google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Jaga Kesehatan Mental Bagi Pasien Dan Tenaga Medis Selama Masa Pandemi Covid-19

Bukan hanya fisik saja yang perlu untuk dipulihkan, pasien virus corona pun perlu selalu menjaga kesehatan mental. Seperti kasus yang ada di Indonesia, pasien yang sudah dinyatakan positif Covid-19 akan merasakan tertekan dikarenakan pemberitaan media yang cukup menghebohkan.

Pada bulan Maret 2020 lalu, Presiden Joko Widodo secara resmi telah mengumumkan temuan infeksi virus corona, terdapat dua orang yang berasal dari Depok dinyatakan positif Covid-19. Akhirnya, kedua orang tersebuh mendapatkan penanganan langsung di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara.

Belakangan ini juga, pemberitaan skala besar dari media pun membuat pasien cukup merasa tertekan. Apalagi, bila identitas mereka sampai diketahui oleh publik. Melansir dari Kompas.com, para pasien tersebut mengaku cukup tertekan. Mereka pun tidak tahan dengan stigma negatif dari masyarakat seolah – olah menjadi orang yang berbahaya karena terinfeksi virus corona.

Penting Menjaga Kesehatan Mental Para Pasien Positif Covid-19

Ternyata bukan hanya masalah kesehatan fisik saja yang harus diperhatian, kesehatan mental dari pasien Covid-19 pun harus perlu dijaga pula. Hal ini dikarenakan pasien bisa merasa tertekan, ini juga dapat menurunkan sistem imunitas yang pada akhirnya dapat memengaruhi penyembuhan dari infeksi virus corona.

Menurut seorang psikolog dari KlikDokter, Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog, stigma atau pun tanggapan bahwa orang yang sudah terpapar virus corona adalah berbahaya dan cukup membuat tekanan mental bagi para pasiennya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan supaya membuat mental para pasien tetap dalam kondisi yang baik. Khusus untuk media, lebih baik untuk menghentikan eksplorasi data diri pribadi milik pasien dan tidak untuk memberitakannya secara terus menerus.

Di sisi lainnya, Ikhsan pun menegaskan bahwa peran dari orang terdekat pasien akan sangat diperlukan untuk bisa menjaga mental pasien agar tetap sehat. Pantau selalu keadaan pasien tersebut meskipun tengah dalam kondisi isolasi.

‘’Kalau dari peran orang lain, yang paling utama adalah tetap mendengarkan apa saja yang dikeluhkan oleh pasien tersebut. Pastinya pasien yang merasa tertekan karena stigma dari orang – orang bahwa virus corona ini bisa menyebabkan penyakit berbahaya dan mudah sekali menular,’’ jelas Ikhsan.

‘’Pasien tersebut tentu akan berpikir, pasti dirinya ini akan segera diisolasi dan erasakan bahwa yang datang untuk melihat hanyalah para tenaga medis, seperti perawat dan juga dokter. Keluarga juga tikda mungkin bisa terlalu dekat saat bertemu. Hal ini membuat pasien merasa down,’’ tambahnya lagi.

Psikolog Ikhsan pun menegaskan, pemerintah atau pun rumah sakit yang ditunjuk ini sangat perlu memberikan pelayanan konseling bagi para pasien Covid-19. Mendengarkan apa yang menjadi unek – unek mereka selama ini dipendam.

‘’Oleh karena itulah, sangat penting sekali kalau ada layanan konseling untuk mendengarkan apa yang dirasakan oleh mereka. Perasaan takut, sedih, dengarkan saja apa yang sedang mereka utarakan,’’ saran dari Ikhsan.

‘’Selain itu juga, orang – orang di sekitar dapat memberikan support. Pasien ini kan diisolasi, dukungan bisa membuat mereka menjadi lebih bersemangat dan tenang,’’ ungkapnya.

Emosi Negatif Dapat Memperlambat Proses Penyembuhan Pasien Covid-19

Pasien positif virus corona ini memang dalam keadaan yang sangat sulit. Jika tertekan, malah dapat menimbulkan emosi negatif yang bisa berujung pada penurunan imunitas tubuhnya. Pada akhirnya, mental yang tertekan ini dapat mengakibatkan proses penyembuhan dari infeksi virus corona menjadi semakin lama. Oleh karena itulah, jangan biarkan mereka merasa sendirian akibat dari virus corona ini.

‘’Jika merasa sendirian dan tidak diberikan dukungan, pasien ini bisa berada dalam keadaan yang tertekan. Nah, bila sudah demikian, emosi negatif akan muncul dan malah dapat membuat sistem kekebalan tubuh menjadi drop atau menurun. Kalau sistem imunitas tubuhnya baik, justru dapat membuatnya lebih mudah dan cepat sembuh,’’ jelas Ikhsan.

Orang – orang terdekat dan di sekitar pasien ini harus benar – benar memberikan dukungan penuh dan yakinkan bahwa pasien ini dalam keadaan baik – baik saja. Jangan sampai ada orang lain yang sengaja membuat stigma negatif bahwa pasien positif Covid ini berbahaya, ini semua bisa membuat pasien menjadi down.

Untuk para pasien, supaya mental tidak menurun atau down, ada baiknya untuk tetap positif dalam memandang masalah tersebut. Terus tamankan pemikiran bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi sulit ini.

‘’Kalau pun pasien merasakan seorang diri, harus diajarkan mindset bahwa masih ada orang – orang yang selalu mendukungnya. Meskipun berada di ruang isolaso, tanamkan bahwa sebenarnya ia tidak sedang sendirian dan masih banyak orang yang peduli. Itu semua bisa membantu pasien berpikir lebih positif lagi,’’ jelasnya lagi.

