Korea Utara Uji Coba Misil Balistik, Siap Gabung Perang Rusia vs Ukraina?

Korea Utara Uji Coba Misil Balistik, Siap Gabung Perang Rusia vs Ukraina?

Di tengah panasnya suasana geopolitik global yang mengakibatkan Rusia menyerang Ukraina, saat ini pun Korea Utara justru sedang meluncurkan proyektil yang dicurigai merupakan misil balistik ke bagian timur laut Jepang, pada hari Minggu pagi 27 Februari 2022 lalu.

Hal tersebut sudah dikonfirmasi secara langsung oleh pihak militer dari Korea Selatan yang menjelaskan bahwa Korea Utara baru – baru ini telah meluncurkan proyektil yang tidak dikenal. Pada pekan lalu pun, pemimpin kandidat konservatif terkemuka, Yoon Suk-Yeol sempat memberikan peringatan kepada negara Korea Utara, bahwa negara tersebut mungkin akan mengambil kesempatan demi melakukan provokasi dalam memanfaatkan krisis yang sedang terjadi di Ukraina.

Akan tetapi, pendapat berbeda disampaikan langsung oleh profesor dari Universitas Yonsei Korea Selatan. Ia beranggapan bahwa mencurigai Korea Utara yang mengambil keuntungan dari konflik Rusia – Ukraina tentu saja sangat berlebihan.

‘’Perang yang diciptakan oleh Putin tentu saja bisa mempengaruhi hampir seluruh kondisi geopolitik sekarang ini. Dan seharusnya menjadi bahan pertimbangan oleh Kim. Namun, anggapan bahwa Kim akan mengambil keuntungan dari konflik tersebut justru agak berlebihan, sebab Korea Utara sudah melakukan uji coba rudalnya secara agresif sebelum terjadi perang Rusia Ukraina,’’ jelas John Delury melalui akun Twitternya, seperti yang dikutip dari laman The Guardian.

Uji Coba Misil Balistik Gencar Dilakukan Korut

Setidaknya, uji coba misil balistik ini merupakan peluncuran yang kedelapan kalinya setelah sebelumnya Korut meluncurkan sebanyak tujuh uji coba rudal pada bulan Januari 2022. Pada bulan tersebut diyakini sebagai uji coba terbanyak dalam kurun waktu satu bulan.

Pada akhir bulan Januari lalu, negara ini telah meluncurkan rudal balistik jarak menengah atau IRMB bernama Hwasong-12 yang dianggap mempunyai jangkauan hingga 5000 kilometer. Rudal tersebut menempatkan seluruh Jepang dan juga wilayah Amerika Serikat di Guam dalam jangkauan serang. Seperti yang telah diketahui bahwa Jepang dan Guam ini merupakan pangkalan militer Amerika Serikat yang dipergunakan ketika sedang terjadi krisis di Semenanjung Korea.

Uji coba pada bulan Januari lalu ini pun merupakan uji coba pertama semenjak November 2017 lalu, dan menjadi pemicu kekhawatiran bahwa Kim Jong Un bakal melakukan uji coba senjata yang jauh lebih kuat lagi. Sebelumnya, Korut sudah memberikan isyarat untuk segera mengakhiri moratorium uji coba nuklir dan rudal jarak jauhnya.

Hingga sekarang, masih belum ada komentar resmi dari Pentagon atau departemen luar negeri AS. Washington menjelaskan bahwa pihaknya akan selalu membuka diri untuk melakukan pembicaraan dengan Korea Utara tanpa persyaratan, namun selalu ditolak oleh pihak Korut.

Korea Utara Tegas Menolak Permintaan Presiden Putin

Korea Utara dilaporkan telah menolak keras permintaan dari Presiden Rusia Vladimir Putin guna memberikan bantuan dalam perang yang tengah terjadi di Ukraina. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un menjelaskan bahwa Rusia sudah terlalu gila.

Dikutip dari Mirror, permintaan Presiden Putin disebabkan oleh rendahnya kemajuan pasukan militer Rusia di Ukraina. Putin pun disebutkan akan mempertimbangkan untuk beralih ke rencana cadangannya dengan memakai senjata non konvensional.

Seperti yang diketahui bahwa Korea Utara memang telah mendukung Rusia pada Mosi Majelis PBB, hal tersebut terungkap ketika voting yang dilakukan pada tanggal 3 Maret lalu. Sebelumnya, Korut pun telah buka suara tentang kondisi Ukraina dan Rusia saat ini. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyalahkan adanya kebijakan hegemoni Amerika Serikat dan Barat atas krisis yang sedang terjadi.

‘’Akar penyebab dari krisis Ukraina ini sepenuhnya terletak pada kebijakan hegemonik AS dan Barat yang terlalu memanjakan diri mereka sendiri dalam kesewenang – wenangannya pada negara lain,’’ jelas juru bicara itu yang dikutip langsung dari CNN International.

Selain Korea Utara, China pun dianggap sebagai negara yang sedang dekat dengan Rusia. Bahkan, Amerika Serikat beberapa kali menuduh China ikut serta dibelakang layar dengan Rusia dalam perang tersebut.

Langsung saja pihak Beijing membantah hal tersebut. Menurut mereka, China sama sekali tidak memberikan bantuan militer dalam bentuk apapun ke Rusia. Sebaliknya, China pun ingin ada dialog diplomatik guna menyelesaikan konflik yang sedang terjadi.