Kali Kedua Depo Pertamina Plumpang Dilanda Kebakaran Hebat

Petugas Pemadam Kebakaran Saat Berjibaku Memadam Api Kebakaran Depo Pertamina Plumpang Jakarta Utara
Petugas Pemadam Kebakaran Saat Berjibaku Memadam Api Kebakaran Depo Pertamina Plumpang Jakarta Utara

Depo penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina di Plumpang, Koja, Jakarta Utara mengalami kebakaran pada hari Jumat, 3 Maret 2023 sekitar pukul 20.00 WIB. Sejauh ini, korban yang meninggal dunia ada sekitar 13 orang. 

Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkamart) Jakarta Utara, Rakhmat Kristanto memaparkan bahwa pihaknya telah mengerahkan sebanyak 18 unit mobil pemadam ke lokasi kebakaran terjadi. Petugas pemadam kebakaran baru bisa memadamkan api yang berkobar pada Sabtu, dini hari. 

Dugaan sementara, penyebab kebakaran adalah karena adanya sambaran petir, terlebih saat kejadian berlangsung sedang turun hujan di wilayah itu. Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Operasi Pemadaman Kebakaran Jakarta Utara Abdul Wahid. 

“Informasi yang diterima, dugaan awal disebabkan oleh tersambar petir,” ujar Abdul Wahid ketika dimintai keterangannya oleh wartawan Viva. 

Sejumlah warga yang menghuni permukiman di dekat Depo Pertamina berhamburan keluar rumah karena panik, ketika peristiwa kebakaran mulai terjadi. Warga sempat mencium bau gas yang begitu menyengat, sehingga mereka langsung berupaya menyelamatkan diri. 

“Terdengar ledakan, duar, setelah reda hujan asapnya itu bau LPG. Saya kemudian teriak-teriak dan warga pada lari. Terus ada yang ngumumin untuk tidak menyalakan api. Pas saya keluar, api keluar dari atas bagian kabel,” terang salah seorang warga bernama Rosidi itu. 

Warga kemudian diarahkan untuk menyelamatkan diri menuju Koramil Koja. Rosidi menuturkan bau gas tersebut mulai tercium tidak berselang lama ketika ledakan terjadi. 

Warga lainnya juga berkesaksian sama, dan mengaku dia sempat mendengar suara petir yang begitu kencang di tengah hujan yang sangat lebat. Tidak lama setelahnya dia mencium aroma gas yang begitu menyengat. 

Warga bernama Slamet, 42 tahun itu mengatakan kobaran asap terlihat di langit tidak lama setelah bau gas tercium, dan selanjutnya kobaran api terlihat berasal dari depo milik Pertamina. 

“Pas terasa bau itu, warga semua pada kabur. Mereka batuk-batuk, sesak nafas dan langsung kabur,” terangnya dengan raut wajah yang masih trauma mengingat kejadian tersebut. 

Petugas pemadam kebakaran datang tidak lama kemudian, dan mereka langsung bergegas berupaya memadamkan api yang terus berkobar, membesar hingga merembet ke permukiman warga yang ada di sekitar depo. 

Biaya Perawatan Korban Ditanggung Pemerintah

Hingga berita ini dibuat, korban yang mengalami luka-luka tercatat mencapai 28 orang, dan yang meninggal dunia sebanyak 14 orang. Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono memaparkan bahwa pihaknya bakal memberikan bantuan kepada mereka yang terdampak. Salah satunya adalah dengan menanggung biaya perawatan para korban.

Pemprov DKI Jakarta juga telah menyediakan beberapa rumah sakit yang dekat dengan lokasi kejadian sebagai tempat para korban luka mendapatkan perawatan. Di antaranya seperti, RS Koja, RS Pelabuhan, RS Mulyasari dan juga RS Tugu Koja.

“Tentu kalau untuk biayanya semua kita yang akan menanggung. Ada 14 di RS Koja, 5 di RS Pelabuhan, di Mulyasari sementara ini ada 15 pasien, lalu di Tugu Koja ada 10 pasien,” ujarnya, seperti mengutip dari Liputan 6. 

