google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Peresmian Patung Bung Karno Oleh Megawati-Prabowo, Ungkap Seribu Makna Politis

Prabowo dan Megawati Resmikan Patung Bung Karno di Kemenhan

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan juga Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri menghadiri acara peresmian patung Bung Karno yang didirikan di depan gedung utama Kementerian Pertahanan pada hari Minggu 6 Juni 2021 kemarin. Adapun peresmian patung tersebut dilakukan bertepatan dengan hari ulang tahun presiden pertama RI itu yang ke-120. 

“Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan terima kasih dan penghormatan secara khusus kepada Menteri Pertahanan RI Bapak Prabowo yang juga sahabat saya, atas diresmikannya patung Bung Karno ini,” kata Megawati dalam sambutannya.

Megawati menjelaskan bahwa patung Bung Karno itu tidak hanya sebagai pengingat atas segala perjuangan yang telah diberikan Soekarno terhadap bangsa dan Tanah Air, dengan sejumlah peran penting seperti dalam Konferensi Asia-Afrika, dan bisa diterima oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO sebagai sebuah warisan dunia. Sebab, menurutnya konferensi seperti itu tidak akan ada lagi mengenai Asia-Afrika menjadi milik dunia. 

Tak hanya itu, langkah Soekarno untuk membentuk gerakan non-blok Conference of the New Emerging Forces dan kemudian kebijakan anti pangkalan militer asing telah mampu memberikan warna tersendiri dalam sejarah peradaban dunia. 

Oleh karena itu, peresmian patung Bung Karno tersebut bisa dijadikan sebuah tonggak sejarah perjuangan bangsa untuk membawa nama Indonesia semakin berdaulat dan menjadikan budaya bangsa semakin kokoh. Dan adanya patung Bung Karno itu bisa menjadi pengingat bagaimana Sang Proklamator membangun kekuatan militer yang bisa disegani karena kesatupaduan yang kuat dengan rakyat. 

Pembuktian Janji Prabowo ke Megawati

Prabowo Subianto menjelaskan bahwa sebenarnya pembangunan patung Bung Karno itu adalah sebagai bentuk pemenuhan janji yang sebelumnya dia lontarkan kepada Megawati, ketika keduanya juga meresmikan patung Bung Karno di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah pada awal Februari lalu. 

“Saya juga sampaikan bahwa Kemenhan juga punya rencana untuk membuat patung Bung Karno, tapi ketika beliau sedang menunggang kuda,” kata Prabowo. 

Rencana itu dijelaskan oleh Prabowo adalah sebuah rencana yang sangat serius, karena Bung Karno merupakan sosok Panglima Tertinggi pada angkatan perang pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. 

Lebih lanjut patung Bung Karno ini secara khusus dibuat berdasarkan momen ketika Soekarno melakukan inspeksi pasukan, menjadi inspektur upacara dengan menunggangi seekor kuda. Menurut Prabowo, ini juga menjadi bentuk pengabadian fakta sejarah bagi generasi penerus. 

Ketika mengutarakan janjinya tersebut Prabowo secara khusus langsung meminta restu kepada Megawati, yang juga merupakan putri dari Soekarno.

“Ya nanti Kementerian Pertahanan akan punya patung Bung Karno di atas kuda. Izin Bu, itu ada sejarah Bu,” kata Prabowo kepada Megawati. 

Permintaan restu itu pun dibalas senyuman oleh Megawati, dan kemudian mengamini bahwa memang ada sejarah ketika Bung Karno dengan seekor kuda yang ditungganginya itu. 

Presiden Soekarno Saat Melakukan Inspeksi Pasukan di Ultah TNI Pertama

Cerita di Balik Soekarno Menunggangi Kuda dan Dijadikan Patung

Lebih lanjut, Prabowo menceritakan bahwa Soekarno saat itu diminta untuk menjadi inspektur upacara pada hari angkatan perang pertama, tanggal 5 Oktober 1946, namun dengan menunggangi seekor kuda. Menariknya, orang-orang meminta hal tersebut tidak mengetahui bahwa sebenarnya Soekarno tidak bisa menunggangi kuda. Soekarno pun lantas berlatih keras menunggangi kuda selama tiga hari jelang upacara tersebut.

