Pulau Timor NTT Diisolasi, Imbas KLB Rabies

Petugas Melakukan Vaksinasi Rabies di Pulau Timor
Petugas Melakukan Vaksinasi Rabies di Pulau Timor

Langkah tegas dengan menutup Pulau Timor dari lalu lintas hewan pembawa rabies (HPR), seperti anjing, kucing, dan kera, diambil oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang. Terdeteksinya kasus rabies akibat gigitan anjing di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur menjadi pemicu dikeluarkannya keputusan ini. 

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, Yulius Umbu Hunggar, menyampaikan instruksi tersebut dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (1/6) malam.

Yulius menjelaskan bahwa penutupan Pulau Timor dari lalu lintas HPR telah dilaksanakan sejak Selasa (30/5) melalui jalur laut, udara, dan pintu lintas batas negara (PLBN). Hal ini berarti hewan pembawa rabies dilarang masuk dan keluar dari Pulau Timor untuk sementara waktu.

Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran rabies yang saat ini sedang mewabah di Kabupaten Timor Tengah Selatan agar tidak merambah ke pulau lain di Nusa Tenggara Timur dan negara tetangga, Timor Leste Zambia menunggu deklarasi wabah dan penetapan Kawasan Karantina Rabies oleh Kementerian Pertanian. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi wabah rabies yang semakin mengkhawatirkan di wilayah tersebut.

Bupati Timor Tengah Selatan, Egusem Pieter Tahun, dalam pesan tertulisnya menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir tercatat 12 ekor anjing rabies yang mati secara spontan. Dari jumlah tersebut, 11 ekor ditemukan di Desa Fenun dan 1 ekor di Fatulunu. Selain itu, masyarakat juga telah membunuh lima ekor anjing rabies di Desa Fenun, Kualeu, dan Fatulunu karena dianggap sebagai anjing liar yang diduga terinfeksi rabies.

Pemerintah Kabupaten TTS melaporkan bahwa ada 28 desa dari sebelumnya 21 desa yang melaporkan adanya gigitan anjing yang diduga terinfeksi rabies. Jumlah kasus gigitan anjing juga meningkat menjadi 107 kasus dari sebelumnya 72 kasus, dengan penambahan sebanyak 35 kasus baru. Dari 107 kasus tersebut, terdapat 13 orang yang menunjukkan gejala rabies, mengalami penambahan tiga kasus dari laporan sebelumnya yang mencatat 10 kasus.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa satu orang telah dirujuk untuk menjalani rawat inap di Puskesmas, sementara 105 orang menjalani rawat jalan. Sayangnya, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat rabies.

Kasus rabies di Timor Tengah Selatan terdeteksi melalui pengujian sampel organ dua ekor anjing yang dinyatakan positif oleh Laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar. Sejak Selasa (30/5), Bupati Timor Tengah Selatan telah menyatakan wabah rabies sebagai keadaan luar biasa (KLB). 

Langkah penutupan Pulau Timor dari lalu lintas hewan pembawa rabies merupakan respons cepat dan tanggap dari pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang. Tindakan ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran wabah rabies dan melindungi wilayah-wilayah lain dari ancaman penyakit ini. Pemerintah daerah juga perlu melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan, seperti mengedukasi tentang pentingnya menjaga jarak dan memeriksa kesehatan hewan peliharaan mereka.

Dalam situasi yang sedang genting ini, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan instansi terkait menjadi kunci utama dalam penanggulangan wabah rabies di Timor Tengah Selatan. Diharapkan upaya ini dapat segera membuahkan hasil yang positif dan masyarakat dapat kembali hidup dengan aman dari ancaman rabies.

Tindakan Penanggulangan

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah melakukan vaksinasi massal terhadap hewan anjing di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, setelah dilakukan penetapan kejadian luar biasa wabah rabies. Langkah ini diambil sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan penyebaran virus rabies yang semakin meluas. Pernyataan ini ditulis oleh Nuryani Zainuddin, Direktur Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian, pada hari Minggu (4/6/2023).

