google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Berkah dan Cerca Bipang Ambawang Yang Diendorse Jokowi

Bipang Ambawang Makanan Khas Suku Dayak

Makanan khas Kalimantan Barat, Bipang Ambawang mendadak ramai diperbincangkan publik. Hal ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo secara khusus mengajak masyarakat untuk berbelanja makanan khas tersebut saat menghadiri acara peringatan Hari Bangga Buatan Indonesia. Yang menjadi perbincangan adalah, makanan tersebut merupakan olahan daging babi yang di mana sudah diketahui sebagai makanan yang diharamkan bagi para kaum muslim. Bipang sendiri merujuk pada kependekan dari Babi Panggang. 

Ajakan Jokowi itu dilakukan lewat sebuah video singkat yang dia unggah di akun media sosial resminya pada tanggal 5 Mei yang lalu. Dalam video tersebut, Jokowi mengajak masyarakat untuk mulai membeli makanan Bipang Ambawang secara online, atau secara harfiahnya, Jokowi sedang mengendorse Bipang tersebut. 

Tentu saja bagi sebagian masyarakat, khususnya mereka yang muslim, ajakan Jokowi itu menimbulkan perdebatan tersendiri. Sampai sampai Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melakukan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat selaku penyelenggara acara itu. 

Masyarakat menilai jika kuliner Bipang Ambawang tidak layak untuk kemudian dipromosikan oleh seorang Presiden di saat momen Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, karena olahan babi itu diharamkan.

Jokowi Saat Mempromosikan Bipang Ambawang

Sementara, masyarakat lain menilai bahwa ajakan membeli Bipang oleh Jokowi itu ditujukan untuk kaum Nasrani yang juga dalam waktu dekat memperingati Kenaikan Isa Al Masih, bersamaan dengan momen Idul Fitri. 

Namun di sisi lain, ajakan Jokowi itu memberikan berkah bagi para pedagang Bipang Ambawang. 

Salah satunya adalah Deky Junaedi. Deky memiliki restoran babi panggang Ambawang di daerah Kubu Raya, Kalimantan barat. Dia mengaku omzetnya naik drastis setelah video ajakan Jokowi tersebut viral. Tokonya kebanjiran pesanan dari konsumen di berbagai daerah yang membeli dagangannya secara online. 

Deky mengatakan, kuliner khas kampung halamannya itu kini menjadi terkenal secara nasional. Bipang Ambawang menurutnya kini tidak lagi jadi produk makanan yang jago kandang, karena Deky mulai menerima banyak sekali pesanan dari Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia.

“Sebagai salah satu yang bergerak di bidang kuliner lokal, saya senang dan bangga atas perhatian dari pemerintah. Kenaikan order ada, kalau dari online itu dua hari ini ada dua kali lipat dari penjualan normal biasanya,” kata Deky. 

Deky merasa seperti mendapatkan promosi gratis dari Presiden, dirinya juga mengaku bahwa akun sosial media tempat dia biasanya mempromosikan dagangan, mengalami kenaikan pengikut atau followers yang cukup besar. Dalam dua hari sejak makanan Bipang Ambawang trending di media sosial, pengikut akun jualan Deky ada kenaikan sebanyak 2.000 akun.

“Karena Pak Jokowi, kini jadi banyak orang yang tahu. Dulu itu berusaha sendiri, marketing sendiri, endorse dari bawah ke pelanggan. Nah ada Pak Jokowi, jadi seluruh Indonesia tahu,” tambahnya. 

Namun Deky mengatakan tidak saja pendapatannya yang naik, tapi ada saja halangan di saat orderannya mulai meningkat. Deky dalam beberapa hari terakhir mendapatkan banyak telepon masuk, sebagian berasal dari konsumen yang ingin order, tapi sebagian lainnya dari orang iseng. Akun media sosialnya pun banyak yang memberikan komentar negatif. Meski demikian Deky tidak terlalu memikirkannya, dan lebih melihat ke sisi positifnya. 

