google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Bisakah Penyakit Polio Muncul Ketika Dewasa?

Poliomyelitis atau polio merupakan jenis penyakit yang dikenal bisa menyebabkan kelumpuhan secara permanen.

Penyakit ini pun kebanyakan dialami oleh balita, terlebih lagi bagi yang belum mendapatkan imunisasi polio. Namun, apakah bisa penyakit polio ini muncul ketika seseorang sudah beranjak dewasa?

Kenali Apa Itu Penyakit Polio

Polio adalah jenisi infeksi virus seirus yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen dan berujung pada kematian.

enyakit ini juga bisa dengan mudahnya menyebar dari satu orang ke orang lain dan kebanyakan penderitanya tidak sadar bahwa dirinya sudah terinfeksi karena polio memang kerap kali tidak menimbulkan gejala.

Jikalau sudah terkena, maka pengobatan yang dapat dilakukan hanyalah mengatasi gejala polio. Hal ini dikarenakan masih belum ditemukannya obat yang dapat menyembuhkan penyakit polio secara total.

Kabar baiknya adalah polio ini bisa dicegah dengan cara vaksinasi polio. Meskipun banyak dari penderitanya adalah anak – anak, namun penyakit saraf ini bisa menyerang siapa saja dari segala usia.

Itulah pentingnya mendapatkan vaksinasi polio, baik untuk anak – anak maupu orang dewasa supaya terhindar dari penyakit tersebut.

Begini Cara Penyebaran Poliovirus yang Menyebabkan Penyakit Polio

Anda mungkin bisa saja terinfeksi oleh virus polio jika Anda melakukan kontak erat dengan feses penderita polio atau pun tidak sengaja menghirup percikan air liur pengidanya ketika mereka sedang bersin atau pun batuk.

Infeksi virus polio ini dapat juga diperoleh dari minuman atau pun makanan yang sudah terkontaminasi feses atau air liur penderitanya.

Jikalau virus polio ini masuk melalui mulut, maka akan melewati tenggorokan menuju ke usus. Nah, usus inilah yang menjadi sarang virus polio berkembang biak.

Dalam catatan beberapa kasus, virus polio ini pun bisa masuk melalui aliran darah dan menyebar ke sistem saraf pusat.

Para pengidap polio juga berpotensi untuk menularkan virus sejak seminggu sebelum munculnya gejala hingga beberapa minggu setelahnya. Para penderita penyakit polio pun tidak akan mengalami gejala bakal berpotensi untuk menularkan virus ke orang lain.

Inilah Gejala Penyakit Polio yang Harus Diwaspadai

Kebanyakan dari para penderita penyakit polio memang tidak mengalami gejala apaun sehingga penyakit ini kerap kali tidak disadari. Akan tetapi, ada sejumlah kecil dari penderita yang mengalami gejala flu sekitar 3 sampai 21 hari sesudah terinfeksi.

Berikut ini ada beberapa dari gejala penyakit polio secara umumnya :

  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 38 derajat celcius
  • Sakit perut
  • Nyeri pada otot

Gejala di ayas kadang akan menghilang dalam kurun waktu satu minggu. Tetapi, dalam kasus yang sangat jarang terjadi, virus polio ini juga dapat menyerang saraf di bagian tulang belakang dan juga pangkal otak.

Hal tersebut dapat menyebabkan penderitanya mengalami kelumpuhan, umumnya pada bagian kaki, yang bertahan selama berjam – jam atau berhari – hari. Namun tidak perlu khawatir, kelumpuhan ini hanya bersifat sementara saja.

Kemampuan gerak akan segera kembali normal secara bertahap dalam kurun wkatu beberapa minggu hingga bulan ke depan.

Meskipun demikian adanya, Anda tetap waspada terhadap penyakit polio. Pasalnya, Polio virus ini mampu menyerang bagian otot pernapasan dan berpotensi mengancam nyawa pengidapnya.

