google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Rusia-AS dan NATO Siap Perang dengan Kerahkan Pasukan di Perbatasan Ukraina

pasukan militer rusia
Pasukan Militer Rusia

Selasa kemarin tanggal 13 April 2021, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyebut bahwa Amerika Serikat dan juga negara sekutu NATO telah menjadikan Ukraina sebagai “tong mesiu”. Hal ini buntut dari pihak Barat yang menyalakan alarm tanda bahaya terkait keberadaan sejumlah tentara militer Rusia yang bergerombol di daerah perbatasan Rusia-Ukraina. 

Ryabkov menyebut bahwa Amerika dan NATO telah menambah jumlah pasokan senjata ke Ukraina. Pemberian senjata itu pun disinyalir menjadi penyebab, semakin besarnya bentrokan yang terjadi antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang mendapat dukungan dari Rusia dalam beberapa hari terakhir. Baku tembak itu pun pada akhirnya membatalkan gencatan senjata yang telah disepakati pada tahun lalu. 

Kondisi perbatasan yang semakin memanas juga membuat Rusia membangun pasukan di sekitar wilayah perbatasan antara Rusia-Ukraina. Buntut pengerahan pasukan itu pun meningkatkan kekhawatiran pihak Barat akan eskalasi besar dalam konflik yang telah berkepanjangan terjadi di wilayah timur Ukraina yang penduduknya mayoritas menggunakan bahasa Rusia. 

“Jika situasi semakin memanas, kami tentu akan melakukan segala cara guna memastikan keamanan kami dan keselamatan warga dan para pendukung kami dimanapun mereka berada. Tapi, Kiev dan sekutunya di Barat akan sepenuhnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas konsekuensi eksaserbasi hipotesis,” kata Ryabkov dalam keterangan resminya.

Adapun pendukung yang dimaksud itu adalah para warga yang berada di daerah Donetsk dan Luhansk yang selama beberapa tahun telah menjadi basis kelompok separatis yang lebih memilih memberikan dukungan ke pemerintah Rusia. 

Baca juga Fasilitas Nuklir Natanz Disabotase, Iran Balas Dendam Serang Israel

Sejak tahun 2014 silam, kelompok itu memang dikenal sangat aktif dalam melawan pemerintah Ukraina dan secara terang-terangan melontarkan klaim bahwa mereka bukan bagian dari Ukraina, melainkan bagian dari Rusia. 

Diketahui, pada hari Selasa kemarin, dua tentara Ukraina mengalami luka-luka dan seorang lainnya tewas setelah sebuah pesawat drone menjatuhkan granat ke posisi pasukan Kiev di dekat desa Mayorske, sekitar 35 kilometer dari wilayah kelompok separatis Donetsk. 

Peristiwa itu menambah daftar korban jiwa dari pasukan Ukraina yang tewas sejak tahun 2020 menjadi 79 orang. 

Sementara itu Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba mengadakan pertemuan dengan kepala NATO Jens Stoltenberg di Brussel di saat peristiwa tersebut terjadi. Pertemuan itu sendiri membahas mengenai dukungan negara-negara NATO pada Ukraina di tengah kondisi yang semakin memanas itu. 

Di lain pihak, Russia tidak membantah bahwa pihaknya tengah menambah jumlah pasukan mereka di wilayah perbatasan dengan Ukraina. Namun Rusia juga menegaskan bahwa tidak ada sama sekali rencana untuk perang dengan Ukraina. 

Rusia Bawa 80 Ribu Pasukan Ke Perbatasan Ukraina

Rusia dilaporkan telah menempatkan sebanyak 80 ribu tentara di sekitar wilayah perbatasan dengan Ukraina. Tujuan penempatan pasukan sebanyak itu pun masih menjadi misteri hingga sekarang. Lebih lanjut, dari total 80 ribu pasukan itu, sebanyak 40 ribu disiagakan di perbatasan timur Ukraina, sementara sisanya tersebar di sekitar Krimea. 

Situasi di Perbatasan Rusia – Ukraina

80 Ribu tentara itu pun telah dilengkapi dengan persenjataan dan pasokan lengkap seperti artileri, tank, dan mobil baja. Dari laporan yang didapat, pasukan-pasukan itu tampak begitu siaga dan akan siap berperang jika diperintahkan saat itu juga. Pihak Ukraina pun mencoba untuk mendapatkan penjelasan dari Rusia, namun upaya itu menemukan jalan buntu. 

