google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Bentrokan Pasca Gencatan Senjata Israel – Palestina, Tandai Konflik Tak Berujung

Bentrokan Pasca Gencatan Senjata Israel – Palestina

Israel dan Palestina akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata pada tanggal 21 Mei 2021, pukul 02.00 waktu setempat. Proses negosiasi dalam gencatan senjata ini difasilitasi oleh pihak Mesir. Diharapkan, kesepakatan gencatan senjata ini bisa meredam konflik yang sedang terjadi, di mana belasan warga Israel dilaporkan tewas, sementara di pihak Palestina mencapai ratusan orang. Korban-korban itu termasuk di antaranya adalah anak-anak dan para wanita. 

Sebagai informasi, gencatan senjata itu sendiri adalah kebijakan di mana para pihak yang sedang terlibat konflik, memutuskan untuk sepakat melakukan penghentian serangan, tembakan, ataupun aksi kekerasan lainnya. Apabila gencatan senjata dilakukan, maka kedua belah pihak tidak diperbolehkan untuk melakukan serangan lagi, sampai ada keputusan lebih lanjut. 

Gencatan senjata biasanya merupakan kesepakatan yang bersifat sementara, dan berlaku dalam kurun waktu tertentu. Gencatan senjata digunakan sebagai peluang untuk melakukan negosiasi antara pihak-pihak yang bertikai untuk kemudian menemukan langkah-langkah menuju perdamaian yang lebih konkrit. 

Namun, kemungkinan terjadinya konflik kembali juga masih ada. Dalam beberapa kasus, gencatan senjata juga digunakan sebagai taktik untuk mengumpulkan kembali kekuatan yang digunakan untuk serangan yang lebih besar lagi kemudian. 

Bentrokan Kembali Terjadi

Namun sayangnya, hanya berselang beberapa jam saja dari kesepakatan melakukan gencatan senjata itu, aksi kekerasan di wilayah Gaza kembali terjadi. Peristiwa itu terjadi antara aparat kepolisian Israel dengan warga Palestina, setelah sejumlah warga Palestina selesai melaksanakan ibadah salat Jumat di kompleks Masjid Al-Aqsa. 

Dari kedua belah pihak baik Palestina dan Israel memiliki versi sendiri yang berbeda satu sama lain, mengenai penyebab dari bentrokan tersebut. 

Pihak Palestina mengatakan peristiwa itu terjadi saat warga merayakan kesepakatan gencatan senjata di kompleks Masjid Al-Aqsa. Dari sejumlah video yang beredar di media sosial, terlihat sekelompok polisi Israel yang berlarian menyerbu masuk ke kompleks masjid, sembari menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah kerumunan warga. Hal ini yang kemudian membuat sejumlah pemuda Palestina membalas dengan lemparan batu ke arah polisi Israel. 

Sementara itu dari pihak Israel mengatakan bahwa penyebab bentrokan dikarenakan adanya lemparan batu dari warga Palestina ke arah petugas kepolisian mereka. 

21 Orang Dilaporkan Jadi Korban

Organisasi Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa pihaknya mencatat sebanyak 21 orang mengalami luka-luka akibat bentrokan setelah disepakatinya gencatan senjata itu. Dua orang di antaranya menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat. 

Pihak Kepresidenan Palestina menyatakan mengecam atas serbuan aparat polisi ke Masjid Al-Aqsa itu dan kemudian menyerang para jemaah yang baru saja melaksanakan salat Jumat. Di tempat terpisah, juru bicara kepolisian Israel, Micky Rosenfeld memberikan klarifikasi atas bentrokan yang terjadi di Masjid Al-Aqsa itu. 

“Ratusan orang melemparkan batu dan juga bom molotov ke arah polisi yang saat itu disiagakan di lokasi dan mulai membubarkan para perusuh,” kata Rosenfeld. 

“Israel Tidak Bisa Dipercaya”

Fadli Zon selaku Ketua Badan Kerja Sama Antarparlemen (BKSAP) mengaku geram dengan apa yang dilakukan oleh Israel yang membuat ulah, padahal gencatan senjata baru saja disepakati beberapa jam sebelumnya. Fadli Zon mengatakan bahwa Israel memang sebuah negara yang tidak bisa dipercaya omongannya. Lewat akun Twitternya, Fadli Zon mengecam keras tindakan Israel. 

