google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Heboh Keluarga Akidi Tio Soal Donasi Rp2 Triliun Yang Ternyata Bodong

Heriyanti Saat Serahkan Donasi Rp2 Triliun Secara Simbolis

Satu Indonesia dibuat heboh oleh kabar pemberian donasi atau bantuan senilai Rp 2 triliun yang diberikan keluarga Akidi Tio. Donasi tersebut diberikan untuk membantu penanganan wabah pandemi di Sumatera Selatan. Pada awalnya banyak pihak yang menyanjung apa yang dilakukan keluarga tersebut karena jumlah sumbangan yang sangat fantastis. Namun ternyata donasi tersebut dianggap palsu, dan pujian pun berbalik menjadi cercaan. Bahkan Kapolda Sumatera Selatan Irjen Eko Indra Heri sampai melayangkan permintaan maaf.

Persoalan donasi senilai Rp 2 triliun oleh keluarga Akidi Tio itu memiliki babak yang cukup panjang, yang kerap mewarnai pemberitaan media massa selama satu bulan terakhir. Pertanyaan banyak pihak utamanya hanya satu, bagaimana bisa seseorang bisa melakukan hal sedemikian ini, bahkan sampai menyangkut sosok petinggi negara?

Penyerahan Simbolis Donasi 2 Triliun

Rentetan pemberitaan itu diawali pada tanggal 26 Juli yang lalu, di mana saat itu anak bungsu dari pengusaha Akidi Tio asal Aceh yakni, Heryanty secara simbolis memberikan bantuan yang disaksikan langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Kapolda Sumsel Irjen Eko indra Heri dan juga Danrem Garuda Dempo Brigjen TNI Jauhari Agus. 

Seluruh mata tertuju pada jumlah donasi yang nilainya sangat fantastis, sangat jarang sekali dilakukan oleh orang kaya di negeri ini, yakni sebesar Rp 2 triliun. Terlebih, sosok yang memberikan tidak begitu terkenal di kalangan masyarakat luas. 

Sosok Akidi Tio namanya juga tidak begitu dikenal di telinga kalangan pengusaha. Dahlan Iskan yang pernah menjadi Menteri BUMN juga penasaran dan mencoba mencari informasi soal Akidi Tio. Dahlan menemukan fakta bahwa rumah Heryanty yang memberikan sumbangan itu, dinilai tidak mencerminkan sosok orang banyak uang. 

Meski demikian, Dahlan mendapatkan informasi dari salah satu teman dekat Heriyanti yang mengatakan bahwa uang sebesar itu memang ada. Kepada Dahlan, perempuan itu menjelaskan bahwa uang tersebut adalah uang hasil bisnis Akidi Tio yang disimpan di sebuah bank di Singapura dan sudah siap untuk dicairkan. Oleh karena dasar itu, Heriyanti akhirnya berani melakukan penyerahan bantuan secara simbolis.

Sementara itu Ketua MPR Bambang Soesatyo mengaku mengenal sosok Akidi Tio dan menyebutkan lewat akun media sosialnya, bahwa Akidi Tio memiliki perusahaan sawit yang beroperasi di wilayah Muara Enim. Kemudian juga memiliki usaha pertambangan, pembuatan pupuk dan juga pabrik kecap. 

Akidi telah meninggal dunia pada tahun 2009, dan diceritakan oleh Bamsoet bahwa selama hidupnya dia memang sosok yang dermawan karena kerap memberikan sumbangan. Menurut Bamsoet, sumbangan sebesar Rp 2 triliun itu merupakan bagian dari wasiat yang ditinggalkan Akidi Tio kepada keluarganya. 

Sumbangan Palsu

Setelah penyerahan simbolis pada tanggal 26 Juli, rupanya uang yang dijanjikan itu tidak kunjung diterima. Sejumlah pihak pun akhirnya mempertanyakan apakah uang sumbangan itu memang ada atau tidak. 

Dua hari setelah penyerahan simbolis, juru bicara keluarga Akidi Tio, dr Hardi menjelaskan dalam sebuah wawancara bahwa uang Rp 2 triliun sudah ditransfer kepada Kapolda Sumsel, dan bukan kepada Satgas Covid-19. Sayangnya, sampai pihak Polda Sumsel mengunjungi kediaman Heriyanti pada tanggal 29 Juli, uang tersebut belum juga diterima. Meski dr Hardi kembali menegaskan bahwa uang sudah ditransfer, namun tidak ada bukti nyatanya.