Terkait video ajakan Jokowi itu, Deky menganggapnya sebagai momentum kuliner khas suku Dayak untuk bisa lebih dikenal di luar daerah Kalimantan. Deky pun kini memiliki rencana untuk melakukan ekspor Bipang ke luar negeri. Beberapa target negara yang dia bidik adalah Singapura dan Hong Kong. Dia pun sangat optimis, karena dengan adanya e-commerce, penjualannya itu bisa semakin mudah dijalankan.

Deky sendiri baru berjualan secara online dalam setahun terakhir ini, karena wabah pandemi yang membuat toko fisiknya menjadi sepi. 

“Pas awal pandemi banyak sekali babi yang tidak terjual. Masyarakat sedang kesulitan ekonomi dan kami pun mencoba menjualnya secara online. Yang penting bisa dijual dan roda ekonomi bisa berputar,” ungkap Deky. 

Hal yang sama pun dialami oleh penjual Bipang Ambawang lainnya, yakni Verena Ella. Dia mengaku restoran miliknya yang berada di Kota Pontianak, tiba-tiba saja ramai didatangi pembeli. Padahal dia baru membuka restoran itu satu bulan yang lalu.

“Kemarin itu biasanya hari Sabtu nggak terlalu ramai. Tapi tiba-tiba kami dari buka pukul 10 pagi sampai 10 malam, nggak berhenti orang-orang yang datang. Biasanya itu ada jamnya sepi, sekarang jadi ramai terus,” kata Ella sembari sibuk melayani para pelanggannya. 

Ella mengaku bahwa biasanya omzet restoran miliknya perhari tidak lebih dari Rp2 juta. Kalaupun sepi, dia hanya mendapatkan ratusan ribu saja seharinya. Tapi setelah video ajakan Jokowi itu menjadi viral, omzetnya kini telah naik jadi tiga kali lipat. 

Menteri Perdagangan Meminta Maaf

Di tengah kontroversi masyarakat menanggapi video ajakan Jokowi membeli Bipang Ambawang secara online, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan permintaan maafnya. Sebab dia merasa menjadi salah satu penyebab tindakan Jokowi itu mendapatkan banyak hujatan dari masyarakat. 

Lutfi pun kemudian mencoba memberikan penjelasan mengenai konteks dari pernyataan Jokowi yang ada di dalam video Hari Bangga Buatan Indonesia tersebut. Menurut Lutfi, video ajakan membeli Bipang Ambawang itu lebih ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang memiliki beragam suku dan masing-masing suku memiliki kekayaan produk kuliner yang patut dibanggakan.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi Meminta Maaf Soal Bipang Ambawang

“Berkaitan dengan pernyataan mengenai Bipang Ambawang, kita harus melihatnya dalam konteks secara keseluruhan. Pernyataan Bapak Presiden ada dalam video yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan membeli produk lokal. Jadi sekali lagi kuliner khas daerah yang disebut oleh Bapak Presiden itu adalah untuk mempromosikan kuliner Nusantara.

Tentu kuliner itu dikonsumsi dan disukai oleh masyarakat yang beragam pula. Mari kita bangga dan promosikan kuliner nusantara yang beragam, sehingga bisa menggerakkan ekonomi terutama UMKM,” jelas Lutfi dalam permintaan maafnya itu. 

Setelah memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari video ajakan Jokowi itu, Menteri Lutfi kemudian menyatakan permintaan maaf, jika video itu pada akhirnya menimbulkan kesalahpahaman.

“Kami meminta maaf sebesar-besarnya jika terjadi kesalahpahaman. Niat kami hanya ingin kita semua bangga dengan produk dalam negeri, termasuk kuliner khas daerah, serta menghargai keberagaman bangsa kita,” tambahnya.

Pembelaan Istana Soal Bipang Ambawang

Di lain pihak, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin turut memberikan pandangannya terkait Bipang Ambawang yang menjadi perdebatan. Ngabalin mencoba mengeluarkan dalil untuk memberikan pembelaan atas ajakan Jokowi tersebut. 

Ngabalin lewat akun Twitternya mempertanyakan soal isi pidato Jokowi, di mana letak kesalahan dari ajakan Jokowi untuk membeli Bipang Ambawang itu. Menurut Ngabalin, itu sudah lumrah dan menjadi tugas seorang Presiden, bapak semua suku dan agama di Indonesia.

