google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Ivermectin Mendapatkan Izin Uji Klinis Dari BPOM RI

Obat cacing bernama Ivermectin akan segera melalui uji klinis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) sebagai obat bagi para pasien Covid-19. Sebelumnya ada hasil dari uji klini Ivermectin sebagai obat pasien Covid-19, BPOM mengimbau kepada seluruh masyarakat supaya tidak membeli dan konsumsi tanpa resep dari dokter.

Hal tersebut mengingatkan Ivermectin ini merupakan jenis obat keras yang penggunaan dan juga pembeliannya pun harus berdasarkan resep dokter. Ivermectin ini sudah diberikan izin edarm yakni obat Ivermectin kaplet 12 mg untuk indikasi infeksi kecacingan.

Hasil dari penelurusan Kompas.com, obat ini dijual pada sejumlah platform jual beli online dengan beragam merk lengkap beserta harganya.

Mengutip dari Badan Kesehatan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), obat ini dipergunakan untuk hewan dan berbeda dengan obat Ivermectin yang untuk manusia. Dosis yang digunakan kepada hewan cenderung lebih tinggi dan dapat beracun bila dikonsumsi manusia.

Pada awal bulan Juni 2021 lalu, muncul informasi simpang siur mengenai penggunaan dari obat Ivermectin. BPOM pun segera memberitahu kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat ini sembarangan dikarenakan dapat menimbulkan efek samping.

Imbauan dari BPOM untuk obat Ivermectin ini termasuk dalam obat keras yang penggunaan serta pembeliannya harus dari resep dokter. Maka dari itulah, BPOM pun mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak membeli obat sembarangan.

‘’Termasuk juga tidak bisa dibeli melalui platform illegal. Untuk kehati – hatiannya pun dalam hal ini kami mengimbau kepada masyarakat, dengan adanya pelaksanaan uji klinik ini, maka masyarakat pun tidak bisa membeli obat Ivermectin secara bebas,’’ Jelas Kepala BPOM RI Penny K Lukito, ketika siaran pers yang ditayangkan melalui Youtube BPOM, hari Senin 28 Juni 2021 lalu.

Sementara itu juga, bagi layanan di luar rumah sakit yang ditunjuk, dapat mengajukan penggunaan obat tersebut dengan protokol uji klinik yang sudah disetujui.

Penjelasan Dari BPOM RI Mengenai Uji Klinis Ivermectin

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah menyetujui pelaksanaan uji klinis obat cacing Invermectin sebagai obat Covid-19. Kepala BPOM mengatakan, persetujuan uji klinis obat Ivermectin ini sudah ditetapkan berdasarkan rekomendasi dari WHO.

“Ada juga guideline-nya dari WHO terkait dengan Covid-19 treatment yang sudah merekomendasikan Ivermectin ini bisa digunakan dalam kerangka uji klinik,’’ jelas Penny.

Ia pun menjelaskan, data – data epidemiologi dan publikasi global sudah menunjukkan bahwa obat Ivermectin ini berpotensi digunakan sebagai penanggulangan Covid-19.

‘’Untuk itulah BPOM sejalan dengan rekomendasi dari WHO, memberikan fasilitas untuk segera melaksanakan uji klinik yang diinisiasi oleh penelitian dan juga pengembangan kesehatan Kementerian Kesehatan,’’ tambahnya.

Penggunan di berbagai Negara lainnya untuk melakukan uji klinis seperti Amerika Serikat dan juga Eropa segera menerapkan pengujian bagi pengobatan pasien Covid-19.

‘’Pendapat yang sama pun juga sudah disampaikan oleh beberapa otoritas obat dalam kategori sistem regulasi yang baik, seperti EMA dari Eropa dan juga US FDA,’’ jelasnya lagi. Meskipun demikian, dari semua hasil uji klinik ini, masih belum dapat disimpulkan penggunaan Ivermectin untuk mengobati Covid-19.

