google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Inilah Skema dari Vaksin Booster Covid-19 yang Ada di Indonesia

Booster atau penguat pada vaksin Covid-19 akan segera dilengkapi dalam waktu dekat. Dosis ini pun disebut dengan nama dosis ketiga vaksin corona.

Akan tetapi, tidak semua orang yang akan memeroleh suntikan dosis ketiga vaksin virus corona. Sampai sekarang ini, suntikan booster baru akan direncanakan bagi para kelompok berisiko, yakni para tenaga kesehatan.

Vaksin Covid-19 ini memiliki peranan penting dalam melindungi tubuh dari paparan virus corona. Pada awalny pun dijelaskan bahwa membutuhkan dua dosis atau dua kali suntikan vaksin Covid-19 untuk bisa membangun secara maksimal kekebalan tubuh manusia.

Namun, kabar terbaru dari sejumlah media telah memberitakan bahwa besar kemungkinan akan ada vaksin dosis ketiga yang dikenal dengan nama vaksin booster.

Sesuai dengan namanya, suntikan dosis ketiga ini memiliki peran sebagai penguat dari dosis kedua vaksin Covid-19 yang sebelumnya. Cara kerja dari dosis ketiga ini pun hampir sama yakni mendorong tubuh supaya bisa membangun antibodi yang bekerja untuk mencegah infeksi virus corona.

Sejumlah negera juga sudah mulai melirik dan menjalankan proses vaksinasi dengan dosis ketiga tersebut, termasuk juga di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indones (Kemenkes RI) ternyata sudah memberikan vaksinasi dosis ketiga ini kepada para tenaga kesehatan.

Kedepannya, vaksin booster ini akan terus diberikan kepada para kelompok orang – orang yang sedang membutuhkan. Lantas, seberapa ampuhnya pemberian vaksin booster ini untuk bisa mencegah infeksi virus corona? Lalu, bagaimana pula dengan skema pemberian vaksin booster di Indonesia?

Fakta Seputar Efektivitas Booster Vaksin Covid-19

Pada awalnya, vaksin Covid-9 ini disebutkan cukup disuntikkan sebanyak 2 kali atau pun dua dosis suntikan vaksin. Akan tetapi, ternyata baru ada penelitian yang sudah berhasil menemukan bahwa antibodi yang sudah terbentuk dari vaksin ini dapat menurun.

Pemberian vaksin memang cukup ampuh dan juga efektif dalam menurunkan risiko terjadinya infeksi, namun tidak dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Maka dari itulah, dibutuhkannya booster atau penguat, atau mungkin bisa juga dengan vaksinasi ulang dalam jangka waktu yang dibutuhkan tubuh.

Melansir dari TIME, sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Pfizer – BioNTech melaporkan bahwa dosis ketiga dari vaksin Covid-19 ini akan sangat memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.

Berdasarkan riset penelitian tersebut orang yang sudah memeroleh suntikan booster vaksin ini menunjukkan penguatan antibodi hingga mencapai 5 sampai 10 kali. Hal tersebut terjadi kepada orang yang telah mendapatkan suntikan dosis ketiga berselang 6 bulan dari suntikan dosis kedua vaksin Covid-19. Penelitian ini pun mempercayai bahwa pemakaian booster vaksin ini sudah terbukti mampu meningkatkan efektivitas vaksin Covid-19.

Khusus di Indonesia, pemberian vaksinasi Covid-19 dosis ketiga ini tengah dilakukan. Booster vaksin untuk tahapan pertama akan diberikan kepada para tenaga kesehatan di DKI Jakarta pada hari Jumat 16 Juli 2021 lalu. Vaksin Covid-19 Moderna digunakan untuk dosis ketiga dan dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Sejauh ini pun, rencana dari pemberian booster vaksin baru akan diberikan kepada para tenaga kesehatan ini merupakan kelompok yang paling berisiko tinggi terpapar virus corona.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi pun menyebutkan, ketentuan dari pembarian booster vaksin ini mengikuti rekomendasi langsung dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sejauh ini pun, WHO masih belum memberikan rekomendasi mengenai vaksin ketiga atau pun booster vaksin kepada masyarakat umum.