Saat itu dr Hardi mengatakan bahwa uang akan ditransfer lewat tiga bank yakni BRI, BCA dan Bank Mandiri dengan pengawasan pihak Bank Indonesia. Lebih lanjut dr Hardi menjelaskan bahwa sebenarnya anak-anak Akidi Tio yang telah sukses di Jakarta yang akan datang ke Palembang beserta tim notaris dan Bank Indonesia untuk mengurus donasi tersebut, namun terpaksa batal karena kondisi dalam pandemi. 

Heriyanti Diperiksa Polisi

Melihat situasi yang semakin simpang siur, pada tanggal 2 Agustus petugas kepolisian akhirnya membawa Heriyanti ke Polda Sumsel untuk kemudian dimintai keterangannya soal nasib donasi Rp 2 triliun tersebut. 

Setelah melakukan pemeriksaan, Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Pol Ratno Kuncoro menjelaskan kepada publik bahwa Heriyanti akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Meski demikian, pemeriksaan terus dilakukan terhadap Heriyanti setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Keluarga Akidi Tio Saat Diperiksa Oleh Kepolisian

“Sudah ditetapkan tersangka kepada Heriyanti. Saat ini tim penyidik masih terus melakukan pemeriksaan intensif kepada yang bersangkutan,” jelas Ratno.

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga menemukan bahwa sebenarnya Heriyanti juga memiliki kasus hukum lain yang telah menjerat perempuan itu sebelum masalah soal donasi Rp 2 triliun menjadi perbincangan khalayak ramai. Akan tetapi pihak kepolisian masih belum mau memberikan penjelasan lebih lanjut. 

Sementara itu juru bicara keluarga Akidi Tio dr Hardi akhirnya mengaku bahwa dirinya tidak tahu menahu soal donasi tersebut. Dia hanya menyampaikan dirinya diberikan informasi oleh keluarga bahwa uang tersebut sudah ada, meskipun dirinya belum melihatnya sendiri. 

“Saya tidak tahu. Dia mengatakan bahwa uangnya sudah ada. Saya belum lihat. Ya kalau ternyata tidak ada saya meminta maaf,” kata Hardi. 

Sementara itu pihak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga dilibatkan untuk memeriksa kasus tersebut. Hasilnya, bilyet giro sebesar Rp 2 triliun itu sama sekali tidak ada dan menyimpulkan bahwa uang tersebut bodong. 

Heriyanti Jalani Pemeriksaan Kejiwaan

Setelah melakukan pemeriksaan mendalam, polisi pun juga mencoba berkoordinasi dengan pihak rumah sakit jiwa guna mendapatkan informasi soal kondisi kejiwaan Heriyanti. 

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak dari rumah sakit jiwa di Palembang. Jadi masih menunggu hasilnya, termasuk pemeriksaan psikologi, masih kita tunggu,” terang Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi. 

Pihaknya juga menjelaskan bahwa Heriyanti juga menjalani pemeriksaan PCR dan hasilnya yang bersangkutan negatif Covid-19. Pemeriksaan PCR ini dilakukan karena sebelumnya Heriyanti jatuh sakit dan mengaku mengalami sesak napas, sehingga juga dilakukan pemeriksaan kesehatan. 

Polisi Juga Periksa Keluarga Akidi Tio di Jakarta

Selain memeriksa Heriyanti, kepolisian juga mengirimkan tim menuju Jakarta untuk memeriksa lima orang anak lain dari Akidi Tio. Kelima anak Akidi Tio itu diperiksa agar polisi bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas lagi soal dana bantuan Rp 2 triliun tersebut. 

“Mereka keluarga Akidi Tio ini ada tujuh saudara. Satu orang meninggal dunia, ada lima di Jakarta dan satu lagi atas nama Heriyanti yang tinggal di Palembang. Tim sudah dikirimkan menuju Jakarta untuk melakukan pemeriksaan kepada keluarga Heriyanti yang lain,” ungkap Supriadi. 

Karir Kapolda Sumsel Dipertaruhkan

Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri pun juga meminta maaf kepada semua pihak, karena dirinya menilai bahwa kehebohan soal prank donasi Rp 2 triliun itu juga disebabkan oleh pihaknya. Irjen Indra Heri pun juga turut menjalani pemeriksaan dan kariernya pun dipertaruhkan.

