google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Berpapasan Selama 5 Hingga 10 Detik, Mampu Menularkan Virus Corona Varian Delta

Para ahli sudah mengkhawatirkan penularan dari virus corona varian delta yang diyakini lebih pandai daripada varian sebelumnya. Mengutip dari NBC News, hari Sabtu 26 Juni 2021, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menggambarkan sejauh ini varian delat dari virus corona ini dikenal sebagai virus yang lebih cepat dan kuat.

WHO juga memperingatkan bahwa virus corona saat ini sudah menyebar 85 negara lainnya. Dibandingkan dengan varian Alpha, varian delta ini 40 persen lebih mudah menular. Apabila ada satu orang yang sudah terinfeksi virus corona varian delta, maka bisa menularkan virus tersebut kepada 7 hingg 8 orang lainnya.

Temuan Terbaru Kasus Penularan Varian Delta Hanya Berpapasan Sesaat

Diberitakan oleh ABC,  pada tanggal 22 Juni 2021, rekaman CCTV menangkap dua orang yang sedang belanja di shopping center Westfield Bondi Junction Australia berpapasan dan keduanya pun sekarang ini sudah terinfeksi virus corona.

Pertemuan tersebuh hanya terjadi sekilas saja, yang lebih mengerikan antara kedua orang inilah membuat otoritas kesehatan di NSW merasa khawatir dikarenakan penularan ini dicurigai hanya terjadi pada saat berpapasan saja.

Tertular virus meskipun minim sekali kontak langsung Chief Health Officer Negaran Bagian, Dr. Kerry Chant, telah mencurigai dua orang yang lainnya ini terinfeksi Covid-19 secara bersamaan. ‘’Kami tahu ada sebanyak tiga orang yang sudah terpapar pada tanggal 12 Juni dan 13 Juni.’’ Jelas Dr. Chant.

Ia pun juga mengatakan pihaknya benar – benar sudah memiliki rekaman CCTV dari pertemuan tersebut dan pada dasarnya adalah terjadi persilangan individu. Mereka tampak jelas saling berhadapan namun secara harfiahnya seseorang yang bergerak melintasi satu sama yang lainnya hanya sesaat saja, dekat namun hanya sebentar saja.

‘’Dalam dua kasus yang lainnya, kami masih belum dapat, dengan rekaman CCTV tersebut, bisa melihat titik persimpangannya yang sama persis, namun kami mengetahui mereka hanya berjarak sekitar 20 meter, masuk di tempat yang berbeda pada waktu bersamaan. Jadinya kami menduga mereka menyeberang saja,’’ tambah Dr Chant.

Perdana Menteri Gladys Berejiklian juga ikut menambahkan bahwa pertemuan yang sudah berlangsung memang sangat singkat. Orang – orang yang berada dalam rekeman CCTV tersebut tidak pernah melakukan kontak fisik seperti bersentuhan, namun dengan cepat datang ke lokasi yang udara sama dan virus bisa berpindah begitu cepat.

Hasil dari rekaman CCTV ini dipergunakan dalam investigasi yang dilakukan oleh NSW Health untuk bisa melacak perjalanan kasus dan juga identifikasi setiap pertemuan dari penularan yang mungkin saja terjadi.

Ahli epidemiologi UNSW Mary – Louise McLaws mengatakan virus corona varian delta ini lebih mudah sekali menyebar di pusat perbelanjaan karena aliran udara yang ada.

‘’Ketika Anda sedang berada di dalam ruangan atau pun pada pusat perbelanjaan atau sedang belanja, perubahan dari aliran udara yang ada ini biasanya rendah dan bisa saja terjadi,’’ jelas professor McLaws.

Ia pun mengatakan saat seseorang sedang berada di dalam periode viral load yang tinggi serta mempunyai banyak cairan pernapasan dalam tubuh, ia mungkin saja akan menghasilkan lebih banyak partikel dengan ukuran yang berbeda – beda, ia juga akan lebih mudah untuk menular.

Dilansir dari The Guardian, pada Kamis 24 Juni 2021, Dr Jeannete Young selaku Kepala Petugas Kesehatan Queensland, menjelaskan varian delta ini diindikasi bisa menular bahkan dengan kontak yang singkat ke transmisi. Bahkan durasi yang diperlukan virus ini untuk menular sekitar 5 sampai 10 detik saja.

‘’Pada awal pandemic, saya bicara tentang kontak dekat sekitar 15 menit jadi perhatian. Namun sekarang hanya 5 sampai 10 detik saja. risikonya pun jauh lebih tinggi disbanding setahun yang lalu,’’ ungkap Dr Young.

Profesor Nancy Baxter selaku Kepala University of Melbourne’s school of population and global health menjelaskan bahwa kontak sekilas ini merupakan deskripsi akurat yang wajib diketahui dari sifat virus di udara.

‘’Penyebarannya pun bisa lebih jikalau Anda lebih dekat dengan orang tersebut namun masih ada potensi partikel virus di udara dan terhirup oleh orang yang lewat,’’ jelas Prof Nancy.

Setelah beberapa bulan, WHO resmi mengumumkan pada bulan April 2020 bahwa penyebaran dari Covid-19 ini bisa melalui udara. Studi laboratorium sudah menemukan partikel virus ini bisa bertahan di udara selama 16 jam.

‘’Dikarenakan adanya penolakan untuk benar mengakuinya, kami masih belum membuat rekomendasi yang harusnya kami lakukan,’’ tambahnya lagi.

Penularan virus dari udara ini menurut kepala program penelitian biosekuriti di Institut Kirbu Universitas New South Wales, Prof Raina Macintyre, penularan dari udara dalam pengaturan di ruangan ini terjadi bahkan tidak dengan kontak sekilas.

