google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Cek Fakta Molnupiravir, Obat Oral Pertama yang Diklaim Ampuh Melawan Virus Corona

obat molnupiravir
Obat Oral Molnupiravir

Merck selaku perusahaan farmasi terbesar telah resmi memperkenalkan obat antivirus untuk Covid-19 dengan nama Molnupiravir yang dapat mengurangi risiko gejala berat hingga kematian pada para pasien positif hingga sekitar 50 persen.

Pengobatan Covid-19 paling terbaru ini pun efektif bila disetujui oleh regulator kesehatan, dapat juga dijadikan sebagai senjata baru bagi kalangan tenaga medis guna merawat para pasien Covid-19 dan akhirnya bisa menyelamatkan nyawa seluruh pasien.

Pada awalnya obat ini telah dikembangkan sebagai obat influenza dengan dosis pemberiannya sebanyak 2 kali dalam sehari selama kurang lebih 5 hari. Obat antivirus Molnupiravir ini sudah dirancang untuk diberikan langsung secara oral.

Obat Molnupiravir ini telah dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Ridgeback Biotherapeutics yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi terbesar Merck.

Jika dibandingan dengan perawatan pasien Covid-19 lainnya yang juga memerlukan transfusi intravena dengan harga yang cukup mahal, seperti plasma pemulihan dan juga antibodi monoclonal, pemberian obat Molnupiravir ternyata jauh lebih mudah.

Sebelumnya, obat antivurus remdesivir, pada saat ini menjadi satu – satunya obat yang mendapatkan persetujuan dari Food and Drug Administration guna mengobati infeksi dari virus corona, juga mesti dikirimkan ke aliran darah.

Cara Kerja Obat Molnupiravir Menyerupai Obat Antivirus

Seperti yang sudah dilansir dari Vox, sebenarnya obat Molnupiravir ini memiliki sistem kerja yang hampir sama seperti obat antivirus remdesivir pada umumnya. Obat ini juga bisa menyebabkan mutasi genetik yang mampu menghambat perkembangan virus, sementara itu untuk remdesivir menyebabkan siklus reproduksi virus menjadi berhenti.

Adapun temuan perusahaan farmasi, Merck ini berasal dari hasil uji coba klinis tahapan ketiga dari total 775 pasien positif Covid-19 dewasa. Para peserta tersebut memiliki penyakit ringan sampai sedang dan dianggap pula berisiko, namun tidak dirawat di rumah sakit saat uji coba dimulai pada awal bulan Agustus lalu.

Pada hari ke 29 uji coba klinis tersebut, sebanyak 7,3 persen pasien yang menerima obat molnupiravir dinyatakan meninggal atau pun dirawat di rumah sakit, bila dibandingkan dengan 14,1 persen pasiennya berada di dalam kelompok plasebo.

Perusahaan farmasi Merck ini mengatakan bahwa obat molnupiravir juga efektif dalam melawan varian baru virus corona, di antaranya adalah delta, gamma dan juga mu. Uji coba tersebut dihentikan, dengan persetujuan dari regulator, sesudah berhasil menunjukkan keefektifan obat tersebut.

Seperti yang dilansir dari The Indian Express, obat Molnupiravir ini ialah promosi pertama dari obat yang tersedia secara oral guna membatasi transmisi virus corona dengan cepat serta bisa menjadi pelindung bagi tubuh. Dr. Richard K Plemper dari kelompok peneliti obat Molnupiravir juga telah menegaskan bahwa pada tahapan awal penemuan obat ini sudah cukup ampuh melawan infeksi virus influenza.

‘’Peneliti juga telah mengkarakterisasikan MoA atau mekanisme aksi dari obat tersebut terhadap virus influenza di dalam jurnal publikasi sebelumnya,’’ jelas Dr Plemper kepada The Indian Express.

Lalu, CEO sekaligus Presiden Merck Robert Davis pun mengatakan bahwa pihaknya optimis obat Molnupiravir ini dapat berperan aktif dalam memerangi pandemi Covid-19.

‘’Dengan adanya hasil yang begitu meyakinkan tersebut, kami pun optimis bahwa obat molnupiravir bisa menjadi obat penting sebagai bagian dari upaya global dalam memerangi pandemi virus corona serta bakalan menambahkan warisan unik bagi Merck guna memajukan terobosan penyakit menular ketika tengah dibutuhkan,’’ jelas Davis.

Pemerintah federal telah merencanakan kemungkinan pemberian persetujuan, serta melakukan komitmen untuk membeli sebanyak 1,7 juta kurses pengobatan molnupiravir dengan harga 1,2 miliar US dollar, produksi obat tersebut tengah dimulai. Merck dan Ridgeback Biotherapeutics pun berharap untuk segera membuat sebanyak 10 juta program obat pada akhir tahun 2021.

Namun, masih memerlukan waktu hingga berbulan – bulan lamanya sebelum banyak orang yang menggunakan obat Molnupiravir. Bahkan saat sudah tersedia, mungkin masih ada juga yang tidak sepakat dengan memakai obat tersebut untuk pengobatan Covid-19.

Hasil Penelitian dari Obat Molnpiravir

Meskipun beberapa bukti ilmiah dari obat tersebut menunjukkan hasil yang begitu positif bagi pasien Covid-19, namun masih ada sedikit kontrovesti di tahapan awal pengembangan Molnupiravir. Beberapa hasil dari penelitian sebelumnya telah menjelaskan bahwa khawatir dengan mekanisme molnupiravir yang bisa menyebabkan berbagai masalah yang sulit diprediksi.

Untuk kali pertama, obat pil ini disebutkan sukses menekan risiko rawat inap sampai kematian dikarenakan infeksi virus corona. Hasil uji klinis sementara telah menunjukkan bahwa efektivitas obat tersebut setelah diberikan sebanyak dua kali dalam sehari kepada para pasien positif Covid-19.