Sampai lebih banyak lagi data yang tersedia, WHO pun merekomendasikan bahwa obat ini hanya dipergunakan dalam uji klinis saja. ‘’Data uji klinik masih terus kami kumpulkan. Di mana pada sekarang ini masih belum konklusif untuk bisa menunjung penggunaannya bagi Covid-19,’’ jelas Penny.

Sebagai catatan, rekomendasi dari WHO terkait dengan Ivermectin ini, hanya diberlakukan bagi pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan penyakitnya.

Untuk rumah sakit yang menjadi tempat uji klinis di Indonesia akan dilakukan di 8 rumah sakit, di antaranya adalah RSPAD Gatot Soebroto, RSD Wisma Atlet, RS Suyoto, RSAU Esnawan Antariksa, RS Soedarso Pontianak, RS Adam Malik Medan, RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan.

Mengenai proses uji klinis dikutip dari Kompas.com Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan juga Zat Adiktif (ONPPZA) BPOM RI Rita Endang menjelaskan, proses uji klinis ini biasanya akan memakan waktu hingga 3 bulan.

Pada tahapan awal akan membutuhkan waktu kurang dari satu bulan. Ia juga menjelaskan, hal ini bertujuan untuk dapat melihat bagaimana keamanand an khasiat yang ditimbulkan oleh Ivermectin pada pasien.

‘’Setelah 28 hari pemberian lima hari obat ini, pengamatannya setelah 28 hari bagaimana khasiat serta keamanannya. Uji klinik akan berlangsung selama 3 bulan, namun pengamatannya 1 hingga 2 bulan,’’ ungkap Rita.

Mengenal Obat Ivermectin Sebagai Obat Untuk Penanganan Covid

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa obat ini sudah mendapatkan izin edar dari BPOM RI sebagai obat Covid-19, serta masih dalam tahapan produksi dengan kapasitasnya mencapai 4 juta tiap bulan.

Erick mengklaim jika Ivermectin ini merupakan obat terapi Covid-19 yang dapat menurunkan dan mengantisipasi penularan virus corona. Khasiat dari obat tersebut sudah diulas dalam sejumlah jurnal kesehatan tambahnya.

‘’Kami sedang melakukan uji stabilitas, karena itu obat ini kita sudah mulai produksi,’’ jelasnya. Sampai dengan berita ini diturunkan, BPOM RI belum memberikan respon CNNIndonesia.com mengenai izin edar dari Ivermectin. Lantas, apa itu obat Ivermectin?

Menurut laporan dari Studi Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH), Ivermectin ini merupakan obat anti parasite yang sudah disetujui oleh FDA yang digunakan untuk mengobat beberapa penyakit tropis, termasuk pula di dalamnya adalah scabies, helminthiase, dan juga onchocerciasis.

Menulik dari laman Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA), Ivermectin ini termasuk obat yang digunakan untuk mengobati infeksi cacing pita. Penggunaan dari obat ini pun sangatlah spesifik untuk beberapa jenis cacing parasit tertentu saja lengkap dengan dosis dari dokter.

Obat Ivermectin ini masih belum mendapatkan persetujuan sebagai obat untuk mengobati dan mencegah Covid-19. Invermectin pun, tegas FDA, tidak bersifat seperti anti virus atau melawan virus yang sudah masuk ke dalam tubuh.

‘’Tablet Ivermectin ini disetujui pada dosis yang lebih spesifik untuk beberapa jenis cacing pita, dan ada pula dalam bentuk topical sebagai pengobatan kutu dan kondisi kulit tertentu saja,’’ tulis FDA.

Sekarang ini, Ivermectin sudah terdaftar di Indonesia sebagai obat untuk yang terindikasi infeksi cacingan. Obat ini pun akan diberikan dalam dosis tunggal dengan pemakaiannya selama satu tahun sekali.

Ivermectin sendiri termasuk dalam jenis obat keras yang biasanya dipergunakan sebagai penanganan penyakit yang disebabkan oleh parasit. Obat ini pun dapat menimbulkan efek samping yang beragam, dan masyarakat diminta untuk selalu berhati – hati.

