google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Cek Fakta Tentang Varian Delta Mendominasi Infeksi Virus Corona

Hampir kurang lebih selama tiga bulan terakhir ini, seluruh dunia sedang mendapat ancaman dari virus corona varian delta.

Seperti yang sudah diketahui, virus corona jenis baru inilah yang ternyata menjadi penyebab dari lonjakan kasus infeksi baru di berbagai belahan dunia.

Kepala Ilmuwan Badan Kesehatan Dunia, Soumya Swaminathan, yang sudah dikutip dari Reuters, pada hari Jumat 18 Juni 2021, telah memprediksi varian delta ini bakalan menjadi virus corona yang paling mendominasi di seluruh dunia.

Proyeksi semacam ini pun merujuk kepada tingkat penularan dari varian delta terbilang cukup tinggi.

Berdasarkan pada catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), varian delta  ini sudah menyebar hingga lebih dari 80 negara per tanggal 16 Juni.

Padahal, virus corona varian delta ini baru saja teridentifikasi semenjak enam bulan yang lalu, lebih tepatnya di akhir tahun 2020 di negera India.

Berikut ini kami sudah merangkum beberapa fakta mengenai virus corona varian delta :

Varian Delta Menyebar Begitu Cepat Ke Berbagai Belahan Dunia

Varian delta ini memiliki nama lainnya adalah B.1.617.2 yang pertama kalinya teridentifikasi pda akhir tahun 2020 lalu di India.

Hanya berselang sekitar empat bulan dari waktu varian virus corona ini terdeteksi, varian ini pun menyebabkan gelombang infeksi Covid-19 yang luar biasa di negera India.

Kemudia, tepat dua bulan setelahnya, menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sudah menyebar ke lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Mengutip keterangan yang sudah dimuat di situs Gavi, WHO memproyeksikan varian delta ini bisa membuat benua Eropa mencengkram.

Sementara itu di Amerika Serikat, varian delta disebutkan sebagai penyebab dari 10 persen infeksi virus corona.

Diduga Lebih Mudah Menularkan Ke Orang Lain

Di Negara Inggris tingkat penularan dari varian delta ini cukup tinggi. Mengutip dari keterangan di situs Gavi, varian delat sekarang sudah tercatat sebagai penyebab 90 persen dari kasus infeksi baru virus corona di Inggris. Padahal, varian delta ini baru saja terdeteksi di inggris pada bulan februari lalu.

Sebelum varian delta ini terdeteksi, kebanyakan dari kasus infeksi virus corona yang terjadi di inggris disebabkan oleh varian Alpha. Varian yang diberikan nama B.1.1.7 tersebut pertema kalinya terdeteksi di Kent.

Tingkat penularan dari varian alpha ini ternyata juga cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 90 persen lebih menularkan dibanding dengan varian asli dari virus corona. Akan tetapi, varian delta pun jauh lebih menularkan dibandingkan varian alpha.

Mengutip dari situs Gavi, tingkat penularan varian delta dibandingkan dengan varian alpha ini berkisar dari 30 persen hingga 100 persen. Para ilmuwan sekarang ini sedang menyelidiki penyebab dari tingginya tingkat penularan virus corona varian delta.

Hasil penelitian sejauh ini baru membuktikan adanya perubahan kecil pada protein berupa mahkota yang dapat meningkatkan kemampuan varian delta ini untuk bisa mengikat reseptor ACE2 yang mana akan digunakan supaya bisa masuk ke dalam sel manusia.

Studi yang lainnya, masih belum memasuki tahapaan tinjauan sejawat, menemukan varian ini pun mengalami mutasi, yang bisa meningkatkan kemampuan virus untuk menyatu dengan sel – sel manusia pada saat virus tersebut menempel.

Bila virus ini bisa menempel dan menyatu dengan lebih mudahnya, virus itu akan langsung menginfeksi banyak sel di dalam tubuh, yang mungkin saja dapat membuatnya menjadi lebih mudah untuk membanjiri seluruh pertahanan kekebalan tubuh manusia.

Virus Corona Varian Delta Dapat Menimbulkan Infeksi Dengan Gejala yang Berbeda

Khusus di wilayah tenggara China, salah satu dari lokasi dengan tingkat penularan paling tinggi untuk varian delta ini, para dokter pun segera mengamati adanya perbedaan gejala yang muncul.

Mereka yang sudah terinfeksi virus corona varian delta ini mengalami kondisi kesehatan yang semakin buruk dan lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang sudah terinfeksi varian asli virus corona.

Dalam sebuah studi di Inggris telah menemukan hasil yang serupa. Sejak awal bulan Mei,  gejala yang paling sering muncul dan dilaporkan oleh mereka yang sudah terinfeksi virus corona ini adalah sakit kepala, pilek dan juga demam tinggi, serta sakit tenggorokan.

‘’Lebih sedikit dari mereka yang mengalami batuk – batuk. Sedangkan untuk kehilangan indera penciuman sudah tidak masuk lagi ke dalam daftar dari 10 gejala yang sering kali dialami oleh orang yang sudah terinfeksi virus corona,’’ jelas Tim Spector, pimpinan dari studi di Inggris.

Peningkatan Risiko Rawat Inap Semakin Drastis

Berdasarkan pada studi di Skotlandia yang sudah diterbitkan di The Lencet pada tanggal 14 Juni lalu, virus corona varian delta ini bisa meningkatkan risiko rawat inap menjadi dua kali lipat bila dibandingkan dengan varian alpha.

Kesimpulan ini ternyata dirujuk pada 19.543 kasus dari positif Covid-19 dan juga 377 rawat inap yang yelah dilaporkan di Negara Skotlandia ini antara tanggal 1 April sampai dengan 6 Juni 2021.

Orang – orang yang sedang memiliki penyakit penyerta atau pun komorbid justru memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk dirawat di rumah sakit. Sedangkan bagi mereka yang telah memeroleh vaksinasi Covid-19 dengan dosis lengkap justru lebih terlindungi secara maksimal.

Merujuk pada hasil studi di atas, sudah terungkap bahwa mereka yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 dengan dosis lengkap ini justru memiliki risiko yang lebih rendah untuk menjalani rawat inap di rumah sakit.

Namun, berdasarkan pada studi yang sudah digelar oleh Public Health England atau PHE, dosis pertama dari vaksinasi Covid-19 tidak terlalu efektif untuk melindungi seseorang dari infeksi virus corona varian delta dibandingkan dengan virus varian alpha.

Sementara itu, untuk kasus positif virus corona varian delta yang sudah teridentifikasi di beberapa daerah di Indonesia. Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 juga sudah menyebutkan varian delta ini sebagai salah satu dari penyebab melonjaknya angka kasus baru infeksi virus corona selama kurun waktu dua minggu terakhir ini.

‘’Varian delta sudah banyak sekali ditemukan di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Seperti hasil yang sudah didapatkan dari penelitian ilmiah di Negara lainnya, tentu saja virus corona varian delta ini sangat berbahaya,’’ ungkap Wiko Adisasmito, juru bicara Satuan Gugus Tugas, pada hari Kamis 16 Juni 2021.

Namun, masih diperlukan lagi penelitian lebih lanjut mengenai varian delta. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa varian yang paling berbahaya di satu Negara dan juga berbahaya bagi Negara lainnya.

‘’Langkah tersebut cukup efektif dalam mencegah penularan virus corona varian apa saja. yang paling utama adalah dengan menerapkan protokol kesehatan, selalu menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan juga menggunakan masker selama bepergian ke luar rumah. Karena dengan cara inilah varian apapun tidak akan mudah menular.’’ Jelasnya lagi.