Dmitry Peskov hanya memberikan penjelasan bahwa semua pihak tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keberadaan puluhan ribu tentara Rusia itu, karena menurutnya hal tersebut hanya bagian dari persiapan untuk menggelar latihan militer bersama. Namun dari penjelasan yang diberikan Dmitry, tersirat adanya sebuah ancaman yang juga tidak bisa disepelekan.

Di kesempatan yang berbeda, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menjelaskan bahwa pengerahan pasukan tersebut sebagai bagian dari strategi kesiapan tempur dan juga persiapan melakukan latihan perang. 

Keberadaan puluhan ribu pasukan itu juga dimaksudkan untuk menunjukkan pertahanan diri dari serangan yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Shoigu kemudian justru menuduh balik NATO yang selama ini mencoba memberikan gangguan kestabilan di daerah Baltik dan Polandia semenjak Rusia melakukan pencaplokan wilayah di Krimea. 

Shoigu juga menduga NATO tengah mengerahkan 40 ribu tentara dan 15 ribu persenjataan ke sejumlah wilayah dekat perbatasan Rusia. Pihaknya juga memberikan penegasan kepada Amerika dan sekutunya untuk tidak turut campur dengan melakukan pengerahan pasukan militer. 

“Secara keseluruhan 40 ribu tentara dan 15 ribu persenjataan lengkap dan perangkat militer lainnya, termasuk pesawat strategis akan terkonsentrasi di dekat wilayah perbatasan Rusia,” ungkap Shoigu. 

Dirinya juga menambahkan bahwa pengintaian wilayah udara dan laut yang dilakukan oleh pasukan NATO jumlah mengalami peningkatan hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun lalu. 

“NATO setiap tahunnya mengadakan sampai dengan 40 latihan dengan skala besar yang secara jelas menunjukkan sikap anti Rusia di Eropa. Bahkan musim semi tahun ini, NATO telah menggelar latihan Defender Europe 2021, sebuah latihan militer terbesar sejak 30 tahun terakhir,” tutur Shoigu.

Rusia meminta Amerika untuk tidak menempatkan kapal perang mereka mendekati wilayah Krimea, yang selama ini menjadi lokasi yang sangat strategis di daerah Laut Hitam. Pihaknya juga mengatakan bahwa NATO selama ini selalu mengawasi wilayah itu dengan menggelar patroli maritim rutin di sana.

“Pasukan di Eropa bergerak menuju ke perbatasan Rusia. Pasukan itu dikumpulkan di kawasan Laut Hitam dan Baltik. Amerika Serikat sedang meningkatkan intensitas pasukan di Polandia dan negara-negara Baltik, di mana mereka menerapkan konsep Four 30S,” tambahnya. 

Sebagai informasi taktik Four 30S itu adalah strategi menempatkan sebanyak 30 batalion pasukan, 30 skuadron pesawat tempur dan 30 kapal perang yang dilaksanakan dalam kurun waktu selama 30 hari. 

NATO Ultimatum Rusia

Melihat konsentrasi pasukan militer Rusia di sekitar wilayah perbatasan dengan Ukraina yang jumlahnya terus meningkat, Jens Stoltenberg pun memberikan ultimatum kepada pihak Rusia untuk segera menghentikan mobilitas pasukan militer ke daerah itu. Tujuannya adalah agar tidak terjadi peperangan antara Rusia dan Ukraina

“Beberapa bulan terakhir pihak Rusia terus mengerahkan ribuan pasukan secara bertahap ke wilayah perbatasan dengan Ukraina, di mana jumlah ini adalah yang terbesar sejak mereka mencaplok wilayah Krimea pada tahun 2014 silam. Rusia harus segera menghentikan pengerahan pasukan di perbatasan Ukraina karena hal tersebut merupakan bentuk provokasi dan lebih baik untuk meredam ketegangan yang ada dengan segera,” tegas Jens Stoltenberg. 

Setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Ukraina, Jens Stoltenberg juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken. Pertemuan tersebut juga membahas mengenai ketegangan yang terjadi di kawasan perbatasan Ukraina yang dipicu pengerahan pasukan militer oleh Rusia. 

Stoltenberg juga memberikan penjelasan mengenai adanya usulan untuk memasukkan Ukraina sebagai bagian dari NATO. Menurutnya, keputusan memasukkan Ukraina sebagai anggota NATO itu berada di tangan para negara anggota. 

Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken menegaskan pihaknya akan terus memberikan dukungan kepada Ukraina untuk bisa mempertahankan kedaulatan wilayah mereka. 

Amerika Adalah Musuh

Meskipun telah mendapatkan kecaman dari negara-negara anggota NATO dan juga Amerika, Rusia tidak bergeming. Bahkan mereka melontarkan pernyataan yang membuat situasi semakin memanas. Rusia mengatakan bahwa Amerika Serikat adalah musuh yang nyata dan berbalik memberikan ultimatum Negeri Paman Sam itu untuk segera angkat kaki dari wilayah Krimea demi kebaikan mereka sendiri. 

“Amerika adalah musuh kami dan mereka akan melakukan segala cara untuk mengganggu posisi Rusia di panggung dunia. Kami memperingatkan kepada Amerika untuk lebih baik segera menjauh dari wilayah Krimea dan pantai Laut Hitam yang menjadi wilayah kedaulatan kami. Hal tersebut demi kebaikan mereka sendiri,” tegas Wakil Menteri Luar Negeri Sergi Ryabkov. 

Amerika Kirim Dua Kapal Perang Ke Laut Hitam

Dilaporkan bahwa pekan ini akan ada dua kapal perang yang akan disiagakan Amerika di wilayah Laut Hitam. Adalah pihak Turki yang mengungkap laporan pengiriman dua kapal perang Amerika itu. Pengerahan kapal tersebut dijadwalkan pada tanggal 14 sampai 15 April ini. 

“Sebuah pesan telah dikirimkan ke kami pada 15 hari yang lalu melalui saluran diplomatik yang menyatakan akan ada dua kapal perang yang melewati Laut Hitam. Kapal tersebut akan tetap berada di sana sampai tanggal 4 Mei mendatang,” kata Menteri Luar Negeri Turki. 

Pihak Pentagon sendiri menolak untuk memberikan klarifikasi mengenai pengerahan dua kapal perang tersebut. Mereka hanya menjelaskan bahwa tujuan pengiriman kapal perang itu merupakan kegiatan militer rutin. 

“Tidak ada hal yang baru yang perlu diperbincangkan,” kata juru bicara Pentagon, John Kirby.

Memang selama ini dua kapal perang Amerika secara rutin melakukan patroli di wilayah Laut Hitam. Patroli itu biasanya akan mengerahkan sebuah kapal penjelajah dan satu kapal penghancur. Patroli itu pun disebutkan telah sesuai dengan Perjanjian Montreux yang ditandatangani pada tahun 1936 silam.

Perjanjian Montreux merupakan sebuah kesepakatan yang memberikan Turki kendali atas Selat Bosporus dan Dardanella yang menghubungkan wilayah Mediterania ke Laut Hitam. Perjanjian itu juga membatasi akses kapal perang angkatan laut negara lain dan mengatur kapal kargo asing. 

Berdasarkan pelacakan kapal yang melintas di Selat Bosporus, Amerika dan NATO memang telah meningkatkan keberadaan pasukan militer mereka di Laut Hitam sejak awal tahun ini, ketika Joe Biden menduduki kursi presiden. 

Biden Ajak Putin Diskusi

Presiden Joe Biden pun mengaku pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di mana hasil komunikasi itu akan diadakan sebuah pertemuan khusus untuk membahas ketegangan yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. 

(AP Photo/Alexander Zemlianichenko, File)

Gedung Putih mengatakan bahwa Biden dan Putin membahas masalah pengendalian senjata dan keamanan, dan Biden juga secara khusus meminta Rusia melakukan pembatasan guna mengurangi ketegangan yang terjadi. 

“Biden menyatakan rasa prihatin karena Rusia membangun pangkalan militer secara tiba-tiba di Krimea yang telah diduduki dan di sekitar perbatasan Ukraina. Biden menegaskan pihak Amerika bisa melakukan tindakan tegas untuk membela kepentingan nasionalnya dalam merespon tindakan yang dilakukan Rusia. Seperti gangguan di dunia maya dan juga campur tangan dalam pemilu Amerika,” kata Juru Bicara Gedung Putih. 

Sementara itu, Putin membalas pernyataan Biden tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya hanya melakukan pendekatan penyelesaian politik berdasarkan Protokol Minsk. Protokol tersebut adalah kesepakatan dilakukannya gencatan senjata untuk konflik yang terjadi di wilayah timur Ukraina yang disepakati pada tahun 2015 silam.