google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Benarkah Vaksin Covid-19 Beracun Jika Disimpan Sembarangan?

penyimpanan vaksin covid-19
Proses Penyimpanan Vaksin Harus Sesuai Prosedur

Sejak vaksin virus covid-19 datang ke Indonesia, banyak orang yang semakin tertarik dengan segala macam hal yang berhubungan langsung dengan vaksin tersebut, termasuk halnya proses penyimpanan vaksin Covid-19.

Pada saat awal kedatangan vaksin virus corona, kita sempat beberapa kali mendengar istilah rantai dingin atau istilahnya cold chain system. Cold chain ini merupakan suatu proses pendistribusian vaksin supaya tidak mudah rusak isi dari kandungannya.

Ketika proses pendistribusian vaksin dan juga penyimpanan yang tidak tepat dan sesuai prosedur, dikhawatirkan vaksin bakalan menjadi rusak. Bukan hanya itu saja, sebagian orang juga beranggapan jika vaksin ini bisa berubah menjadi racun yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia apabila salah dalam proses penyimpanannya.

Lalu, apakah benar demikian adanya? Simak penjelasan secara medis berikut ini.

Benarkan Penyimpanan Vaksin Tidak Sesuai Bisa Menjadi Beracun?

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Alvin Nursalam, Sp.PD, memberikan penjelasan, ‘’Sebenarnya pada saat penyimpanan vaksin yang tidak sesuai dengan standard prosedur yang berlaku, kebutuhan dari vaksin itu sendiri yang sangat ditakutkan adalah efektivitas saja yang bakalan menjadi hilang. Kalau pun sampai menjadi racun, seharusnya sih tidak. Vaksin seharusnya tidak bakalan berubah menjadi racun.’’

Menurut penjelasan dari dokter Alvin, pada kondisi ini semua berlaku untuk jenis vaksin apapun, tidak hanya vaksin virus corona saja. ‘’Proses penyimpanan vaksin tentu harus diperhatikan dengan sangat baik. Adanya peraturan yang mengharuskan serta wajib diikuti untuk semua jenis vaksin yang sudah ada,’’ jelasnya lagi.

Jika kita berbicara mengenai aturan dari masing – masing penyimpanan pada vaksin, ternyata semuanya memiliki perbedaan. Sebagai contohnya untuk vaksin Sinovac harus berada di ruang penyimpanan bersuhu sekitar 2 sampai 8 derajat celcius.

Sementara itu untuk vaksin Pfizer harus disimpan di dalam suhu sekitar minus 70 derajat celcius. Sedangkan untuk vaksin Covid-19 Moderna, penyimpanan dari vaksinnya ini harus ada di dalam suhu minum 20 derajat celcius. Vaksin virus corona memang begitu sangat sensitive terhadap beberapa hal, seperti halnya cahaya, panas atau suhu, dan juga proses pembekuan vaksin.

Jenis vaksin yang dibuat dari bahan kuman hidup akan begitu sensitive terhadap panas dan juga cahaya, seperti halnya vaksin campak. Jika vaksin terlalu panas, maka kuman serta protein di dalamnya akan mati.

Sedangkan untuk vaksin tetanus dan juga pneumokokus semisalnya, vaksin ini juga tidak diperbolehkan untuk disimpan terlalu dingin dikarenakan cairannya bakalan cepat membeku dan tidak bisa efektif lagi.

Intinya adalah jika salah satu dari prosedur penyimpanan ada yang salah maupun keliru, maka efektivitas dari vaksin ini jelas akan mengalami penurunan. Vaksin yang sudah tidak memiliki efektivitas lagi, tidak bisa melindungi seseorang secara maksimal dari serangan virus dan kuman suatu penyakit.

Lalu, untuk menggantikan vaksin yang telah rusak dan tidak berguna lagi juga membutuhkan waktu serta biaya yang cukup mahal. Karena itulah, meskipun tidak sampai berubah menjadi racun, vaksin tetap wajib disimpan pada suhu yang benar – benar setiap saat.

Dalam hal ini, lemari pendingin memang sangat diperlukan selama proses penyimpanan vaksin, termasuk untuk vaksin virus corona.

Apa Saja Yang Harus Diperhatikan Selama Proses Penyimpanan Vaksin Covid-19?

Proses penyimpanan vaksin yang benar ini merupakan tanggung jawab penuh dari pihak pemerintah serta pelayanan fasilitas kesehatan yang ada di masing – masing negara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk proses penyimpanan vaksin, di antaranya adalah :

  • Suhu dari lemari penyimpanan harus spesifik. Jika suhu di dalam lemari pendingin lebih panas sekitar 2 derajat celcius, maka bakalan bisa merusak kandungan vaksin.
  • Penyimpanan vaksin ini memakai lemari es medis yang telah dirancang khusus hanya diperuntukan vaksin saja. Lemari es medis ini dapat mengontrol dan menjaga kestabilan suhu untuk proses penyimpanan di dalamnya.

Sedangkan untuk lemari es makanan atau pun yang lainnya memang tidak dirancang untuk memberikan tingkat akurasi serta kontrol suhu yang sama seperti lemari medis.

Lemari medis ini mempunyai pencatatan selama 24 jam, terdapat alarm di dalamnya bila suhu berubah diakibatkan buka tutup lemari yang terlalu sering atau pun hal yang lainnya. Sedangkan untuk lemari es yang biasanya tidak dilengkapi dengan sistem tersebut.

Oleh karena itulah, vaksin ini tidak diperbolehkan disimpan di dalam kulkas makanan, meskipun menurut sebagian orang sudah dingin, namun hal tersebut belum cukup dan tidak sesuai dengan prosedur penyimpanan vaksin jenis apapun.

  • Meninggalkan vaksin di atas meja karena lupa atau ceroboh tentu saja tidak diperbolehkan bagi siapa saja. Meskipun suhu di sekitar tidak panas, suhu ruangan akan tetap bisa merusak efektivitas dari vaksin tersebut.
  • Hindari juga penyimpanan vaksin dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini dikhawatirkan akan ada beberapa vaksin yang tersisa justru menjadi kedaluwarsa dan harus dibuang.
  • Fasilitas kesehatan juga wajib untuk memiliki tempat penyimpanan vaksin tersendiri dan tempat cadangan. Tempat penyimpanan ini harus sesuai dengan pedoman rencana darurat.

Kita semua tidak bakalan pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya. Jika sudah ada perencanaan yang sangat matang, maka tempat cadangan vaksin ini seharusnya dapat mencegah kerusakan pada vaksin tersebut.

Semua jenis vaksin termasuk vaksin virus corona, memang tidak dapat berubah menjadi racun pada saat proses penyimpanan vaksin yang tidak sesuai prosedur.

Meskipun demikian adanya, penyimpanan vaksin yang tidak sesuai dengan standard bakalan bisa menghilangkan efektivitas vaksin itu sendiri.