google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Proyek Sumur Resapan Dikritik, Anies Marahi Kontraktor

Proyek Sumur Resapan Antisipasi Banjir Anies Baswedan

Salah satu program yang diunggulkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengendalikan banjir adalah dengan membuat sejumlah sumur resapan, di sejumlah titik yang tersebar di kota metropolitan itu. Ini merupakan program prioritas dalam upaya pengendalian banjir, dan lebih detail mengenai jumlah titik yang akan dibangun ada 1.150.242. Meski demikian, proyek ini tidak akan terealisasi langsung ketika Anies menjabat, namun programnya akan dilaksanakan secara bertahap dan lintas periode kepala daerah. 

“Yang dimaksud oleh Pak Gubernur sebanyak 1,8 juta titik itu kebutuhan Jakarta, bukan akan harus dipenuhi dalam kurun waktu lima tahun atau satu tahun,” ungkap Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. 

Tercatat sampai dengan laporan terakhir pada tanggal 9 November 2021 lalu, jumlah sumur resapan yang dibangun baru selesai sebanyak 16.035 titik. Jumlah tersebut hanyalah 1% dari total titik yang ditargetkan untuk dibangun. Sementara itu anggaran yang telah dicanangkan untuk proyek sumur resapan itu mencapai Rp411 miliar. 

Namun sayangnya, di saat baru mencapai 1% jumlah yang dibangun, proyek sumur resapan itu mendapatkan tanggapan negatif dari masyarakat dan menjadi polemik. Sebab titik pembangunan sumur resapan itu dianggap tidak efektif, untuk menyerap genangan air ketika hujan sedang turun. 

Salah satu titik pembangunan sumur resapan yang mendapatkan sorotan negatif adalah yang ada di dekat Kanal Banjir Timur (KBT). Azas Tigor Nainggolan selaku Ketua Forum Warga Jakarta mengatakan tempatnya kurang efektif, karena berada sangat dekat dengan KBT. Menurutnya, air yang menggenang sebenarnya bisa langsung dialirkan ke KBT, tidak malah ditampung yang pada tempat yang pada dasarnya telah penuh dengan jalur air. 

Kemudian juga pembangunan yang ada di sekitaran Jalan Lebak Bulus III, Cilandak, Jakarta Selatan yang memakan badan jalan. Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menilai keberadaan sumur resapan di wilayah itu, justru membuat jalan menjadi rusak.

“Saat ini, jalanan yang ada di Jakarta tidak lagi rata seperti dulu, karena banyak sumur resapan dan itu pun banyak yang memprotes,” ungkap Agus. 

Anies Minta Evaluasi Kontraktor

Melihat hal ini, Anies Baswedan pun segera meminta kepada jajaran dan pihak berwenang terkait untuk mengevaluasi para kontraktor yang mendapatkan mandat membangun sumur resapan tersebut. Dirinya ingin segenap jajarannya untuk bisa memastikan proyek itu bisa berjalan dengan optimal dan tidak merugikan pihak lain, utamanya masyarakat. 

“Kami telah menginstruksikan kepada OPD terkait seperti Dinas Sumber Daya Air untuk bisa secepatnya melakukan evaluasi pekerjaan yang digarap para kontraktor dalam membangun drainase vertikal tersebut,” tegas Anies. 

Anies juga meminta para kontraktor tersebut untuk mau secara transparan dalam mengerjakan proyek itu, sehingga masyarakat bisa ikut melakukan pengawasan dan mengetahui pembangunan sumur resapan yang sedang berjalan maupun yang telah dioperasionalkan. 

Lebih lanjut, mengenai kritikan dan masukan yang dilontarkan masyarakat Anies juga memerintahkan jajarannya untuk melakukan identifikasi masalah ke lapangan dan kemudian menemukan solusinya. Nantinya pihak-pihak yang terlibat akan dikumpulkan, termasuk para kontraktor akan ditegur. Diharapkan, dari teguran tersebut proses pengerjaan sumur bisa dilakukan dengan lebih memperhatikan standar. 

“Lakukan dengan segera, panggil semua yang terlibat, termasuk mereka para kontraktor atau pelaksana proyek dan berikan mereka pesan yang tegas agar pengerjaan sesuai dengan standar, sehingga nantinya bisa berfungsi dengan optimal dan tidak mengganggu kepentingan umum, utamanya tidak membahayakan masyarakat umum,” tegas Anies.