Rangkap Jabatan Menteri BUMN dan Menpora di Pengurusan PSSI

Zainudin Amali, Erick Thohir dan Ratu Tisha Terpilih Sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI 2023-2027
Zainudin Amali, Erick Thohir dan Ratu Tisha Terpilih Sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI 2023-2027

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk periode 2023-2027, pada hari Kamis, 16 Februari pekan lalu. Terpilihnya Erick terjadi hampir empat bulan setelah tragedi maut di Stadion Kanjuruhan di awal Oktober tahun lalu. 

Pemilihan Ketua Umum itu dilakukan sebagai bagian dari acara Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, yang diadakan di Hotel Shangri La, Jakarta. Hasilnya, Erick mendapatkan 64 suara, sementara pesaingnya, La Nyalla Mattalitti mendapatkan 22 suara. 

Setelah terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, mantan pemilik klub Liga Italia Inter Milan itu menegaskan bahwa sepakbola Indonesia harus bisa bersih terlebih dahulu, sebelum berbicara mengenai prestasi. 

“Sangat tidak mungkin bagi kita membicarakan soal prestasi, jika sepakbola itu sendiri masih belum bersih. Ini juga bukan sesuatu yang mudah,” ungkapnya kepada wartawan Jakarta Post.

Erick pun meminta kepada seluruh pemangku kepentingan di sepakbola nasional untuk bisa berani dalam membersihkan masing-masing institusinya. 

Erick Thohir merupakan seorang pebisnis, di mana dia pernah mendirikan Mahaka Group, sebuah perusahaan media dan hiburan di Indonesia yang memiliki serta mengoperasikan beberapa surat kabar dan majalah cetak. 

Kiprah Erick di dunia olahraga dimulai pada tahun 2011 silam, saat dia menjadi bagian dari sebuah konsorsium yang membeli tim NBA, Philadelphia 76ers. Dia juga memiliki sebuah tim olahraga bola basket, bernama Satria Muda. Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai pengurus kehormatan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) untuk periode 2015 sampai dengan 2019. Sejak 2006, dia juga menjadi Presiden South East Asian Basket Association (SEABA).

Kemudian, Erick juga tercatat sebagai anggota dewan FIBA, Chef de Mission kontingen asal Indonesia untuk gelaran Olimpiade London 2012, dan juga Ketua Komite Olimpiade Nasional periode 2015 sampai 2019. 

Dalam pengelolaan klub sepakbola, dia berbagi kepemilikan saham Oxford United bersama Anindya Bakrie serta Persis Solo di Liga 1 Indonesia bersama dengan Kaesang Pangarep, putra dari Presiden Joko Widodo. 

Selain Erick Thohir, ada juga nama Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali yang terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI untuk periode 2023-2027. 

Pada awalnya, posisi Wakil Ketua Umum dimenangkan oleh Zainudin Amali dan Yunus Nusi. Perolehan suaranya adalah Zainudin Amali mendapatkan 66 suara, Yunus Nusi 63 suara dan Ratu Tisha mendapatkan 41 suara. 

Namun disinyalir terjadi kecurangan, maka pemilihan ulang pun dilakukan. Hasilnya, Ratu Tisha justru berada di urutan pertama dengan memperoleh 54 suara, sedangkan Yunus Nusi dan Zainudin Amali masing-masing mendapatkan 53 dan 44 suara. 

Peristiwa menarik kembali terjadi, di mana Yunus Nusi yang seharusnya menjadi Wakil Ketua Umum 2 mengundurkan diri. Sehingga, nama Zainudin Amali kembali naik menggantikan posisi Yunus Nusi. Dengan demikian, Erick Thohir akan didampingi oleh Ratu Tisha dan Zainudin Amali dalam melaksanakan tugas sebagai pimpinan PSSI.

Rangkap Jabatan Jadi Sorotan

Dengan demikian, kepengurusan PSSI saat ini diemban oleh dua menteri yang tercatat masih aktif, yakni Menteri BUMN Erick Thohir dan Menpora Zainudin Amali. Publik pun menyorot terjadinya rangkap jabatan oleh kedua orang tersebut. 

Banyak warganet di media sosial yang mempertanyakan boleh atau tidaknya seorang menteri merangkap menjadi ketua sebuah organisasi resmi negara. Warganet pun berharap semoga mereka yang telah terpilih benar-benar orang yang kompeten serta memiliki visi misi yang bagus bagi persepakbolaan di Indonesia. 

