google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Puma akan Menggunakan 90% Bahan Berkelanjutan untuk Produksinya pada Tahun 2025

Produksi Berkelanjutan Puma (Foto: www.fashionnetwork.com)

Sejalan dengan banyaknya industri pakaian yang beralih ke bahan-bahan ramah lingkungan, pabrik pakaian dan peralatan olahraga Puma juga mengikuti langkah mulia tersebut. Perusahaan ini telah menetapkan tujuannya untuk memproduksi 90% produknya dengan menggunakan bahan yang berkelanjutan pada tahun 2025.

Perusahaan asal Jerman ini juga akan membuat 75% poliester yang digunakannya kembali didaur ulang pada tenggat waktu ini. Pengumuman mengenai langkah strategis ini sebelumnya berhembus sejak Puma mengklaim telah berhasil menemukan sumber yang berkelanjutan sebagai bahan utama produksinya.

Merek ini mengatakan bahwa dalam proses produksinya pada tahun 2020, bahan-bahan yang digunakan untuk pakaian dan aksesorinya, antara lain viscose, cotton, dan juga bulu angsa yang ramah lingkungan. Puma juga menjelaskan bahwa tujuan dari bisnis tersebut juga untuk mengurangi konsumsi air dan bahan kimia dalam seluruh rantai produksinya.

Puma Official Store (Foto: world-architects.com)

Sementara itu, untuk bahan-bahan lain seperti kulit, lebih dari 97% bahan berasal dari sumber bersertifikat pada tahun 2020. Dengan demikian, setengah dari produk Puma terbuat dari bahan yang berkelanjutan. Perusahaan ini juga bertekad untuk memperluas penggunaan bahan daur ulang, dengan 75% poliester yang digunakan dalam desain Puma terbuat dari bahan daur ulang.

“Dalam strategi pembangunan berkelanjutan kami, kami berusaha untuk memberikan dampak positif sebesar mungkin sehingga pelanggan kami tahu bahwa, dengan membeli produk Puma, mereka membeli produk dari sumber yang berkelanjutan,” ungkap Head of Corporate Sustainability di Puma, Stefan Seidel. “Kami akan terus bekerja keras untuk mewujudkan pernyataan misi kami, yaitu menjadi lebih baik selamanya,” tambahnya.

Bukan rahasia lagi bahwa Puma telah mengejar pendekatan ramah lingkungan melalui lini produk khusus. Produk pertama yang telah diluncurkan adalah koleksi poliester daur ulang yang dinamakan ‘Exhale’. Koleksi tersebut dibuat oleh merek bersama dengan supermodel Cara Delevigne.

Cara Delevigne x Puma (Foto: about.puma.com)

Berikutnya adalah produk ‘Re.Gen’ yang diproduksi dari limbah industri Puma sendiri, mulai dari sisa kulit, kapas, hingga limbah plastik daur ulang. Kemudian ada ‘First Mile Collection’ yang dibuat dengan menggabungkan benang berbahan plastik daur ulang yang proses produksinya juga menciptakanlapangan kerja berkelanjutan di Taiwan, Haiti, dan Honduras.

Melalui konsep keberlanjutan yang telah dilakukan pada lini pakaiannya, merek ini berhasil meraup keuntungan yang signifikan. Keberhasilan tersebut kemudian mendorong perusahaan ini untuk meningkatkan upayanya dan membuat alas kaki yang ramah lingkungan secara substansial di tahun-tahun mendatang.

Rencana ini tentu patut disambut dengan optimis, mengingat berbagai pencapaian merek ini dalam mewujudkan produksi yang berkelanjutan. Sebelumnya, pada akhir tahun 2018 Puma berhasil mendapatkan 50% dari semua kapas dan 66% dari semua poliester yang digunakan dalam produksi pakaiannya dari sumber yang berkelanjutan.

(Foto: hypebeast.com)

Bahan-bahan baru tersebut bahkan termasuk poliester bersertifikat bluesign, dengan standar produksi yang menghilangkan bahan-bahan kimia berbahaya dari proses produksinya. Sementara kapasnya didapatka dari Better Cotton Initiative, yaitu sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan dampak lingkungan, sosial, serta ekonomi dari produksi kapas.

Perusahaan ini juga telah berhasil mencapai tujuannya untuk mendapatkan 90% kulit dan kertas atau karton untuk produksinya dari sumber yang lebih berkelanjutan. Bahkan, perusahaan ini berhsil mewujudkannya dua tahun lebih cepat dari jadwal yang telah direncanakan. Saat ini Puma telah menggunakan kertas dan karton bersertifikat FSC serta kulit dari penyamakan kulit dengan peringkat medali dari Leather Working Group.

Pada tahun 2020, Puma mengalami kontraksi 5% dari total penjualannya menjadi € 5,2 miliar ($ 6,3 miliar). Harapannya di tahun 2021, perusahaan asal Jerman ini mampu mengalami pertumbuhan penjualan sekitar 15% dan dapat memperoleh profitabilitas yang signifikan lebih tinggi dari apa yang dilaporkan di tahun sebelumnya. Perlu diketahui bahwa peningkatan bisnis yang dilaporkan di zona EMEA tidak cukup untuk mengimbangi penurunan yang dialaminya di kawasan Asia-Pasifik dan di pasar AS.