google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Potensi Gempa Bumi dan Tsunami Besar Ancam Jatim, Ini Yang Harus Dilakukan Agar Selamat

Gempa Bumi dan Tsunami Besar Ancam 8 Wilayah di Jawa Timur

BPBD Jawa Timur mengungkapkan bahwa ada setidaknya 8 kabupaten di wilayahnya memiliki ancaman bencana tsunami dengan tingkat risiko tinggi, yakni di wilayah Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. 

“Jadi hampir di sepanjang bagian selatan Jawa Timur itu ada delapan kabupaten yang berdasarkan banyak kajian dari pihak BMKG, BNPB. Delapan daerah itu disebut memiliki tingkat risiko tinggi dari ancaman bencana tsunami, termasuk itu juga daerah rawan gempa bumi dengan magnitudo tinggi,” kata Yanuar Rachmadi selaku Plt Kalaksa BPBD Jatim. 

Pihaknya menjelaskan bahwa jika nantinya ada gempa bumi yang kekuatannya mencapai 8,2 skala richter yang kemungkinan terjadi di salah satu delapan kabupaten itu, maka akan memicu gelombang tsunami yang tingginya bisa mencapai 11 sampai 15 meter. 

“Gelombang tsunami pertama akan mulai tiba 25 sampai dengan 29 menit dari goncangan gempa pertama. Jadi akan menimbulkan perbedaan permukaan atau deformasi. Air sampai ke darat berdasarkan aplikasi inaris, simulasi itu bisa mencapai jarak 3 Km ke darat. Namun jika berdasarkan sejarah di Banyuwangi tahun 1994 silam, air masuk ke darat 800 meter sampai 1 Km. Sampai ke daratan tingginya tentu turun, topografi wilayah juga ikut mempengaruhi,” tambahnya. 

Pihaknya pun langsung mengambil langkah-langkah tindak lanjut untuk menyiasati jika bencana tersebut benar-benar terjadi nantinya. Salah satunya adalah dengan menggelar simulasi. 

Hal yang sama juga dilakukan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menjadi pembicara di Webinar Kajian dan Mitigasi Gempa dan Tsunami Jawa Timur. Pihaknya mengingatkan akan pentingnya persiapan mitigasi bencana sejak dini. 

“Inilah yang sedang kami jadikan skenario, kita ambil magnitudo tertinggi yakni 8,7 SR. Nah itu yang menjadi dasar skenario untuk kemudian memprediksi terjadinya tsunami, kapan terjadinya gelombang, sehingga kemudian kami bisa melakukan pemetaan bahaya tsunami,” jelas Dwikorita.

Dirinya juga mengatakan bahwa beberapa wilayah di Jawa Timur yang memiliki potensi tinggi terdampak gelombang tsunami. Berikut paparannya secara lebih mendetail:

  1. Pantai Teluk Sumbreng Trenggalek – tsunami maksimal setinggi 22 meter
  2. Pantai Popoh Tulungagung – tsunami maksimal setinggi 30 meter
  3. Pantai Muncar Banyuwangi – tsunami maksimal setinggi 18 meter
  4. Pantai Pancer Banyuwangi – tsunami maksimal setinggi 12 meter
  5. Pantai Teluk Pacitan – tsunami maksimal setinggi 22 meter
  6. Pantai Pasirian Lumajang – tsunami maksimal setinggi 18 meter
  7. Pantai Tempursari Lumajang – tsunami maksimal setinggi 18 meter

Adapun Dwikorita menjelaskan bahwa skenario dan pemantauan tersebut mulai secara aktif dilakukan setelah adanya gempa sebanyak dua kali menggoyang wilayah Jawa Timur tahun ini. 

“Jadi memang sejak awal tahun ini kami melakukan, sebelum ada kejadian gempa di Jawa Timur yang sudah dua kali ini, tepatnya di akhir tahun kami melakukan evaluasi di wilayah Indonesia. Ini mengalami peningkatan kejadian gempa bumi di beberapa daerah,” tambahnya. 

Dia kemudian menjelaskan bahwa sejak tahun 2008, sudah mulai terjadi lompatan kejadian gempa yang intensitasnya berada di kisaran 4.000 sampai 5.000 kali. Namun terhitung mulai tahun 2017, jumlahnya semakin meningkat menjadi 7.000 kali. 