“Secara pribadi saya ingin meminta permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya jelas kepada Bapak Kapolri, pejabat utama Mabes Polri, anggota Polri se-Indonesia dan masyarakat Sumatera Selatan,” jelas Irjen Indra Heri dalam konferensi pers hari Kamis 5 Agustus kemarin. 

Irjen Indra Heri menyadari bahwa dirinya tidak berhati-hati terkait rencana donasi Rp 2 triliun yang diberikan oleh keluarga Akidi Trio yang ternyata uang tersebut tidak ada wujudnya dan mengakibatkan kegaduhan. 

“Kegaduhan yang terjadi ini tentu saja karena ada kesalahan dari saya sebagai individu. Karena sebagai manusia biasa saya pun meminta maaf. Ini terjadi karena saya tidak berhati-hati selaku individu ketika mendapatkan informasi sejak awal,” tambahnya. 

Pihak Mabes Polri adalah yang melakukan pemeriksaan terhadap Irjen Indra Heri, dan dalam hal ini yakni tim Pengawasan dan Pemeriksaan Khusus (Wasriksus) Polri yang dipimpin oleh Irjen Agung Wicaksono. 

Agenda pemeriksaan yang dilakukan pada hari Jumat 6 Agustus lalu itu audit investigasi terkait dana donasi Rp 2 triliun dari keluarga Akidi Tio yang belum jelas soal keberadaanya. Namun pihak penyidik masih enggan untuk memberikan detail proses pemeriksaan tersebut. Pihaknya hanya memastikan, bahwa kasus dana donasi bodong itu akan bisa segera tuntas. 

Penjelasan Polisi Soal Kasus Donasi Rp2 Triliun Keluarga Akidi Tio

Terungkap Kasus Penipuan Bisnis

Belum usai permasalahan soal dana sumbangan Rp 2 triliun, Heriyanti rupanya juga diketahui memiliki masalah dengan rekan bisnisnya dan diduga itu adalah kasus penipuan. Pihak rekan bisnis Heriyanti itu adalah dr Siti Mirza. 

Siti Mirza mengaku telah memberikan uang sebesar Rp2,5 miliar sebagai investasi terhadap bisnis ekspedisi yang sedang dijalankan Heriyanti. Dia dijanjikan untuk menerima pembagian hasil 10 sampai 12 persen dari nilai investasi yang telah disetorkan. 

Selama enam bulan pertama, Mirza mengaku mendapatkan bagi hasil sesuai dengan yang dijanjikan Heriyanti setiap bulannya. Namun setelah enam bulan itu, yakni sejak bulan Januari 2021, dia tidak lagi mendapatkan bagi hasil. 

Karena merasa tidak mendapatkan hak dengan semestinya, Mirza pun kemudian meminta agar uang yang telah diberikan kepada Heriyanti dikembalikan. Namun Heriyanti justru kembali meminjam uang kepada Mirza sebesar Rp 500 juta pada bulan Maret 2020 yang saat itu Heriyanti mengaku uang tersebut untuk membayar pajak. 

Namun karena merasa kasihan dengan kondisi Heriyanti, Mirza akhirnya mencabut laporan dugaan penipuan tersebut.

Saat dimintai konfirmasi terkait kasus dugaan penipuan tersebut, suami Heriyanti yakni Rudi Sutadi membantah jika istrinya itu telah menjalin kerjasama bisnis dengan dr Siti Mirza. Lewat sebuah pesan singkat, Rudi menyebut hal itu sebagai hoaks dan dia juga enggan memberikan keterangan lebih lanjut soal kerjasama bisnis itu. 

Sementara Siti Mirza menilai apa yang diucapkan oleh Rudi hanya bentuk sikap untuk menghindari pengaduan. Karena dalam kerjasama itu Mirza mengklaim ada banyak saksi yang tahu soal kerjasama bisnis ekspedisi tersebut. 

Hingga saat ini, kasus ini pun terus bergulir. Pihak kepolisian masih terus menyelidiki soal kejelasan uang donasi Rp 2 triliun dan Siti Mirza masih akan melakukan konsultasi dengan kuasa hukumnya untuk kembali melaporkan ke polisi atau tidak.