google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Israel-Palestina Sepakati Gencatan Senjata, Hamas Klaim Kemenangan

hamas
Gencatan Senjata Israel Palestina

Setelah melakukan peperangan berdarah selama kurang lebih 11 hari, akhirnya Israel dan Hamas menemui kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata. Serangan udara, dan aksi saling balas serangan roket serta kekerasan fisik yang dilakukan oleh kedua belah pihak mencatatkan bahwa korban jiwa paling banyak dialami oleh Palestina, di mana di antara korban-korban itu adalah wanita dan anak-anak. 

Berdasarkan dari laporan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Gaza disebutkan bahwa selama pertempuran sepanjang 11 hari itu, serangan udara yang dilancarkan oleh Israel tercatat telah menewaskan sekitar 232 warga Palestina. Diketahui 65 orang di antaranya merupakan anak-anak. 

Sementara itu korban dari pihak Israel tercatat sebanyak 12 orang, dua diantaranya merupakan anak-anak. Sebagian besar korban jiwa dari pihak Israel disebabkan oleh serangan roket yang ditembakkan kelompok Hamas dari Gaza. Catatan ini berdasarkan dari pihak Israeli Defence Force (IDF) dan Badan Kedaruratan Israel. 

Salah seorang pemimpin senior dari kelompok Hamas menginformasikan bahwa gencatan senjata tersebut difasilitasi oleh pihak Mesir yang dilakukan pada hari Jumat pukul 02.00 waktu setempat. 

“Kabinet Keamanan telah melakukan pertemuan pada malam ini. Secara bulat mereka telah menerima rekomendasi yang dilontarkan sejumlah elemen keamanan yang terdiri dari Kepala Staf, Kepala Shin Bet, Kepala Mossad dan Kepala Dewan Keamanan Nasional, yang untuk kemudian menerima inisiatif yang diberikan oleh pihak Mesir untuk melaksanakan gencatan senjata tanpa syarat timbal balik. Keputusan gencatan senjata ini akan mulai berlaku satu jam setelah disepakati oleh kedua belah pihak,” begitu bunyi pernyataan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. 

Setelah pengumuman atas gencatan senjata itu disiarkan ke masyarakat, sejumlah wilayah di Gaza dan Tel Aviv terlihat sejumlah kerumunan warga. Mereka berkumpul untuk melakukan perayaan atas kesepakatan gencatan senjata yang telah diambil. Sejumlah warga tampak berkonvoi ke jalan raya menggunakan mobil sambil membunyikan klakson berkali-kali dengan raut muka yang begitu bergembira. Suasana meriah juga terlihat di sejumlah masjid di daerah Gaza yang melantunkan berbagai puji-pujian. 

Laporan lain menyebutkan bahwa sejak pertempuran antara Israel dan kelompok Hamas Palestina terjadi, pihak Hamas telah meluncurkan setidaknya 4 ribu roket ke wilayah Israel. Sebagian besar roket-roket itu berhasil dihalau oleh sistem pertahanan canggih Iron Dome. 

Sedangkan pihak militer Israel cenderung memilih untuk melancarkan serangan udara dengan menjatuhkan bom dan menembakkan rudal di beberapa wilayah di Gaza yang dianggap sebagai tempat persembunyian dan lokasi strategis Hamas. Militer Israel juga menargetkan jaringan terowongan dan infrastruktur milik Hamas. 

UNICEF mencatat bahwa pertempuran antara Israel dan Palestina kali ini telah membuat sebanyak 72 ribu warga mengungsi. 

Klaim Kemenangan Hamas

Gencatan senjata akhirnya disepakati oleh pihak Israel dan kelompok Hamas Palestina yang selama sebelas hari ini terlibat konflik berdarah yang parah. Salah seorang petinggi Hamas mengeluarkan pernyataan bahwa dari gencatan senjata yang telah disepakati itu, membuktikan kemenangan kelompoknya atas Israel. 

“Ini adalah euforia kemenangan,” teriak anggota senior kedua Hamas, Khalil al-Hayya di hadapan ribuan warga Gaza yang bersorak sorai gembira sambil mengibarkan bendera Palestina. 

