google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Inilah Kondisi Seseorang Yang Sangat Rentan Terpapar Badai Sitokin

KalderaNews

Sekarang ini badai sitokin yang dialami oleh pasien Covid-19 memang sedang ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan dikarenakan mampu menimbulkan risiko angka kematian yang relatif tinggi.

Namun apakah benar jika setiap pasien Covid-19 bisa mengalami badai sitokin? Lantas, seseorang dengan kondisi seperti apa yang bisa rentan mengalami badai sitokin tersebut?

Mengenal Apa Itu Badai Sitokin Pada Pasien Covid-19

Melansir penjelasan dari laman resmi NCBI, badai sitokin ini merupakan suatu istilah umum yang dipergunakan untuk pelepasan sitokin maladaftif sebagai dari respons ada infeksi dan juga rangsangan yang lainnya.

Pathogenesis kompleks namun bisa mencakup kehilangan kontrol regulasi produksi sitokin proinflamasi, baik pada tingkatan lokal maupun sistemik. Untuk penyakit ini pun bisa berkembang begitu pesat, dan juga dapat menimbulkan angka kematian yang relatif tinggi.

Beberapa dari bukti pun sudah menunjukkan bahwa selama masa pandemi virus corona ini penurunan kondisi yang cenderung parah bisa saja terjadi kepada beberapa pasien yang sudah berhubungan erat dengan proses pelepasan sitokin yang sulit diatur dan juga berlebihan.

Inilah Gejala Dari Sindrom Badai Sitokin

Badai sitokin ini bisa saja menyebabkan beragam gejala yang berbeda – beda. Kadang ini hanyalah gejala ringan saja seperti halnya flu. Akan tetapi, di lain waktu justru bisa menjadi parah dan bahkan mengancam jiwa. Adapun gejala yang terjadi kepada para pasien biasanya seperti :

  • Demam dan juga kedinginan
  • Rasa lelah
  • Terjadi pembengkakan ekstremitas
  • Ras mual dan muntah
  • Sakit pada sendi dan otot
  • Sakit kepala
  • Muncul ruam pada kulit
  • Batuk – batuk
  • Kesulitan bernapas
  • Napas menjadi lebih cepat
  • Kejang – kejang
  • Getaran
  • Sulit untuk mengendalikan gerakan tubuh
  • Mengalami halusinasi dan juga kebingunan
  • Merasa lesu, lemas dan respons yang begitu buruk

Tekanan darah yang begitu rendah serta meningkatnya pembekuan darah pun bisa dikatakan sebagai tanda dari sindrom badai sitokin yang cukup parah. Organ jantung sudah tidak mungkin lagi memompa darah dengan baik.

Hal tersebut bisa berakibat fatal dan memengaruhi beberapa sistem organ penting di dalam tubuh, serta berpotensi pula menyebabkan kegagalan organ dan juga berujung pada kematian.

Seseorang Dengan Kondisi Seperti Inilah Yang Rentan Mengalami Badai Sitokin

Dokter Ceva Wicaksono, seorang dokter spesialos penyakit dalam menjelaskan bahwa, sampai sekarang ini pun setelah dilihat dari beberapa kasus yang terjadi pada para pasien Covid-19, kondisi dari badai sitokin ini pun cukup banyak dialami oleh orang yang berumur sekitar 55 hingga 65 tahun. Jadinya, faktor usia ini sangatlah memengaruhu seseorang bisa mengalami badai sitokin atau tidaknya.

Seseorang yang berumur 55 sampai 65 tahun memang sangat rentan untuk mengalami badai sitokin besar kemungkinannya dikarenakan faktor usia, kemampuan dari sel kekebalan di dalam tubuh untuk meregulasi respons imunitas pun semakin mengalami penurunan.

Begini Cara Untuk Mencegah Terjadinya Badai Sitokin Pada Para Pasien Covid-19

Berdasarkan penjelasan dari laman resmi Frontiers in Immunology, ada tiga tahapan progresif pada infeksi virus corona, di antaranya adalah infeksi awal, fase paru dan juga fase hiper inflamasi.

Lalu, untuk perawatan yang dibutuhkan guna mencegah terjadinya badai sitokin ini serta tahapan infeksi awal tanpa atau pun dengan gejala ringan ialah periode kunci untuk pengobatan aktif di dalam mengendalikan kerusakan yang lebih parah lagi.

Obat antivirus yang bisa menghambat transmisi virus serta menghancurkan replikasi virus bisa mengurangi terjadinya kerusakan sel yang disebabkan langsung oleh Covid-19.

Kombinasi yang sesuai dengan terapi imunoregulator juga bisa menghambat respons inflamasi hiperaktif dapat pula menahan badai sitokin ini yang dipicu langsung oleh infeksi virus.

Seperti yang sudah diketahui, sekarang ini telah ada beberapa uji klinis sedang dilakukan guna melakukan penyelidikan intervensi potensial dalam hal mengendalikan badai sitokin pada para pasien Covid-19, terlebih lagi pada bagian penghambatan secara langsung sitokin dan juga terapi imunomodulator.

Untuk para pasien Covid-19 yang sedang mengalami gejala infeksi berat, lebih khususnya yang tengah menjalani masa perawatn insentif di rumah sakit, akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum bisa pulang ke rumah, termasuk di dalamnya adalah sitokin. Hal tersebut diberlakukan karena badai sitokin ini tidak muncul pada waktu lama sesudah pasien Covid-19 dinyatakan pulih.

Pengobatan Untuk Badai Sitokin Yang Sesuai Pada Pasien Covid-19

Para peneliti sedang melakukan eksplorasi dengan banyak terapi yang berbeda – beda guna bisa mengobati sindrom badai sitokin pada para pasien Covid-19.

Seperti yang dilansir dari Very Well Health, anakinra atau kineret ialah terapi biologi yang terkadang bisa digunakan untuk mengobati orang dengan rheumatoid arthritis dan juga kondisi kesehatan medis lainnya yang bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Terapi ini juga bisa membatasi aktivitas sitokin spesifik yang lebih dikenal sebagai interleukin atau IL-1. Terkadang membatu pasien dengan badai sitokin ini dari kondisi autoimun.

Sekarang ini, para peneliti juga tengah mempelajari terapi tersebut bisa membantu orang yang sedang sakit kritis karena badai sitokin dari infeksi virus corona. Semisalnya dalah Actemra atau tocilizumab, yakni terapi biologis satu ini bisa digunakan untuk pasein rheumatoid arthritis dan juga kondisi medis yang lainnya.

Terapi ini pun mampu membatsi aktivitas sitokin yang lainnya, interleukin 6 atau IL-6. Sebelumnya, actemra ini bisa digunakan untuk mengobati badai sitokin yang sudah dihasilkan sebagai efek samping dari terapi seperti untuk penyakit leukemia.

Para peneliti juga sedang melakukan penelitian lebih lanjut. Beberapa dari terapi yang telah ditemukan guna membantu mengekang efek dari badai sitokin yang bisa menurunkan angka kematian akibat infeksi virus corona.