google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Inilah Jenis Penyakit Kulit dan Kelamin Tidak Dapat Izin Vaksin Covid-19

Jenis Penyakit Kulit dan Kelamin yang Tidak Dapat Izin Vaksin Covid-19

Perdoski atau Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia sudah resmi merilis daftar penyakit kelamin dan kulit, yang mana penderitanya tidak diperbolehkan mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Menurut lembaga profesi tersebut, para pengidap penyakit di atas masih masuk dalam kategori belum layak memeroleh suntikan dosis vaksin virus corona.

Dokter Sara Elise, Wijono, M. Res, menjelaskan bahwa seseorang yang tengah menderita jenis penyakit kulit dan kelamin tertentu mempunyai sistem kekebalan tubuh yang tidak bisa maksimal. Meskipun sudah divaksin, sistem kekebalan tubuhnya pun tidak bisa efektif.

Lantas, apa saja jenis penyakit kulit dan kelamin yang tidak bisa disuntikkan vaksin virus corona? Di antaranya adalah sebagai berikut :

Aktifnya Penyakit Autoimun dan Tidak Terkontrol

Autoimun ini merupakan suatu kondisi pada saat sistem kekebalan tubuh berhasil menyerang sel – sel yang sehat. Kondisi ini pun bisa memengaruhi kulit, atau pun di dalam dunia medis lebih dikenal dengan istilah autoimmune bullous diseases atau AIBD.

Perdoski pun melarang para penderita AIBD, seperti halnya Pemfligoid bulosa, Pembigus vulgaris, Pemfigus foliaseus, untuk memeroleh vaksinasi Covid-19.

Hal tersebut mengacu pada hasil penelitian di dalam Journal of The European Academu of Dermatology and Venereology, vaksinasi Covid-19 ini bisa meningkatkan kekambuhan penyakit berupa reaksi kulit yang tampak melepuh kepada para pasien AIBD. Studi ilmiah tersebut menjelaskan secara spesifik penggunaan dari vaksin dengan platform mRNA seperti Moderna dan juga Pfizer.

Selain itu juga, Perdoksi pun resmi melarang kepada para pengidap penyakit autoimun pada jaringan ikat dan juga bisa berdampak pada kulit atau yang dikenal dengan istilah autoimmune connective tissue disease untuk memeroleh vaksinasi Covid-19. Kondisi dari penyakit autoimun ini meliputi scleroderma, lupus eritematosus kutan dan juga dematomiositis.

Ditambah juga dengan kondisi lainnya seperti chronic idiopathic urticarial dan juga penyakit kulit autoimun yang lainnya tidak mendapatkan izin dari Perdoski. Hal tersebut dikarenakan penderita penyakit autoimun ini tengah mengonsumsi obat imunosupresan.

Obat imunosupresan atau obat penekan sistem kekebalan tubuh tersebut bisa membuat imunitas pasien mengalami penurunan. Padahal, imunitas ini pun sangat dibutuhkan supaya tubuh bisa langsung merespons vaksin.

Nah, akibatnya para penderita penyakit autoimun yang tengah mengonsumsi obat tersebut tidak bisa mendapatkan manfaat dari vaksin Covid-19.

Reaksi Alergi Obat Kuran Berat

Bila Anda tengah memiliki reaksi alergi terhadap jenis obat berupa terjadinya kerusakan kulit, pastinya tidak akan disarankan untuk mendapatkan vaksin virus corona.

Para pasien yang tidak boleh disuntik vaksin Covid-19 menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, salah satunya adalah para pengidap DRESS atau drug reaction with eosinophilia and systemic symptom.

Adapun reaksi dari alergi di atas seperti halnya sensitivitas kulit secara berlebihan dan juga gangguan darah pun bisa terjadi setelah mengomsumsi obat anti tuberculosis.

Dilansir dari Dress Syndrome.org, para pengidap DRESS ini juga bisa berisiko untuk mengalami reaksi alergi kulit setelah mendapatkan suntikan dosis vaksin virus corona.

Sumber yang sama pula menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 dengan platform mRNA serta vaksin vector virus bisa juga menimbulkan reaksi alergi bagi para pasien penyakit kulit, seperti halnya pustulosis enantematosa generilasata akut atau AGEP, serta eritema multiforme atau EM.

