google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Jenis Obat Ini Ternyata Dapat Menurunkan Efikasi Vaksin Covid-19

Vaksin Covid-19 ternyata cukup efektif dalam hal meringankan gejala dari infeksi virus corona. Namun, ada beberapa dari golongan obat yang justru malah bisa menurunkan efikasi dari vaksin itu sendiri.

Vaksin virus corona ini menjadi salah satu harapan bagi seluruh masyarakat dunia untuk dapat mengakhiri pandemi Covid-19. Vaksin inilah yang nantinya akan membantu tubuh manusia supaya bisa membentuk antibodi yang dapat pula melawan serta meringankan gejala dari Covid-19.

Hanya saja, ada beberapa dari obat yang justru dipercaya dapat menurunkan efikasi vaksin Covid-19. Apa saja jenis obat yang dimaksud? Anda bisa juga langsung menyimak ulasan lengkap dari kami di bawah ini.

Obat yang Dapat Menurunkan Efikasi Vaskin Covid-19

Vaksin Covid-19 memang cukup efektif dalam meningkatkan daya tahan tubuh manusia terhadap infeksi virus corona. Namun sayangnya, interaksi yang terjadi pada vaksin Covid-19 dengan beberapa jenis obat dianggap pula bisa menurunkan efikasi dair vaksin itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa jenis obat yang disebut mampu menurunkan efikasi vaksin virus corona.

Obat Imunosupresif

Dilansir dari Healthline, Dr. Beth Wallace, seorang rheumatologist di Michigan Medicine, menjelaskan obat imunosupresif ini biasanya digunakan untuk bisa mengatasi kondisi dari respons imun yang dapat berpotensi merusak tubuh manusia sendiri.

Obat sejenis ini biasanya akan digunakan bagi penderita autoimun, seperti halnya lupus serta rheumatoid arthritis. Sistem kekebalan tubuh para penderitanya melihat bagian – bagin tertentu dari dalam tubuh si pasien, seperti sendi, sebagai salah satu ancaman.

Ketika sistem kekebalan tubuh akan segera menyerang pada bagian tubuh itu sendiri yang nantinya bakalan terjadi kerusakan cukup fatal.

Masih menurut Dr. Wallace, sebagian besar dari obat ini pun ternyata tidak bisa digunakan selain kepada orang yang menunjukkan kondisi kronis. Namun, salah satu dari jenis obat imunosupresif ini pun sangat umum dipakai adalah steroid, termasuk pula obat seperti dexametason dan juga prednisone.

Jenis obat – obatan ini pun bisa diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti halnya bronchitis, ruam akibat alergi, serta infeksi sinus.

‘’Hal ini dapat menjadi masalah dikarenakan steroid ini sangatlah imunosupresif. Karena itulah, kami belajar bahwa obat steroid dengan dosis rendah pun dapat meningkatkan infeksi dari virus, serta dapat pula mengurangi respons seseorang terhadap vaksin, termasuk di dalamnya adalah vaksin Covid-19,’’ jelas Wallace.

Hal ini ternyata sependapat dengan penjelasan dari dokter Astrid Wulan Kusumoastuti. Menurutnya, vaksin ini memiliki tujuan untuk bisa memicu terbentuknya respons imun tubuh manusia terhadap kuman atau pun virus.

Di sisi yang lain, obat satu ini akan bekerja dengan cara menekan sistem imun untuk dapat mengurangi terjadinya peradangan. Yang artinya adalah keduanya ini memiliki cara kerja terhadap tubuh yang bersifat saling berlawanan.

Obat Anti – Inflamasi

Dilansir dari Times of India, obat anti – inflamasi nonsteroid atau NSAID, seperti halnya ibuprofen ini sering kali dipakai untuk bisa meredakan rasa nyeri, bisa mengurangi peradangan, serta menurunkan suhu tinggi.

Obat satu ini juga kerap kali digunakan oleh sebagian orang yang sedang menderita sakit kepala, nyeri akibat haid, keseleo, pilek, maupun radang sendi. Namun, NSAID ini juga bisa menghambat sistem respons kekebalan tubuh sekaligus dapat pula mengurangi kemanjuran dari vaksin yang sudah disuntikkan ke dalam tubuh manusia.

Setelah menjalani program vaksinasi, tubuh manusia tentu membutuhkan waktu untuk bisa membangu sistem perlindungan terhadap serangan virus. Jika Anda mengonsumsi obat – obatan seperti yang dijelaskan di atas sebelum menjalani program vaksinasi ternyata dapat pula menurunkan efektivitas vaksin.

Hal ini disebabkan obat – obatan tersebut bisa mencegah tubuh Anda untuk memproduksi antobodi guna melawan paparan dari virus. Obat – obatan jenis ini pun akan menekan respons imun.

Tubuh pula tidak bisa menghasilkan respons imun yang cukup baik setelah suntikan vaksin diberikan. Setelah Anda mendapatkan suntikan vaksin, Anda juga bisa minum obat paracetaml yang merupakan obat antipiretik dan analgesic.

Obat Pain Killer

Untuk menghindari rasa sakit sebagai efek samping dari vaksin, banyak pula orang yang sengaja meminum pain killer sebelum vaksinasi. Padahal, CDC sudah tidak menyarankan orang untuk meminum obat pereda nyeri, seperti halnya Advil, Motrin, atau pun Tylenol, sebelum disuntik vaksin Covid-19.

Mengapa demikian? Pada saat Anda meminum pain killer atau obat penghilang rasa sakit, tubuh akan segera menghasilkan efek penurunan respons antibodi.

Alasan dari penurunan respons kekebalan ini masih belum diketahui secara pasti. Yang jelas adalah Direktur Peneliti Vaksin di Mayo Clinic, Dr. Gregory Poland, berpendapat lebik baik menderita efek samping dibandingkan harus mengurangi efektivitas dari vaksin tersebut.

Haruskan Berhenti Meminum Obat Sebelum Vaksinasi?

Apakah dengan hal di atas kita tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat – obatan sebelum atau pun sesudah divaksinasi Covid-19? Sebenarnya tidak semua obat yang mempunyai efek bertentangan dengan sistem kerjadi dari vaksin.

Sebagai contohnya adalah paracetamol ini dapat dikonsumsi setelah mendapatkan vaksin Covid-19. Jika Anda mengalami gejala demam setelah disuntik vaksin, obat ini bisa menjadi pilihan.

Akan tetapi, sebaliknya Anda pun bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter supaya mendapatkan obat yang sesuai. Dokter nanti akan segera memberikan rekomendasikan sesuai dengan kebutuhan Anda.

Jangan sampai dengan Anda mengonsumsi obat – obatan ini justru malah mengurangi efektivitas dari vaksin tersebut, tentu saja hal ini bisa merugikan.