google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Mengenal Manfaat Maupun Risiko Dari Transfusi Darah

Transfusi darah dapat dilakukan pada saat tubuh mengalami kekurangan darah, misalnya akibat dari cedera maupun penyakit tertentu. Meskipun penting sekali dilakukan, ada beberapa risiko dari transfusi darah yang dapat terjadi. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk memahami apa saja risiko dan manfaat dari transfusi darah.

Pada saat tubuh manusia kehilangan banyak darah, fungsi dari berbagai macam jaringan dan juga organ penting dapat mengalami gangguan akibat dari asupan oksigen serta nutrisi yang dibawah oleh sel darah merah berkurang banyak. Oleh karena itulah, cara untuk mengatasi kondisi tersebut kerap kali dilakukan dengan melakukan transfusi darah.

Pada umumnya, transfusi darah ini bisa diperoleh dari darah yang telah didonorkan oleh seorang pendonor dengan kondisi sehat. Sebelum darah ini diambil, terlebih dahulu darah tersebut bakalan diperiksa untuk dapat memastikan terbebas dari berbagai penyakit berbahaya.

Setelah proses pemeriksaan selesai, darah yang sudah didonorkan ini akan segera dipisahkan dari komponennya menjadi sel darah putih, sel darah merah, keping darah atau trombosit, dan juga plasma darah. Meskipun demikian, terkadang ada pula darah yang bisa diberikan secara utuh.

Proses dari transfuse darah pada umumnya akan berlangsung selama 1 hingga 4 jam, tergantung dari komposisi darah yang telah diterima dan juga banyaknya darah yang diperlukan. Proses transfusi darah pun perlu menyesuaikan dengan golong darah serta status rhesus antara si pendonor darah maupun penerimanya.

Inilah Manfaat Dari Transfusi Darah

Transfusi darah ini kerap kali diperlukan agar bisa mengatasi berbagai macam atau pun kondisi medis tertentu, seperti halnya penyakit berikut :

1. Perdarahan

Seseorang yang sedang mengalami perdarahan hebat biasanya harus membutuhkan transfusi darah supaya bisa menggantikan darah yang sudah hilang dari dalam tubuh.

Jikalau tidak segera memeroleh tambahan cairan dan juga darah, orang yang tengah mengalami perdarahan hebat dapat mengalami komplikasi seperti syok atau bisa berujung pada kematian.

Ada banyak sekali kondisi yang dapat menyebabkan perdarahan hebat dan membutuhkan transfusi darah, di antaranya seperti perdarahan postpartum, perdarahan berat pasca operasi, luka berat atau pun cederam serta pecahnya varises esofagus.

2. Anemia

Umunya, transfusi darah merah diperlukan untuk menangani kondisi dari anemia berat, baik dikarenakan anemia defisiensi besi atau pun anemia aplastic. Anemia ini merupakan jenis penyakit kekurangan darah karena tubuh kekurangan haemoglobin, yakni protein yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke seluruh tubuh manusia.

Biasanya para penderita anemia ini akan membutuhkan transfusi darah saat jumlah haemoglobin sudah terlalu rendah atau pun kurang dari 8 g/dL.

3. Kelainan pada Darah

Bagi penderita kelainan darah, seperti hemofilia atau pun pasien yang sedang menjalani transplantasi sel induk biasanya akan lebih berisiko mengalami kekurangan darah. Maka dari itulah, transfusi darah ini kerap kali dilakukan agar bisa mengatasi kondisi tersebut.

4. Thalasemia

Thalasemia ini merupakan kelainan yang bisa membuat hemoglobin yang ada dalam sel darah merah tidak normal sehingga tidak bisa mengangkut oksigen dengan maksimal. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan genetik yang bisa saja terjadi dan membuat penderitanya mengalami anemia.

Cara agar menambah asupan darah yang begitu berkurang, para penderitanya biasanya akan membutuhkan transfusi darah secara rutin dan berkala.

5. Infeksi dan Luka Bakar

Transfusi dari plasma darah ini juga dibutuhkan sebagai penanganan pada seseorang yang sedang mengalami luka bakar yang cukup parah dan meluas. Pada beberapa kasus tertentu, transfusi darah pun dibutuhkan untuk para penderita infeksi berat atau sepsis.

6. Kanker

Beberapa dari jenis kanker, mulai dari kanker darah dan juga limfoma, dapat merusak dan juga mengurangi jumlah sel darah putih, sel darah merah, serta trombosit. Selain itu juga, efek samping dari pengobatan kanker, seperti halnya radioterapi dan kemoterapi pun bisa mengganggu produksi sel darah dalam tubuh.

Oleh karena itulah, transfusi darah pada umumnya bisa dilakukan untuk mencukupi semua kebutuhan darah bagi para penderita kanker.

