google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Kapal Perang Cina Sliweran di Laut Natuna Takuti Nelayan Indonesia

Ilustrasi Kapal Perang Patroli di Laut

Sejumlah nelayan yang sedang mencari ikan di perairan Natuna mengaku panik dan ketakutan, setelah sejumlah kapal asing berbendera Cina masuk ke wilayah tersebut. Pasalnya, kapal yang masuk itu bukanlah kapal pencari ikan atau kapal kargo, melainkan kapal perang. Video yang direkam oleh nelayan saat kapal perang Cina itu melintas di sekitaran kepulauan Riau itu beredar di media sosial dan menjadi perbincangan. 

Mendapatkan kabar tersebut, Angkatan Laut Indonesia meningkatkan pasukan untuk berpatroli di wilayah tersebut. Pihaknya juga membenarkan apabila ada beberapa kapal perang milik Cina yang terdeteksi di dekat perairan internasional. Tidak hanya kapal perang milik Cina saja, tetapi juga kapal perang milik Amerika Serikat. 

Hasil patroli tersebut memang terdeteksi beberapa kapal perang Cina dan Amerika yang melintas, namun sejauh ini tidak ada gangguan dari kapal-kapal tersebut. Meski demikian, TNI AL mengerahkan armada angkatan lautnya yang didukung oleh patroli udara, guna mengamankan wilayah tersebut, sebab di sisi lain para nelayan banyak yang khawatir dan takut melaut. 

Aparat Diminta Bertindak

Kekhawatiran dan ketakutan para nelayan di laut Natuna mendapatkan tanggapan dari Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti. Lewat akun Instagram pribadinya, Susi meminta agar aparat keamanan bisa melakukan tindakan yang cepat, untuk menanggulangi masalah tersebut. Dirinya menekankan soal ketakutan yang dialami oleh para nelayan.

“Semoga hal ini bisa segera diantisipasi oleh aparat keamanan laut di Natuna. Nelayan ketakutan lihat kapal perang Cina mondar-mandir di laut Natuna,” tulis Susi di akun Instagramnya itu. 

Anggota Komisi I DPR Dave Laksono juga meminta agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar latihan perang dengan skala besar di wilayah perairan Natuna Utara. Latihan perang itu bisa dijadikan langkah preventif, namun di sisi lain juga bisa mempertegas serta memperjelas kedaulatan Indonesia.

“Adakan latihan simulasi perang rutin di wilayah tersebut, agar jelas bahwa wilayah itu adalah wilayah kita, dan kehadiran kita jelas,” tegasnya. 

Bagi Dave, latihan perang akan memberikan dampak yang lebih nyata guna menegaskan bahwa angkatan laut Indonesia akan tetap mempertahankan dan mengamankan kedaulatan atas perairan Natuna. Perlu ditekankan bahwa keberadaan kapal perang negara asing tidak bisa diabaikan dan diremehkan, terlebih jika hal itu menimbulkan gangguan dan ketakutan terhadap nelayan Indonesia. 

Menurutnya, jika masalah semacam ini diabaikan, maka lama-lama keberadaan kapal perang negara asing bisa menjadi ancaman yang lebih serius, tentunya akan melanggar hak-hak kedaulatan yang dimiliki Indonesia. 

Sementara itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa hal yang bisa dilakukan pemerintah saat ini yang paling memungkinkan adalah dengan mengerahkan kapal-kapal Bakamla. Tujuannya ada untuk memberikan rasa aman dan ketenangan terhadap para nelayan Indonesia yang mencari nafkah di wilayah tersebut.

Apa yang dilakukan kapal perang Cina itu bisa dibilang sebagai bentuk intimidasi, dan Angkatan Laut tidak mungkin begitu saja mengerahkan kekuatan atau melakukan pengusiran, karena posisi dari kapal-kapal perang itu berada di Laut Lepas. 

“Perlu dipahami juga para nelayan Cina dengan perspektif dari pemerintah mereka bahwa tentunya hal itu bukanlah tindak ilegal fishing, mengingat mereka melakukan penangkapan ikan di traditional fishing ground berdasarkan klaim sembilan garis putus,” ungkapnya. 

Yang perlu digaris bawahi dalam masalah ini adalah bahwa tidak semestinya kapal perang Cina yang berada di laut lepas, kecuali hanya untuk melintas melanjutkan rute pelayaran. Sebab, keberadaan kapal militer adalah untuk mempertahankan wilayah kedaulatan negara. 

Tangkapan Gambar Dari Video Kapal Perang Cina di Laut Natuna Utara

Alasan Keberadaan Kapal Perang Cina

Menurut Hikmahanto, munculnya kapal-kapal perang Cina di wilayah perairan Natuna kemungkinan sebagai bentuk respon untuk menandingi kapal perang milik Indonesia yang berada di laut lepas yang sedang menegakkan hukum di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan melakukan penangkapan nelayan asal Cina. 