‘’Ivermectin itu sebenarnya obat cacing. Penggunannya pun harus sesuai anjuran dari dokter dikarenakan efek sampingnya mual, muntah, alergi, diare, kejang, koma bahkan kematian,’’ ungkap dokter spesialis paru, Erlang Samoedro ketika dihubungi oleh CNNIndonesia.com.

Bukan hanya itu saja, Erlang pun sempat menjelaskan bahwa studi pada hewan percobaan pun memperlihatkan adanya efek samping pada janin. Sementara untuk interaski obatnya, seperti dengan obat TBC rifampisin, sudah ditemukan bisa menurunkan kadar dari keampuhan ivermectin.

Erlang juga mengatakan bahwa obat ini masih belum terbukti efektif untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Ia menjelaskan memang ada beberapa kalangan yang mengklaim jika obat ivermectin ini dapat mencegah infeksi virus corona, namun masih belum ada bukti secara ilmiah mengenai efektivitas obat tersebut.

‘’Masih belum terbukti efektif. Memang ada beberapa literature yang menjelaskan bisa untuk mencegah dan kasus ringan saja. tapi buktinya masih belum kuat dan harus memerlukan penelitian lebih lanjut lagi,’’ ungkap Erlang.

Ia juga menegaskan, penggunaan dari Ivermectin bagi pasien Covid-19 ini baik sebagai pengobatan atau pun pencegahan masih belum direkomendasikan oleh FDA dan juga CDC.

Sejauh ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya merekomendasikan penggunaan dari Ivermectin ini untuk uji klinis saja, bukan untuk pasien Covid-19, baik dalam tingkatan keparaharan apapun. WHO juga sekarang ini masih belum merekomendasikan jenis obat apapun yang terbukti ampuh mengobati Covid-19.

Untuk itulah, Erlang pun mengimbau kepada masyarakat dan juga pasien Covid-19 yang sudha menrima pengobatan Ivermectin ini agar berhati – hati dan memastikan penggunaannya pun sesuai dengan rekomendasi dokter. Penggunaannya pun harus dilakukan atas pengawasan dari dokter.

Sementara iu juga, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga menegaskan untuk penggunaan Ivermectin sebagai obat bagi pasien Covid-19 di Indonesia harus dengan pengawasan dari dokter. Hal tersebut dikarenakan obat ini tergolong dalam obat keras yang pembeliannya pun harus disertai dengan resep dokter.

Ivermectin ini disebut memiliki pontesi anti viral pada uji secara in vitro di dalam lab. Namun, masih diperlukan lagi bukti ilmiah yang lebih meyakinkan mengenai keamanan, khasiat obat, serta efektivtasnnya sebagai obat Covid-19 dari hasil uji klinik lebih lanjut lagi.

‘’Obat Ivermectin ini ketika digunakan harus dalam pengawasan dokter secara penuh,’’ jelas Direktur Pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung (P2PMl) Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi melalui pesan singkat kepada pihak CNNIndonesia.com, hari Selasa 22 Juni 2021.

Nadia pun ikut menjelaskan mengenai penggunan obat ini sebagai pengobatan Covid-19 di Indonesia sekarang masih akan memasuki tahapan uji klinik oleh pihak Balitbangkes Kemenkes dan sejumlah Rumah sakit.

Kemenkes pun, jelasnya, juga masih belum bisa memastikan penggunaan dari Ivermectin ini nantinya bakalan bisa diproyeksikan sebagai obat covid secara resmi dan juga kemudian didistribusikan secara massal di berbagai wilayah di Indonesia.

‘’Uji klinik baru saja akan dimulai. Kita semua masih menunggu perkembangan selanjutnaya, karena izin edarnya pun bukan kewenagan dari kementerian kesehatan.’’ Jelasnya.

Sumber : CNNIndonesia dan Kompas