Pasien virus corona ternyata tidak hanya perlu disembuhkan secara fisik saja, namun kondisi mentalnya pun harus dipulihkan. Orang – orang yang ada di sekitarnya perlu memberikan dukungan yang nyata dan jangan sampai pasien ini merasa sendirian.

Pasca Penanganan Pandemi Covid-19, Tenaga Medis Lebih Rentan Trauma Psikologis

Para petugas medis ini bisa dikatakan sebagai garda terdepan dalam memerangi virus corona. Mereka yang terdiri dari perawat dan juga dokter ini, umumnya berhadapan secara langsung untuk menangani pasien yang sedang terpapar Covid-19.

Namun sayangnya, dengan jumlah pasien positif virus corona terus mengalami peningkatan, sumber daya yang sedikit, waktu istirahat yang kurang, serta alat perlengkapan diri atau APD sangat terbatas, hal ini bisa menimbulkan trauma psikologis bagi para petugas medis.

Lantas, bagaimana cara pencegahan stress serta trauma piskologis pada petugas kesehatan di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini?

Mengapa Para Tenaga Medis Lebih Rentan Mengalami Trauma Psikologis?

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog menjelaskan, trauma psikologis ini merupakan hal yang sangat wajar dan umum sekali dialami oleh para tenaga medis saat bekerja, terlebih lagi dalam situasi pandemi seperti sekarang ini. Bukannya tanpa alasan, trauma psikologis ini muncul akibat dari tekanan yang semakin meningkat setiap hari.

Selain itu juga, trauma juga dapat dipicu oleh lingkungan yang penuh dengan virus berbahaya, jam kerja yang sudah tidak teratur lagi, waktu istirahat yang kurang serta kondisi di mana mereka pun jauh dari keluarga tercinta.

‘’Para petugas kesehatan ini melakukan kontak langsung dengan pasien atau pun orang yang sudah terinfeksi virus hampir setiap hari, mereka pun berada di lingkungan rumah sakit. Lalu, ditambah lagi dengan maraknya pemberitaan mengenai rekan seperjuangan yang meninggal saat bertugas. Hal ini tentu saja membuat mereka semakin tertekan dan berujung pada trauma psikologis,’’ ungkap Ikhsan ketika diwawancarai.

‘’Bukan hanya di Indonesia saja, di Tiongkok sendiri tingkat stress menjadi jauh lebih tinggi, bahkan mencapai sekitar 70 persen,’’ ungkapnya lagi.

Selama menjalankan tugas, dokter maupun perawat ini harus bekerja yang umumnya memang tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya masing – masing. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, para tenaga medis ini harus rela meninggalkan keluarga sendiri dan tinggal beramai – ramai di rumah sakit demi memberikan penanganan secara maksimal untuk para pasien.

Kesehatan Mental Para Tenaga Medis Harus Dijaga

Kesehatan mental dari seseorang memang penting untuk dijaga sedemikian rupa supaya tidak berdampak buruk bagi kesehatan fisiknya, terlebih lagi bagi para tenaga medis yang sedang bertugas. Apalagi saat mereka kelelahan, stress dan kekebalan tubuhnya ikut menurun, maka membuatnya menjadi lebih rentan untuk tertular virus corona.

Untuk itulah, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk bisa menjaga kesehatan mental dari petugas medis yang sedang bekerja di rumah sakit, seperti halnya berikut ini :

1. Saling Support Satu Sama Lain

‘’Sesama rekan sejawat memang harus saling support satu sama lainnya, dengan cara tidak memutus komunikasi atau mereka tetap bisa bercanda di sela kesibukan dalam menangani para pasien di rumah sakit.

Dengan cara inilah maka akan muncul rasa kebersamaan dan diharapkan dampaknya bisa mengurangi tingkat kecemasan dan juga stress yang dialami oleh para tenaga medis,’’ jelas psikolog Ikhsan.

2. Lakukan Meditasi

Meditasi ini merupakan salah satu dari banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk bisa menenangkan pikiran dari segala macam persoalan hidup yang ada.

Para tenaga medis pun dapat memberikan waktu luang sekitar 20 hingga 30 menit untuk melakukan meditasi sebelum mereka beristirahat atau pun kembali bekerja seperti biasanya.

Dengan mencari lokasi atau pun tempat yang cukup sepi supaya sesi meditasi ini dapat berlangsung dengan lancar. Diharapkan dengan melakukan kegiatan ini, para tenaga medis bisa merasakan ketenangan dan tidak cemas saat berhadapan langsung dengan pasien di rumah sakit.

3. Jangan Malu Untuk Konseling

Para petugas kesehatan juga mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan konseling dari psikolog. Pentingnya sesi konseling ini adalah supaya bisa mengeluarkan hal – hal yang bisa membuat mereka cemas dan juga stress.

Dengan melakukan konseling ini, nantinya Anda bisa menenangkan hati dan juga pikiran. Sehingga saat sedang bekerja, Anda tidak perlu merasa khawatir akan trauma psikologis yang akan dirasakan.

4. Konsumsi Makanan Sehat yang Teratur

Padatnya kegiatan di rumah sakit ini mungkin bisa membuat banyak dari petugas medis memiliki jam makan yang tidak teratur. Padahal, memiliki jam makan yang teratur serta porsi yang cukup, dapat membuat rasa cemas dan stress menjadi hilang.

Untuk itulah, petugas medis selalu dianjurkan untuk tidak lupa akan kesehatan dirinya sendiri dengan memastikan waktu istirahat dan makan yang cukup.