Dalam penjelasannya, Nuryani mengungkapkan bahwa Kementerian Pertanian telah dengan cepat mengambil tindakan dengan melakukan pemantauan langsung dan pencatatan di wilayah yang terdampak penyebaran virus rabies. Selain itu, Kementerian Pertanian juga telah mengamankan 15 ribu dosis vaksin rabies untuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta memberikan bantuan ekstra sebanyak 5 ribu dosis vaksin kepada Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, vaksinasi massal terhadap anjing di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan telah dilaksanakan secara berturut-turut mulai dari hari Kamis hingga Sabtu. Kegiatan ini akan terus dilanjutkan hingga target vaksinasi tercapai. Langkah ini merupakan bagian dari program pengendalian dan pemberantasan rabies yang telah dilakukan oleh Kementan di Indonesia. 

Lebih jauh Nuryani jelaskan, bahwa sudah ada delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari rabies. Delapan provinsi tersebut adalah provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua dan Papua Barat. Artinya dari data tersebut bahwa masih ada 25 provinsi lain yang masih menjadi daerah endemik rabies. 

Kementerian Pertanian telah mengirimkan tim pusat untuk melaksanakan vaksinasi massal dan menyebarkan informasi serta edukasi yang benar mengenai rabies. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan rabies, termasuk melarang anjing berkeliaran di luar sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus rabies, khususnya di Timor Tengah Selatan.

Bupati Timor Tengah Selatan, Egusem Pieter Tahun, menyambut baik bantuan vaksin dan kehadiran tim vaksinator dari Kementerian Pertanian yang secara langsung mendukung pengendalian wabah rabies. Dalam situasi saat ini, terdapat 128 orang yang terinfeksi rabies yang tersebar di 11 kecamatan dan 37 desa. Pihak kabupaten telah mempersiapkan tenaga medis dan petugas dari sektor peternakan untuk menangani kasus-kasus tersebut.

Dalam penjelasannya, Dianar Ati, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTS, memaparkan bahwa vaksinasi rabies secara massal yang dijalankan oleh Kementerian Pertanian merupakan langkah pertama yang sangat penting dalam menjaga keselamatan semua anjing di daerah tersebut. Ia juga menyoroti betapa pentingnya melaporkan kemajuan vaksinasi harian kepada Bupati sebagai bentuk akuntabilitas.

Kecamatan-kecamatan di Kota Soe dan Kecamatan lain yang masuk ke dalam kelompok zona merah, akan menjadi fokus penyebaran 2.500 dosis dari vaksin rabies. 

Upaya vaksinasi massal yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian merupakan langkah yang sangat penting dalam penanggulangan wabah rabies di Timor Tengah Selatan. Diharapkan, dengan adanya vaksinasi ini, penyebaran virus rabies dapat dikendalikan dan jumlah kasus infeksi dapat ditekan. Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan rabies dengan tidak membiarkan anjing berkeliaran di luar. Seluruh pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, perlu bekerja sama dalam penanganan kasus gigitan dan pencegahan penyebaran virus rabies ini.

Dengan upaya yang terus dilakukan, diharapkan wabah rabies di Timor Tengah Selatan dapat segera teratasi dan masyarakat dapat hidup dengan aman dari ancaman penyakit ini. Pemerintah dan instansi terkait diharapkan tetap aktif dalam melakukan pemantauan, vaksinasi, dan edukasi untuk mencegah penyebaran virus rabies tidak hanya di Timor Tengah Selatan, tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia yang masih terjangkit wabah rabies.

Upaya Pencegahan

Seiring dengan meningkatnya kasus rabies di beberapa area di NTT khususnya TTS,  langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat telah diambil Pemda untuk menghentikan penyebaran penyakit mematikan ini. Hingga saat ini, terdapat 13 kasus gejala pasca gigitan yang tidak khas dari total 139 kasus gigitan yang dilaporkan. 

Selain itu, ditemukan juga 14 kasus baru yang melibatkan gigitan terbaru. Salah satu pasien gigitan rabies telah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Soe. Untuk melindungi lebih banyak warga, tahap pertama vaksin anti-rabies telah diberikan kepada 45 orang.

Bukan hanya di TTS, tetapi juga di Kabupaten Malaka, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, Belu, dan Kota Kupang, pemerintah setempat telah melakukan pertemuan antara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) guna membahas upaya pencegahan penyebaran rabies. Setiap daerah melarang lalu lintas hewan pembawa rabies, terutama anjing, dari masuk atau keluar wilayah mereka.

