google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Cina Mulai Kuasai Negara-Negara di Afrika

Cina Kuasai Afrika

Sejumlah negara yang berada di benua Afrika, kini sepertinya telah jatuh ke tangan Cina. Hampir seluruh infrastruktur di negara-negara tersebut dipegang oleh negeri Tirai Bambu tersebut. Diketahui, strategi Cina dalam menguasai negara-negara itu adalah melalui penguasaan ekonomi.

Proyek utama untuk penguasaan ekonomi itu dimulai dari dibangunnya Jalur Sutra Baru, atau Belt and Road Initiative. Pada dasarnya ini merupakan proyek pembangunan jalur transportasi utamanya untuk perdagangan, antar negara-negara di Asia, Eropa dan Afrika. 

Sejak dibuka pada tahun 2013 lalu, puluhan negara bergabung dan menandatangani kesepakatan yang pada akhirnya menjerat negara-negara tersebut dalam perangkat utang kepada Beijing. 

Sejumlah negara mengaku tawaran yang diberikan Cina dalam proyek tersebut sangat menggiurkan. Mereka menganggap proyek tersebut bisa membantu mereka dalam pembangunan infrastruktur, menarik minat investor dari luar negeri, mewujudkan program pengentasan kemiskinan dan mengembangkan jaringan perdagangan yang selama ini sulit untuk diwujudkan. 

Penguasaan Ekonomi dan Penguasaan Militer

Mereka yang akhirnya terjebak, menjadi semakin bergantung pada keberadaan Cina. Pada akhirnya mau tidak mau, mereka menurut dengan sejumlah tawaran dari Cina dengan iming-iming pengurangan beban hutang. Salah satu yang dilakukan Cina setelahnya adalah membangun banyak sekali pangkalan militer di negara tersebut.

Cina pun telah membangun sejumlah pangkalan militer di sana, sebagai bentuk dari dominasi kekuatan perang di Afrika. Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari sang kompetitornya, yakni Amerika Serikat.

Mampunya Cina membangun banyak sekali pangkalan militer di wilayah Afrika tidak lepas dari strategi mereka yang pertama-tama melakukan penguasaan ekonomi. Cina sebelumnya meminjamkan banyak sekali uang kepada negara-negara di Afrika itu, yang pada akhirnya membuat negara-negara tersebut begitu tergantung dengan Cina.

Salah satu pangkalan terbesar Cina yang ada di Afrika adalah kompleks pangkalan militer yang berada di bagian barat Kota Djibouti dengan ukuran yang sangat luas. Pangkalan tersebut dikelilingi oleh dinding tebal berlapis kawat, yang terdapat juga beberapa helipad sebagai tempat mendaratnya helikopter dan dermaga yang cukup untuk menampung kapal induk. Pangkalan tersebut diketahui diisi oleh lebih dari 2 ribu personel militer, kendaraan lapis baja dan kapal perang.

Pangkalan Militer Cina di Djibouti

Pangkalan militer di Djibouti itu dibuka pada tahun 2017 yang lalu dan menjadi pangkalan militer pertama Cina yang berada di luar negeri. Ini bisa menjadi batu loncatan Cina, untuk membangung lebih banyak lagi pangkalan militer di benua Afrika. 

Pihak Amerika Serikat melalui Departemen Pertahanannya pada tahun lalu memberikan peringatan, bahwa kemungkinan pihak Beijing sedang mencari lokasi baru untuk pangkalan militer mereka seperti di wilayah Angola, Kenya, Tanzania dan Seychelles. Terbaru, sebuah pangkalan untuk armada angkatan laut Cina sedang dibangun di pesisir barat Afrika. 

Dari informasi intel, pangkalan armada laut semacam itu bisa saja dibangun di sekitaran Mauritania hingga Namibia. Dengan dibangunnya pangkalan itu, akan semakin memudahkan pihak Cina untuk mengembangkan militer mereka yang tidak hanya bisa menjangkau Samudra Pasifik saja, tetapi hingga kawasan Atlantik. 

