Kualitas Udara DKI Jakarta Masuk Daftar Terburuk Sedunia

Seorang Warga Melintas Dengan Mengenakan Masker Berlatar Belakang Udara Jakarta Yang Terpapar Polusi
Seorang Warga Melintas Dengan Mengenakan Masker Berlatar Belakang Udara Jakarta Yang Terpapar Polusi

Dalam kurun waktu sekitar dua minggu belakangan, Jakarta tercatat berada di peringkat paling atas sebagai kota dengan tingkat kualitas udara paling buruk di dunia. Data tersebut berdasarkan hasil pencatatan oleh tim IQAir. Sejumlah pihak pun mulai khawatir atas buruknya kondisi udara di Ibu Kota, yang cenderung kian parah. 

Luckmi Purwandari selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara dari Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut kualitas udara yang ada di Jakarta setiap sepanjang Mei sampai Agustus tiap tahunnya selalu lebih buruk dibandingkan periode lainnya. 

Lebih lanjut Luckmi memaparkan bahwa hal ini tidak lepas dari pengaruh perubahan musim. Di bulan April sampai dengan September merupakan musim kemarau, di mana angin timur berkondisi kering bertiup dan membawa debu serta partikel yang jumlahnya lebih banyak. 

Laporan IQAir pada minggu lalu, (7/6) pukul 8 pagi misalnya, menunjukkan jika kualitas udara di Ibu Kota berada pada poin 155 Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI). Nilai itu mengalami kenaikan sebanyak 10 poin dibandingkan laporan di hari sebelumnya, di mana pada hari Selasa (6/6) AQI berada di poin 145. 

Indonesia pun tercatat dalam daftar 10 besar kota yang memiliki tingkat polusi udara paling buruk di dunia, dan negara di Asia Tenggara nomor satu tingkat polusi udaranya. 

Climate Impact Associate Yayasan Indonesia Cerah, Diya Farida menduga jika salah satu faktor yang paling mempengaruhi tingginya polusi udara di Indonesia adalah keberadaan kompleks industri di sekitar Jakarta. 

Pasalnya, pencemaran udara yang dihasilkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berada di sejumlah wilayah seperti di Jawa Barat serta Banten, cenderung melintas sampai ke wilayah perbatasan, di mana ini biasa disebut dengan istilah Transboundary Air Pollution. 

Ironisnya, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada dua tahun yang lalu telah menyatakan ada empat pihak yang sebelumnya digugat oleh tim Advokasi Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta (Ibukota), terbukti telah melakukan tindak melawan hukum yang terkait dengan penanganan masalah pencemaran udara. 

Adapun pihak-pihak yang tergugat itu adalah Presiden Joko Widodo, Menteri LHK, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Kesehatan (Menkes) dan juga Gubernur DKI Jakarta. Pihak tergugat lainnya juga termasuk Gubernur Banten dan Gubernur Jawa Barat. 

Sayangnya, para pihak yang tergugat itu kemudian melayangkan kasasi atas gugatan yang mereka terima. 

Warga Dipaksa Merasakan Buruknya Udara Ibu Kota

Salah seorang warga bernama Kayon (22) mengutarakan bagaimana buruknya kualitas udara yang dia hirup ketika tinggal di Jakarta. Dia bahkan sampai hafal jika kualitas udara yang dirasakan paling buruk adalah ketika pukul 11 siang ke atas. 

Kayon sendiri merupakan pekerja di sebuah kantor yang berada di lantai 19 sebuah gedung di Jakarta. Setiap jam tersebut, dia makan siang di kantin yang lokasinya ada di rooftop gedung tempat dia bekerja. Udara yang dia hirup pada waktu-waktu itu terasa begitu pekat, yang membuatnya sedikit kesusahan untuk bernafas. 

Kondisi langit Ibu Kota di siang terlihat keruh. Bahkan dengan mata telanjang pun, bakal terlihat debu serta asap yang terbang. 

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Bow (32), yang menunjukkan hasil jepretan kamera ponselnya. Dalam foto itu tampak Flyover Kemayoran di pukul 8 pagi dengan langit yang sudah berwarna kelabu dan keruh. 

Karena harus dia alami setiap hari, Bow bahkan sampai harus memantau kualitas udara di Jakarta menggunakan aplikasi indikator udara. Dengan aplikasi tersebut, dia ingin tahu dan memastikan seberapa buruk kualitas udara yang dia hirup ketika beraktivitas dan bekerja.

Selama Bow memanfaatkan aplikasi tersebut, rutin dia temukan indikator menunjukkan warna jingga dan merah, yang berarti kualitas udara sedang dalam kondisi sangat buruk. Sepanjang dia menggunakan aplikasi itu, baru satu kali dia melihat indikator menunjukkan warna hijau. 

Sementara itu Daffa (28) yang bekerja di Jakarta, belakangan mulai mencemaskan buruknya kualitas udara di sana. Dia pun memilih untuk tetap menggunakan masker ketika berada di luar ruangan, meski pemerintah telah melonggarkan aturan pemakaian masker. 

Daffa begitu khawatir jika kualitas udara Ibu Kota yang buruk itu berdampak pada kesehatan dirinya, dan juga masyarakat. 

“Mungkin belum banyak yang sadar saat ini ya. Namun polusi udara itu bisa bikin kita mudah terkena penyakit. Jadi ini demi kesehatan saya memilih memakai masker,” tutur Daffa kepada wartawan Detik. 