Posko pemantauan telah didirikan di setiap terminal yang menjadi pintu masuk dan keluar kendaraan antar kabupaten/kota. Di Kota Kupang, contohnya, posko-posko tersebut berlokasi di Terminal Bimoku dan Terminal Oebobo Kupang. Petugas peternakan, kesehatan, dan aparat keamanan melakukan pemantauan di dua tempat ini untuk memastikan semua kendaraan yang masuk dan keluar diawasi dengan baik. Beberapa posko sementara juga dipasang di Kota Kupang untuk meningkatkan pengawasan.

Upaya pencegahan penyebaran rabies ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan lembaga agama. Melalui kegiatan ibadah bersama, para pastor dan pendeta memberikan pengingat kepada semua pihak, terutama pemilik anjing, untuk tetap waspada. Anjing peliharaan yang ada di rumah dapat berubah menjadi ganas dan menyerang siapa saja, termasuk pemiliknya.

Pastor Paroki RD Andreas Sikka Pr dari Gereja Katolik St. Yosep Pekerja Penfui, Kupang, dalam misa pada Minggu, 4 Juni 2023, mengingatkan ribuan umat yang hadir untuk mengikat atau mengandangkan anjing peliharaan mereka di rumah. Dia menekankan pentingnya tindakan ini agar anjing-anjing tersebut tidak berkeliaran.

“Anda sendiri yang memilih. Meninggal karena digigit anjing gila atau anjing dibunuh mati demi kalian seisi rumah dan masyarakat sekitar. Jangan sampai kecewa di kemudian hari karena terlambat mengantisipasi,” kata Andreas seperti melansir dari Detik.

Kasus rabies pada anjing peliharaan warga di TTS telah menjadi perhatian semua warga di Timor barat. Kasus ini telah menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Beberapa warga mengalami perubahan sikap mendadak, seperti mengalami ketakutan berlebihan terhadap anjing setelah kasus ini terungkap.

Agus Krivo (52), seorang warga dari Nunleu, TTS, mengungkapkan kesulitannya untuk bergerak bebas di masyarakat, termasuk pergi ke ladang. “Anjing rabies sekarang tidak hanya tinggal di desa, tetapi juga berkeliaran di hutan-hutan. Mereka dapat menyerang dengan tiba-tiba saat melihat manusia di sekitarnya,” kata Krivo melansir dari Kompas.

Krivo juga menyoroti instruksi dari gubernur mengenai kewajiban mengikat atau mengandangkan anjing, yang menurutnya tidak efektif dalam pelaksanaannya. Instruksi tersebut tidak diikuti dengan sanksi tegas bagi pemilik yang tidak mengikat atau mengandangkan anjing mereka.

Masih banyak pemilik anjing di TTS yang tidak mengindahkan aturan ini. Mereka enggan mengikat anjing peliharaan mereka. Selain itu, rantai anjing dianggap mahal. Harga rantai anjing sebelumnya hanya sekitar Rp 30.000 per utas, tetapi setelah adanya instruksi gubernur, harganya melonjak menjadi Rp 50.000-Rp 70.000 per utas.

“Memiliki kandang untuk anjing juga membutuhkan kayu. Hal ini berpotensi menyebabkan penebangan kayu secara besar-besaran. Namun, ini perlu dilakukan demi keamanan warga. Pemerintah tidak boleh melarang pengambilan kayu tersebut dalam situasi ini,” imbuhnya.

Ia berharap bahwa vaksin rabies untuk anjing dapat segera dilaksanakan. Pemilik anjing siap menjadwalkan anjing mereka untuk divaksin, tetapi mereka membutuhkan penjelasan dari petugas kesehatan hewan mengenai efek samping vaksinasi tersebut, seperti kemungkinan sterilisasi yang terjadi pada anjing setelah divaksin.

Upaya pencegahan penyebaran rabies yang melibatkan pemerintah, lembaga agama, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam mengatasi wabah ini. Kesadaran dan tindakan bersama akan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat di TTS dan sekitarnya. Semoga langkah-langkah ini dapat membantu menghentikan penyebaran rabies dan melindungi kesehatan dan keselamatan warga setempat.