google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

COVID-19 Varian Baru Omicron Terdeteksi di Afrika Selatan

Angelique Coentzee, salah seorang dokter pertama yang ada di Afrika Selatan mendeteksi varian baru virus corona, Omicron, menjelaskan pasien yang sudah terpapar varian baru ini pun hanya bergejala ringan dan bisa menjalani rawat jalan di rumah saja.

‘’Beberapa keluhan yang telah disampaikan oleh pasien Omicron ini biasanya ialah merasakan lelah selama satu hingga dua hari. Sementara gejala lainnya seperti sakit kepala dan badan terasa sakit hingga tenggorokan jadi serak,’’ jelas Coetzee dalam wawancara dengan BBC.

‘’Pasien tidak mengalami batuk – batuk, tidak pula kehilangan indra perasa maupun penciumannya. Gejala pada tahap ini pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan infeksi virus yang asli,’’ jelasnya lagi.

‘’Karena kami pun tidak mendapatkan kasus baru Covid-19 dalam delapan hingga 10 pekan terakhir ini, kami pun memutuskan untuk melakukan tes,’’ tambahnya.

Ia juga memaparkan bahwa gejala infeksi yang tergolong ringan dan sejauh ini pun masih belum ada pasien yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Seperti yang diketahui, hasil tes menunjukkan bahwa baik dari pasien maupun keluarga, seluruhnya dinyatakan positif Covid-19.

Insiden yang sudah ia jelaskan ini pun mengacu pada kejadian di tanggal 18 November 2021 lalu. Di hari ini, klinik yang ia kelola menerima sejumlah pasien yang telah memperlihatkan gejala berbeda dari gejala infeksi yang diakibatkan oleh varian Delta.

Para pasiennya yang mendatangi klinik pun mengaku merasa sangat lelah selama dua hari. Mereka pun menjelaskan jika badan terasa sakit – sakit dan mengalami sakit kepala. Ia juga menggambarkan gejala ini berbeda dengan infeksi varian Delta sehingga memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke otoritas kesehatan di Afrika Selatan.

Besar Kemungkinan Telah Menyebar di Negara Lainnya

Pada tanggal 25 November 2021, otoritas kesehatan di Afrika Selatan sudah mengumumkan penemuan varian baru, setelah melakukan sejumlah penelitian terhadap sampel laboratorium sejak tanggal 14 sampai 16 November 2021 lalu.

Coetzee, yang juga menjabat sebagai ketua organisasi medis di Afrika Selatan, menjelaskan pada 18 November pun banyak pula para pasien yang ternyata mengeluhkan gejala yang hampir sama, seperti rasa capek selama satu hingga dua hari, sakit kepala dan juga badan terasa sakit – sakit.

‘’Sebagian besar dari gejalanya pun masih tergolong ringan dan tidak ada yang mesti menjalani rawat inap di rumah sakit. Kami pun masih dapat merawat mereka di rumah, saja juga berbicara kepada rekan – rekan dokter dan menyampaikan hal yang serupa,’’ jelasnya lagi.

Berdasarkan pengalaman sejauh ini, rata – rata dari pasien kasus varian Omicron berumur di bawah 40 tahun. Hampir dari separuh pasiennya yang ditangani masih belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Coetzee pun menyakini bahwa varian baru Omicron mungkin saja sudah beredar di sejumlah negara yang sekarang ini sedang memberlakukan larangan perjalanan dari dank e wilayah Afrika bagian selatan.

Ia juga menjelaskan bahwa mungkun para dokter yang hanya fokus kepada varian delta sehingga tidak terlalu memperhatikan varian baru yang sudah ada.

‘’Dikarenakan memang mudah untuk tidak memperhatikan hal tersebut. Kami di Afrika Selatan juga telah mendeteksinya karena tidak ada kasus baru dalam beberapa minggu terakhir. Kalau pun masih ada temuan kasus, mungkin saja kami pun gagal mendeteksinya,;; jelas Coetzee.

Kemunculan dari varian baru virus corona yang telah ditemukan di Afrika Selatan ini pun mendorong sejumlah negera segera mengambil langkah cepat. Semisalnya negara Inggris, pada hari Jumat, 26 November 2021 lalu, telah memberlakukan larangan perjalanan dari negara – negara di sekitar kawasan Afrika bagian selatan, keputusannya pun ditentang oleh pemerintah Afrika Selatan.

Sejak hari Jumat 26 November 2021, daftar dari negara yang melarang penerbangan dari dan ke kawasan Afrika Selatan terus bertambah, termasuk juga Amerika Serikat, beberapa negara di benua Eropa dan sejumlah negara Asia, salah satunya Indonesia.

Mengenal Varian Baru Covid-19, Omicron

Pandemi Covid-19 memang belum usai dan sekarang dunia sedang digegerkan dengan varian baru virus corona dengan nama Omicron. Dalam beberapa hari terakhir ini, puluhan negara telah memperketat aturan mengenai pembatasan Covid-19 seperti halnya syarat kedatangan pendatang asing sampai lockdown nasional akibat varian Omicron.

Varian baru virus corona yang pertama kalinya terdeteksi di Afrika Selatan ini pun diduga oleh sejumlah ahli lebih mudah menular daripada varian yang lainnya. Hal ini pun memicu kekhawatiran berhubungan dengan efikasi vaksin virus corona yang sekarang ini tidak cukup ampuh dalam membasmi varian Omicron.

Berikut ini ada sejumlah fakta yang perlu diketahui oleh para ahli mengenai varian Omicron atau pun varian dengan kode ilmiah B.1.1.529.

Asal Mula Varian Covid-19 Omicron Ditemukan

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa varian Omircon ini pertama kalinya ditemukan di negara Afrika Selatan pada tanggal 9 November 2021 lalu. WHO pun memasukkan Omicron ini ke dalam daftar Variant of Concern (VOC).