“Apa yang salah dari pernyataan Jokowi soal Bipang? Bukankah beliau ini bapak dari seluruh suku dan agama di negeri ini? Semua punya makanan khas yang bermacam-macam. Kalau beliau memperkenalkan makanan khas daerah tertentu kenapa tidak boleh? Apa ini karena masalah keyakinan? ART saya yang seorang nasrani mudik Lebaran juga tuh,” kata Ngabalin.

Pengusaha Dengan Nama Produk Serupa Khawatir

Perdebatan soal Bipang Ambawang yang kini telah begitu ramai, menimbulkan kekhawatiran di benak pengusaha yang menjual makanan yang memiliki nama mirip. Di Pasuruan misalnya yang memiliki makanan khas bernama Bipang Jangkar, yang namanya sama-sama Bipang namun berasal dari bahan yang berbeda. 

Bipang cap Jangkar asal Pasuruan ini sama sekali tidak mengandung olahan babi, melainkan sebuah produk makanan ringan yang berasal dari beras dan gula. Sehingga pengusaha produk itu takut jika nanti masyarakat beranggapan bahwa Bipang itu semata-mata adalah Babi Panggang yang diharamkan. 

Pengusaha Bipang Jangkar Pasuruan

“Bipang Jangkar kami, kami jaman halal karena tidak ada kandungan babi,” ungkap Siou salah satu pengusaha yang berjualan produk Bipang cap Jangkar di Pasuruan. 

“Kami tahu ada isu yang ramai kemarin Bipang Ambawang itu, kami berharap agar masyarakat tidak salah persepsi. Dikiranya bipang ini makanan dari babi, padahal kan tidak,” tambahnya. 

Sebagai informasi, Bipang cap Jangkar ini sudah dipasarkan sejak tahun 1949 di Pasuruan. Biasanya, makanan ringan ini dijadikan oleh-oleh untuk momen-momen tertentu seperti hari raya atau liburan dan menjadi suguhan di acara-acara formal maupun santai. 

Perintis Bipang cap Jangkar ini adalah keluarga Kwee Pwee Bhook. Pada awalnya, Bipang cap Jangkar menjadi jajanan yang biasa dikonsumsi dan dijadikan oleh-oleh para pelaut yang singgah di Pelabuhan Pasuruan.

Gubernur Khofifah Bantu Promosi Bipang Pasuruan

Melihat kekhawatiran pengusaha bipang khas Pasuruan tersebut, sebagai Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun tergugah untuk membantu mempromosikan produk khas asal wilayahnya itu, sekaligus memberikan penjelasan mengenai Bipang khas Pasuruan dan Bipang Ambawang khas Kalimantan itu.

Ditemani oleh Wali Kota Pasuruan, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Khofifah mulai gencar mempromosikan Bipang Jangkar khas Pasuruan tersebut. Keduanya pada hari Minggu kemarin (9 Mei 2021), mengunjungi pabrik dan toko tempat Bipang cap Jangkar dibuat dan dipasarkan, yang berada di Jalan Lombok, Pasuruan. 

Khofifah dan Gus Ipul Bantu Promosikan Bipang Pasuruan

“Bipang Jangkar ini jajanan khas Kota Pasuruan yang sudah melegenda di Jawa Timur. Sudah ada sejak 72 tahun yang lalu,” tutur Khofifah kepada awak media yang meliput.

Khofifah pun memastikan bahwa Bipang cap Jangkar asal Pasuruan itu halal untuk dikonsumsi karena bahannya berasal dari tepung beras yang diolah menjadi bermacam rasa. Bipang Pasuruan berbeda dengan Bipang Ambawang yang kini jadi perdebatan tersebut. 

“Bipang cap Jangkar ini halal berbahan baku tepung beras yang diolah jadi berbagai macam pilihan rasa. Ini bukan Bipang yang sedang ramai dibicarakan. Kalau setiap ada forum ataupun pengajian di Pasuruan, Bipang Jangkar ini selalu disuguhkan sebagai makanan ringan,” tambah Khofifah.