“Baru saja berharap ada titik terang dengan adanya gencatan senjata. Tapi Israel memang tidak bisa dipercaya. Negara penjajah dan penebar teror,” kata Fadli melalui cuitan di akun Twitter resminya itu. 

Turki Kutuk Tindakan Israel Pasca Gencatan Senjata

Pemerintah Turki juga mengambil reaksi keras setelah aparat kepolisian Israel kembali memicu terjadinya bentrokan di kompleks Masjid Al-Aqsa, di tengah kesepakatan gencatan senjata. 

“Kami dengan tegas mengutuk serangan terhadap jamaah setelah salat Jumat di Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Muslim, meski gencatan senjata efektif dilakukan kemarin,” ujar Direktur Komunikasi Presidensial Turki, Fahrettin Altun. 

Apa yang dilakukan Israel ini sebenarnya tidak sekali ini saja terjadi. Israel sebelumnya juga kerap melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah dibuat, dengan menyerang warga Palestina. Altun mengatakan, hal itu pernah terjadi beberapa saat usai dilakukannya gencatan senjata pada tahun 2008, 2009, 2012, 2014 dan 2018 silam. 

“Turki akan melakukan diskusi dengan saudara kami Palestina, dan akan mengikuti keberlanjutan dari kesepakatan gencatan senjata yang telah dilakukan, serta akan melakukan penyelidikan dan menyoroti pelanggaran yang telah dilakukan pihak Israel,” tambah Altun.

Polisi Israel Bubarkan Massa di Masjid Al-Aqsa

Netanyahu Kembali Tebar Ancaman 

Anggapan Fadli Zon soal Israel yang tidak bisa dipercaya dan juga kecaman Turki terhadap tindakan negara Zionis itu sepertinya tidak salah alamat. Bukannya mencoba mencari jalan agar perdamaian terwujud atau setidaknya kondisi bisa menjadi dingin, pemerintah Israel malah menebar ancaman yang membuat kondisi menjadi makin panas. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah bahwa pihaknya akan menggunakan serangan yang lebih kuat dan besar lagi daripada sebelumnya, apabila ada roket yang diluncurkan lagi dari Gaza menuju Israel. Dirinya juga mengultimatum kelompok Hamas untuk tidak lagi meluncurkan serangan roket. 

“Jika pihak Hamas berpikir bahwa kami akan mentolerir serangan roket yang mereka luncurkan, hal itu adalah sebuah kesalahan,” kata Netanyahu dalam pidato usai kesepakatan gencatan senjata dibuat. 

Netanyahu berjanji akan mengeluarkan kekuatan baru yang lebih dahsyat daripada sebelumnya, apabila ada serangan terhadap komunitas di sekitar wilayah Gaza dan juga wilayah Israel lainnya. 

PBB Beri Peringatan

Pihak Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak agar kedua belah pihak baik Israel dan juga Palestina untuk mau mematuhi sepenuhnya terhadap gencatan senjata yang telah disepakati bersama sebelumnya. 

DK PBB meminta dengan sangat terwujudnya perdamaian yang sepenuhnya di kawasan itu. Bahkan mereka menekankan akan perdamaian yang komprehensif berdasarkan visi wilayah di mana dua negara yakni Israel dan Palestina hidup berdampingan. 

“Dewan Keamanan menyerukan untuk dukungan penuh akan kepatuhan terhadap gencatan senjata. Damai dan diakui,” tegas pihak Dewan Keamanan PBB. 

Dalam kesempatan itu Dewan Keamanan PBB mengucapkan rasa berduka sedalam-dalamnya atas kematian ratusan warga sipil akibat konflik yang terjadi. Negara-negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB menyatakan dukungan mereka atas seruan yang dilontarkan Sekretaris Jenderal PBB untuk penyusunan dan pelaksanaan proposal rekonstruksi dan pemulihan yang cepat, di wilayah yang terdampak konflik. 