Merck selaku produsen obat asal Amerika Serikat ini mengaku telah mendapatkan banyak respons positif dari berbagai pihak sehingga disarankan untuk segera mengajukan izin penggunaan darurat selama dua pekan ke depannya. Bila telah mendapatkan persetujuan tersebut, Molnupiravir akan menjadi obat antivirus oral yang pertama bagi pengobatan Covid-19.

Dikutip langsung dari BBC, pil obat yang awalnya dikembangkan untuk mengobati influenza ini dirancang untuk memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus, supaya mencegah virus tersebut menyebar ked alma tubuh manusia. Riset obat Molnupiravir ini sudah dilakukan kepada 775 pasien Covid-19.

Ada sekitar 7,3 persen dari peserta yang telah diberikan obat tersebut mendapatkan perawatan di rumah sakit, sementara 14,1 persen pasien lainnya diberi pil tiruan atau plasebo.

Hasil dari riset tersebut menunjukkan tidak ada kasus kematian kepada kelompok yang diberikan obat molnupiraviru, namun ada delapan pasien yang diberi plasebo kemudian meninggal dunia karena infeksi virus corona.

Berbeda halnya dengan vaksin virus corona, sejumlah ahli pun mengungkapkan obat ini menargetkan enzim yang digunakan oleh virus untuk menggandakan dirinya sendiri. Pihak Merck menjelaskan bahwa obat produksinya pun cukup efektif dalam melawan varian baru serta virus yang mungkin akan muncul di masa depan.

‘’Pengobatan dengan antivirus bagi orang yang tidak mendapatkan vaksinasi atau pun sistem kekebalan tubuh yang kurang responsif dari vaksin Covid-19 ini, menjadi alat yang begitu penting untuk mengakhiri masa pandemi,’’ jelas Daria Hazuda selaku wakil presiden dalam penemuan penyakit menular Merck, kepada pihak BBC.

Hasil uji coba tersebut menyarankan molnupiravir ini untuk digunakan jauh lebih awal setelah pasien positif Covid-19 mengalami gejala. Dalam studi sebelumnya pada pasien yang telah dirawat di rumah sakit dengan kondisi positif Covid-19 parah diberhentikan karena hasil penemuan yang begitu mengecewakan.

Salah Satu Obat Oral Covid-19 Pertama Yang Banyak Dilirik Jumlah Negara

Merck merupakan perusahaan pertama yang sudah melaporkan hasil uji coba obat pil untuk mengobati Covid-19, namun perusahaan lainnya tengah meneliti jenis obat yang serupa.

Pfizer menjadi pesaing di wilayah Amerika Serikat, baru – baru ini pun telah melakukan rangkaian uji coba tahapan terakhir dari dua tablet antivirus yang berbeda. Sementara itu, Roche perusahaan asal Swis juga tengah mengerjakan obat yang sama.

Merck juga menjelaskan bahwa mereka pun berharap dapat melakukan produksi sebanyak 10 juta molnupiravir pada akhir tahun 2021. Pemerintah Amerika Serikat juga telah menyetujui pembeli obat dengan nilai 1,2 miliar US dollar, bila sudah resmi mendapatkan persetujan dari Food and Drug Administration (FDA).

Malaysia Beli Obat Oral Covid-19 Pertama di Dunia, Bagaimana Dengan Indonesia?

Obat oral untuk infeksi virus corona yang pertama kalinya, Molnupiravir melaporkan hasil dari uji klinis sementara telah banyak menyita perhatian sejumlah negara. Obat produksi Merck, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat diyakini mampu mencegah kasus rawat inap hingga kematian akibat dari Covid-19.

Malaysia pun mengaku sedang berencana untuk melakukan negosiasi berkaitan dengan obat Molnupiravir, untuk menambahkan salah satu langkah strategi pengendalian Covid-19. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dokter Siti Nadia Tarmizi pun menjelaskan bahwa pemerintah masih belum melakukan pembicaraan lebih lanjut lagi terkait dengan kemungkinan membeli obat oral Covid-19 pertama Molnupiravir.

‘’Kita masih tengah menunggu hasil uji klinisnya terlebih dahulu,’’ demikianlah konfirmasi dari dokter Nadia selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan ketika dihubungi oleh detikcom, pada hari Minggu, 3 Oktober 2021 lalu.

Sementara itu, diwawancara terpisah, ahli epidemiologi Dicku Budiman dari Universitas Griffith Australia telah menyambut baik hasil penelitian uji klinis obat Molnupiravir. Ia pun mengharapkan obat oral tersebut dapat efektif untuk mencegah penularan atau pun transmisi virus corona.

Ia juga memprediksi ketersediaan dari jumlah obat oral Covid-19 ini akan rampung kuartal pertama di tahun depan. Obat tersebut menurutnya begitu mudah didistribusikan ke sejumlah pelosok daerah yang dinilai sulit dijangkau karena berbentuk kapsul obat.

‘’Nah ini kan jika berbicara obat kapsul akan jauh lebih banyak dijangkaunya. Namun sayangnya, ini cukup mahal, jutaan, atau kurang lebihnya. Tapi data awalnya pun juga sangat menjanjikan, bahkan lebih baik dari monoclonal antibodi yang selama ini sudah banyak digunakan oleh pasien.’’

‘’Obat ini juga bisa menjadi perkuat lini hilir di terapi, hingga vaksin yang sudah ada, obat antivirus-nya pun sudah tersedia. Artinya menjadi masa transisi ke endemic akan sedikit sekali orang yang menjalani masa di ICU apalagi harus menggunakan ventilator dan kematiannya pun semakin berkurang,’’ jelasnya lagi.