google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Koalisi Gerindra – PDIP dan Pencapresan Prabowo Yang Ambisius

Megawati, Prabowo dan Puan Maharani Saat Berfoto Bareng

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 semakin dekat dan semakin banyak partai politik yang mulai menjalankan manuver politiknya. Terkini, ada Gerindra yang santer dikabarkan mulai mencoba mendekat ke PDI Perjuangan (PDIP), untuk mencomblangkan calon presiden dan calon wakil presiden masing-masing. Gerindra berharap, bekerja sama dengan PDIP akan melahirkan koalisi yang kuat dalam menghadapi kontestasi Pilpres yang digelar tiga tahun lagi itu. 

Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani dalam keterangannya kepada sejumlah awak media menjelaskan bahwa, partainya saat ini sangat terbuka untuk bisa menjalin kerja sama bareng PDIP pada Pilpres 2024 nanti. Dirinya mengatakan bahwa berkoalisi dengan PDIP adalah sebagai bagian dari upaya dalam mewujudkan cita-cita membangun negara ini serta kepentingan rakyat. 

“Kita memiliki cita-cita yang sama, yakni membangun Indonesia dan utamanya membela kepentingan rakyat banyak. Jadi kenapa kita tidak bekerja sama saja untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk apa kita pengkerengan (saling bermusuhan) yang hanya membuat kegaduhan, padahal sebenarnya bisa bekerja sama,” ungkap Muzani. 

Pernyataan yang mengungkap bahwa Gerindra sangat terbuka untuk menyambut koalisi dengan PDIP itu dia sampaikan, ketika meresmikan kantor DPC Gerindra di Semarang yang baru selesai dibangun. 

Muzani juga tidak menampik bahwa selama ini hubungan antara Gerindra dengan PDIP memang mengalami pasang surut. Misalnya, ketika pada tahun 2019 kedua partai ini saling bergandeng tangan dalam pemilu, namun kemudian tahun 2014 Gerindra memutuskan untuk menjadi oposisi, melawan pemerintahan Jokowi yang diusung PDIP. 

Menariknya, keduanya kembali bekerja sama dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Bahkan, Ketua Umum Gerindra, yakni Prabowo Subianto pun mendapatkan jabatan strategis sebagai Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Jokowi tersebut. 

Berangkat dari sejarah yang cukup unik dan naik turun ini, partai Gerindra pun ingin untuk bisa kembali melakukan kerjasama bareng PDIP untuk membangun dan membesarkan Indonesia. 

Muzani melihat bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang sangat besar, yang jumlah penduduknya mencapai 270 juta jiwa serta memiliki sekitar 17 ribu pulau. Oleh karenanya akan sangat tidak mungkin, jika hanya satu kekuatan saja yang mampu membangun, mengelola dan menjangkau seluruhnya. 

“Kita harus terus bisa merawat kebhinekaan dan keberagaman bangsa ini, untuk dijadikan sebagai modal kekuatan kita. Oleh karenanya, kita harus menjadi kekuatan perekat bersama dengan kekuatan politik lainnya,” ujar Muzani. 

Gerindra Tak Ingin Jauh Dari PDIP

Dalam acara peresmian kantor Sekretariat DPC Partai Gerindra Semarang, Jawa Tengah tersebut, Muzani juga memberikan arahan agar para kader Gerindra mau belajar membangun militansi dan juga manajemen partai ke PDIP. 

“Kami ingin sekali belajar sama PDIP bareng-bareng. Indonesia ini terlalu luas jika diurus sendirian. Yang penting nanti pada 2024 jangan jauh dari PDIP. Kalau bisa, teman-teman di Gerindra dikasih ruang sedikitlah,” tutur Muzani. 

Ada alasan tersendiri kenapa Muzani sampai berkata demikian. Pasalnya, di luar Jawa Tengah, partai politik silih berganti dalam memenangkan pemilihan, dan hal tersebut tidak terjadi di wilayah itu karena PDIP selalu mendominasi. 

Dalam kesempatan itu Muzani juga memberikan pujian terhadap kinerja pemerintahan Jokowi, di mana pembangunan infrastruktur dari kawasan industri sampai dengan pembangunan ibu kota baru misalnya, yang mampu dijalankan dengan sangat baik. 