Lewat pernyataan terbarunya, pihak PBB sendiri akan membantu proses rekonstruksi dan pemulihan wilayah terdampak konflik itu dengan menyumbangkan dana sebesar USD22,5 juta. 

Opsi Damai Di Tengah Gencatan Senjata

Gencatan senjata yang telah disepakati oleh Israel dan Palestina itu sendiri sejauh ini dianggap tidak jelas oleh beberapa pihak. Israel dalam kesepakatan itu mengatakan bahwa pihaknya menyetujui penghentian permusuhan dengan sifat timbal balik dan tanpa syarat. Hal ini bisa diartikan bahwa Israel tidak mau mendapatkan tekanan tertentu dalam gencatan senjata itu dan meminta adanya keuntungan bagi pihak mereka. 

Tim mediator yang memfasilitasi kesepakatan gencatan senjata itu diketahui dipimpin oleh Mesir yang anggotanya terdiri dari negara Qatar, Amerika Serikat, dan juga PBB. Mereka ini pun telah melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah yang terdampak konflik seperti Gaza, Israel dan juga Tepi Barat.

Salah seorang diplomat dari Mesir menjelaskan bahwa tim mediator itu mencoba menerapkan sejumlah langkah yang telah disepakati dan mengupayakan agar tidak muncul praktik-praktik yang bisa mengarah pada terjadinya konflik yang baru. Namun sejauh ini tidak dijelaskan seperti apa detail dari langkah-langkah tim mediator itu. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken pun juga direncanakan akan melakukan kunjungan ke wilayah yang terdampak konflik itu pada minggu depan. Rencana perjalanan dalam kunjungan itu juga belum dirilis, namun sumber dari Amerika Serikat mengatakan bahwa Blinken diyakini akan mengunjungi wilayah Israel dan juga Tepi Barat, pada hari Kamis mendatang. Ada informasi lain yang juga mengatakan bahwa Blinken akan melakukan kunjungan ke Mesir dan juga Yordania. 

Namun menariknya, pihak dari Amerika Serikat mengaku tidak akan melakukan pertemuan dengan pihak kelompok Hamas. Pasalnya Negeri Paman Sam itu sebelumnya telah mencap Hamas sebagai organisasi teroris. 

Warga sipil dari kedua negara itu pun juga mengungkapkan keinginan dan harapan mereka agar bisa hidup tanpa adanya rasa takut dan juga serangan-serangan militer yang bisa terjadi kapan saja. Namun banyak juga sebagian warga yang meyakini bahwa kondisi seperti itu akan sangat mustahil untuk terjadi. 

Salah seorang warga yang juga pemilik sebuah toko di daerah Gaza, Ashraf Abu Mohammad mengatakan kepada awak media, “Hidup akan kembali berjalan seperti sedia kala, seperti hari-hari sebelumnya. Karena ini bukanlah perang yang pertama terjadi, dan ini juga tidak akan menjadi perang yang terakhir”.

Warga Palestina Berhamburan Dibubarkan Polisi Israel

Kepentingan Israel dan Hamas

PBB sebelumnya juga mengatakan agar perdamaian terwujud, kedua belah pihak harus bisa saling menjaga diri untuk tidak memicu terjadinya konflik yang berlarut. Salah satu yang disoroti adalah blokade oleh Israel di Gaza yang harus segera diakhiri, agar perekonomian Gaza bisa kembali pulih. 

Namun bagi pihak Israel, blokade itu dilakukan dengan alasan untuk membatasi akses kelompok Hamas untuk bisa mendapatkan senjata. Menurut Israel pihak Hamas telah melakukan pelanggaran dari perjanjian damai sebelumnya, untuk mau melucuti senjata mereka. 

Sementara itu di pihak Hamas mengatakan bahwa gencatan senjata yang telah dilakukan itu sarat dengan kepentingan Israel, khususnya dalam masalah pendudukan wilayah untuk pemukiman warga Yahudi. Dalam hal ini adalah kompromi Israel atas kompleks Al-Aqsa dan juga distrik Sheikh Jarrah, yang menjadi salah pemicu konflik di mana otoritas Israel mengusir keluarga Palestina dari tanah mereka.