google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Penderita Autoimun Belum Boleh Disuntik Vaksin Covid-19

Vaksin Covid-19 Sinovac secara resmi digunakan di Indonesia sejak Rabu, 13 Januari 2021. Namun sayangnya, vaksin Covid-19 ini masih belum bisa dibagikan secara menyeluruh kepada masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan karena prioritas vaksin ini masih diberikan kepada para tenaga medis serta kelompok masyarakat lainnya yang lebih membutuhkan. Namun, perlu Anda ketahui tidak semua orang ini bisa divaksinasi. Salah satunya yang tidak boleh menerima vaksin virus corona adalah mereka yang sedang menderita penyakit autoimun.

Mengapa Para Penderita Autoimun Tidak Boleh Menerima Vaksin Covid-19?

Pada dasarnya, vaksin ini akan bekerja dengan cara mendorong respons kekebalan tubuh manusia. Saat divaksin, zat yang ada di dalam virus akan langsung membuat sistem kekebalan tubuh merespons, membangun perlawan dan menandai penyakit tersebut.

Jika di masa depan virus atau bakteri ini mencoba menginfeksi, sel kekebalan tubuh sudah memiliki alarm atau pengingat untuk bisa melawan dan juga membunuh penyakit tersebut. Risiko untuk mengalami gejala yng parah atau bahkan kematian pun bisa dihindari.

Secara umumnya, pasien autoimun ini tidak boleh sembarangan dalam menerima vaksin. Hal ini disebabkan kondisi kekebalan tubuh pasien bukan melindungi tubuh penderita dari serangan penyakit, melainkan bisa menyerang tubuh penderita itu sendiri.

Apabila pengidap autoimun ini menerima vaksin, dikhawatirkan kekebalan tubuh penderita justru akan melemah dan juga bisa menyebabkan pasien autoimun ini rentan sekali terinfeksi penyakit yang akan dicegah, termasuk di dalamnya adalah Covid-19.

Dikutip dari Creaky Joints, ada beberapa kondisi yang memang harus diperhatikan lebih lanjut bila pasien autoimun ini ingin divaksinasi.

Di antaranya, kondisi para pasien autoimun peradangan, seperti halnya rematik atau rheumatoid arthritis, axial spondyloarthritis dan juga lupus. Lalu, orang dengan penyakit Crohn, kolitus ulseratif, psoriasis, multiple sclerosis, juga tidak bisa sembarangan untuk menerima vaksinasi.

Ada dua kekhawatiran yang mungkin saja bisa terjadi bila pasien divaksinasi :

  • Pertama adalah vaksin ini mungkin akan segera mengaktifkan sistem kekebalan tubuh para penderitanya secara tidak aman atau tidak tepat.
  • Kedua adalah obat imunosupresan yang dikonsumsi oleh para penderitanya bisa saja mengganggu keefektifan vaksin tersebut.

Seorang ahli reumatologi di Florida, Amerika Serikat, Vinicius Domingues, MD, mengatakan, bila orang dengan kondisi autoimun diberikan vaksin, tingkat kemanjurannya pun bisa lebih rendah dibandingkan dengan orang yang sehat. Hal ini dikarenakan respons kekebalan tubuh para penderitanya ini yang lemah.

Kedua kekhawatiran di atas ini tidak hanya terjadi sewaktu pandemi Covid-19 saja, melainkan dengan semua vaksin untuk penyakit yang lainnya.

Pada saat uji coba vaksin, para peneliti tidak langsung mengikutsertakan orang yang memiliki penyakit autoimun. Umumnya, uji coba vaksin ini dimulai dan diberikan kepada kelompok yang tidak memiliki gejala penyakit tertentu. Jika vaksin untuk orang sehat sudah memiliki bukti efektif dan manjur, barulah para peneliti akan mengembangkan kondisi lainnya, termasuk bagi para pasien autoimun.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, sebenarnya sudah mengatakan vaksin mRNA Covid-19 ini bisa diberikan kepada pasien autoimun. Akan tetapi, perlu dipastikan terlebih dahulu untuk penerima vaksin tidak sedang memiliki alergi parah terhadap salah satu bahan yang ada di dalam vaksin tersebut.

Pasien autoimun harus menyadari belum ada penelitian yang menyatakan keamanan vaksin Covid-19 ini bagi para penderita autoimun. Jadi untuk sekarang ini, orang dengan autoimun tidak disarankan untuk divaksin dulu.

Mengenai masalah ini, dokter Alvin Nursalim, Sp. PD, sepakat bahwa pemberian vaksin virus corona kepada para penderita autoimun ini memang masih belum disarankan.

‘’Alasannya karena masih belum ada bukti cukup efektivitas serta keamanan vaksin untuk penderita autoimun. Penelitian vaksin Covid-19 ini baru dilakukan dalam waktu yang singkat. Jadi memang hanya akan diberikan kepada mereka yang umumnya orang sehat terwakili dalam penelitian tersebut,’’ ungkap dokter Alvin.

Apakah Ada Kemungkinan Vaksin Covid-19 Untuk Autoimun?

Dilansir dari Creaky Joints, menurut peneliti, vaksin Covid-19 kemungkinan dianggap aman untuk para pengidap autoimun apabila terbuat dari virus yang tidak hidup. Dokter Domingues menjelaskan, ‘’Semisalnya, Anda menggunakan obat imonosupresan biologi untuk arthritis, menerima vaksin virus yang dilemahkan tidak dianjurkan.’’

Menuruntya, vaksin yang berisikan virus hidup yang dilemahkan tidak akan memicu penyakit jika diberikan kepada orang sehat. Akan tetapi, vaksin tersebut dapat memicu penyakit bagi orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh.

‘’Tetapi, vaksin Covid-19 yang ada sekarang ini tidak mengandung virus hidup. Mereka tidak bisa memicu penyakit, yang mana bagus untuk populasi pasien penyakit autoimun ini,’’ lanjut dokter Domingues.

Kendati pun demikian, dokter Nilanjana Bose, seorang ahli reumatologi dari Amerika Serikat mengingkatkan kepada pasien ini untuk bersiap menghadapi efek samping dari vaksin Covid-19. Adapun efek samping seperti halnya demam dan juga nyeri tubuh yang lebih parah dibandingkan dengan jenis vaksin lainnya.

Bilamana ada pasien autoimun yang nantinya ingin memeroleh vaksin, ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter untuk bisa menghindari efek samping akibat dari suntikan vaksin. Dokter pun akan segera mengatur pengobatan imunosupresan yang mungkin saja akan bereaksi bila pasien divaksin.

Sejauh ini pun, para peneliti, termasuk halnya CDC, optimis bisa memberikan vaksin virus corona kepada para pasien autoimun. Pasien hanya perlu sabar menunggu data penelitian dan tetap harus menerapkan protokol kesehatan untuk bisa mencegah penularan penyakit.