Bahkan di tahun 2018 sendiri, jumlahnya mencapai puncak di angka 11.900 kali, mulai menurun di tahun 2019 dengan kisaran 11.000 kali. Sementara pada tahun 2020, jumlahnya berada di atas 8.258 kali. 

Angka tersebut diambil dari kegiatan evaluasi yang dilakukan di sejumlah klaster yang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan, khususnya di Jawa Timur yang tepatnya di sekitaran lepas pantai selatan. Termasuk juga di klaster wilayah selatan Selat Sunda, Jawa Barat, Jawa Tengah, sebelah barat Kepulauan Mentawai yang dinilai juga bisa merembet ke Sumatera Barat. 

Dari sekian banyaknya aktivitas kegempaan itu, terdapat sejumlah zona yang kosong atau biasa disebut dengan seismic gap yang belum mengalami gempa. Yang dikhawatirkan adalah, zona kosong itu akan mengeluarkan aktivitas kegempaan cukup besar, karena saat ini belum terlihat melepaskan energi sebagai gempa. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati Saat Memaparkan Potensi Gempa Bumi dan Tsunami di Jawa Timur

LIPI Khawatirkan Wilayah Padang

Menanggapi informasi yang banyak beredar mengenai potensi ancaman gempa bumi besar dan gelombang tsunami tinggi di sejumlah wilayah di Jawa Timur, ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawijaya memberikan tanggapannya.

Menurutnya, hasil kajian dari BMKG itu belum bisa dianggap valid secara ilmiah apabila tidak ada publikasi resmi. Namun meski demikian, dia juga mengamini bahwa memang ada potensi terjadinya megathrust di wilayah selatan Jawa, dan tidak ada yang tahu pasti kapan hal itu terjadi. 

Akan tetapi potensi megathrust yang dia jelaskan, tidak memiliki keterikatan dengan gempa yang akan melanda sejumlah daerah di Jawa Timur. Justru dirinya mengkhawatirkan soal potensi gempa bumi besar yang akan terjadi di sebelah barat Padang. 

“Beberapa waktu yang lalu, ada gempa-gempa di Padang, kami benar khawatir karena sebenarnya di situ megathrust-nya,” katanya. 

Potensinya semakin tinggi, karena sumber gempa besar yang diwaspadai itu telah mencapai siklus akhir dan semakin dekat dengan tahap pelepasan. Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir namun tetap mempersiapkan diri dengan mempelajari mitigasi kebencanaan.

Pahami Beda Potensi dan Prediksi

Informasi yang disampaikan pihak BMKG soal potensi gempa bumi besar dan tsunami tinggi itu sontak membuat warga menjadi panik, dan membanjiri media sosial. Kutipan dan potongan informasi dari BMKG itu muncul berseliweran, namun sayangnya tidak disertai dengan penjelasan yang lengkap. 

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Mitigasi BMKG Daryono meminta agar masyarakat tidak panik dan kemudian begitu saja mempercayai informasi yang dibagikan secara tidak bertanggung jawab di media sosial. 

Evaluasi dan Kajian Ilmiah BMKG Terkait Potensi Gempa dan Tsunami di Jawa Timur

Kepanikan itu dinilai Daryono karena banyaknya masyarakat yang tidak memahami secara lengkap penjelasan ilmiah yang disampaikan oleh BMKG. Daryono kemudian menegaskan bahwa tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa tahu kapan dan di mana akan terjadi bencana gempa bumi dan tsunami. 

Dirinya pun kembali menegaskan, bahwa pada dasarnya dirilisnya informasi dari kajian ilmiah tersebut, diharapkan bisa dijadikan sebagai respons mitigasi bencana. Menurut Daryono penjelasan ilmiah berbeda dengan prediksi, jadi antara potensi dan prediksi merupakan dua hal yang saling berbeda satu sama lain. 

Daryono pun menjelaskan jika potensi adalah menerangkan adanya lokasi dna besaran ancaman bahaya, sementara prediksi itu berarti sudah diketahui lokasi, besaran ancaman bahaya dan waktu kapan terjadinya bencana tersebut. 

