google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Peternak Yang Diamankan Karena Bentangkan Poster, Diundang Jokowi ke Istana

Presiden Jokowi Undang Peternak Suroto ke Istana

Rabu kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang beberapa orang yang merupakan perwakilan dari asosiasi peternak telur dan unggas ke Istana Negara di Jakarta Pusat. Salah satu sosok tamu undangan yang disorot adalah Suroto, yang merupakan seorang peternak asal Blitar, Jawa Timur. 

Sosok Suroto tidak lain adalah seorang peternak yang beberapa waktu lalu diamankan aparat, karena membentangkan poster permintaan tolong saat Jokowi melakukan kunjungan ke Blitar. Spanduk yang dia bawa bertuliskan permintaan tolong agar Jokowi peduli dengan harga pakan ternak yang mengalami kenaikan. Sementara harga telur hasil ternak yang dia jual, anjlok. 

“Pak Jokowi bantu peternak beli jagung dengan harga wajar. Telur murah,” bunyi tulisan di poster tersebut.

Suroto pun membeberkan aksi yang dilakukannya tersebut hingga akhirnya poster yang dia bentangkan dirobek oleh polisi dan dirinya diamankan. Suroto mengaku selama ini dirinya dan beberapa rekan peternak di wilayah Blitar, mengalami kerugian yang sangat banyak. Mereka kesulitan menyediakan pakan untuk ternak karena harganya yang sangat tinggi. Sedangkan produk telur yang mereka jual, tidak cukup untuk menutup biaya produksi.

Suroto merasa bahwa apa yang dia dan rekan-rekanya alami selama ini, tidak diketahui oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Presiden Jokowi. Sehingga momentum kedatangan Jokowi dia manfaatkan untuk menyampaikan aspirasinya itu. Sayangnya, dia mendapatkan respon yang buruk dari aparat yang bertugas mengawal Jokowi.

“Kalau saya tidak nekat, masalah ini pasti tidak akan ditanggapi. Saya percaya masalah ini juga tidak sampai ke Pak Jokowi,” ungkap Suroto. 

Tindakan aparat kepolisian yang mengamankan poster dan juga Suroto itu terekam video warga, yang kemudian menjadi viral di media sosial. Warganet pun merespon bahwa apa yang dilakukan aparat dinilai sebagai bentuk pembungkaman, dan menunjukkan bahwa pemerintah anti kritik. 

Nasib Peternak Di Ujung Kebangkrutan

Suroto saat diwawancarai sejumlah media setelah dirinya diamankan aparat kepolisian, menceritakan nasib para peternak di wilayahnya yang berada di ujung kebangkrutan. Bahkan beberapa sudah ada yang gulung tikar. 

Di Desa Suruwadang, Kademangan, Blitar tempat tinggal Suroto, para peternak sejak puluhan tahun yang lalu sudah tidak mampu lagi berbuat banyak, karena harga jagung yang semakin lama semakin mahal, hingga menyentuh Rp6.500 per kg. Sedangkan, harga telur yang diproduksi terus anjlok, dari yang biasanya Rp21 ribu per kg, hanya menjadi Rp13,700 per kg.

Kondisi yang demikian ini kemudian memaksa para peternak untuk mengajukan pinjaman ke bank, sebagai suntikan modal. Dalam mengajukan pinjaman, tidak sedikit para peternak yang sampai harus menggadaikan sertifikat dan aset yang mereka miliki. 

Sayangnya, dengan bantuan pinjaman modal itu rupanya tidak bisa banyak membantu, terlebih kondisi yang sedang dilanda pandemi. 

“Dari kandang, harga Rp18 ribu itu sudah tidak dapat untung, tapi setidaknya bisa menutup biaya produksi dan pakan. Namun sejak tahun 2021, telur yang kami produksi tidak terserap, sehingga harganya sampai anjlok Rp13.200 per kg dari kandang,” keluh Suroto.

Suroto Meminta Solusi Jokowi

Acara yang diadakan di Istana Negara tersebut tidak hanya dihadiri oleh Suroto dan juga perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan dan Peternak Ayam Petelur saja, tetapi juga jajaran pemerintahan seperti Menteri Pertanian dan juga Menteri Perdagangan.

Kesempatan bertemu dengan Presiden Jokowi itu tidak disia-siakan oleh Suroto dan perwakilan asosiasi. Suroto pun menyampaikan langsung masalah soal harga pakan ternak yang tinggi, dan anjloknya harga jual telur ayam produksinya ke Presiden Jokowi. 

Bagi Suroto, satu-satunya orang yang menurutnya bisa memberikan solusi terbaik atas masalah yang dia alami hanyalah Presiden Jokowi. Pasalnya, Suroto dan sejumlah petani dan peternak sebelumnya telah mencoba untuk mencari solusi ke beberapa pihak yang terkait. Bahkan, dirinya pernah menyampaikan aspirasinya sampai ke Kementerian Pertanian. Sayangnya, solusi yang dia harapkan tidak kunjung dia dapat, dan kini harapan Suroso hanya ada pada Jokowi. 

Mengenai tindakan yang dia dapatkan dari aparat kepolisian yang mengamankan dirinya saat membentangkan poster, Suroto tidak mau ambil pusing. Dirinya lebih memilih untuk bersyukur, karena atas kejadian itulah aspirasinya sekarang bisa sampai didengar dan dirinya bisa bertemu langsung dengan Jokowi. 

Peternak Suroto Saat Diamankan Aparat Karena Membentangkan Poster

Jokowi Minta Kementerian Bertindak

Setelah mendengar aspirasi yang disampaikan Suroto dan juga perwakilan asosiasi petani dan peternak, Jokowi lantas memberikan arahan kepada Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk segera memberikan tindak lanjut. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa Jokowi ingin agar kebutuhan jagung di sejumlah daerah, khususnya untuk operasional para peternak bisa segera terpenuhi. Dengan demikian, harga jagung bisa kembali normal dan tidak memberatkan para peternak.

“Perintahnya adalah Mentan dan Mendag bisa mengambil langkah cepat, setidaknya pada minggu ini, supaya kebutuhan jagung di beberapa wilayah, utamanya di Klaten, Blitar dan Lampung bisa dicukupi dengan harga yang sewajarnya,” ungkap Yasin Limpo. 

Jokowi meminta permasalahan itu bisa ditangani dengan cepat, paling lambat sampai dengan pekan ini, meskipun itu nantinya harus memberikan subsidi tertentu. Yang paling penting bagi Jokowi adalah, kebutuhan para peternak bisa segera tertangani. 

Terkait harga jagung yang melambung, Mentan Yasin Limpo menjelaskan bahwa kondisi itu dipicu oleh wabah pandemi Covid-19. Pada dasarnya, tidak hanya di beberapa daerah Klaten, Blitar dan Lampung saja yang mengalami kenaikan harga jagung, tapi juga terjadi hingga ke skala global. 

Atas alasan wabah pandemi itu juga, Mentan akhirnya tidak memilih untuk melakukan impor jagung, meskipun harganya sudah sangat tinggi. 

“Telah terjadi imbalance di industri unggas. Jadi di saat harga komoditas utamanya pakan ternak naik, seperti jagung dan gandum, itu menyebabkan biaya produksi petani dan peternak juga membengkak,” tambah Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi.