google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Benarkah Penyintas COVID-19 Alami Masalah Pada Otak?

Hingga sekarang ini, Covid-19 masih menjadi sebuah misteri yang belum terungkap seluruhnya. Meskipun telah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona, para penyintas Covid-19 terkadang kerap kali mengalami beberapa gejala fisik lainnya.

Salah satu dari gejala yang masih bisa muncul meskipun sudah sembuh dari Covid-19 adalah kelambanan dalam berpikir. Lantas, apakah benar para penyinta bisa mengalami hal tersebut?

Menurut Patient Led Research for Covid-19, menyebutkan bahwa virus corona ini bisa memengaruhi 10 organ penting tubuh manusia. Selain itu juga, penyakit ini pun dapat memberikan lebih dari 60 genjala dalam kurun waktu sekitar 7 bulan lamanya.

Sakit kepala, sensasi neurologis, serta masalah memori merupakan tiga gejala di antaranya banyaknya gejala lain yang masih sering kali dialami oleh para penyintas Covid-19. Kendati pun demikian adanya, tidak semua dari mereka akan mengalami gejala setelah sembuh dari infeksi tersebut, beberapa di antaranya pun sudah sehat total seperti dulunya.

Pengobatan dari Covid-19 yang Dapat Memicu Kabut Otak

Dampak dari infeksi virus corona yang bisa menyebabkan kondisi tertentu ini disebut dengan istilah kabut otak. Para penderita yang dinyatakan sembuh pun bisa mengalmai ketidakmampuan dalam fokus, konsentrasi dan juga berpikir.

Hingga sekarang ini, masih belum ada penjelasan secara pasti apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi pada para pengidap Covi-19. Ada kesimpulan yang masih berhubungan dengan pengobatan Covid-19 bisa membuat para penyintasnya mengalamai kabut otak.

Kondisi ini bukan hanya untuk para penyintas Covid-19 yang mengalami gejala berat saja, namun pada mereka yang sudah terinfeksi virus corona gejala ringan pun dapat mengalaminya. Istilah medis dengan kondisi yang bisa memicu gejala seperti halnya kabut otak ini ialah ensefalopati, yang mencakup jenis penyakit atau pun kerusakan yang dapat mengubah cara kerja otak manusia.

Gejala yang muncul seperti kabut otak ini sudah dikaitkan dengan beberapa macam kondisi fisik lainnya mulai dari jet lag, menopause, perawatan penyakit kanker, sampai dengan jenis obat – obatan tertentu dan juga infeksi virus yang lainnya.

Kondisi kabut otak ini ternyata bukan hanya diakibatkan oleh Covid-19 saja, melainkan pada pula ditemukan di beberapa kondisi peradangan yang lainnya, bisa memicu berkurangnya aliran oksigen ke dalam darah, seperti penyakit stroke atau pun komplikasi umum yang dirawat inap bagi penyakit akut yang bisa mengancam nyawa penderitanya.

Virus Corona Tidak Bisa Memengaruhi Otak Secara Langsung

Hingga sejauh ini tidak ada bukti ilmiah dari virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 bisa memengaruhi otak secara langsung. Tidak pula ditemukan adanyan virus tersebut di dalam cairan tulang belakang para pasiennya.

Seperti yang telah disebutkan di atas, molekul inflamasi yang akan menunjukkan bahwa terjadi peradangan akibat dari infeksi virus corona bisa memengaruhi otak. Stress dikarenakan sakit parah pun bisa turun serta ambil andil, seperti dengan gejala persisten lainnya, seperti halnya rasa lelah, insomnia, nyeri pada tubuh serta sakit kepala.

Kabut otak yang diduga bisa memicu kelambanan berpikir untuk para penyintas Covid-19 bisa saja bertahan dan tergantung dengan level stress dari orang yang bersangkitan. Rasa khawatir mengenai berapa lama gejala tersebut mampu bertahan besar kemungkinannya bisa berkontribusi terhadap masalah tersebut.

Sebenarnya tidak ada jenis pengobatan yang spesifik untuk penanganan gejala setelah sembuh dari infeksi virus corona. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan tidak selalu berpikiran negatif dengan gejala yang mncul. Banyak pula strategi yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kinerja dan kesehatan otak, sehingga cara tersebut cukup membantu untuk proses penyembuhan.

Ada dua rekomendasi dari ahli kesehatan yakni rutin berolahraga dan juga perbanyak tidur. Lalu, imbangi dengan konsumsi makanan sehat yang kaya akan serat, seperti buah – buahan, sayur – mayur, dan juga biji – bijian serta hindari pula konsumsi alkohol adalah rekemonedasi lainnya dari para ahli kesehatan.

Mengelola dan meredakan kecemasan ini bisa membantu mengurangi gejala dari kabut obat. Jikalau diperlukan, para penyinta Covid-19 dapat menjalani konseling dengan psikolog demi membantu mereka melewati serta beradaptasi saat mengalami masalah krisis Covid-19.

Mantan Penderita Covid-19 Dapat Mengalami Penurunan Kecerdasan, Inilah Hasil Penelitiannya

Infeksi virus corona diketahui dapat memengaruhi fungsi otak manusia bagi mereka yang pernah terpapar penyakit tersebut. Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa para penyintas Covid-19 dapat mengalami penurunan kecerdasan. Hal ini pun tampak dari sktor para penyintas yang ternyata jauh lebih rendah dalam tes kecerdasannya.

Seseorang yang sudah pernah dirawat dengan ventilator akibat penyakit Covid-19 ini tampaknya akan lebih berisiko untuk mengalami penurunan kecerdasan. Dampak penyakit satu ini pun diduga kuat berkaitan erat dengan masalanh long haul covid.

Meskipun sudah dinyatakan sembuh, para penyintas Covid-19 ini pun dapat pula mengalami berbagai dampak pada kesehatan fisik mereka. Salah satu yang baru ditemukan di dalam penelitian terbaru ini adalah Covid-19 dapat menurunkan kecerdasan seseorang yang sudah pernah terpapar virus corona.

Menurut penelitian baru yang sudah diterbitkan dalam sebuah jurnal The Lancet EClinical Medicine, orang yang telah sembuh total dari Covid-19 cenderung bisa mendapatkan skor yang jauh lebih rendah untuk tes kecerdasannya bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah terpapar virus corona.

Hasil temuan tersebut ternyata menunjukkan bahwa virus corona yang menjadi penyebab utama Covid-19 ini bisa menghasilkan pengurangan substansial dalam kemampuan berpikir atau kognitifnya, terlebih lagi bagi para penyintas yang pernah mengalami gejala yang cukup parah.

Seorang professor di Laboratorium Komputasi, Kognitif, dan Neuroimaging Klinis di Imperial Collage London, Adam Hampshire bersama dengan timnya melakukan analisis data dari total 81.337 peserta yang sudah menyelesaikan tes kecerdasan antara bulan Januari dan Desember 2020. Dari seluruh sampel tersebut, terdapat 12.689 orang melaporkan bahwa mereka pernah terinfeksi virus corona dengan berbagai macam tingkat keparahan gejala pernapasannya.

Setelah memperhitungan berbagai macam faktor lainnya, seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan seputar bahasa dan lainnya, para peneliti pun menemukan bahwa mereka yang sudah pernah terinfeksi virus corona cenderung memiliki kemampuan yang lebih buruk lagi pada tes kecerdasan jika dibandingkan dengan mereka yang belum pernah tertular virus corona.

Hal ini juga begitu terlihat dari tugas – tugas yang ada dan membutuhkan penalaran, perencanaan serta penyelesaian masalah.

Menurut para peneliti, penurunan tingkat kecerdasan ini besar kemungkinannya masih berkaitan erat dengan adanya laporan mengenai long haul covid, di mana untuk gejala kabut otak, sulit konsentrasi, dan juga kesulitan dalam penggunaan bahasa termasuk hal yang sangat umum ditemukan pada para penyintas Covid-19.

Dalam penelitian sebelumnya pun menemukan bahwa sebagian besar dari mereka yang pernah terinfeksi virus corona dan mengalami komplikasi neurosikiatri dan juga kognitif. Meskipun masih belum diketahui secara pasti bagaimanan hal tersebut dapat terjadi serta mampu bertahan berapa lama dampak tersebut.

Hampshire pun juga menduga bahwa adanya virus corona yang dapat memengaruhi kognisi seseroang. Itulah alasannya mengapa ia memberikan saran kepada semua orang supaya bisa melindungi diri semaksimal mungkin dari paparan virus corona dengan cara mengikuti vaksinasi.

Para Penyintas Covid-19 Gejala Berat Lebih Rentan Mengalami Penurunan Kecerdasan

Seseorang yang pernah terinfeksi virus corona, terlebih lagi dengan mereka yang mengalami gejala berat hingga harus dirawat di rumah sakit dengan ventilator lebih cenderung tingkat kinerja yang begitu rendah.

Para penyintas Covid ini sudah pernah menggunakan ventilator mengalami penurunan kognitif setara dengan penurunan IQ sebanyak 7 poin. Penurunan yang telah terjadi ini bahkan tampak lebih besar dari penurunan yang sudah dialami oleh mereka yang pernah terjangkit stroke dan juga orang yang mengalami masalah belajar.

Kendati pun demikian adanya, penelitian tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam hal penarikan kesimpulan tegas mengenai sebab dan akibat antara infeksi virus corona dengan kognitif seseorang. Selain itu juga, peneliti pun sudah mengungkapkan bahw ada pula banyak faktor yang berpotensi untuk ikut serta memengaruhi penurunan kecerdasan pada para mantan penderita covid, termasuk pula dengan kondisi yang telah ada sebelumnya.

Jadinya, meskipun tampak adanya penurunan kecerdasan kepada orang yang sudah pernah terpapar virus corona, akan tetapi penyebab dan juga berapa lama dari hal tersebut masih belum pasti diketahui. Inilah penjelasan lengkap mengenai para penyintas covid yang sudah pernah mengalami penurunan kecerdasan.

Supaya kita semua bisa pulih sembuh sepenuhnya dan juga terhindari dari berbagai macam dampak yang tidak diinginkan dari infeksi virus corona ini, kita semua harus benar – benar menjaga kesehatan dengan cara penerapan pola hidup sehat bahkan setelah dinyatakan sembuh.

Olahraga dengan cukup rutin, rajin konsumsi makanan sehat dan juga pandai mengendalikan kondisi kesehatan yang sudah cukup membaik dapat pula berdampak cukup besar bagi kesehatan manusia secara menyeluruh.