Lebih lanjut Hikmahanto menjelaskan keberadaan kapal perang Cina itu akibat pemerintah negeri Tirai Bambu yang tidak mau tunduk terhadap putusan Permanent Court of Arbitration yang dikeluarkan pada tahun 2016 dan juga hasil UNCLOS 1982. 

Selain itu, alasan keberadaan kapal perang Cina di perairan Natuna juga sebagai klaim sepihak atas sembilan garis putus atau nine dash line. Padahal jika merujuk pada Permanent Court of Arbitration itu, klaim tersebut tidak sah. Dalam penyelesaian sengketa Cina dengan sejumlah negara di ASEAN telah diputuskan bahwa Cina tidak memiliki hak atas Laut China Selatan.

“Tetapi Cina tidak mau tunduk dengan aturan tersebut. Mereka bersikukuh memiliki hak yang sah atas perairan tersebut. Oleh karena itu mereka kemudian memunculkan dirinya di lapangan,” tambah Hikmahanto. 

Padahal sesuai dengan putusan konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Hukum Laut juga memutuskan bahwa perairan Natuna masuk dalam ZEE Indonesia. Ini artinya, Indonesia di wilayah ZEE itu memiliki hak atas seluruh sumber daya alam yang ada di sana, yang bisa digunakan untuk pembangunan negara, khususnya para nelayan. 

Namun, Hikmahanto tidak menampik jika keberadaan kapal perang Cina itu adalah bentuk intimidasi yang bertujuan menakut-nakuti para nelayan, yang mengira mereka sedang berada di wilayah perairan Cina. 

Atas beberapa hal tersebut di atas, menurut Hikmahanto kapal perang Cina masih akan terus melakukan tindakan semacam, bahkan sampai kiamat terjadi. Oleh karena itu, ketegasan pemerintah Indonesia atas kedaulatan wilayahnya dibutuhkan.

Situasi Laut Natuna Menurut Bakamla

Kolonel Bakamla Wisnu Pramandita selaku Kepala Bagian Humas dan Protokol Bakamla RI, memberikan penjelasannya terkait kondisi dan situasi yang terjadi di perairan Natuna. Menurutnya, wilayah itu selama ini memang banyak sekali berseliweran kapal asing, karena wilayah tersebut merupakan pintu masuk dan keluar lalu lintas kapal yang melewati Selat Malaka dan Selat Sunda. 

Di kesempatan yang sama Wisnu juga mengatakan bahwa informasi soal ribuan kapal asing yang sebelumnya juga menjadi polemik, bisa bermakna umum. Karena hal tadi di atas, wilayah Natuna selain menjadi pintu keluar masuk juga berdekatan dan mencakup laut Cina Selatan.

Menanggapi masalah ini, pihak Bakamla sendiri sudah mengajukan sejumlah rekomendasi strategi dan kebijakan kepada Kemenkopolhukam. Rekomendasi yang dia sampaikan salah satunya adalah dengan membentuk Nelayan Nasional Indonesia. Adapun tujuannya agar para pelaku ekonomi bisa hadir dan juga kegiatan monitoring penangkapan ikan di wilayah tersebut bisa terkontrol dengan baik. 

Di tempat terpisah, Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Aan Kurnia menegaskan bahwa untuk saat ini kondisi di Laut Natuna Utara masih dalam status aman dan terkendali. Pihaknya pun meminta agar para nelayan tidak khawatir dan takut lagi agar bisa beraktivitas seperti sedia kala. 

Kapal Perang dan Pesawat Dikerahkan

Senada dengan Kepala Bakamla, Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Arsyad Abdullah juga menegaskan bahwa para pelayan tidak perlu takut melakukan aktivitas mereka di wilayah Laut Natuna Utara. Pasalnya, pihaknya telah mengerahkan 5 KRI dan sebuah pesawat untuk melakukan pengamanan. 

“KRI dituntut 1×24 jam harus standby di Laut Natuna Utara,” tegas Arsyad yang saat itu berada di atas KRI Silas Papare-386 yang berpatroli di perairan Natuna. 

Lebih detail, Arsyad menjelaskan bahwa operasi pengamanan ini menggunakan sandi operasi Siaga Segara 21. Tiga atau empat KRI akan selalu berada di wilayah perairan Natuna, sementara satu kapal melakukan bekal ulang secara bergiliran. Dengan demikian, proses pemantauan kapal-kapal asing dan potensi ancaman bisa terus dipantau tanpa terputus. 

Video yang beredar di media sosial itu memperlihatkan setidaknya ada enam kapal perang Cina yang mondar-mandir di Laut Natuna. Nelayan yang mengetahui adanya kapal perang asing itu memilih untuk menjaga jarak guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 

Video tersebut diketahui direkam pada tanggal 13 September 2021 dengan menggunakan ponsel. Namun video tersebut baru dilaporkan kepada aparat setelah mereka kembali ke daratan pada dua hari setelahnya, yakni pada tanggal 15 September 2021.