google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Ini Dia Jenis Penyakit yang Memerlukan Transfusi Darah

Jenis penyakit yang memerlukan transfusi darah

Ada beberapa jenis penyakit yang memerlukan transfusi darah agar mencukupi kembali jumlah atau volume darah yang telah hilang. Contoh dari penyakit yang membutuhkan bantuan donor darah ialah kanker atau pun hemofilia.

Dalam dunia medis kesehatan, terdapat beberapa jenis penyakit yang membutuhkan transfusi darah agar bisa mencukupi kembali kebutuhan darah yang sudah hilang. Selain itu juga, mungkin transfusi ini diperlukan karena kondisi tubuh tidak mampu memproduksi sel darah merah sesuai dengan kebutuhannya.

Ada berbagai contoh dari jenis penyakit yang membutuhkan donor darah ialah kanker atau pun hemofilia. Penanganan medis dalam kasus ini pun dikenal dengan istilah terapi transfusi.

Jenis Penyakit Yang Memerlukan Transfusi Darah

Terkadang, ada seseorang yang sedang memerlukan transfusi darah dikarenakan kehilangan banyak darah setelah mengalami cedera atau pun menjalani operasi. Selain itu juga, ada beberapa dari penyakit yang perlu bantuan donor darah, di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Anemia

Mengatasi anemia bisa dengan bantuan dari donor darah dikarenakan memberikan sumber zat besi yang dapat langsung diolah kembali oleh tubuh manusia. Pada umumnya, transfusi darah sangat direkomendasikan bagi para pasien yang sedang di rawat di ICU dengan kadar haemoglobin di bawah 8 gram per desiliter.

Efek sesudah donor darah juga bisa membantu meredakan gejala dengan begitu cepatnya. Tetapi, dapat pula kondisi ini hanya membaik sementara waktu saja tergantung dari penyebab terjadinya anemia.

2. Hemofilia

Untuk mengatasi kehilangan darah yang begitu banyak, para pasien yang mengidap penyakit hemofilia memerlukan donor darah. Hemofilia ini merupakan jenis penyakit langka saat darah tidak dapat membeku secara normal dikarenakan kekurangan protein pembeku darah atau clotting factor.

Untuk kondisi kesehatan seperti ini, maka para pengidap hemofilia juga dapat mengalami perdarahan secara mendadak. Selain itu juga, pada saat menjalami operasi atau pun sedang terkena cedera, perdarahan yang terjadi bisa sangat parah.

3. Kanker

Pasien yang mengidap penyakit kanker tertentu pun mungkin saja memerlukan transfusi darah jika bagian sumsum tulang mereka sudah tidak bisa memproduksi platelet. Hal ini berkaitan erat dengan rangkaian terapi radiasi atau pun kemoterapi yang sedang dijalani oleh pasien. Terapi ini juga bisa merusak sel – sel pada sumsum tulang.

Di tambah lagi beberapa dari jenis kanker yang dapat menyebabkan anemia atau pun sel darah merah yang begitu rendah. Itulah alasannya mengapa donor darah ini sangat membantu untuk mengatasinya.

Salah satu contohnya dalah kanker yang berhubungan dengan sistem pencernaan dikarenakan sangat rentan menyebabkan terjadinya perdarahan dalam organ.

4. Sickle cell disease

Untuk jenis penyakit yang memerlukan transfusi darah ini, tujuan dari prosedur satu ini adalah berguna mengurangi risiko komplikasi. Selain itu juga, meredakan gejala dari anemia yang cukup parah. Bahkan donor darah juga bisa mencegah stroke pertama bagi anak – anak yang menderita penyakit sickle cell disease.

Sistem kerjanya pun relatif sama, transfusi darah bakalan memberikan suplai sel darah merah yang mencukupi tubuh pasiennya. Dengan cara inilah, kekentalan pada darah akan segera berkurang dan dapat mengalir lebih cepat hingga komplikasi pun dapat terhindarkan.

5. Penyakit hati

Penting sekali bagi para pengidap penyakit hati untuk mendapatkan transfusi darah. Hal tersebut dikarenakan para pasien dengan penyakit hati kronis ini cukup rentan sekali mengalami perdarahan. Kadang, saat pasien penyakit hating kehilangan darah cukup banyak, dokter akan segera mencari tahu dari mana sumbernya.

Infeksi lainnya yang cukup parah pun dapat membuat tubuh manusia berhenti memproduksi darah. Hal inilah yang membuat infeksi cukup parah termasuk penyakit yang membutuhkan transfusi darah.

6. Gagal ginjal

Pada beberapa kasus dari penyakit ginjal kronis atau pun bahkan gagal ginjal, dokter segera merekomendasikan transfusi darah. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi anemia parah.

Alasannya pun karena gagal ginjal ini merupakan salah satu pemicu utama dari seseorang mengalami anemi. Ginjal tidak dapat memproduksi hormone eritropoietin yang cukup.

Pada saat hormon ini kadarnya rendah, maka jumlah sel darah merahnya pun bisa turun sehingga terjadilah anemia. Meskipun demikian, penyebab utamanya juga harus bisa segera di atasi.

Mengenal Proses dan Prosedur Transfusi Darah Untuk Terapi

Sebelum donor darah dilakukan, terlebih dahulu harus melalui tes lab. Tes laboratorium ini bertujuan untuk memastikan transfusi darah dan penerimanya memiliki kecocokan.

Bila tidak, bisa saja terjadi komplikasi yang cukup serius. Pasien yang sudah pernah mengalami reaksi pada donor darah sebelumnya juga mesti menginformasikan terlebih dahulu kepada dokter.

Sementara itu, prosedur pemberian donor darah kadang dilakukan di klinik atau pun rumah sakit. Transfusi darah ini juga akan dimasukkan ke dalam salah satu pembuluh darah dalam tubuh. Sebelumnya, dokter atau pun petugas kesehatan bakalan memastikan identitas dan juga golongan darah.

Selain itu juga, kadang dokter pun bakalan memberikan obat dengan dosis ringan, seperti halnya diphenhydramine atau pun acetaminophen guna mengurangi efek samping. Proses donor darah juga berlangsung sekitar satu sampai empat jam.

Setelah prosedur di atas selesai dilakukan, sebagian besar dari penerima donor darah bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Namun, lebih baik untuk bertanya terlebih dahulu kepada dokter yang menangani terkait apa saja yang diperbolekan dengan menyesuaikan kondisi kesehatan masing – masing.

Pengidap penyakit yang memerlukan donor darah pun dapat merasakan reaksi ringan setelah prosedur di atas dilakukan. Sebagai contohnya adalah rasa nyeri di area punggung atau pun dada, batuk, demam, menggigil, muncul ruam atau pun bengkak, serta sakit kepala. Reaksi ini terjadi secara langsung, bahkan beberapa hari ke depan.

Pastikan Anda mencatat tiap kali efek samping yang muncul dan bisa langsung dikonsultasikan kepada dokter. Obat yang telah diberikan sebelum menerima donor darah juga kadang dapat mengurangi efek samping yang Anda rasakan.

Sampai saat ini pun masih belum ada alternatif buatan untuk menggantikan donor darah. Jadinya, tidak perlu berlebihan jikalau donor darah ini disebut sebagai penyelamat nyawa seseorang dikarenakan dapat memberikan manfaat yang begitu luar biasa bagi penerimanya.