Varian of Concern ini merupakan varian yang menjadi perhatian dikarenakan mempunyai tingkat penularan relatif tinggi, virulensi yang tinggi, serta menurunkan efektivitas diagnosis, terapi hingga vaksin yang sudah ada. Omicron juga masuk ke dalam kategori VOC seperti Alpha, Beta, Delta dan Gamma.

Sekarang ini, kasus baru dari infeksi varian Omicron di Afrika Selatan telah mengalami peningkatan di hampir setiap provinsinya. Varian baru ini pun sudah menyebar ke delapan negara.

Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Eropa juga mengatakan bahwa varian Omicron ini berpotensi untuk lolos kekebalan vaksin dan juga lebih cepat menularkan dibandingkan dengan varian delta.

Sejumlah ahli juga sudah merekomendasikan supaya WHO segera menetapkan varian ini sebagai perhatian berdasarkan dari sejumlah besar mutasi varian tersebut, kemungkinan peningkatan risiko infeksi ulang, serta bukti – bukti yang lainnya.

Tingkat Keganasan Dari Varian Baru Omicron

Sampai sekarang ini, sejumlah ilmuwan masih tetap melakukan penelitian lebih lanjut dan juga masih belum dapat menjelaskan dengan pasti apakah varian tersebut memang lebih mudah menular dan bisa mengurangi efikasi vaksin Covid-19.

Salah satu yang bisa memicu kekhawatiran sejumlah ahli yakni varian Omircon ini mempunyai jumlah mutasi yang masih cukup tinggi, lebihdari 30 sel kunci protein spike. Jumlah mutasi tersebut tidak dapat dibandingkan dengan varian lainnya yang ada sekarang ini.

Para ilmuwan juga khawatir jumlah mutasi dari Omicron ini bisa membuat varian tersebut lebih mudah menular serta mengurangi kekebalan imunitas tubuh. Para ilmuwan pun beruang kali sudah menegaskan bahwa mutasi dan varian dari virus corona ini masih tetap bermunculan. Varian Omicron ini menjadi salah satu yang mesti diwaspadai.

‘’Kita pun masih melihat berbagai varian virus corona yang bermunculan dalam beberapa bulan dan sebagian besar dari mereka pun tidak banyak. Namun Omicron ini jelas berbeda. Sifatnya berbeda, seperti jauh lebih mudah menular dibandingkan varian Delta,’’ jelas Dr Ashish Jha selaku dekan Sekolah Kesehatan Publik Brown University, seperti yang dikutip dari CNN.

Perusahaan manufaktur vaksin seperti Pfizer BioNTech dan juga Moderna pun segera melakukan sejumlah penelitian terhadap dampak dari varian Omircon terhadap tingkat efikasi vaksin produksi mereka.

Sejumlah ahli juga menjelaskan bahwa vaksin virus corona yang ada sekarang ini masih belum efektif untuk melawan varian Omicron, satu – satunya cara yang bisa dilakukan sementara waktu ialah dengan memberikan dosis tambahan atau vaksin booster kepada masyarakat luas.

Daftar Negara yang Telah Mendeteksi Kasus Varian Omicron

Munculnya varian baru Omicron ini memang membuat sejumlah negara mulai kelabakan. Dikarenakan dunia masih belum bisa berhasil meredam penyebaran varian delta yang sekarang sudah dihadapkan lagi dengan ancaman varian baru yang diyakini lebih mudah menular. Berikut ini ada sejumlah negara yang telah melaporkan kasus dari varian Omicron :

1. Italia

Institusi Kesehatan Nasional Italia (ISS) sudah menjelaskan satu kasus dari varian Omicron ini sudah terdeteksi di negara tersebut pada hari Sabtu, 27 November 2021.

2. Jerman

Pejabat kesehatan Jerman sudah mengonfirmasikan telah menemukan dua kasus dari varian Omicron di negara tersebut pada hari Sabtu, 27 November 2021.

3. Inggris

Dua kasus infeksi dari varian Omicron. Dua pasien ini diketahui sudah terpaparan varian setelah melakukan perjalanan dari kawasan Afrika Selatan.

4. Belgia

Satu kasus yang sudah terdeteksi. Varian ini telah menjangkit seorang perempuan dewasa muda yang belum mendapatkan vaksin dan ia baru datang dari Mesir melalui Turki.

5. Israel

Israel juga telah melaporkan satu kasus temuan dari varian Omicron. Berdasarkan penelusuran pemerintah, pasien Covid-19 ini baru saja datang dari Malawi. Meskipun demikian, Israel masih belum menjelaskan status vaksinasi pasien tersebut. Sekarang ada 7 pasien terdeteksi infeksi varian Omicron.

6. Afrika Selatan

Di tanggal 14 November 2021 lalu, Afrika Selatan sudah menemukan kasus pertama dari varian Omicron. Menurut Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan, sudah ada sebanyak 22 kasus dari varian baru yang terdeteksi sampai saat ini.

7. Botswana

Kasus infeksi varian baru pertama kalinya ditemukan di Botswana pada tanggal 11 November 2021. Kementerian Kesehatan setempat sudah mengonfirmasi bahwa ada sebanyak empat kasus yang terdeteksi. Mengutip dari The Straits Times, dari keempat pasien tersebut semunya sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

8. Hongkong

Ada sekitar 2 kasus varian baru yang ditemukan di Hongkong, satu kasusnya ditemukan pada seorang pria berumur 36 tahun yang baru pulang dari Afrika Selatan. Ia pun dikabarkan mempunyai hasil tes PCR negatif sebelum terbang dari Hongkong ke kawasan Afrika Selatan.