Dirinya berjanji bahwa setelah kemenangan atas Israel ini, pihak Hamas akan mendanai pembangunan kembali rumah dan bangunan yang telah hancur akibat serangan dari Israel. 

Langkah PBB Setelah Gencatan Senjata

Pihak PBB dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa pihaknya sangat menyambut baik terjadinya gencatan senjata antara Israel dan Palestina itu. Namun meski demikian, pihaknya menyebut bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan setelahnya. 

Salah satu yang menjadi fokus PBB berikutnya adalah mewujudkan rencana untuk melakukan negosiasi kembali antara pihak Israel dengan Palestina, serta dengan segara melakukan pendistribusian bantuan kemanusian untuk warga yang selama ini terdampak dari peperangan itu.

“Saya di sini menegaskan bahwa para pemimpin dan petinggi di Israel dan Palestina memiliki tanggung jawab penuh untuk bisa memulai adanya dialog serius guna membahas penyebab dari konflik yang terus terjadi. Gaza adalah sebuah bagian penting di masa depan untuk negara Palestina dan tidak ada upaya yang harus dihindari guna sampai pada rekonsiliasi nasional untuk bisa mengakhiri konflik dan perpecahan yang ada,” kata Guterres. 

Guterres sebelumnya juga menyampaikan sebuah pernyataan penting di New York yang menyerukan agar kedua belah pihak yang sedang bertikai itu bisa melakukan gencatan senjata. Dirinya mengedepankan kondisi warga sipil khususnya para anak-anak yang ada di wilayah yang sedang dilanda perang itu. 

“Jika di Bumi ini ada neraka, itu adalah kehidupan yang saat ini dialami oleh anak-anak yang ada di Gaza hari ini,” ungkap Guterres.

Dipicu Pengeras Suara Masjid Al-Aqsa

Setelah kesimpangsiuran terjadi untuk menyatakan penyebab awal konflik antara Palestina dengan Israel kali ini, diketahui sebab musabab yang paling valid berdasarkan penyelidikan yang dilakukan. Pemicunya terjadi pada sekitar 27 hari sebelum roket pertama ditembakkan oleh kelompok Hamas dari wilayah Gaza, atau pada malam pertama bulan Ramadhan. 

Polisi Isreal Masuki Masjid Al-Aqsa

Awalnya adalah kedatangan sekelompok aparat keamanan Israel yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa. Mereka meminta agar petugas di Masjid Al-Aqsa untuk menyingkir dan keluar dari masjid. Setelahnya para polisi Israel itu dengan paksa mencabuti kabel pengeras suara. 

Rupanya, pada saat yang bersamaan sedang dilakukan acara peringatan di Israel untuk menghormati para pejuang yang telah gugur membela negeri Zionis itu. Saat itu sedang dilakukan pidato di Tembok Ratapan oleh Presiden Israel. Lokasi Tembok Ratapan dengan Masjid Al-Aqsa memang sangat berdekatan, tepatnya berada di bawah masjid. 

Pihak Israel merasa terganggu dengan suara adzan dari pengeras suara di Masjid Al-Aqsa karena dianggap menimbulkan kebisingan dan suara yang sangat keras. Mereka beranggapan bahwa suara pidato Presiden Israel tenggelam oleh suara dari pengeras masjid itu.

Sejumlah pimpinan pengurus masjid Al-Aqsa yang juga mendapatkan pengawasan dan perlindungan dari pemerintah Yordania, menentang permintaan Israel untuk mematikan pengeras suara selama sang Presiden berpidato. Pasalnya, tindakan Israel itu dinilai sangat tidak sopan. 

Peristiwa itu pun telah dikonfirmasi dan dibenarkan oleh para pengurus masjid dan juga tiga saksi mata lainnya. Sementara pihak kepolisian Israel menolak memberikan komentar atas peristiwa itu. Peristiwa ini pun sebenarnya tidak begitu mendapat perhatian dari dunia luar dan media. 