Sejumlah tenaga medis dan obat-obatan juga telah dipersiapkan, dan diharapkan para korban bisa mendapatkan perawatan yang memadai untuk bisa segera sembuh. 

Pihak Pertamina dalam hal ini Kementerian BUMN juga mengatakan hal yang sama. Mereka siap untuk menanggung segala biaya perawatan para korban tragedi kebakaran Depo Pertamina di Plumpang. 

“Ya, dari Pertamina bakal menanggung biaya perawatannya,” terang Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga. 

Kementerian BUMN meminta kepada pihak Pertamina untuk bisa fokus dalam proses penyelamatan masyarakat termasuk para karyawan yang ada di sekitar lokasi kebakaran. 

Di tempat terpisah, Erick Thohir selaku Menteri BUMN juga akan mengawal pengusutan serta evaluasi atas terjadinya insiden kebakaran tersebut. Dalam kesempatan itu Erick juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada para korban serta keluarga yang terdampak peristiwa itu. 

Kantor PMI Jakut Penuh Pengungsi

Ratusan warga dikabarkan terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat yang disediakan oleh pemerintah. Salah satunya adalah di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara yang lokasinya ada di daerah Semper. 

Dari data terbaru yang dilaporkan pihak PMI, tercatat sebanyak 20 keluarga atau sekitar 106 warga yang mengungsi di tempat mereka. Para warga itu terdiri dari sebanyak 27 orang dewasa, 45 anak-anak, 20 orang lansia dan 14 balita. 

Jumlah tersebut diyakini akan mengalami penurunan, karena sebagian warga sudah mulai berani kembali ke rumah mereka masing-masing, yang memang tidak ikut hangus terbakar dalam kejadian tersebut. 

Salah seorang pengungsi bernama Asnah, mengaku dirinya langsung meninggalkan rumah begitu kebakaran di Depo Pertamina Plumpang mulai terjadi. Saat itu dia sangat panik, ketika melihat api mulai membakar rumah tetangganya. Kepanikannya bertambah hebat ketika ledakan terdengar serta bau bensin yang menyengat. 

Asnah mengaku masih belum tahu bagaimana kondisi rumahnya sekarang, namun dia mendapatkan informasi jika rumah tetangganya sudah habis dilalap si jago merah. 

“Waktu meledak itu saya langsung melarikan diri, yang terpenting waktu itu yang terpikirkan hanya menyelamatkan anak-anak saja. Kalau rumah saya belum tahu sampai sekarang. Tapi rumah tetangga sudah habis terbakar. Soalnya lokasinya itu pas di belakang tangki,” ujar Asnah kepada wartawan Berita Satu yang meliput. 

Asnah mengaku sekarang ini dia dan para pengungsi lainnya sedang membutuhkan bantuan berupa makanan dan pakaian layak pakai. 

Pertamina Meminta Maaf

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengucapkan rasa turut prihatin dan memohon maaf atas terjadinya kebakaran di Depo Pertamina Plumpang, yang sampai menghilangkan sejumlah nyawa. 

Pihaknya pun membentuk tim gabungan bersama dengan PT Patra Niaga guna melakukan pengusutan dan penyelidikan atas penyebab terjadinya kebakaran itu. 

“Pertamina bakal memberikan penanganan terbaik kepada para warga yang terdampak. Kami juga akan melakukan evaluasi serta merefleksi secara menyeluruh di internal, demi menghindari kejadian yang sama terulang kembali,” terang Nicke melalui keterangan tertulisnya. 

Pada Sabtu pagi, 4 Maret 2023, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso mengaku bahwa pihaknya masih belum bisa mengungkap penyebab pasti dari insiden kebakaran di Depo BBM mereka yang ada di Plumpang. 

“Saat ini masih belum diketahui penyebabnya. Fokus kami masih dalam penanganan warga serta mengupayakan agar pasokan BBM tetap aman,” tutur Fadjar saat ditemui wartawan CNN.

Lebih Dekat Melihat Depo Pertamina Plumpang

Dalam insiden kebakaran tersebut, pipa bensin dianggap sebagai objek paling utama. Terlebih, api dengan cepat mampu meluas hingga merembet ke wilayah di sekitar Depo yang merupakan permukiman padat penduduk. 