‘’Aerosol dari pernapasan terakumulasi dengan cara yang sama seperti halnya asap rokok’’ jelasnya. Ia pun menjelaskan di dalam ruangan di mana tidak memiliki ventilasi memadai, orang dengan infeksi bisa bebas datang dan pergi, namun virus masih tetap menempel di udara.

‘’Jikalau Anda berjalan lewat udara di area tersebut dan mengirupnya, maka Anda bisa terinfeksi,’’ ungkat Macintyre. Profesor di Universitas La Trobe, Hassan Vally, menjelaskan varian delta lebih mudah menular, perilaku yang bisa dihadapi hampir sama.

‘’Ini memang sedikit lebih menular, namun cara mengatasinya hampir sama dengan virus aslinya. Semua cara yang sama harus kita lakukan untuk melawan varian virus tersebut bila mereka berhasil melawan strain aslinya,’’ ungkap Vally.

Peneliti senior di Australian National University, Dr. Meru Sheel, menjelaskan langkah kesehatan masyarakat supaya tidak merubah perilaku selama jenis virus ini masih ada.

‘’Tentu saja varian baru ini muncul dan beberapa akan lebih mudah menular. Masyarakat pun perlu berperan aktif karena langkah kesehatan dari masyarakat naik turun berdasarkan pada varian baru. Mencuci tangan, tetap berada di rumah, selalu pakai masker dan dapatkan suntikan vaksin jadi syarat wajib.’’ Ungkap Dr Sheel.

Perlu dikaji lebih lanjut lagi mengeni temuan kasus semacam ini, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan penularan virus corona dengan berpapasan ini masih perlu dikaji lagi.

‘’Kalau kasus satu ini masih harus dipelajari lebih lanjut karena sekaarang penularannya banyak terjadi saat mobilitas tinggi ketika lebaran,’’ jelas Nadia seperti yang dikutip dari Kompas.com, hari Rabu 23 Juni 2021.

Meskipun demikian, ia menjelaskan, vairan delta ini enam kali lebih cepat menular dibandingkan dengan virus corona yang asli. ‘’Jadinya pasti akan lebih cepat menular,’’ tambahnya lagi.

Begitu halnya dengan penjelasan dari Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. Virus corona dengan varian delta ini lebih cepat menular karena bisa bereproduksi 6 hingga 8 kali.

‘’Varian delta ini bisa 6 hingga 8 yang artinya satu orang dapat menularkan ke enam atau depalan orang karena efektif banget,’’ jelas Dicky.

Akan tetapi, penilaran varian delta ini bisa berpapasan terjadi karena perilaku masyarakat di Australia yang memang kurang patuh dalam hal penggunaan masker.

‘’Dikarenakan berpapasan ini artinya sering kali papas an ketika bicara atau ngobrol di telpon atau batuk bicara keras saja sudah cukup, saat kita berpapasan dan terhirup bisa terpapara virus jikalau sama – sama tikda menggunakan masker.’’ Tambahnya lagi.

Varian Delta Mampu Mengelabui Sistem Kekebalan Tubuh Manusia

Lonjakan kasus baru di Kudus, Jawa Tengah dipicu oleh penyebaran varian delta. Varian virus ini mengadung dua mutasi yang menyebabkan lebih mudah dan bisa menghindari sistem kekebalan tubuh.

Varian delta sudah dikonfirmasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) berdasarkan pada penelusuran genom oleh para peneliti genom. Kasus Covid-19 di Kudus ini memang meningkay taman, Gubernur Jawa Tengah menyadari bahwa ada yang ganjal dari kasus tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Ganjar ketika memberikan keynote speech dalam webinar, Varian Virus Corona Delta di Kudus, Pusat Kedokteran Tropis UGM dan PP KAGAMA, hari Rabu 16 Juni 2021.

Hingga pada akhirnya dilakukanlah sekuensing gemon pada sampel pasien Covid di Kudus. Sebelumnya, Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi, Sp.BA, Ph.D, mengatakan jika dipastikan virus corona memicu kenaikan kasus di Kudus adlaah salah satu yang sudah diketahui merupakan varian delta.

Hal ini berdasarkan dari hasil pemeriksaan WGS atau Whole Genome Sequencing yang dilakukan oleh Pokja FKKMK UGM yang dikeluarkan pada 11 Juni lalu.

Berdasarkan pada pemeriksaan genom, dr Gunadi sudah mengatakan dari 34 sampel di Kudus, 28 sampel di antaranya terkonfirmasi sebagai varian delta. Dari kasus tersebut, menunjukkan besar kemungkinan sudah terjadi transmisi lokal varian lebih mudah menular.

Lebih lanjutnya, ia pun menjelaskan bahwa sebelumnya sudah terdeteksi beberapa kasus namun masih bersifat acak dan sekarang ini sudah terjadi klaster baru di Kudus.

‘’Artinya besar kemungkinan sudah terjadi transmisi lokal di Indonesia, khususnya di Kudus. Tidak menuntup kemungkinan jika transmisi lokal bisa menyebar ke luar Kudus,’’ ungkap dr Gunadi.

WHO pun sudah menetapkan status dari varian delta sebagai varian of concern atau VOC yaitu varian yang cukup mengkhawatirkan pada tanggal 31 Mei lalu. Varian delta ini pun diketahui sebagai varian virus yang lebih menular. Varian virus corona ini pun bisa mengelabuhui sistem kekebalan tubuh manusia.

Dalam webinar, dr Gunadi juag menjelaskan jika virus varian delta ini mempunyai kemampuan transmisi atau penularan yang lebih mudah dan bisa memengaruhi imunitas kekebalan tubuh. Ia pun menjelaskan virus corona dari india memiliki 3 jenis, yaitu B.1.617.1, B.1.617.2 atau yang sekarang dikenal sebagai varian delta.