Faktor Musim Kemarau

Buruknya kualitas udara Jakarta tidak lepas dari faktor cuaca, di mana curah hujan tercatat cukup rendah karena musim kemarau yang sedang terjadi. Dengan demikian, kebijakan untuk mengendalikan polusi udara harus segera dipercepat. Diharapkan, kebijakan itu tidak hanya fokus pada sumber emisi bergerak seperti kendaraan bermotor, tetapi juga pada sumber lain yang tidak bergerak. 

Piotr Jakubowski selaku Pendiri Nafas Indonesia kepada Kompas memaparkan bahwa sepanjang bulan Mei 2023 lalu, kualitas udara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), lebih buruk apabila dibandingkan dengan bulan April 2023. 

Di bulan Mei, tingkat Particulate Matter (PM) 2.5 berada di angka 45 mikrogram/m3. Nilai ini naik cukup tajam dibandingkan pada bulan April yang berada di angka 28 mikrogram/m3. 

Adapun ambang batas yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat PM 2.5 dalam sebuah wilayah tidak boleh lebih dari 5 mikrogram/m3. Tidak hanya melampaui ambang batas yang sudah ditetapkan WHO, kualitas udara Jakarta juga melebihi ambang batas yang ditetapkan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat, yang sebesar 12 mikrogram/m3. 

Masa peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, juga turut memperburuk kualitas udara di Jakarta. Utamanya dari awal sampai pertengahan bulan Mei 2023, yang menjadikan tingkat curah hujan serta hembusan angin mengalami penurunan. Pada akhirnya, polutan pun menumpuk cenderung lebih lama dari periode-periode lainnya. 

Perlu diketahui, PM 2.5 adara partikel yang terkandung dalam polutan, di mana ukurannya 36 kali lebih kecil dibandingkan sebutir pasir. Apabila partikel itu terhirup dan masuk ke dalam saluran pernapasan dan tubuh, maka berbagai penyakit bisa saja muncul. 

Kasus Radang Paru Naik Drastis

Bersamaan dengan munculnya laporan mengenai kualitas udara Jakarta yang terus memburuk, kasus gangguan kesehatan di wilayah Ibu Kota pun turut mengalami peningkatan. Warga pun kini diminta untuk tetap memakai masker ketika berada di luar ruangan, guna pencegahan dari paparan polutan. 

Sejumlah masalah pernapasan yang dialami oleh warga Jakarta yang meningkat itu seperti, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) serta radang paru-paru atau pneumonia. 

Ani Ruspitawati selaku Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya akan senantiasa melakukan giat monitoring secara berkala pada sejumlah jenis penyakit potensial yang bisa menyebabkan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Salah satunya yakni terhadap penyakit yang berkaitan erat dengan kualitas udara, di mana kasus-kasus penyakit seperti ini memiliki sifat endemis dan akan selalu ada. Selain itu, kasus penyakit demikian ini juga bisa terbaca dengan melihat tren berdasarkan waktu. 

Dirinya pun mengamini jika tren penyakit yang berkaitan erat dengan masalah kualitas udara, mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Walaupun demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut guna memastikan jika peningkatan kasus penyakit itu memang berkaitan dengan buruknya kualitas udara di Ibu Kota. 

Kasus radang paru atau pneumonia, berdasarkan dari data yang dimiliki pihak Dinkes DKI Jakarta, di tahun 2022 ada sebanyak 200 kasus. Sementara pada tahun ini, jumlahnya meningkat drastis hingga dua kali lipat, menjadi 400 kasus. 

Radikal bebas yang juga ada pada polutan di udara, bisa menyebabkan terjadinya stres yang bersifat oksidatif pada kulit, apabila seseorang terpapar dalam jangka waktu cukup lama. 

Radikal bebas bakal meningkatkan volume produksi enzim serta senyawa inflamasi yang ada di kulit, dan kemudian menjadi penyebab rusaknya kolagen, elastin serta DNA kulit. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kulit dr. Arini Widodo. 

Rusaknya sejumlah zat yang ada di kulit, bakal mempercepat terjadinya penuaan kulit, sehingga kulit akan memiliki kerutan lebih cepat dari yang seharusnya, termasuk juga menimbulkan adanya garis halus dan kekenyalan. 

Kemudian partikel polutan yang menempel di permukaan kulit akan menumpuk di pori-pori kulit. Saat pori-pori tersumbat, maka jerawat serta komedo akan mudah muncul. Keseimbangan bakteri alami yang ada di kulit juga bakal terganggu, sehingga risiko terjadinya infeksi kulit pun meningkat. 

Solusi Gubernur DKI

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono pun berkomentar setelah mendapatkan laporan bahwa kualitas udara di wilayah yang dia pimpin berada di sepuluh besar terburuk di dunia. Dirinya memastikan akan mengambil sejumlah langkah guna mengatasi hal tersebut. 

Solusi pertama yang disampaikan Heru adalah dengan mempercepat penggunaan kendaraan berbasis listrik. Kemudian meningkatkan jumlah ruang terbuka hijau (RTH) di beberapa titik di Jakarta. Fungsi trotoar sebagai pedestrian akan dimaksimalkan penggunaanya, sehingga diharapkan warga akan memilih berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan bermotor. 

“Dipercepat nanti untuk motor listrik dan mobil listriknya. Kemudian bahan bakar juga harus yang memenuhi syarat. Jadi semua pihak harus ikut membantu lah,” tutur Heru kepada wartawan CNN Indonesia ketika ditemui di kawasan Kuningan Timur, usai mengadakan kunjungan. 

Heru juga sempat bercanda dengan akan meniup polusi udara, yang diduga berasal dari wilayah industri yang ada di perbatasan dan kabupaten serta kota di sekitar Jakarta.