Pihak Amerika Serikat mengatakan bahwa mungkin kabar dibangunnya pangkalan militer Cina di wilayah Afrika seperti sebuah kabar yang baru untuk sebagian orang. Namun pada kenyataanya, pembangunan pangkalan militer besar-besaran oleh Cina di Afrika telah terjadi sejak beberapa dekade yang lalu, yang menunjukkan bahwa Cina memang benar-benar telah menguasai sebagian besar wilayah Afrika. Sayangnya, perhatian dunia terabaikan dari rencana penguasaan Cina di Afrika itu. 

Cina sendiri membuat sebuah pertaruhan yang besar dengan rencana pembangunan kompleks militer di negara-negara Afrika. Namun, pertaruhan Cina itu sepertinya mulai membuahkan hasil. Pengaruh Beijing begitu kental terasa ketika mengunjungi sejumlah negara di kawasan Afrika. 

Hal ini tidak luput dari sejumlah proyek infrastruktur yang digagas Cina dalam membangun pelabuhan, pembangunan gedung-gedung strategis, teknologi dan bantuan ekonomi. Cina saat ini dikabarkan sedang mengerjakan proyek kereta api dengan jalur baru yang menghubungkan Mombasa dan Nairobi di Kenya, kemudian ada juga proyek jalur kereta api baru yang menghubungkan Abuja dan Kaduna di Nigeria, lalu Lobito dan Luau di Angora serta membangun jalur kereta api antara Ethiopia dan Djibouti.

Cina juga sedang membangun dan melakukan perluasan pembangunan pelabuhan. Diketahui jumlahnya mencapai 41 pelabuhan baru dan proyek ini telah digagas sejak sebelum tahun 2019 silam. 

Beijing juga melakukan investasi besar-besaran dalam pembangunan jaringan listrik di Afrika. Meski demikian, langkah tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah aktivis pecinta lingkungan pernah melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran untuk menolak pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di sejumlah negara di Afrika. Setidaknya, ada sebanyak 13 pembangkit listrik yang didanai oleh pihak Cina. 

Selain pembangkit listrik dengan tenaga batu bara, Cina juga membangun pembangkit listrik tenaga air, yang dilakukan dengan membuat bendungan, yang kabarnya akan menjadi yang terbesar di benua tersebut. Pembangunan bendungan itu salah satunya adalah Bendungan Renaisans yang ada di Ethiopia. Bendungan itu akan membentang di Sungai Nil. 

Pembangunan bendungan yang dikhawatirkan akan menjadi penguasaan terhadap aliran sungai Nil yang membentang di benua Afrika tersebut, memicu ketegangan antara Ethiopia dengan Mesir. Tentunya, Ethiopia begitu berani dan tetap mengerjakan proyek itu karena mendapatkan dukungan dari Cina. 

Cina pun telah mengirimkan ribuan pekerja yang berasal dari berbagai perusahaan asal Cina dalam proyek pembangunan infrastruktur di Afrika. Sementara mereka juga setidaknya telah mengguyur lebih dari USD153 miliar untuk mendanai sejumlah proyek infrastruktur kepada sejumlah pemerintah negara-negara Afrika. Jumlah tersebut hanya sekilas perkiraan, dan jumlah pastinya bisa melebihi dari angka tersebut.

Laporan dari Heritage Foundation yang disampaikan beberapa waktu yang lalu, juga mengungkap bahwa Cina telah membangun setidaknya 186 gedung pemerintahan di 40 negara Afrika. Cina juga telah membangun serta menguasai 70 persen jaringan 4G di sana. Bahkan, mereka juga memiliki proyek komunikasi antar pemerintah yang sangat sensitif di 14 negara. Menariknya lagi, markas Uni Afrika yang berada di Ethiopia, sepenuhnya dibiayai oleh Cina.

Sepertinya, ketertarikan Cina untuk terus menciptakan proyek di Afrika tidak terlihat adanya tanda-tanda mengalami pelambatan. Xi Jinping bahkan mengumumkan akan kembali mengeluarkan USD60 miliar untuk sejumlah proyek baru di Afrika. Selama ini metode yang ada adalah, seberapa besar Afrika membutuhkan, maka Cina sangat siap untuk memberikan pendanaan.