Merujuk pada laman situs Pertamina Patra Niaga, Integrated Terminal Jakarta atau lebih awam dikenal dengan Depo Plumpang itu, merupakan salah satu terminal BBM paling penting di Indonesia. Pasalnya, depo ini menjadi pemasok 20% kebutuhan BBM harian nasional, atau sekitar 25% dari total SPBU yang dimiliki Pertamina. 

Terminal ini pertama kali dioperasionalkan pada tahun 1974 dan diketahui memiliki kapasitas tangki penyimpanan mencapai hampir 300 ton. Depo tersebut menyalurkan produk bahan bakar berbagai jenis, mulai dari Premium, Bio Solar, Dexlite, Pertamax, Pertalite sampai dengan Pertamax Turbo. 

Proses distribusi dilakukan lewat Terminal Automation System (TAS) bertaraf internasional, yang biasanya juga dikenal dengan nama New Gantry System. BBM kemudian diarahkan ke kompartemen unit mobil tangki yang jumlahnya mencapai 249 unit. 

Pernah Terbakar di 2009

Sebagai catatan, ini bukanlah kali pertama insiden kebakaran terjadi di depo tersebut. Pada awal tahun 2009 silam, juga terjadi insiden yang sama yang mengakibatkan seorang petugas keamanan Pertamina meninggal dunia.

Saat itu, kebakaran tepatnya terjadi pada hari Minggu, 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.00 WIB. Api yang berkobar baru bisa dipadamkan pada esok harinya, sekitar pukul 06.15 WIB. Muncul isu jika kebakaran tersebut merupakan hasil sabotase yang dilakukan terhadap depo, karena statusnya sebagai objek vital nasional. 

Banyak media kala itu melaporkan jika tangki penyimpanan dengan sengaja diledakkan hingga memicu terjadinya kebakaran. Sabotase tersebut gencar dikaitkan dengan penggantian Direktur Utama Pertamina Ari H Soemarno, sesuai keputusan yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu menjabat. 

Isu lainnya adalah kebakaran terjadi karena tindakan terorisme. Isu satu ini cukup mendasar, karena sebelumnya aparat Kepolisian dengan Tim Densus 88-nya menangkap teroris di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Apalagi kelompok teroris tersebut telah merencanakan serangan terhadap Depo Pertamina Plumpang. 

Rumor adanya sabotase waktu itu bahkan semakin ramai karena pernyataan Kepala BIN Syamsir Siregar yang menjabat kala itu. Dirinya menyebut bahwa ledakan yang terjadi di Depo Pertamina Plumpang bukan disebabkan oleh masalah kesalahan teknis. 

Syamsir bahkan juga sempat menyindir aparat kepolisian, yang memiliki kaitan erat dengan tragedi kebakaran Depo Plumpang di tahun 2009 tersebut. Dirinya mengaku telah lama memberikan peringatan kepada pihak kepolisian, agar Depo Plumpang harus mendapatkan pengamanan dan pengawasan yang lebih ketat lagi. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim melalui blog pribadinya. Dalam unggahannya, Chappy mempertanyakan soal keterangan awal yang disampaikan pihak kepolisian, jika kebakaran di Plumpang disebabkan oleh masalah teknis. 

Pasalnya, jika memang kebakaran dipicu oleh kesalahan teknis, harusnya pihak Pertamina lah yang lebih kompeten dan menguasai aspek teknis yang memberikan keterangan kepada publik. Chappy juga membahas mengapa TNI tidak dilibatkan dalam pengamanan objek vital, seperti yang telah diatur dalam UU TNI.

Dia menyorot bagaimana permukiman padat penduduk bisa begitu dekat dengan sebuah objek vital nasional, dan keamanannya yang cukup longgar. Warga pun bisa dengan mudah memanjat tembok dan menerobos masuk ke dalam area depo.

“Dengan demikian, akan sangat mudah jika kemudian ada orang yang berupaya meledakkan tangki BBM di Depo Pertamina Plumpang,” ujar Chappy seperti mengutip dari unggahan di blog pribadinya kala itu.