“Kita tahu sejarah, bahwa waktu itu Bung Karno jarang naik kuda. Tetapi karena beliau sadar perannya sebagai Panglima Tertinggi, dan akhirnya beliau latihan hanya tiga hari dan kemudian menyatakan kesediaannya untuk menjadi inspektur upacara sambil menunggangi kuda,” cerita Prabowo.

Megawati kemudian menambahkan bahwa sebenarnya Soekarno begitu panik saat itu, karena memang benar-benar tidak bisa menunggangi kuda. Saat hendak berlatih itu, diceritakannya bahwa Soekarno meminta kuda yang jinak. 

“Saya tidak bisa membayangkan mendengar cerita ibu saya itu, bagaimana seorang panglima tertinggi kudanya itu jikan. Padahal seharusnya kuda yang garang gitu ya,” tutur Megawati sambil tertawa mengingat cerita tersebut. 

Megawati kembali melanjutkan ceritanya dengan mengatakan bahwa begitu sang ayah bisa menunggang kuda, dia akhirnya melakukan pemeriksaan kesiapan prajurit TNI yang dulu masih disebut dengan Angkatan Perang waktu itu. 

Secara filosofi ada makna yang tersembunyi dari patung Bung Karno tersebut. Patung itu rupanya dibuat berdasarkan lukisan Bung Karno saat melakukan inspeksi pasukan di hari ulang tahun TNI yang pertama, dan menggambarkan suasana saat peristiwa itu terjadi. 

Ada hal yang sangat menarik dari patung tersebut, bahwasanya kaki kuda di patung tersebut, terlihat hendak mengangkat satu kakinya namun terlihat masih menyentuh tanah. 

Berdasarkan catatan yang dimiliki Snopes, setiap patung seorang tokoh dengan menunggangi kuda, sikap kaki kuda itu memiliki makna tersendiri. Pertama adalah, apabila kaki depan terangkat satu, itu memberikan tanda bahwa sang tokoh mengalami luka ketika perang, namun tidak sampai meninggal dunia, dan baru meninggal setelah perang.

Kemudian jika kaki depan keduanya terangkat, maka itu menandakan bahwa sang tokoh meninggal dunia saat berperang. Apabila keempat kaki menjejak tanah, maka menandakan sang tokoh meninggal dunia karena sakit atau hal lainnya, yang tidak diakibatkan oleh peperangan. 

Jika menurut filosofi yang disampaikan Snopes itu, maka patung Bung Karno tersebut sesuai dengan pemaknaan. Meski terlihat seperti hendak mengangkat kaki, kuda yang ditunggangi Soekarno di patung itu masih menjejak ke tanah. Itu memberi makna bahwa memang Soekarno meninggal dunia karena sakit. 

Siapa Pembuat Patung Tersebut?

Diketahui, sosok yang berada di balik pembuatan patung Bung Karno sedang menunggang kuda itu adalah seorang seniman asal Yogyakarta, yakni Dunadi. Rupanya, nama Dunadi sendiri sudah sangat terkenal dalam dunia seni patung Tanah Air, di mana sudah banyak karya yang telah dia lahirkan. 

Dunadi, Seniman Pembuat Patung Bung Karno

Sebelumnya, Dunadi juga pernah membuat patung yang hampir mirip dengan yang baru saja diresmikan di Kemenhan itu, yakni yang sekarang juga sudah berdiri gagah di Jalan Ir. Sutami di kota Surakarta. Dunadi adalah seorang lulusan Seni Rupa, Program Studi Seni Patung, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta pada tahun 1988. Dia yang juga menjadi pemilik Studio Satiaji Sculpture & Artwork Yogyakarta itu mengaku telah membuat patung bertema Bung Karno sebanyak 15 kali.

Jadi Momen Kedekatan Prabowo – Megawati

Acara peresmian patung Bung Karno di halaman Kementerian Pertahanan itu juga menjadi momen bagaimana dekatnya hubungan Prabowo dengan Megawati dalam dunia perpolitikan Tanah Air. Meskipun keduanya sempat berselisih pada Pilpres 2014. 

Beberapa momen kedekatan itu tertangkap dengan apik, yakni ketika Prabowo terlebih dahulu memberikan sambutan dan menceritakan tentang sosok sang ayah dari Megawati, dan memberikan apresiasi atas kedatangan Ketua Umum PDIP itu. Usai memberikan sambutan, Prabowo duduk kembali di kursinya, yang berada di sebelah kiri Megawati. 

