google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Mampukah Vaksin Covid-19 Mengakhir Masalah Pandemi?

Apakah vaksin mampu menghentikan pandemi?

Proses pembuatan vaksin Covid-19 tengah diburu oleh target waktu. Serangkaian uji cobanya pun dipercepat bahkan beberapa dari kandidat vaksin melakukan uji klinis tahapan pertama dan kedua dalam waktu yang bersamaan.

Percepatan uji coba vaksin Covid-19 ini dilakukan supaya dapat menyelesaikan pandemi Covid-19 yang sudah menginfeksi hampir di seluruh belahan dunia. Tetapi, apakah pembuatan vaksin yang tergesa – gesa ini bisa menghasilkan vaksin yang sangat ampuh? Lalu, bisakah vaksin dengan waktu cepat bisa menyelesaikan pandemi Covid-19?

Bio Farma Mengajukan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19 Sinovac Untuk Menyelesaikan Pandemi

Beberapa waktu lalu, Bio Farma tengah berusaha supaya vaksin Covid-19 Sinovac segera mendapatkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization di Indonesia.

‘’Kami tengah berdiskusi, seadainya Indonesia bisa memeroleh akses terlebih dahulu terhadap vaksin Sinovac,’’ jelas Honesti Basyir selaku Direktur Bio Farma, dalam rapat denagn DPR di Jakarta, pada hari Senin 5 Oktober 2020 lalu.

Pada saat itu, Bio Farma bersama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran tengah melakukan uji klinis tahapan ketiga untuk vaksin Covid-19 Sinovac produksi dari perusahaan bioteknologi asal China.

Uji klinis tahapan ketiga untuk vaksin Covid-19 Sinovac ini sudah berlangsung dengan melibatkan relawan sebanyak 1.620 orang. Para peneliti juga akan melakukan pemantauan kepada para pesertanya selama kurang lebih enam bulan dengan diberikan dua kali suntikan dosis vaksin.

Bio Farma juga akan mengajukan permohonan izin penggunaan vaksin Covid-19 supaya dapat langsung didistribusikan. Pengajuan izin tersebut dilakukan dengan modal laporan awal dari hasil pemantauan uji klinis tahapan ketiga yang sudah dilakukan di Indonesia selama satu bulan.

Penggunaan izin darurat vaksin Covid-19 Sinovac di Indonesia yang dimaksudkan tersebut untuk disuntikkan kepada para tenaga kesehatan dan juga kelompok berisiko tinggi terpapar Covid-19.

Sekilas Mengenai Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19

Uji klinis tahapan ketiga ini bertujuan untuk dapat memastikan apakah calon penerima vaksin bisa memberikan perlindungan terhadap infeksi virus corona. Uji klinis fase ketiga ini harus dilakukan dalam skala yang besar untuk bisa membuktikan bahwa tidak ada efek samping berbahaya bagi para penerima vaksin tersebut.

Yang dimaksud dengan izin penggunaan darurat ini berarti mengizinkan penaggunaan vaksin Covid-19 yang masih belum terbukti dan belum lolos dalam uji klinis tahapan ketiga. Artinya adalah keamanan dari vaksin tersebut masih belum benar – benar teruji.

Sejak awal pembuatan vaksin Covid-19 pun Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih belum mengeluarkan satu pun untuk izin penggunaan calon vaksin virus corona secara global. Tetapi, sudah ada dua jenis vaksin Covid-19 yang sudah dipergunakan dengan izin penggunaan yang terbatas yaitu vaksin buatan Rusia, Gamaleya serta Sinovac yang sudah digunakan di China.

Keputusan pemerintah Rusia untuk menggunakan vaksin Covid-19 yang belum lolos tahapan uji klinis ini ternyata dianggap sebagai keputusan yang sangat berbahaya bagi para ahli. Bukannya seperti percobaan obat yang hanya diberikan kepada orang yang menderita penyakit tertentu saja, namun vaksin ini diberikan kepada orang yang sehat untuk skala besar.

Oleh karena itula, vaksin harus sudah melewati standard keamanan yang sangat tinggi, bagi vaksin yang masih belum lolos uji klinis, dikhawatirkan bukannya mengakhiri pandemic namun justru dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya lagi kepada banyak orang.

Meskipun sudah dinyatakan lolos uji klinis tahapan pertama dan kedua, vaksin pun masih belum bisa dipastikan lolos dalam uji tahapan klinis ketiga dengan lancar. Sebagai salah satu contoh terbaru, uji klinis tahapan ketiga dari vaksin Covid-19 AstraZeneca produksi Oxford University ini belakangan sudah menimbulkan efek samping yang tergolong langka pada para peserta uji klinis di Inggris.

Menteri Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah siap membayar uang muka untuk pengadaan dari vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca. Besaran biaya yang akan dikeluarkan ini sekitar 250 juta US dollars atau setara dengan 3,67 triliun rupiah.

‘’Kami akan segera mengadakan vaksin dari AstraZeneca dengan kontrak 100 juta vaksin dan pemerintah akan membayar down paymentnya 50 persen di akhir bulan ini dengan biaya yang dikeluarkan sekitar 250 juta US dollars,’’ ungkap Airlangga dalam webinar yang digelar oleh Keluarga Alumni UGM, pada bulan Oktober 2020 lalu.

Apakah Vaksin Ampuh Untuk Mengakhiri Pandemi?

Pada saat itu sikap pemerintah memang sangat fokus dalma hal pengadaan vaksin Covid-19 baik dari AstraZeneca maupun Sinovac menurai berbagai kritik. Dalam sebuah acara webinar, Pandu Riono seorang epidemolog menjelaskan bahwa, ‘’ Vaksin itu bukanlah solusi jangka pendek, bukan juga solusi magic yang dapat langsung menghentikan pandemi.’’

Selain itu juga, ia pun mempertanyakan vaksinasi yang sudah direncanakan oleh pemerintah. ‘’WHO belum menyatakan adanya kandidat avksin yang diakui aman dan efektif. Kolega dari lembaga Eijkman pun masih meragukan manfaat dari vaksin tersebut,’’ tulisan Pandu dalam ungguhannya.

Pandu juga mengkhawatirkan pemasaran vaksin yang belum teruji efektivitas dan juga keamanannya ini justru bisa membahayakan masyarkaat. Dikarenakan sampai sekarang ini masih belum ada vaksin yang dinyatakan lolos uji klinis fase ketiga dan diizinkan untuk dipergunakan secara massif oleh WHO.

Sekarang pemerintah Indonesia sudah mendatangkan lebih dulu sekitar 1,2 juta dosis vaksin Sinovac yang masih harus melalui uji klinis tahapan ketiga dan belum terbukti efektivitasnya. Di dalam cuitannya tersebut, Pandu Riono juga mengatakan bahwa vaksin ini bisa mempersulit masalah penanganan pandemi. ‘’Ilusi dari vaksin sebagai solusi jangka pendek pun menguat. Keseriusan untuk memperkuat Tes – Pelacakan – Isolasi dan juga 3M mash belum maksimal dan sering diabaikan. Pandemi pun belum bisa terabaikan.’’

Sumber : hellosehat.com