Dampak Jangka Panjang dari Penyakit Polio

Kendati pun penyakit polio ini bisa sembuh dengan cepat tanpa menimbulkan masalah kesehatan lainnya, namun terkadang penyakit saraf ini pun dapat menyebabkan masalah kseahatan yang persisten atau seumur hidup.

Ada beberapa penderita yang mengalami kelumpuhan dengan tingkat keparahan bervariasi secara permanen, sedangkan sebagian yang lainnya mungkin akan mengalami masalah kesehatan dan memerlukan perawatan jangka panjang, di antaranya adalah

  • Kelemahan pada otot
  • Penyusutan otot atau atrofi
  • Sendi yang mengencang atau kontraktor
  • Kelainan bentuk tubuh, seperti halnya kaki bengkok

Ada pula kemungkinan bahwa seseorang yang mempunyai riwayat penyakit polio di masa lalunya akan mengalami gejala yang serupa, bahkan bisa lebih buruk ketika beranjang dewasa.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah medis sindorm pasca polio. Gejala dari sindrom ini pun baru akan muncul 30 tahun atau pun lebih sejak penderitanya terinfeksi virus polio pertama kalinya.

Jadinya, penyakit polio ini dapat muncul kembali ketika dewasa. Oleh karena itulah, Anda disarankan untuk tetap waspada dengan penyakit saraf tersebut. Jika sedang mengalami gejala penyakit polio seperti di atas, segera periksakan diri langsung ke dokter.

Penyakit Polio Bisa Mengganggu Pertumbuhan

Polio ini merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap kali terjadi pada balita. Penyakit ini pun menyerang saraf, sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak, bahkan bisa juga menyebabkan kelumpuhan.

Itulah sebabnya penyakit ini cukup mengkhawatirkan bagi kalangan orang tua. Lantas, apakah penyakit polio bisa disembuhkan?

Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang dikenal dengan nama Poliovirus. Virus ini pun dapat menyebabkan kelumpuhan, baik bersifat sementara hingga permanen.

Selain itu juga, penyakit polio ini dapat mengganggu saraf pernapasan hingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas. Kondisi tersebut yang bisa membuat penyakit polio sangat membahayakan nyawa penderitanya.

Sebagian besar penderita penyakit polio adalah anak – anak dengan umur di bawah lima tahun atau balita, terlebih lagi yang belum mendapatkan imunisasi polio. Akan tetapi, tidak menutup kemungikan bisa juga menyerang orang dewasa.

Virus polio ini pun dapat dengan mudahnya menular dari satu orang ke orang lainnya, namun masih bisa dicegah dengan mendapatkan vaksinasi atau imunisasi polio.

Kenali Gejala Penyakit Polio yang Mengganggu Pertumbuhan

Dilihat dari gejalanya, penyaki polio ini dibagi menjadi dua jenis, yakni polio paralisis dan polio non paralisis.

Akan tetapi, jenis polio paralisis ini merupakan tipe penyakit polio berbahaya karena dapat mengganggu pertumbuhan anak. Hal tersebut dikarenakan jenis polio ini bisa menyebabkan gejala seperti berikut :

  • Hilangnya refleks alami tubuh
  • Otot tegang dan terasa nyeri
  • Lengan atau tungai melemah

Polio paralisis pun dapat pula mengakibatkan kondisi yang cukup serius, seperti halnya kelumpuhan saraf tulang belakang dan otak secara permanen.

Pengobatan Untuk Mengatasi Penyakit Polio

Hingga saat ini masih belum ada obat yang dikhususkan untuk menyembuhkan penyakit polio. Pengobatan yang dilakukan sekarang hanyalah bertujuan untuk mendukung fungsi tubuh guna mengatasi gejala dan juga mengurangi risiko masalah jangka panjang atau pun komplikasi.

