google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Alex Noerdin Kembali Ditetapkan Tersangka, Kali Ini Kasus Pembangunan Masjid

Desain Masjid Raya Sriwijaya Palembang

Anggota DPR Alex Noerdin kembali mendapatkan status tersangka baru. Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan menetapkan mantan Bupati Sumatera Selatan tersebut sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Masjid Raya Sriwijaya Palembang. Alex disangkakan Pasal 2 dan 3 UU No.31 Tahun 1999. 

Dalam kasus korupsi pembangunan masjid itu, Alex diduga telah menerima uang sebesar Rp2,3 miliar dalam bentuk tunai. Mantan Komisaris Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan (PDPDE Sumsel) Muddai Madang juga ikut ditetapkan sebagai tersangka. 

Diketahui, sebelum menetapkan status tersangka kepada Alex dan Madang, Kejaksaan Tinggi Sumsel juga menetapkan empat orang lain sebagai tersangka. Keempat orang tersebut adalah Ketua Panitia Lelang Proyek Masjid Raya Syarifuddin, Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumatera Eddy Hermanto, Dwi Kridayanti dari PT Brantas Abipraya dan Yudi Arminto dari PT Yodya Karya. Kedua perusahaan itu merupakan pihak yang menggarap proyek tersebut. 

Menariknya, dalam satu pekan ini, Alex Noerdin juga telah ditetapkan tersangka dalam kasus korupsi di PDPDE Sumsel dalam proyek pembelian gas bumi.

Babak Baru Kasus Korupsi Masjid Raya Sriwijaya

Penetapan status tersangka terhadap mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin merupakan babak baru dari sejumlah proses pengungkapan kasus korupsi Masjid Raya Sriwijaya Palembang. 

Penyidik mencium adanya kecurangan dalam pembangunan proyek tersebut, yang diketahui dananya merupakan alokasi dari hibah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) periode 2015-2017 dari Pemda ke Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya.

Dalam kasus ini, kerugian negara ditaksir mencapai Rp130 miliar. 

“Akibat penyimpangan yang terjadi, mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp130 miliar,” ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dana hibah yang diberikan kepada Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya dilakukan dalam dua waktu yang berbeda. Pertama diambilkan dari APBD tahun anggaran 2015 yang jumlahnya sebesar Rp50 milar dan yang kedua diambilkan dari APBD tahun anggaran 2018 yang sebesar Rp80 miliar. 

Diduga, proses pemberian dana hibah itu dilakukan tanpa melalui prosedur yang telah diatur dalam Undang-Undang. Pengajuan proposal tidak dilakukan oleh pihak Yayasan Masjid dalam rangka pembangunan Masjid Raya itu. 

Tanpa adanya pengajuan proposal, Alex Noerdin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sumsel justru menyetujui proposal itu. 

“Tersangka AN telah menyetujui dan memerintahkan penganggaran dana hibah dan pencairan tanpa melalui proposal yang semestinya,” tambahnya. 

Penyelidikan juga mengungkap ternyata Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya diduga juga tidak memiliki alamat di Palembang. Alamatnya justru diketahui berada di Jakarta. Selain itu, terungkap pula bahwa lahan yang hendak dibangun, rupanya sebagian masih dimiliki oleh masyarakat. 

“Bendahara Yayasan meminta untuk pengiriman dana hibah itu dikirimkan ke rekening yayasan yang berdomisili di Jakarta dan dalam penggunaanya adanya penyimpangan-penyimpangan,” ungkap Leo.

Sampai saat ini, sudah ada sembilan orang yang statusnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembangunan Masjid Raya Sriwijaya itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjalani sidang dan dijadikan terdakwa. 

Alex Noerdin Jadi Tersangka Kasus Korupsi Masjid Raya Sriwijaya

Kejanggalan Pembangunan Masjid

Jaksa menemukan adanya sejumlah kejanggalan dalam pembangunan Masjid Raya Sriwijaya. Kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan itu antara lain:

  1. Penganggaran Tidak Sesuai Prosedur

Leonard menjelaskan bahwa anggaran untuk Masjid Sriwijaya di Palembang itu tidak sesuai prosedur. Dana tersebut diduga hanya dibayarkan atas perintah Alex Noerdin. 

“Penganggaran dana hibah tidak sesuai prosedur sebagaimana telah diatur dalam perundang-undangan, di antaranya tidak didahului dengan pengajuan proposal dari pihak Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya sebagai penerima dana hibah dan hanya berdasar atas perintah Alex Noerdin,” kata Leonard.