Hasil Penelitian Mengenai Antibodi Dalam Tubuh

Wacana mengenai pemberian booster vaksin Covid-19 tentu saja memiliki alasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan adanya hasil penelitian terbaru yang menentukan bahwa antibodi yang sudah dihasilkan dari vaksin mungkin akan mengalami penurunan antibodinya dalam kurun waktu sekitar 6 bulan. Maka dari itulah, vaksin booster ini akan diberikan dalam waktu 6 bulan sesudah seseorang memeroleh vaksin Covid-19 dosis lengkap.

Penelitian tersebut telah dilakukan oleh sejumlah peneliti di otoritas pengendalian penyakit di Provinsi Jiangsu, Sinovacm dan juga institusi China yang lainnya. Namun sayangnya penelitian ini tidak bisa menemukan secara pasti bagaimana proses penurunan antibodi dari vaksin Covid-19 akan memengaruhi efektivitas atau tingkat kemanjuran suntikan vaksin. Sampai saat ini pun, peneliti juga masih belum mengetahui pastinya batasan maksimal dari tingkat antibodi vaksin dalam upaya mencegah penyakit Covid-19.

Kendati pun telah memeroleh suntikan vaksin Covid-19, cukup penting dalam hal menerapkan dan disiplin protokol kesehatan serta selalu menjaga kesehatan tubuh. Tambahkan pula konsumsi multivitamin yang memang dikhususkan untuk menjaga kebugaran tubuh manusia.

Seiring Berjalannya Waktu, Efektivitas Vaksin Dapat Menurun

Diperlukan penelitian lebih lanjut lagi mengenai efektivitas vaksin Covid-19 dengan cara mencatat berupa data kapan seseorang dinyatakan terinfeksi pertama kalinya sesudah divaksinasi.

Selain itu juga membutuhkan penelitian lebih lanjut lagi, disebutkan pula sekarang ini dunia sedang mengalami ketimpangan pada pasokan vaksin tersebut. Oleh karena itulahm hal yang baik ialah pemberian vaksinasi secara menyeluruh guna terciptanya kekebalan kelompok atau herd immunity.

Untuk mewaspadai adanya serangan dari varian baru dari virus corona ini, ada kabar pula jika para tenaga kesehatan akan segera mendapatkan booster vaksin Covid-19. Semua tenaga kerja medis ini pun sebelumnya telah memeroleh dua dosis vaksin lengkap. Akan tetapi, dikarenakan angka kematian serta infeksi virus pada tenaga medis kesehatan ini, diperkirankan pun booster vaksin akan diperlukan.

European Medicines Agency beranggapan bahwa masih terlalu awal untuk menyatakan apakah suntikan vaksin Covid-19 lebih dari dua dosis memang diperlukan. Ada sebanyak 99,5 persen angka kematian yang diakibatkan oleh infeksi virus corona di Amerika Serikat ini terjadi kepada mereka yang belum mendapatkan vaksinasi. Sebab inilah yang dinilai vaksin sudah berikan ketika ini sudah sangat cukup sehingga vaksin booster tidak belum terlalu dibutuhkan.

Pfizer sebagai salah satu dari perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin virus corona memberikan pernyataannya bahwa kemanjuran vaksin tersebut akan segera menurun dalam enam bulan setelah memeroleh vaksinasi lengkap. Alasan inilah mengapa diperlukannya vaksin booster Covid-19.

Orang yang memiliki gangguan kekebalan pun bakalan mengalami penurunan efektivitas vaksin yang lebih cepat bila dibandingkan dengan mereka tanpa gangguan tersebut. Meskipun demikian, tetap saja risiko akan lebih besar dialami bagi orang – orang yang tidak disuntik vaksin.