Dokter bakal menyarankan para penderita untuk perbanyak istirahat dan minum air putih yang banyak guna meredakan gejala yang muncul. Sedangkan untuk jenis obat – obatan yang biasanya akan diberikan mengatasi penyakit polio, di antaranya adalah :

  • Obat pereda rasa nyeri

Penyakit polio ini bisa menimbulkan rasa nyeri pada bagian tubuh, mulai dari otot, perut hingga sakit kepala. Cara untuk mengatasi gejala nyeri ini, penderita dapat konsumsi obat pereda rasa nyeri, seperti ibuprofen.

  • Obat Antibiotik

Meskipun penyakit polio ini disebabkan oleh infeksi virus, namun penyakit ini juga dapat disertai oleh infeksi dari bakteri, seperti halnya infeksi saluran kemih. Untuk bisa menghilangkan infeksi bakteri tersebut, dokter akan memberikan resep antibiotik.

  • Obat Pelemas Otot (Antispasmodik)

Resep obat kerap kali diberikan oleh dokter guna mengatasi otot yang menegang akibat infeksi virus polio.

Contoh dari jenis obat yang bisa melemaskan otot adalah tolteroidine dan scopolamine. Selain dengan konsumsi obat tersebut, ketegangan pada otot bisa saja diatasi dengan cara mengompres bagian tubuh tertentu dengan air hangat.

Bagi para penderita yang mengalami gangguan saluran pernapasan, biasanya dokter akan memasangkan alat bantu pernapasan pada pengidapnya. Kadang, operasi juga bisa diperlikan guna memperbaiki bentuk kaki atau pun lengan yang mengalami kelumpuhan.

Sedangkan untuk mencegah hilangnya fungsi otot lebih serius, penderita penyakit polio diharuskan menjalani serangkaian fisioterapi secara berkala.

Cara Pencegahan Penyakit Polio

Dikarenakan penyakit polio ini tidak dapat disembuhkan secara total, maka tindakan pencegahan jadi salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Cara yang cukup efektif untuk bisa mencegah penyakit polio ini adalah dengan menjalani imunisasi polio.

Vaksin polio sudah terbukti sangat ampuh melindungi tubuh manusia dari penyakit polio dan juga aman diberikan kepada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah sekalipun. Ada dua jenis vaksin polio yang tersedia sekarang ini, yakni obat tetes mulut (OPV) dan suntikan dosis vaksin (IPV).

Vaksin polio dalam bentuk obat tetes mulut (OPV-0) dapat diberikan kepada bayi yang baru saja lahir. Lalu, vaksin selanjutnya dapat diberikan sebanyak empat dosis, baik yang berupa suntikan maupun obat tetes mulut.

Berikut ini jadwal dari pemberian dari keempat dosis vaksin polio yang dikhususkan pada anak – anak :

  • Ketika anak berumur 2 bulan diberikan dosis vaksin pertama
  • Ketika anak berumur 3 bulan diberikan dosis vaksin kedua
  • Ketika anak berumur 4 bulan diberikan dosis vaksin ketiga
  • Ketika anak berumur 18 bulan diberikan dosis vaksin keempat

Sementara itu, untuk pemberian vaksin polio kepada orang dewasa, biasanya akan diberikan dalam bentuk suntikan (IPV) yang terbagi menjadi tiga dosis vaksin, yakni :

  • Dosis pertama vaksin polio bisa diberikan kapan saja dengan segala usia
  • Dosis kedua vaksin polio dapat dilakukan 1 hingga 2 bulan sesudah suntikan dosis pertama
  • Dosis ketiga vaksin polio dapat dilakukan 6 hingga 12 bulan sesudah suntikan dosis kedua

Dikarenakan penyakit polio ini tidak dapat disembuhkan secara total, maka orang tua pun dianjurkan untuk selalu waspada terhadap jenis penyakit saraf yang kerap kali menyerang anak – anak. Apabila anak menunjukkan gejala atau tanda vaksin polio, segera periksakan anak ke dokter.