Lebih lanjut soal potensi bencana alam sendiri bisa saja terjadi puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun lagi. Yang penting untuk saat ini menurut BMKG adalah persiapan mitigasi bencana kepada masyarakat, sehingga tahu apa saja tindakan yang harus dilakukan ketika bencana alam itu terjadi. 

Rumus 20-20-20 Agar Selamat

Sementara itu Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo memberikan penjelasan bahwa informasi yang diungkap oleh BMKG itu memang sebaiknya bisa diketahui sedini mungkin. 

Jika merunut sejarah yang pernah terjadi, tsunami yang melanda pantai Selatan Jawa Timur itu pernah terjadi sebanyak tiga kali di tahun-tahun sebelumnya. Dari kejadian itu, rata-rata yang dibutuhkan air hingga bisa sampai ke daratan waktunya antara 20 sampai 25 menit. 

Ini berarti, masyarakat hanya memiliki waktu sebanyak 20 menit untuk mengevakuasi diri ke tempat yang dianggap aman untuk menyelamatkan diri. Amien pun menyarankan penggunaan rumus 20-20-20 agar bisa dipahami oleh masyarakat guna melakukan mitigasi bencana tsunami. 

Rumus 20-20-20 yang dimaksud itu adalah jika gempa terasa sampai 20 detik, tanpa kemudian menunggu air laut surut, maka hendaknya segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi minimal 20 meter dalam waktu kurang dari 20 menit. 

Dirinya menilai peningkatan edukasi mengenai bencana alam sudah saatnya untuk mulai ditingkatkan. 

Upaya Yang Dilakukan

Sebagai tindak lanjut dari informasi mengenai potensi gempa bumi dan tsunami di sejumlah wilayah Jawa Timur, BPBD Jawa Timur mengaku telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi risiko kerusakan dan juga jatuhnya korban.

Plt Kalaksa BPBD Jawa Timur, Yanuar Rachmadi memberikan penjelasan bahwa bentuk mitigasi yang sudah diupayakan oleh pihak BPBD Jawa Timur antara lain dilakukan dengan memasang greenbelt. Diharapkan greenbelt ini bisa mengurangi besaran energi tsunami sebelum mencapai daratan. Dilaporkan bahwa greenbelt tersebut telah terpasang di sejumlah daerah di Banyuwangi dan juga Lumajang. 

Alat Deteksi Dini Tsunami di Laut

“Bisa kita pasang greenbelt. Atau dengan seawall seperti yang ada di Jepang. Namun yang paling memungkinkan adalah dengan memasang greenbelt. Mangrove dengan luasan sekian nantinya bisa meredam tsunami sekian. Ketika nanti air datang, masuk di antara greenbelt sehingga energinya bisa berkurang,” jelas Yanuar. 

Tak hanya itu, pihak BPBD juga semakin gencar untuk melakukan sosialisasi dari rumus 20-20-20 seperti yang telah dijelaskan di atas tadi. 

“Kesiapsiagaan ini nantinya bisa membuat orang-orang bisa cepat lari kalau ada tsunami. Dengan memahami konsep tsunami, dan mengerti sarana serta prasarananya, maka masyarakat yang berada di sekitar wilayah pantai atau yang sedang berada di pantai saat gempa terjadi, sudah mengerti apa saja tindakan yang seharusnya dilakukan,” tambahnya. 

Penghijauan di sekitar kawasan pantai pun juga telah dilakukan oleh pihak BPBD Jatim. Tujuannya agar energi tsunami yang akan masuk ke daratan bisa terpecah. Selain itu dipasang juga sebuah alat pendeteksi dini Early Warning System (EWS) di delapan kabupaten yang sebelumnya disebutkan memiliki tingkat kerawanan tinggi akan gempa dan tsunami.

“Kami juga telah menyiapkan program desa tangguh bencana (Destana) dengan mengajarkan kepada masyarakat bagaimana konsep 20-20-20 tadi. Juga membangun sejumlah jalur evakuasi bagi warga. Dalam hal ini juga perlu adanya kerja sama dengan pihak yang berwenang mengawasi pantai, sehingga bisa ada pengingat kepada masyarakat ketika potensi bencana itu benar-benar terjadi,” pungkasnya.