google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Depresi Klinis dan Depresi Situasional, Apa Bedanya?

Perbedaan depresi klinis dan situasional

Pengertian dari depresi secara umum ini merupakan gangguan kesehatan mental yang kerap kali tidak disadari oleh penderita maupun orang di sekitarnya. Jikalau kondisi ini semakin parah, depresi bisa mengancam nyata penderitanya lho. Ada dua jenis depresi yakni depresi klinis dan situasional. Apa perbedaannya?

Depresi situasional ini merupakan depresi yang dipicu oleh kejadian atau peristiwa yang traumatis, sementara untuk depresi klinis bisa dipicu oleh berbagai macam hal. Salah satunya ialah adanya gangguan kadar senyawa neurotransmitter tertentu pada bagian otak.

Meskipun demikian, kedua depresi ini sama – sama bisa mengancam kesejahteraan jiwa sekaligus nyawa bagi para pengidapnya jika tidak mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Oleh karena itulah, perlu menyadari gejala awal dari depresi tentu bisa Anda lakukan supaya mendapatkan penanganan secepat mungkin. Tetapi, jenis depresi mana yang lebih menjadi akar dari gangguan kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya untuk diketahui.

Secara garis besar, depresi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu depresi situasional dan depresi klinis. Keduanya memang tampak sama namun ternyata berbeda. Lalu, apa yang membedakan di antara kedua jenis depresi ini?

Kenali Perbedaan Depresi Situasional dan Depresi Klinis

Berikut ini adalah perbedaan di antara depresi situasional dan depresi klinis, berdasarkan pada penjelasan lengkap dari masing – masing jenisnya, yakni :

Situasional Depresi

Depresi situasional atau dikenal dengan depresi reaktif, bersifat jangka pendek dan dipicu oleh pengalaman atau peristiwa traumatis atau pun perubahan yang begitu signifikan. Kondisi ini juga bisa berkembang setelah seseorang yang mengalami peristiwa traumatis atau kejadian yang begitu menyakitkan batinnya.

Semisalnya seperti terjadi masalah di lingkungan kerja, mengidap jenis penyakit tertentu, ditinggalkan atau meninggalkan orang yang disayangi, masalah asmara atau percintaan, hingga pindah tempat tinggal. Selain itu juga, tingkat stress yang sangat tinggi selama masa anak – anak sampai kelainana pada hormon dalam tubuh juga bisa menjadi pemicu depresi situasional.

Para pengidap depresi situasional ini bisa mengalami kesulitan untuk kembali menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari – harinya setelah kejadian traumatis menimpa dirinya.

Penderita depresi situasional juga bisa menunjukkan berbagai macam gejala yang bervariasi. Seperti perasaan sedih yang berkepanjangan, rasa putus asa, samapi menarik diri dari aktivitas, teman bahkan keluarga.

Depresi klinis

Melansir dari Medical News Today, depresi klinis atau pun depresi mayor juga sudah diklasifikasikan sebagai gangguan mood atau suasana hati. Depresi klinis pun bisa dialami oleh siapa saja dari segala usia, tanpa terkecuali anak – anak dengan rentang waktu yang relatif lama.

Depresi klinis ini ternyata tidak sama dengan depresi situasional yang dipicu oleh kejadian traumatis. Sebabnya, besar kemungkinan penyebabnya adalah adanya ketegangan yang berpusat dari kombinasi kondisi psikologis, biologis dan juga sosial.

Selain itu juga, ketergantungan dengan alkohol dan juga obat obatan terlarang serta gangguan kadar senyawa neurotransmitter di bagian otak bisa jadi pemicunya.

Pengidap depresi klinis secara umumnya tidak mempunyai perbedaan dengan depresi situasional. Akan tetapi, para penderitanya pun bisa menunjukkan berbagai macam hejala yang cukup khas. Semisalnya memikirkan kematian secara berulang – ulang, kecenderungan untuk melukai diri sendiri, pikiran dan melakukan upaya bunuh diri.

Di sisi lainnya, para penderita dapat pula merasakan beberapa permasalahan fisik yang tidak bisa dijelaskan. Seperti halnya mengalami sakit kepala atau pun punggung sakit yang bisa muncul kapan pun.

Sebagian dari para penderita depresi klinis pun bisa mengalami risiko penurunan atau pun pertambahan berat badan yang cukup signifikan, dan juga gangguan psikotik seperti halusinasi atau pun delusi.

Pengobatan yang Bisa Dilakukan Untuk Depresi

Dalam banyak kasus, depresi situasional ini bersifat jangka pendek dan bisa saja sembuh tanpa adanya pengobatan aktif seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi, beberapa dari metode pun masih bisa dilakukan guna mengatasi gejala yang muncul.

Salah satunya adalah dengan cara mengubah gaya hidup sehat, seperti rajin olahraga, konsumsi makanan sehat, berbicara dengan orang yang dicintai, sampai menjaga pola tidur yang teratur. Meskipun demikian adanya, para penderita depresi situasional pada kasus yang cukup parah mungkin saja perlu mendapatkan resep obat anti depresan.

Sementara itu, untuk depresi klinik bisa berlangsung dalam kurun waktu relatif lama. Maka dari itu, perawatan jagka panjang pun mungkin bisa dilakukan. Pada umumnya, psikolog maupun psikiater bakalan merekomendasikan kombinasi psikoterapi atau pun konseling psikologis dan juga pengobatan untuk mengatasi gejala.

Untuk kasus yang cukup parah, para penderita mungkin harus tinggal di rumah sakit atau pun ikut program rawat jalan hingga gejala membaik. Dikarenakan para pengidapnya pun memiliki gejala cukup parah dan cenderung melakukan percobaan melukai diri sendiri.

Itulah perbedaan antara depresi klinis dan depresi situasional. Depresi situasional ini merupakan jenis depresi yang dipicu oleh kejadian traumatis, sedangkan untuk depresi klinis bisa dipicu oleh banyak hal. Salah satunya ialah gangguan dari kadar senyawa tertentu yang ada pada otak.

Tetapi, hal yang harus digarisbawahi adalah tidak ada jenis depresi yang lebih berat dari yang lainnya. keduanya pun bisa menghadirkan berbagai ancaman pada kesejahteraan psikologis dan juga nyawa penderitanya. Oleh sebab itulah, menjaga kesehatan tentu tidak kalah pentingnya seperti menjaga kesehatan fisik.

Cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental ialah dengan penuhi asupan nutrisi penting seperti halnya vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Nutrisi penting ini juga bisa didapatkan dari konsumsi makanan berizi seimbang dan juga suplemen vitamin.

Tidak lupa juga bila ada perasaan yang menjanggal dan sulit untuk diungkapkan, bisa langsung melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater agar melegakan perasaan tersebut.