Saat Megawati menuju podium untuk menyampaikan sambutan, Prabowo memilih untuk beranjak dari kursi dan kemudian menemani Megawati dengan berdiri di belakangnya. Dalam sambutan itu, Megawati mengungkapkan rasa terima kasih secara khusus ditujukan kepada Prabowo dan menyebutnya sebagai sahabat. 

Setelah penyampaian sambutan usai, keduanya berjalan beriringan untuk melakukan penandatanganan bersama yang dilanjutkan dengan prosesi memencet bel sebagai simbol bahwa patung Bung Karno itu telah secara resmi didirikan. 

Prabowo Berdiri Di Belakang Megawati Yang Pidato

Saat Prabowo Berdiri di Belakang Megawati

Hendri Satrio, yang merupakan pendiri dari lembaga survei KedaiKOPI menilai ada sejumlah hal menarik yang bisa disimpulkan dari posisi Prabowo yang menemani Megawati menyampaikan sambutannya dengan berdiri di belakang. 

Tentu saja menurut Hendri yang pertama itu adalah sebagai bentuk penghormatan Prabowo terhadap Bung Karno, dan juga penghormatan khusus kepada Megawati. Posisi itu juga seakan memberikan panggung kepada Megawati. 

Sudut pandang lain yang ditangkap Hendri adalah posisi tersebut juga seraya memberikan kesan bahwa Prabowo siap untuk menjalin koalisi dengan Megawati. Tepatnya, langkah politik yang akan diambil Prabowo dalam Pilpres 2024 nanti, yang akan menyerahkan semua strategi politik kepada Megawati, seandainya keduanya memang jadi untuk membentuk koalisi. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh pakar politik Adi Prayitno. Namun dia menambahkan bahwa posisi Prabowo itu juga menunjukkan bahwa Ketua Umum Gerindra itu siap untuk melakukan pasang badan atas segala keputusan politik yang akan diambil oleh Megawati. Selain itu juga sebagai bentuk terima kasih karena diangkatnya Prabowo sebagai menteri di pemerintahan Jokowi, tidak lepas dari sikap terbuka Megawati.

Diyakini, sampai Pilpres nanti, hubungan antara Gerindra dengan PDIP akan semakin lengket. 

Sementara itu, pakar politik dan hukum dari Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam membaca posisi Prabowo itu sebagai strategi dalam ‘menjinakkan’ Megawati, agar dirinya bisa mendapatkan tiket ke Pilpres, yang kemungkinan akan diduetkan dengan calon dari PDIP. 

Dirinya juga memperkirakan setelah peresmian itu, akan dilanjutkan dengan sebuah pengikatan perjanjian untuk mengusung Prabowo dengan calon dari PDIP pada Pilpres 2024 nanti, yang kemungkinan besar adalah Puan Maharani.

Prananda Prabowo Saat Hadiri Peresmian Patung Bung Karno

Mereka Yang Hadir Juga Jadi Sorotan

Tokoh-tokoh yang menghadiri acara peresmian patung Bung Karno di Kemenhan itu juga tidak lepas dari pembicaraan sejumlah pihak, karena mengisyaratkan strategi politik tertentu yang sedang dijalankan tidak hanya Gerindra dan PDIP tetapi juga tokoh lainnya. 

Beberapa tokoh itu adalah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Trenggono, Kepala BIN Budi Gunawan, KSAD Jenderal Andika Perkasa dan juga Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. 

Sosok Andika Perkasa menjadi salah satu yang banyak dibicarakan karena hadir dalam acara peresmian tersebut, bukan karena memang posisinya sebagai KSAD, tetapi dia juga merupakan sosok yang disebut-sebut layak untuk menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Hadi Tjahjanto. 

Namun yang paling disorot adalah kehadiran sosok putra kedua Megawati, yakni Prananda Prabowo. Padahal selama ini Prananda diketahui bukanlah sosok yang suka muncul di momen-momen politik tertentu, dan lebih sering terlihat di belakang layar. 

Rasa penasaran publik pun semakin menguat, karena justru Puan Maharani tidak terlihat hadir dalam acara tersebut, padahal selama ini Puan yang paling gencar diisukan maju di Pilpres 2024 oleh PDIP. 

Lalu apakah nantinya memang yang akan diusung oleh PDIP adalah Prananda Prabowo ataukah Puan Maharani? Menarik untuk mengikuti perkembangannya yang mungkin akan semakin terbuka dalam beberapa waktu ke depan.