Perdoski juga tidak menganjurkan vaksin Covid-19 ini diberikan kepada para pasien yang memiliki reaksi alergi jenis obat pada kulit, di antaranya adalah sindrom Steven Johnsons dan juga Txoxic Epidermal Necroysis atau TEN.

Sedang Mengonsumsi Obat Kortikosteroid Dalam Jangka Panjang

Para penderita yang tidak boleh mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 berikutnya adalah mereka yang sedang mengalami reaksi kulit akibat dari konsumsi kortikosteroid lebih dari dua minggu dengan dosis yang tinggi.

Kortikosteroid ini merupakan jenis obat yang memiliki fungsi untuk mengurangi respons sistem kekebalan tubuh secara berlebihan, lebih tepatnya bisa mengurangi gejala seperti halnya peradangan dan juga reaksi alergi.

Konsumsi obat korkosteroid dalam jangka panjang bisa melemahkan sistem imun tubuh. Jadinya, memang bukan kondisi tubuh yang ideal dalam menerima vaksin Covid-19.

Keganasan Kulit

Eritroderma ini merupakan jenis peradangan yang sudah menjangkiti 90 persen atau pun lebih dari permukaan kulit di bagian tubuh penderitanya. Salah satu dari kondisi ini disebabkan oleh  Cutaneous T-cell lymphoma atau (CTCL) atau pun lebih dikenal pula sebagai Limfoma sel T kulit.

Para penderita penyakit keganasan kulit ini pun tidak mendapatkan rekomendasi dari Perdoksi untuk memeroleh dosis vaksin virus corona.

Pasalnya, seperti yang dijelaskan oleh Susan Thornton selaku CEO dari Cutaneous Lymphoma Foundation, CTCL ini merupakan kanker sistem kekebalan. Sementara itu, vaksin virus corona menyasar pada sistem kekebalan tubuh sehingga dikhawatirkan bisa juga memperburuk gejala dari CTCL tersebut.

Selain CTCL, kondisi dari keganasan kulit yang lainnya tidak mendapatkan izin vaksinasi Covid-19 ialah sarcoma Kaposi, melanoma maligna, karsinoma sel skuamosa dengan stadium di atas 1, dan juga cutaneous B cell lymphoma.

Kelainan pada Pembuluh Darah

Pembuluh darah merupakan bagian dari sistem sirkulasi tubuh manusia yang memiliki peran dalam mengalirkan darah dari organ jantung ke seluruh bagian tubuh. Kelainan pada pembuluh darah ini bisa pula menyebabkan terjadinya gangguan jaringan tubuh, termasuk pula pada kulit.

Perdoski ini tidak akan menganjurkan vaksinasi Covid-19 kepada para penderita kelainan pembuluh darah yang berdampak pada kulit seperti halnya , Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP), purpura Henoch Schonlein dan vaskulitis yang masih belum diketahui penyebabnya.

Hal tersebut dikarenakan pada penelitian yang menyebutkan bahwa vaksin virus corona memiliki risiko memburukan gejala kepada mereka yang memiliki kelainana pada pembuluh darah. Riset tersebut menggunakan jenis vaksin AstraZeneca.

Disebutkan juga dalam jurnal Nature, vaksin Covid-19 AstraZeneca ini pula bisa memicu terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh darah arteri. Vaksin ini pun memiliki peluang pasien untuk mengalami stroke hemoragik atau pecahnya salah satu dari arteri di dalam otak.

Kondisi Medis yang Lainnya

Bukan hanya itu saja, Perdoski pun melarang para penderita penyakit kulit dan juga kelamin berikut memeroleh vaksinasi Covid-19.

  • Pioderma gangrenosum
  • Sindrom Kulit Lepuh Staphylococcal, Mikosis Dalam
  • Fenomena Lucio, Eritema Nodosum Leprosum, reaksi pembalikan MH
  • Herpes simplex dan herpes zoster, vaksinasi sampai ditunda 1 bulan setelah remisi

Beberapa jenis penyakit kulit dan kelamin di atas ini bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh penderitanya sehingga dapat pula mengaktifkan vaksin bila disuntikkan ke dalam tubuh.

Itulah beberapa dari daftar penyakit kulit dan kelamin yang dilarang untuk mendapatkan suntikan dosis vaksin Covid-19. Apabila ingin memeroleh suntikan dosis vaksin Covid-19, Perdoski pun mengimbau kepada para penderita penyakit di atas supaya melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang tengah merawatnya.