Sementara lainnya mengkritik bahwa kedua menteri itu, Erick dan Zainudin, tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mengelola dan membenahi PSSI, karena sedang merangkap jabatan. 

Namun, menurut pakar politik dari Universitas Padjadjaran, Cecep Hidayat, baik Erick maupun Zainudin tidak melanggar aturan walau saat ini merangkap jabatan sebagai menteri dan juga pimpinan PSSI. 

Dalam penjelasannya Cecep merujuk pada Undang-Undang No.39 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa menteri dilarang untuk merangkap jabatan di sebuah organisasi yang dibiayai menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara / Daerah (APBN/APBD). 

Sementara, PSSI saat ini sudah tidak lagi menerima dana dari APBN maupun APBD sejak tahun 2015. Dengan demikian, secara aturan rangkap jabatan yang dilakukan oleh kedua menteri itu tidak menyalahi aturan perundangan yang berlaku. 

Dari segi kompetensi, Cecep juga memandang bahwa Erick dan Zainudin memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang sepakbola, dan pengalaman inilah yang menjadi salah satu syarat mutlak untuk bisa menjadi pengurus PSSI. 

Konflik Kepentingan

Meski tidak melanggar peraturan, namun kemungkinan terjadinya dampak buruk ketika ada menteri yang merangkap jabatan di sebuah organisasi cukup besar. 

“Saya lebih khawatir pada terjadinya konflik kepentingan, saat ada seseorang yang memegang dua posisi strategis di pemerintahan dan juga PSSI,” ujar Cecep seperti mengutip dari Kompas. 

Sebagai seorang Menteri BUMN, Cecep mengkhawatirkan jika nantinya Erick bakal menggunakan wewenang dan kekuasaannya untuk mendukung PSSI. Misalnya, ada program tertentu dari PSSI yang mendapatkan suntikan dana dari BUMN. Potensi korupsi pun bisa terjadi di sini.

Erick dan Zainudin juga bisa beralasan berani untuk merangkap jabatan, karena berkaca dari keputusan pemerintah sebelumnya, yang membolehkan hal semacam ini. Jika dilihat ke belakang, memang ada banyak menteri yang dibiarkan oleh pihak istana untuk memegang jabatan sebagai ketua di sebuah federasi olahraga. 

Cecep pun menyorot mengenai beban kerja yang akan ditanggung oleh Erick dan Zainudin ketika menjabat sebagai pengurus PSSI dan di saat yang sama memiliki tanggung jawab menjalankan tugas seorang menteri. 

“Ketika Erick masih punya beban untuk menyelesaikan banyak PR sebagai Ketua Umum PSSI, apakah tanggung jawabnya terhadap Kementerian BUMN akan berkurang atau bagaimana?” sambungnya. 

Cecep pun melihat ada sesuatu yang memang dicari oleh kedua orang itu, sampai harus merangkap jabatan. Salah satunya adalah budaya sebagian besar warga Indonesia yang begitu menggilai sepakbola, sehingga kinerja ketika memimpin PSSI akan bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam mendapatkan dukungan ke depannya. Entah itu di politik atau dalam hal lainnya.

“Jadi kalau misalnya dia mampu berkinerja dan berprestasi di PSSI, ini akan bisa menjadi tabungan politik yang sangat penting bagi Erick Thohir, sebagai salah satu Capres atau Cawapres ke depannya,” tutur Cecep kepada wartawan Kompas. 

Dirinya tidak menampik jika Erick memang punya pengalaman yang baik dalam hal olahraga. Namun tetap saja ada potensi terkait politik yang sedang coba diraih, di balik alasan Erick sampai harus berupaya menjadi Ketua Umum PSSI. 

Jokowi Undang Erick dan Zainudin ke Istana

Senin, 20 Februari 2023, Presiden Jokowi mengundang Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali ke Istana. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi memberikan ucapan selamat kepada jajaran pengurus PSSI yang baru. 

“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan ucapan selamat bertugas kepada Pak Erick Thohir yang menjadi Ketua Umum PSSI baru, dan untuk Bapak Zainudin Amali dan Ibu Ratu Tisha sebagai Wakil Ketua Umum, termasuk para Exco PSSI yang baru. Saya ucapkan selamat,” ujar Jokowi ketika membuka pertemuan tersebut, mengutip dari Detik.