Pada akhirnya nanti memang tidak ada vaksin yang mampu 100 persen dalam mencegah infeksi virus corona. Namun, yang paling terpenting ialah mengurangi dampak dari infeksi yang parah dan juga risiko kematian.

Diperlukan penelitian lebih lanjut lagi mengenai efektivitas vaksin Covid-19 dengan cara mencatat berupa data kapan seseorang dinyatakan terinfeksi pertama kalinya sesudah divaksinasi.

Tentu saja, terdapat banyak faktor yang membuat seseorang dapat mengalami penurunan efektivitas dari vaksin Covid-19. Maka dari itulah, harus dicari faktor tersebut lebih lanjut lagi.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memberikan pernyataan resmi bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut lagi mengenai booster vaksin Covid-19 dan juga seberapa efektifnya melawan infeksi virus corona, terutama untuk varian delta yang kini telah menyebar ke 104 negara di seluruh dunia.

Selain itu juga, sekarang ini seluruh dunia sedang mengalami ketimpangan pasokan vaksin virus corona. Orang yang menerima vaksin dosis pertama maupun dosis kedua ini masih belum diterima menyeluruh oleh masyarakat.

Pemberian vaksin booster ini ternyata hanya bakal menimbulkan ketimpangan yang jauh lebih besar, maka dari itu harus benar – benar fokus terhadap penerimaan vaksin dosis kedua  secara merata menyeluruh. Pada saat vaksinasi ini sudah menyeluruh, maka diharapkan adanya kekebalan kelompok atau herd immunity yang dapat membendung penularan infeksi virus corona.

Benarkah Booster Vaksin Covid-19 Dapat Memicu Komplikasi Serius?

Terkait dengan para tenaga medis, ternyata Indonesia telah memulai pemberian vaksin booster Covid-19 atau pun dosis ketiga bagi para tenaga kesehatan sejak hari Jumat 16 Juli 2021. Adapun jenis vaksin yang diberikan ini adalah produksi dari Moderna.

Vaksin dosis ketiga atau penguat ini hanya bakalan diberikan kepada para tenaga kesehatan yang telah menyelesaikan keseluruhan vaksin Covid-19 dosis pertama dan juga kedua, dengan jarak waktunya sekitar 3 hingga 6 bulan sesudah memeroleh vaksin dosis kedua. Hingga sekarang ini pun, masih belum ada laporan terkait KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang dialami oleh para tenaga kesehatan.

Akan tetapi, berdasarkan pada data kesehatan yang sudah dihimpun oleh The United States Food and Drug Administration atau FDA, booster dari vaksin Pfizer – BioNTech dan juga Moderna ini dapat pula menimbulkan potensi terjadinya komplikasi. Cakupan dari risiko tersebut adalah terjadinya peradangan pada jaringan jantung yang begitu kecil, terlebih lagi bagi kalangan orang berusia lebih muda.

Sedangkan untuk vaksin Covid-19 Johnson and Johnson sudah mencakup risiko yang relatif sedikit lebih tinggal dalam hal mengembangkan pembekuan darah dan juga sindrom Guillain Barre, yang mana sel kekebalan dalam tubuh justru menyerang sel saraf di dalam tubuh pula.

Negara Israel telah menerapkan booster vaksin Pfizer kepada para masyarakat umum terutama bagi orang yang memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi virus corona. Para penderita kanker dan juga orang yang sedang atau pernah menjalani transplantasi organ adalah beberapa dari kriteria para penerim vaksin untuk dosis ketiga di negara tersebut.

Ada lebih dari 85 persen warga Israel telah tuntas mendapatkan vaksin lengkap. Negara ini pun telah membebaskan masker saat outdoor. Namun untuk sekarang, pemerintah tersebut sudah kembali melakukan penggunaan masker serta vaksin dosis ketiga bagi masyarakatnya.