Meski investasi ekonomi Cina ke negara-negara Afrika tidak memberikan ancaman secara langsung terhadap Amerika Serikat, namun hal tersebut mampu memberikan pengaruh yang besar. Misalnya, ketika Cina hendak membangun pangkalan militer, maka pemerintah negara-negara Afrika akan dengan senang hati menyediakan lahannya. Hal inilah yang kemudian membuat pihak Amerika Serikat untuk mengalihkan fokus dari Laut Cina Selatan ke wilayah Afrika. 

“Mereka sedang mencari lokasi yang bisa dijadikan tempat untuk mempersenjatai dan melakukan perbaikan sarana kendaraan militer. Ini merupakan strategi paling jitu dalam hal konflik dan peperangan. Mereka sudah membangunnya di Djibouti dan akan memperluas ke wilayah pantai Atlantik,” ungkap Departemen Pertahanan Amerika Serikat. 

Pemerintahan Joe Biden menilai kuatnya pengaruh ekonomi dan kekuatan militer Cina yang berkembang sangat pesat di Afrika, sebagai tantangan jangka panjang bagi Amerika Serikat. Namun sepertinya hal itu tidak hanya dilakukan di Afrika saja, melainkan Cina juga memiliki rencana untuk memperluas pengaruh ekonomi dan militer mereka di Amerika Selatan dan juga Timur Tengah. 

Negara Afrika Tandatangani Proyek Kerjasama Jalur Sutra Baru Dengan Cina

Tidak Semua Negara Afrika Menyerahkan Diri ke Cina

Meskipun banyak negara-negara Afrika yang telah jatuh ke tangan Cina karena, masih ada setidaknya 14 negara yang tidak ikut menandatangani perjanjian kerjasama ekonomi Jalur Sutra baru yang ditawarkan Beijing tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sosok negara-negara itu yang bagaimana bisa begitu kuat menolak tawaran menjanjikan dari Cina itu. 

Secara geografis, negara yang tidak ikut dalam sejumlah proyek dari Cina itu berada di bagian tengah, barat dan selatan. Sementara hampir semua negara di bagian utara Afrika telah dikuasai oleh Cina. 

Dan sepertinya ada faktor politik dan ekonomi tertentu yang membuat 14 negara itu menolak tawaran Cina dan lebih memilih menunggu dan melihat situasi. Kerajaan Eswatini yang sebelumnya bernama Swaziland misalnya, tidak ikut dalam kerjasama itu lantaran mereka masih mengakui bahwa Taiwan adalah sebuah negara yang demokrasi, di mana Cina selama ini menganggap Taiwan bagian dari wilayah negaranya.

Sementara Kongo, Republik Afrika Tengah, dan juga Benin sebelumnya juga memberikan penolakan terhadap aksesi Cina ke PBB pada tahun 1971 silam. 

Lalu Mauritius, Botswana dan Equatorial Guinea mengatakan bahwa mereka tidak yakin dengan penawaran yang diberikan Cina. Tiga negara ini sepertinya juga lebih cermat dalam menerima tawaran dari Cina. Mereka juga melakukan pengawasan yang cukup ketat terhadap sejumlah proyek Cina ketimbang negara-negara di Afrika lainnya. 

Bagaimana Dengan Indonesia?

Jika melihat dari sejumlah proyek yang ditawarkan dan telah dibangun oleh Cina di beberapa negara Afrika, ada kemiripan seperti proyek yang sedang dikerjakan di Indonesia. 

Proyek Kereta Api Cepat Indonesia Cina

Tengok saja proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang didanai oleh pemerintah Beijing. Kemudian untuk pelabuhan, Cina juga sedang membangun pelabuhan laut cukup besar yang lokasinya berada di Kalimantan Barat. Kemudian ada juga proyek pembangunan pembangkit listrik yang berlokasi di Kalimantan, Sulawesi dan sejumlah daerah lain. 

Cina juga menjadi salah satu investor terbesar dalam proyek pembangunan industri terpadu di Morowali, Sulawesi Tengah. Belakangan juga sering terdengar kabar serbuan para tenaga kerja asal Cina di sejumlah proyek strategis multinasional yang ada di Indonesia. 

Lalu apakah nasib Indonesia nantinya akan seperti negara-negara di Afrika itu?