dan memasuki kawasan Patung Kuda. 

“Mengenai ratusan orang yang berkerumun di Jalan Wahid Hasyim itu, tidak dikenakan sanksi pidana karena tidak melakukan tindakan yang memaksakan diri untuk melakukan reuni. Jadi mereka ini tidak ada yang ditahan ataupun diperiksa. Mereka kembali ke rumah masing-masing,” jelas Zulpan. 

Dirinya mengatakan bahwa massa yang datang tersebut sebagian besar menggunakan kendaraan, dan sebagian lainnya berjalan kaki. Setelah aparat memberikan pengarahan dari landasan hukum yang berlaku, massa pun membubarkan diri masing-masing dengan tertib. 

Sebelumnya juga ada tujuh orang yang diketahui merupakan santri dari sebuah pesantren di Kabupaten Tangerang yang sempat diamankan oleh aparat. Mereka ini hendak menuju Jakarta guna mengikuti acara Reuni 212, dan diketahui masih di bawah umur, rata-rata berusia 14 sampai 18 tahun. 

Kepolisian mengatakan bahwa tujuh orang tersebut juga sudah dipulangkan, dan mereka diamankan dengan alasan agar dijaga tidak berangkat menuju Jakarta. 

“Mayoritas berasal dari Sepatan. Ada yang diputarbalikkan tapi jumlahnya tidak banyak. Mereka ini tidak di sel, hanya diamankan saja supaya tidak berangkat ke Jakarta, kita meminta mereka untuk kembali belajar di sekolah. Kasihan kalau nantinya sampai dimasukkan sel, karena masih anak-anak dan sekedar ikut-ikutan tidak mengerti apa-apa. Semuanya itu anak pesantren, saat diamankan juga tidak ada yang membawa senjata tajam,” Kasi Humas Polres Metro Tangerang Kompol Abdul Rachim memaparkan. 

Sejumlah Remaja Diamankan Saat Hendak Ikut Reuni 212

Lebih lanjut, ketujuh orang itu diamankan saat melintas di sekitar TMP Taruna, Kota Tangerang dengan menumpang sebuah kendaraan pickup. Mereka mengaku berangkat dari titik kumpul di sebuah masjid di Ciledug, Kota Tangerang dan kemudian nebeng ke mobil pickup yang lewat. Mereka mengaku mendapatkan informasi soal adanya acara Reuni 212 dari sebuah postingan di media sosial. 

Di daerah Gambir, Jakarta Pusat, aparat juga sempat melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 16 remaja yang berkerumun pada malam hari, dan ketika diinterogasi serta diperiksa identitasnya, mereka bukan berasal dari Jakarta, mereka mengaku ingin berangkat ikut Reuni 212. Polisi yang memberikan himbauan, lantas memperbolehkan mereka untuk pulang.