Dirinya juga mengatakan bahwa keharmonisan yang telah terjalin antara Gerindra dengan PDIP selama ini, diharapkan bisa berujung pada koalisi di Pilpres 2024 nanti. Peluang untuk berkoalisi itu pun juga dikatakan sangat terbuka bagi partai lain juga.  

Capres Dari Gerindra dan PDIP Dipertanyakan

Langkah Partai Gerindra yang mencoba membuka peluang berkoalisi dengan PDIP, mendapatkan tanggapan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Arsul Sani yang juga merupakan pimpinan MPR RI menuturkan bahwa jika ditawari untuk berkoalisi dengan Gerindra, partainya perlu mempertimbangkan banyak sekali faktor. 

Salah satu faktor utama yang paling harus dipertimbangkan adalah siapa sosok yang akan diusung sebagai calon presiden dan calon wakil presidennya. Selain itu, saat ini dinilai Asrul masih terlalu dini untuk membahas soal koalisi. 

“Gabung atau tidak gabung, ada banyak faktornya. Antara lain misalnya siapa capres dan juga cawapresnya. Kemudian juga bagaimana nanti kesepakatan politik yang akan ditawarkan. Jadi kalau berbicara soal gabung koalisi atau tidak, ini masih terlalu dini. Mungkin nanti akan ada tawaran dari koalisi lain yang lebih menarik,” ungkap Asrul Sani. 

Meski demikian, bagi Asrul Sani sejauh ini penyampaian komunikasi yang dilakukan oleh sejumlah partai politik berjalan dengan sangat baik. Mulai dari level petingginya, sampai dengan level di bawah yakni di anggota partai. 

Gerindra Tetap Jagokan Prabowo

Dijelaskan juga oleh Muzani bahwa seluruh lapisan elemen Partai Gerindra mulai dari tingkat DPP, DPD, DPC sampai dengan PAC masih konsisten untuk terus memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pilpres 2024 mendatang. Sampai sekarang pun, tidak ada satu pihak pun di tubuh partai Gerindra yang mengeluarkan penolakan atas pencapresan Prabowo. 

Gerindra Konsisten Usung Prabowo Subianto Nyapres

Tidak hanya secara internal, Gerindra pun juga terus aktif dalam berkomunikasi dengan sejumlah partai politik lainnya, untuk mau turut mendukung pencapresan Prabowo. 

Pasalnya, sejak dari dulu Partai Gerindra memiliki cita-cita yang belum bisa terlaksana sampai sekarang. Dan cita-cita tersebut adalah menjadikan Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia. Oleh karena itu, peluang terbesar yang saat ini dimiliki oleh Partai Gerindra adalah dengan bekerja sama bareng PDIP. 

Pencapresan Prabowo Terlalu Ambisius

Sementara itu, pengamat komunikasi dan politik Jamiluddin Ritonga menakar seberapa besar peluang yang dimiliki oleh Prabowo jika maju di Pilpres 2024 mendatang sebagai calon presiden. Mengingat dukungan yang diberikan pada Prabowo sangat besar dari internal partai Gerindra. Dari sejumlah catatan hasil survei pun, nama Prabowo kerap berada di posisi atas, setidaknya berada di peringkat tiga besar. 

Meski demikian, bukan berarti sosok Prabowo adalah sosok tunggal dalam kalangan partai Gerindra yang layak untuk maju sebagai calon presiden. Ada nama Sandiaga Salahudin Uno, yang selama ini seakan membayang-bayangi Prabowo. 

“Prabowo telah mendapatkan dukungan penuh dari internal partainya. Namun, sosok Prabowo terus dibayang-bayangi oleh Sandiaga Uno,” uncap akademisi dari Universitas Esa Unggul itu. 

Jika melihat antara sosok Prabowo dan Sandiaga Uno, Jamiluddin menerawang bahwa nilai jual yang dimiliki Prabowo sekarang ini sudah mulai menurun. Tanda-tanda penurunan itu sudah terlihat sejak Prabowo masuk dalam pemerintahan Jokowi. Berdasarkan kondisi ini, Jamiluddin mengatakan bahwa apabila Prabowo masih terus dipaksa untuk maju sebagai calon presiden di Pilpres 2024 nanti, dikhawatirkan akan kembali menelan kekalahan. 