  1. Yayasan Beralamat di Jakarta

Kejanggalan lain yang ditemukan adalah ternyata alamat Yayasan tidak berada di Palembang, melainkan berada di di Jakarta. 

“Bahwa Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya tersebut tidak beralamat di Palembang, tetapi berada di Jakarta,” tambah Leo.

  1. Lahan Milik Warga

Kejagung menemukan fakta lain, yakni adanya perbedaan pernyataan Pemprov Sumsel yang sebelumnya mengatakan bahwa lahan itu seluruhnya adalah milik mereka. Namun belakangan, diketahui bahwa sebagian lahan itu milik warga sekitar.

“Lahan pembangunan masjid semula dinyatakan Pemprov adalah sepenuhnya aset milik mereka, yang ternyata sebagian adalah milik masyarakat,” ungkap Leonard.

  1. Pembangunan Tidak Selesai

Meski dana yang sudah dikucurkan telah menembus angka Rp130 miliar, sampai sekarang proyek pembangunannya tidak kunjung selesai. Sehingga ini menjadi kerugian keuangan negara.

  1. Pencairan Tanpa Prosedur

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, saat pencairan dana untuk pembangunan Masjid pada akhirnya juga mengungkap kejanggalan. Pasalnya, pencairan itu tidak dilakukan dengan prosedur, yakni tidak adanya pengajuan proposal. 

Kondisi Lahan Yang Mangkrak

Dari pantauan yang terlihat, situasi dan kondisi di lahan pembangunan Masjid Sriwijaya tampak terabaikan. Hanya terlihat beberapa bangunan yang masih dalam bentuk tiang pondasi. Rumput yang ada di lokasi tumbuh tinggi, selain itu gerbang masuknya ada yang sudah roboh.

Lahan pembangunan Masjid Raya Sriwijaya itu tepatnya diketahui berada di Jalan Pangeran Ratu, Jakabaring, Palembang. Lokasi tersebut rupanya tidak begitu jauh dengan kantor Kejaksaan Tinggi Sumsel. Dari lokasi pun bisa dilihat atap bangunan kantor Kejati. 

Salah satu titik yang mencolok adalah adanya plang atau segel yang bertuliskan “Kawasan dan Bangunan ini berada dalam proses penyidikan Tipikor Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.”

Kondisi Mangkrak Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya

Dari keterangan warga sekitar yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah itu, mengatakan bahwa beberapa tahun yang lalu memang telah terjadi sengketa lahan antara pihak pemerintah dengan warga. 

Pengakuan warga tersebut diamini oleh Kasi Penerangan dan Hukum Kejati Sumsel Khaidirman. Menurutnya, tanah itu memang bukanlah sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah, tetapi ada sebagian yang masih dimiliki warga. Meski demikian, dirinya belum bisa merinci seberapa luas tanah yang menjadi sengketa itu. 

Gubernur Menyerahkan Kasus ke Kejati Sumsel

Di tempat terpisah, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru tidak memberikan banyak keterangan terkait kasus korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya, yang kemudian menyeret nama Alex Noerdin sebagai tersangka.

Herman Deru hanya menyampaikan rasa prihatin dan memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut ke pihak Kejati Sumatera Selatan agar bisa diselesaikan sesuai hukum yang berlaku. 

“Saya prihatin nanti bisa dianggap salah, soalnya tidak mungkin kalau saya justru kesenangan. Yang jelas, saya tidak bisa memberikan banyak komentar, karena hal ini berkaitan dengan rumah ibadah. Soal kelanjutan pembangunan Masjid, tanyakan kepada Pak Kajati” ungkap Herman Deru. 

Herman Deru sebelumnya turut berkomentar atas Alex Noerdin yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembelian gas bumi PDPDE Sumatera Selatan. Dirinya saat itu mengaku prihatin dan menjelaskan bahwa selama ini tidak memiliki masalah pribadi dengan Alex Noerdin.

“Saya prihatin, karena aku secara pribadi tidak ada masalah dengan Pak Alex,” ungkap Herman Deru. 

Hubungan antara dirinya dengan Alex Noerdin dia jelaskan memang telah terjalin dengan baik sejak sekitar tahun 1994. Herman mengaku tidak memiliki masalah apapun dengan Alex, termasuk di kala Pilkada, yang mempertemukan keduanya.

Sementara itu bisa dipastikan bahwa Masjid Raya Sriwijaya progress pembangunannya akan terus dilanjutkan, terlepas dari kasus korupsi yang terjadi. Bahkan digadang-gadang, Masjid itu akan memiliki desain yang sangat luar biasa dan menjadi yang terbesar di Asia.