google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Cek Fakta Dari Kasus Alat Rapid Test Antigen Bekas

Kabar tidak menyenangkan datang dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Di sana telah ditemukan dari layanan pemeriksaan kesehatan terkait dengan infeksi virus corona yang menggunakan alat rapid test antigen bekas untuk calon penumpang pesawat terbang.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini ada beberapa fakta yang berkaitan dengan kasus ini tengah menjadi perhatian publik.

Inilah Fakta Kasus Alat Rapid Test Antigen Bekas Digunakan Kembali

Berikut ini ada beberapa fakta yang harus Anda ketahui mengenai kasus alat rapid test antigen bekas di bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara.

  • Diciduk Polisi Yang Sedang Menyamar

Kasus tersebut diciduk oleh Diskrimsus Polda Sumut, pihak mereka melakukan penggerebekan Labolatorium Rapid Test Antigen milik Kimia Farma di bandara pada Selasa, 27 April 2021 sore. Hal ini ternyata berawal dari pihak kepolisian yang sudah menerima laporan mencurigakan dari seorang calon penumpang pesawat terbang. Oleh karena itulah, polisi pun akhirnya memutuskan untuk menyamar menjadi salah satu orang yang akan melakukan tes Covid-19.

Pada saat hasil tes tersebut keluar, polisi tampak berdebat dikarenakan hasil yang dinilai kurang akurat. Setelahnya, petugas polisi dikumpulkan dan mereka segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh di lokasi. Lalu, terkuaklah bila alat rapid tes bekas pakai tetapi didaur ulang untuk bisa digunakan kembali.

Bukan satu atau dua alat tes saja, namun alat tes bekas ini ditemukan dalam jumlah ratusan. Barang bukti ini sekarang sudah disita dan dibawa ke kantor kepolisian untuk diselidiki lebih lanjut lagi.

  • Alat Rapid Tes Antigen Bekas Didaur Ulang Memakai Alkohol

Setelah menetapkan lima tersangka dari dugaan penggunaan alat tes antigen bekas, pihak kepolisian juga melakukan wawancara dengan mereka. Menurut keterangan dari tersangka, alat tes antigen berupa benda yang menyerupai cotton buds untuk dimasukkan ke dalam hidung atau pun tenggorokan ini dibersihkan ulang dengan memakai alkohol.

‘’Caranya itu yang seperti cotton buds kami bersihkan dengan menggunakan alkohol 75 persen. Itu kami bersihkan kembali dengan cara tisunya kami basahi dengan alkohol, lalu dilap pada kapasnya,’’ ungkap salah satu dari tersangka inisial SR seperti yang sudah dikutip dari laman Detik.com, Kamis 29 April 2021.

Ia pun memberikan penjelasan, selain alat tes yang digunakan bekas, beberapa korban juga ada yang tidak diperiksa. Artinya adalah tersangka ini mengambil sampel dari hidung korban namun sampelnya tidak diperiksa dengan benar di dalam laboratorium.

‘’Pernah tidak diperiksa. Awal masuk SOP benar, namun setelah lama kerja di sana saya dilarang buat seperti itu. Sama salah satu dari mereka juga,’’ tambahnya.

  • Banyak Orang Yang Terlibat

Ternyata ada banyak orang yang ikut terlibat dalam kasus rapid tes palsu ini. Sampai dengan berita ini ditulis, sudah ada lima tersangka, yaitu para pengelola laboratorium tes antigen di Bandara Kualanamu, Deli Serdang. Di antaranya adalah :

  • BM atau Business Manager Lab. Kimia Farma dengan inisial PM 45 tahun. Penanggung jawab lab yang sengaja menyruh penggunakan cotton buds swab antigen bekas.
  • Kurir dari lab Kimia Farma dengan inisial SR berusia 19 tahun. Mengangkut alat rapid tes bekas dari Kualanamu langsung ke Lab Kimia Farma, serta alat tes bekas yang sudah dikemas ulang dari lab Kimia Farma ke Kualanamu.
  • CS di Lab Klinik Kimia Farma berisinial DJ usia 20 tahun. Melakukan daur ulang dari alat tes menjadi alat dengan kemasan yang terlihat baru.
  • Admin lab Kimia Farma berinisial M usia 30 tahun. Melaporkan hasil tes swab langsung ke kantor pusat.
  • Terakhir ada admin hasil swab dengan inisial R berumur 21 tahun.

Kelima tersangka ini bisa dijerat dengan pidana pasal 98 ayat 930) jo pasal 196 UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 8 huruf b, d dan e jo pasal 62 ayat 1 UU No 8 tahun 1999  tentang perlidungan Konsumen.

  • Permintaan Maaf Dari Pihak Kimia Farma

Setelah kasus alat rapid tes bekas ini membuat masyarakat heboh, Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika, Adil Fadhilah Bulqini, pun sudah merilis pernyataan maaf secara tertulis. Ia juga mengatakan, kasus yang sudah dilakukan oleh para petugas tersebut akan merugikan perusahaan dan bertentangan pula dengan prosedur standar perusahaan atau SOP.

Adil pun menyebutkan jika pihaknya akan bekerja sama dengan kepolisian terkait investigasi kasus penggunaan alat rapid test antigen bekas.

‘’Manajemen dan seluruh karyawan Kimia Farma Dagnostik Medan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh lapisan masyarakat. Kejadian ini pun bisa dijadikan pelajaran berharga serta selanjutnya akan selalu memastikan supaya tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari,’’ ujarnya dalam permintaan maaf tertulis, hari Kamis 29 April 2021.

  • Pemberhentian Kerja Sama

Karena kasus inilah, Bandara Kualanamu juga memutuskan untuk memberhentikan sementara kerja sama tes antigen dengan pihak Kimia Farma.

Untuk keputusan kerja sama selanjutnya akan menunggu hasil dari pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan dugaan penggunaan alat tes bekas.

Cara Membedakan Alat Rapid Tes Baru Dan Bekas

Kasus dari alat tes bekas ini tentu saja merupakan hal yang sangat serius. Pasalnya, tindakan dari para oknum yang tidak bertanggung jawab ini bisa saja menjadi sarana penularan dari infeksi virus corona atau pun penyakit menular yang lainnya.

Sebenarnya, memang cukup sulit untuk membedakan mana alat tes yang masih baru atau pun sudah bekas digunakan. Untuk cara membedakannya adalah, Juru Bicara Satuan Tugas Penangan Covid-19 Sumatera Utara, dr. Aris Yudhariansyah menjelaskan mengenai hal tersebut.

Berdasarkan penuturannya, satu hal yang pasti adalah alat rapid tes baru biasanya masih dikemas dengan rapi di dalam kantong plastik disposable atau pun plastik khusus untuk sekali pakai saja.

‘’Jadi, kalau pun Anda sedang di tes tapi alat tes dalam kondisi yang sudah dibuka, patut dicurigai kalau antigen itu bisa saja didaur ulang atau pun yang lainnya,’’ ungkap Aris seperti yang dikutip dari laman Kompas.

Ia pun menjelaskan, para calon peserta tes memang harus memperhatikan setiap alat tes yang akan digunakan. Pastikan pula alat rapid tes ini berada di lokasi yang terlihat jelas, sehingga proses buka dan tutup alat tes oleh petugas bisa Anda pantau.