7. Ginjal atau Gagal Hati          

Untuk penderita gangguan pada fungsi hati berat atau pun gagal hati sangat berisiko tinggi mengalami gangguan perdarahan dan juga anemia. Untuk bisa mengatasi kondisi demikian, dokter akan segera memberikan transfusi darah. Biasanya, kelainan darah bagipara penderita gagal hati dapat diatasi dengan transplantasi hati.

Transfusi darah pada umumnya diperlukan oleh para penderita gagal ginjal berat yang tubuh sudah tidak dapat lagi menghasilkan sel darah merah yang cukup. Kondisi inilah biasanya dikarenakan kondisi gagal ginjal yang telah menyebabkan tubuh karena kekurangan hormon penghasil darah yang biasanya disebut dengan eritropoietin.

8. Covid-19

Berbagai riset hingga saat ini pun menyebutkan bahwa pemberian plasma darah dari para penyintas Covid-18 dapat mengobati pasien yang tengah berjuang melawan infeksi virus corona, lebih khususnya bagi mereka yag mengalami gejala berat. Transfusi jenis satu ini dikenal dengan istilah terapi plasma konvalesen.

Mengenal Berbagai Macam Risiko Dari Transfusi Darah

Meskipun memiliki banyak manfaat dalam menangai berbagai kondisi maupun penyakit tertentu, transfusi darah pun kadang dapat menimbulkan risiko atau pun efek samping. Risiko ini dapat bersifat ringan, namun bisa pula berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa manusia.

Berikut ini adalah beberapa dari risiko transfusi darah yang memang wajib Anda ketahui :

1. Demam Tinggi

Reaksi demam mungkin bisa saja terjadi dalam beberapa jam ke depan setelah seseorang memeroleh transfusi darah. Hal tersebut sangat umum sekali terjadi dan tidak terlalu berbahaya.

Akan tetapi, reaksi demam setelah mendapatkan transfusi darah ini bisa berbahaya jikalau diserta dengan munculnya gejala yang lainnya, seperti pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau bahkan koma. Reaksi ini pun perlu mendapatkan penanganan medis secepat mungkin oleh dokter atau tenaga medis.

2. Alergi

Orang yang sedang menerima transfusi darah dapat saja mengalami reaksi alergi pada protein atau pun zat tertentu yang terdapat di dalam darah si pendonor. Pada umumnya, gejala alergi yang muncul adalah kulit terlihat kemerah – merah, bengkak dan juga gatal – gatal.

3. Infeksi

Darah yang akan diberikan untuk transfusi ini idealnya harus dalam kualitas yang sangat baik dan terhindar dari virus, kuman, atau pun parasite tertentu, seperti HIV, hepatitis B dan malaria.

Untuk bisa memastikannya, darah dari pendonor akan segera diperiksa apakah ada kuman atau virus yang menyebabkan penyakit tertentu. Bila dinyatakan aman dan terbebas dari penyakit, darahnya dapat dipakai untuk transfusi.

Kendati pun demikian, terkadang pemeriksaan ini tidak mampu mendeteksi penyakit dengan begitu akurat, sehingga penerima darah bisa saja berisiko untuk tertular HIV atau pun hepatitis B. Namun, risiko ini masih tergolong sangat kecil.

4. Kelebihan Cairan

Transfusi darah ini dapat menyebabkan tubuh seseorang kelebihan cairan, sehingga bisa saja terjadi penumpukan cairan pada organ atau pun jaringan tubuh. Kondisi tersebut dapat membahayakan bila menyebabkan pembengkakan atau pun edema paru.

Seseorang yang sedang mengalami kondisi tersebut dapat mengalami gejala berupa kemas, nyeri dada, hingga sesak napas.

5. Kelebihan Zat Besi

Transfusi darah bisa menyebabkan tubuh manusia kelebihan zat besi di dalam darah, terutama bila darah yang diberikan jumlahnya sangat banyak. Hal tersebut bisa berdampak buruk pada bagian organ tertentu, seperti jantung dan juga hati.

6. Penyakit Graft-versus-host

Penyakit satu ini bisa terjadi diakibatkan oleh sel darah putih yang diterima dari darah si pendonor menyerang jaringan tubuh, seperti penerima darah dan juga sumsum tulang. Komplikasi tersebut bisa terjadi akibat dari penerima darah mempunyai sistem kekebalan tubuh yang begitu lemah.

Transfusi darah dapat bermanfaat sebagai suatu pengobatan pada penyakit tertentu, namun juga dapat menimbulkan berbagai macam risiko. Meskipun demikian, sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan ini, dokter akan mempertimbangkan perbandingan manfaat dan risiko dari transfusi darah.