Jamiluddin pun memberikan saran supaya Partai Gerindra mau mempertimbangkan kembali keputusan untuk mengusung Prabowo sebagai calon presiden, dan melihat sosok Sandiaga Uno sebagai penggantinya. Di luar Gerindra, Sandiaga Uno sendiri juga memiliki catatan yang tidak terlalu buruk, dan cenderung lebih populer di kalangan milenial dan memiliki pendukung fanatik terutama kaum ibu-ibu. 

Sayangnya, bisa dipastikan bahwa Prabowo tidak akan rela begitu saja menyerahkan posisi calon presiden kepada Sandiaga Uno. Sebab, Prabowo terkenal memiliki kepribadian yang sangat ambisius.

Prabowo dan Sandiaga Uno Saat Debat Pilpres

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno memiliki pandangan bahwa pasangan Ganjar Pranowo – Sandiaga Uno lebih aman untuk diusung sebagai calon presiden dan calon wakil presiden, apabila nantinya Gerindra dan PDIP memang jadi untuk berkoalisi. Pasalnya, sejauh ini pasangan Prabowo – Puan Maharani belum mendapatkan respon yang cukup kuat dari publik. 

“Dua partai ini dari segi figur memiliki surplus kader. PDIP punya Puan dan Ganjar, sementara di Gerindra ada Prabowo dan Sandiaga. Jika diibaratkan dengan main bola, semua tergantung dari PDIP dan Gerindra untuk mau memakai strategi yang mana. Jika ingin main aman, bisa dorong Ganjar – Sandiaga, ini adalah opsi yang bagus. Karena sejauh ini opsi untuk Prabowo – Puan belum kuat respons dari publiknya,” ungkap Adi menjelaskan. 

Jika melihat hubungan antara Gerindra dengan PDIP, keduanya sejauh ini masih menjadi poros koalisi utama, yang mampu menjadi magnet tersendiri dalam menentukan arah koalisi di Pilpres mendatang. Baik itu dari segi partai dan figur, karena kerap masuk dalam urutan tiga besar, dan memiliki suara yang cukup dominan. 

Adi meyakini bahwa koalisi antara Gerindra dan PDIP pasti akan terbentuk nantinya. Namun yang diharapkan adalah, tidak terjadi kembali masalah yang memecah seperti yang terjadi dengan perjanjian batu tulis. 

Menunggu Waktu Yang Tepat

Jika Gerindra terlihat begitu tegas dalam menyampaikan keinginan untuk berkoalisi dengan PDIP pada Pilpres 2024 mendatang, PDIP cenderung lebih santai menyikapinya. Pihak PDIP mengatakan memang dalam sebuah kerjasama antar partai dibutuhkan adanya semangat gotong royong guna mewujudkan kepentingan nasional. Apalagi hal semacam ini sangat dibutuhkan di saat kondisi bangsa yang sedang dilanda wabah pandemi, yang sampai detik ini belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. PDIP pun berpikiran bahwa semua partai politik harus bisa menggalang kerja sama dan lebih mengedepankan kepentingan rakyat.

“Kerjasama strategis dengan parpol lain, ditempatkan PDIP dalam semangat gotong royong untuk terwujudnya cita-cita, tujuan dan kepentingan nasional. Hal inilah yang menjadi konsentrasi utama di PDIP, dan menjadikannya sebagai skala prioritas,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. 

Hasto Kristiyanto Sekjen PDIP

Bagi Hasto, apa yang disampaikan Muzani itu dia lihat sebagai pengakuan akan pentingnya kerjasama strategis antar partai politik, terlebih selama ini PDIP memiliki basis ideologis yang begitu kuat di masyarakat. 

Pihaknya pun menegaskan bahwa selama ini PDIP tidak pernah membajak partai lain agar mau bekerjasama. Jika memang ternyata ada partai yang merasa nyaman bekerja bareng PDIP, menurut Hasto itu dikarenakan etika yang diamalkan PDIP kepada parpol lainnya. 

Hasto menyebut bahwa PDIP sampai detik ini masih belum ingin membicarakan mengenai koalisi, karena partainya memilih untuk berfokus dalam upaya penanganan pandemi. Pihaknya baru akan memikirkan masalah koalisi, jika nanti tahapan-tahapan pemilu sudah mulai ditetapkan.

“Terkait kerjasama soal Pilpres 2024, saat ini kami lebih fokus untuk mengatasi pandemi. Momentum kerjasama terkait Pilpres akan tiba ketika tahapannya sudah ditetapkan dan kami menunggu timing yang tepat,” pungkas Hasto.