Selain Erick dan Zainudin, tampak juga Ratu Tisha serta jajaran Exco PSSI dalam pertemuan tersebut. Sedangkan Presiden saat itu ditemani oleh Mensesneg Pratikno. 

Di hadapan pengurus PSSI yang baru, Jokowi memberikan wanti-wanti bahwa mengemban tugas yang bertujuan membenahi sepakbola Indonesia bukanlah hal yang mudah. 

“Saya paham, bukanlah sebuah tugas yang mudah jika menginginkan sepakbola kita menjadi lebih baik,” kata Jokowi menambahi.

Dalam kesempatan tersebut, Erick menyampaikan sambutannya, bahwa dirinya ingin memastikan bahwa pihaknya bersama pemerintah bisa saling bekerjasama dalam menyukseskan pembangunan sepakbola di Indonesia.

“Kerjasama dari pada pemerintah dan juga PSSI serta masyarakat sepakbola harus bisa ditingkatkan,” terang Erick. 


Erick pun sadar bahwa ada banyak hal yang perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah, di mana salah satunya adalah soal pembangunan fasilitasn sepakbola. 

Sementara itu, Zainudin Amali mengaku dalam pertemuan tersebut dirinya meminta izin kepada Jokowi. Dia mengaku siap untuk mundur dari jabatannya sebagai Menpora, jika memang hal tersebut dibutuhkan supaya bisa menjadi bagian dari kepengurusan PSSI. 

Zainudin mengatakan bahwa sebelum maju ke bursa pemilihan pengurus PSSI, dia telah mempertimbangkan dengan matang masalah ini. Dia juga sudah meminta izin kepada Jokowi waktu itu saat hendak mencalonkan diri dalam pemilihan pengurus PSSI. 

Dirinya sadar, masalah Conflict of Interest bakal muncul jika dirinya terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI, dan hal ini telah menjadi pertimbangan langkahnya ke depan. 

“Memang selama ini dan sesuai aturan tidak ada kewajiban untuk harus mundur. Akan tetapi secara etika, saya menteri yang mengurus banyak Cabor (Cabang Olahraga). Sekarang jadinya harus mengurus satu. Walaupun saya yakin bisa melakukannya, tapi saya rasa itu tidak etis,” ungkap Zainudin kala itu. 

Rencana tersebut pun harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Jokowi, dan itu tidak bisa diputuskan dengan sendirinya oleh Zainudin, walaupun ada keinginan. 

Golkar dan Jokowi Restui Menpora Mundur

Partai Golkar yang menjadi tempat bernaung Zainudin Amali selama ini, mengindikasikan bakal memberi restu jika dirinya memutuskan mundur dari jabatan sebagai Menpora, dan fokus sebagai Wakil Ketua Umum PSSI. 

Juru Bicara Partai Golkar, Tantowi Yahya mengklaim bahwa Zainudin siap untuk melepas jabatannya sebagai Menpora. Pasalnya, dinamika yang berkembang di publik saat ini banyak yang mempertanyakan soal rangkap jabatan yang dilakukan Zainudin. 

Tantowi berpandangan, Zainudin perlu untuk lebih fokus dalam mengemban tugas barunya sebagai Wakil Ketua Umum PSSI. Terlebih, pihak Golkar juga tidak akan kesulitan untuk mencari pengganti Zainudin sebagai Menpora, karena pihaknya selama ini memiliki banyak kader yang berkualitas. 

Partai Golkar pun merestui Zainudin untuk mundur sebagai Menpora dan selanjutnya akan menyerahkan keputusan yang lebih tinggi, yakni kepada Presiden Jokowi. Pasalnya, urusan pergantian menteri merupakan hak prerogatif seorang presiden. 

Di lain pihak, Zainudin yang telah menyampaikan kehendaknya untuk mengundurkan diri dari kursi Menpora dan fokus sebagai Waketum PSSI kepada Jokowi mengaku, bahwa presiden telah memahami hal tersebut. 

“Beliau menyerahkan kepada saya. Karena saya menyampaikan kepada teman-teman, saya harus memilih. Dan saya pun sampaikan itu ke Pak Presiden, ‘Bapak, saya akan fokus dan konsentrasi mengurus sepakbola, jadi pengurus PSSI’. Itu sepertinya sudah dipahami oleh beliau. Pastinya Pak Presiden akan memberikan arahan, jadi diawali dari kita dulu,” ungkap Zainudin kepada wartawan Detik.