“Peristiwa ini adalah titik balik dari peperangan besar antara Israel dan Palestina beberapa minggu setelahnya. Tindakan aparat kepolisian Israel itu menyebabkan situasi yang memburuk” kata imam besar Sheikh Ekrima Sabri.

Setelah peristiwa pencabutan pengeras suara dan pengusiran oleh kepolisian Israel, kondisi menjadi kacau, dan kemudian dengan cepat meluas dan terjadi eskalasi menjadi perang besar. Hal ini memicu konflik paling parah antara pihak Israel dengan Palestina dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya dengan kelompok Hamas, tetapi juga memicu berbagai serangan di kalangan masyarakat bawah di sejumlah kota di wilayah itu. 

Peristiwa itu pada akhirnya juga memicu kerusuhan di beberapa kota di wilayah Tepi Barat, yang kemudian menyebabkan 11 warga Palestina tewas dibunuh oleh tentara Israel. Sejumlah serangan roket dilancarkan Israel yang mencoba meredam kerusuhan itu yang justru malah memicu masyarakat di Yordania untuk ikut melakukan protes, memimpin para pengunjuk rasa asal Lebanon yang kemudian merangsek masuk ke wilayah perbatasan dengan Israel. 

Mencari Pemicu Perang Besar

Di tempat yang berbeda, mantan ketua Organisasi Zionis Dunia Abraham Burg mengatakan bahwa peristiwa di Masjid Al-Aqsa itu juga tidak lepas dari insiden-insiden blokade dan pembatasan yang dilakukan di Gaza, pendudukan di Tepi Barat, diskriminasi warga Arab di Israel selama bertahun-tahun yang lalu. 

“Di sini dibutuhkan sebuah pemicu, dan pemicu paling nyata adalah Masjid Al-Aqsa,” ungkap Burg. 

Dirinya kemudian menjelaskan bahwa konflik parah dan pemberontakan besar terakhir terjadi pada 16 tahun yang lalu. Menariknya, dirinya membandingkan dari sejumlah peristiwa-peristiwa penting lain yang sebenarnya juga begitu layak untuk dijadikan dasar sebuah serangan besar. 

Misalnya, saat Presiden Amerika Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang tidak menimbulkan kerusuhan besar, atau sejumlah negara Arab yang memperbaiki hubungan diplomatik dengan Israel yang mengabaikan persyaratan untuk melaksanakannya setelah konflik antara Palestina dan Israel benar-benar usai. Tidak ada protes besar atas hal ini.

Di sisi lain, Gaza juga tengah berjuang untuk mampu bertahan atas serangan gelombang-gelombang Covid-19. Fraksi-fraksi politik di Palestina, salah satunya Hamas juga pada dasarnya tengah disibukkan menjelang digelarnya pemilu legislatif pertama dalam 15 tahun terakhir. Popularitas Hamas pun juga mengalami penurunan, karena masyarakat Palestina yang lebih memilih dilakukannya perbaikan ekonomi daripada harus berperang dengan Israel. 

Namun, peristiwa di Masjid Al-Aqsa itu disebut Burg terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

Benar saja, kaum muda Palestina yang mendengar terjadinya aksi kekerasan di Masjid Al-Aqsa merasa identitas nasionalnya terpanggil untuk melakukan perlawanan. Belum lagi juga peristiwa pengusiran enam keluarga Palestina di Sheikh Jarrah. Ini menurut Burg menjadi sebuah peristiwa yang sangat kuat untuk dijadikan dasar melakukan serangan. 

Sejumlah insiden-insiden kekerasan pun terjadi setelahnya, seperti bentrokan di alun-alun di luar Gerbang Damaskus, dan juga serangan kelompok ekstrim kanan Yahudi, Lehava di Yerusalem. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pun terkesan membiarkan insiden-insiden terjadi, demi kepentingan politiknya, namun di sisi lain dia pada akhirnya juga dianggap telah gagal total menjadi pemimpin yang seharusnya bisa memadamkan api ketika telah membara seperti sekarang ini.