google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Mengenal Survivorship Bias Selama Masa Pandemi Covid-19

survivorship

Selama masa pandemi Covid-19 sekarang ini menciptakan banyak tekanan dan kesulitan serta membuat pola pikir berjuang untuk mempertahankan hidup. Salah satu yang paling banyak terjadi sekarang ini adalah survivorship bias.

Dikarenakan semakin banyaknya orang – orang yang mengalami gejala ringan dan juga tanpa gejala yang berhasil dinyatakan negative dari infeksi virus corona, besar kemungkinan semakin banyak juga orang – orang yang menganggap remeh virus satu ini.

Mengenal Konsep dan Contoh Dari Survivorship Bias

Bias untuk bertahan hidup ini merupakan kecenderungan pola pikir yang hanya terfokus pada peningkatan keberhasilan semata.

Jika konteksnya adalah pandemi Covid-19, maka ada orang yang memiliki pola pikir tersebut dengan hanya memusatkan pikiran pada tingkat persentase kesembuhan, gejala yang ringan serta kondisi dari lingkungan yang tampak baik – baik saja.

Mereka akan lebih mengabaikan orang – orang yang tidak berhasil selamat dari virus corona. Bahkan, mereka cenderung tidak peduli dengan orang lainnya yang sedang berjuang selama masa pandemi virus corona seperti sekarang ini meskipun jumlah korban jiwa sudah menyentuh angka jutaan.

Adapun contoh – contoh dari survivorship bias ini yang sering kali dilontarkan, di antaranya adalah :

  1. ‘’Jumlah rakyat Indonesia itu sekitar 250 juta lebih. Orang yang sudah terinfeksi virus corona hanya 1,5 juta saja. Nah, jadinya lebih banyak orang yang sehat dan baik – baik saja.’’ Nyatanya jika tidak cepat dikendalikan, maka jumlah tersebut akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
  2. ‘’Sebenarnya virus corona itu tidak terlalu berbahaya. Saya juga eks pasien dan hanya merasakan gejala yang ringan – ringan saja kok.’’
  3. ‘’Saya dan keluarga di rumah lancar – lancar saja menghadapi pandemic ini dirumah, kalian kok pada ribet banget sih, kayak sulit banget gitu hidup ditengah pandemi.’’ Kenyataannya tidak semua orang di dalam anggota keluarga tersebut dalam kondisi yang sehat, kesempatan untuk bekerja di rumah, serta memiliki penghasilan dan tabungan yang cukup.
  4. ‘’Sekolah anak kan bisa melakika tes swab antigen setiap hari masuk dan juga ada air purifier, kok orang tua lainnya pada takut sekali anak – anaknya sekolah tatap muka?’’ Faktanya adalah kondisi ini hanya berlaku bagi mereka yang bersekolah di sekolah swasta saja dengan bayaran sangat tinggi dan wajar.
  5. ‘’Sekarang ini ngapain sih pada takut keluar rumah? Saya juga dulu selalu di rumah terus sejak awal pandemic muncul tapi ujung –ujungnya tetap aja tertular. Berartikan resikonya sama saja toh.’’
  6. ‘’Jumlah dari orang – orang yang ada di sekeliling saya yang terinfeksi virus corona semakin sedikit saja, jadinya keadaan sudah aman dan membaik.’’ Nyatanya, hal tersebut bisa disebabkan karena jumlah dari testing dan tracing yang mengalami penurunan.

Di balik dari ini semua, masih ada jumlah kematian yang terus mengalami peningkatan. Kelompok lansia paling banyak meninggal secara mendadak dikarenakan tertular orang tanpa gejala. Para pasien dengan gejala yang sedang, berat bahkan yang kritis pun bukan hanya mitos belaka.

Para tenaga medis yang telah berguguran diakibatkan oleh infeksi virus corona juga semakin banyak. Hampir semua fasilitas kesehatan yang ada semuanya penuh. Semua hal ini akan berdampak cukup parah bagi perekomonian. Banyak orang – orang yang mulai kehilangan pekerjaannya akibat dari pandemi virus corona.

Tidak sedikit orang yang masih berduka karena ditinggalkan oleh anggota keluarga dan kerabat lainnya akibat terinfeksi virus corona. Pasien dengan gejala yang sedang sampai berat biasanya juga masih menderita long Covid meskipun mudah dinyatakan sembuh dan negative dari virus corona.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog, pemikiran survivorship bias ini akan muncul dikarenakan banyak orang yang lebih percaya penuh pada pengalaman serta intuisi dibandingkan dengan sains atau fakta yanga ada.

Mereka juga terbiasa dengan hanya mengandalkan pengetahuan yang sudah ada serta menolak ilmu yang telah berkembang. Lalu mereka juga belum terbiasa melihat permasalahan sosial secara menyeluruh. Hasilnya adalah konsep tersebut cepat menyebar dan terbentuk di tengah masyarakat.

Apakah Survivorship Bias Memberikan Dampak Negatif?

Psikolog Ikhsan juga ikut menambahkan, ‘’Sebenarnya wajar saja bila hal tersebut sampai terjadi. Ada kalanya untuk berpikir positif bisa membuat kita semua bertahan di masa pandemi. Jika terlalu fokus pada sudut pandang diri kita sendiri dan juga mengabaikan kondisi orang lain, pada akhirnya itu semua tidak baik juga.’’

Sementara itu, dokter Arina Heidyana juga ikut menyampaikan pandangannya, ‘’Pemikiran seperti itu memang sangat berbahaya. Dikarenakan kita cenderung akan menganggap remeh suatu masalah.’’

‘’Kalau pun pemikiran tersebut semakin menyebar dan banyak orang yang terpengaruh maka semakin banyak juga orang – orang yang menganggap remeh pandemic ini. hasilnya adalah semakin lama pula wabah ini berakhir,’’ jelas dokter Arina.

Rasa empati juga semakin ikut menipis dengan adanya bias bertahap hidup ini. dokter Arina juga menambahkan, ‘’Kenyataannya juga banyak yang harus berjuang mati – matian untuk melawan virus ini.’ banyak juga orang yang kehilangan anggota keluarganya secara mendadak. Tidak semua orang memiliki kondisi hidup yang sama. Ini yang perlu diingat,’’ tambah pesannya.

Mulai secara cobalah untuk melihat suatu permasalahan yang ada ini secara menyeluruh dan utuh, bukan hanya melihat dari diri sendiri. Memahami kondisi semua orang ini tidak sedang baik – baik saja.

Jika kita terbiasa untuk berpikir objektif dan meningkatkan rasa empati, maka secara cepat konsep pemikiran survivorship bias juga akan segera hilang dan pandemi akan berakhir.