google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

SBY Kritik Kapitalisme, Sebut Adanya Skenario Gelap Berdampak Besar

Susilo Bambang Yudhoyono Berbicara Soal Skenario Gelap

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI Keenam dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat mendorong adanya sebuah perubahan yang diwujudkan dalam pembangunan secara berkelanjutan. SBY bahkan menyebut jika dalam sebuah pemerintahan tidak ada perubahan, maka Indonesia atau bahkan dunia akan mengalami skenario gelap. 

“Skenario gelap akan terjadi mana kala kita tidak berdiam saja, tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan perubahan yang dibutuhkan, business as usual,” tegas Susilo Bambang Yudhoyono.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh SBY ketika dirinya menjadi pembicara dalam acara Conference of Islamic Studies yang diadakan di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di Banda Aceh, yang berlangsung secara virtual awal pekan ini.

Pernyataan SBY itu pun lantas memicu kontroversi, dan publik mempertanyakan apa maksud dari skenario gelap yang disebut-sebut oleh SBY tersebut. Beberapa pihak menilai, itu adalah sebuah sindiran dan kritikan kepada pemerintahan saat ini. 

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani memberikan penjelasan terkait pernyataan SBY tersebut. Menurutnya, skenario gelap yang dimaksud SBY itu adalah sebuah bentuk kritikan terhadap mazhab ekonomi mainstream yang ada sekarang ini. 

“Apa yang disampaikan oleh Pak SBY itu pada dasarnya adalah menyoroti ‘keserakahan’, sebagai bentuk kritik terhadap mazhab ekonomi mainstream saat ini. Lebih dalam maknanya adalah mengenai ekonomi kapitalisme yang berwatak eksploitasi tanpa batas, sehingga penggerusan terhadap sumber daya menjadi tidak terkendali,” ungkap Kamhar Lakumani. 

Kamhar juga mengaku bahwa memang selama ini ada banyak sekali capaian atau dampak positif dari sebuah kapitalisme, namun di sisi lain juga tidak sedikit mudharat yang ditimbulkan. Menurutnya, kapitalisme telah membuat kesenjangan ekonomi dan sosial jadi terbuka lebar. Secara tidak langsung namun pasti juga memberikan dampak efek rumah kaca serta global warming. 

“Secara singkat, ekonomi yang dijalankan adalah sebuah keserakahan, bukan atas dasar kebutuhan,” tambahnya. 

Begitu besar efek kerusakan yang ditimbulkan oleh kapitalisme telah mendorong kesadaran sejumlah kelompok masyarakat akan konsep baru yakni green ekonomi atau ekonomi hijau. Sehingga jika dikaitkan dengan pernyataan yang disampaikan oleh SBY, itu sebenarnya bagian dari kritik substantif dan paradigmatik. 

“Ini bukanlah persoalan yang terjadi pada satu negara saja, akan tetapi persoalan dengan skala global. Bagaimana untuk mendorong dan mewujudkan cara pandang yang baru, dalam setiap kebijakan pembangunan yang lebih arif dan memperhatikan aspek secara berkelanjutan. Menempatkan dimensi humanis serta ekologi di setiap kebijakan pembangunan,” ujar Kamhar.

Oleh karena itu, SBY pun berharap bahwa kesadaran tersebut mampu melandasi setiap kebijakan pembangunan nasional di Tanah Air, sebagai bentuk tanggung jawab global dan juga tanggung jawab untuk generasi yang akan datang. 

Adapun, apa yang disampaikan oleh SBY mengenai skenario gelap itu didasari atas kekhawatiran dirinya, ketika melihat tingginya angka kemiskinan penduduk saat ini. Menurutnya, ada sekitar 30% penduduk dunia atau setara 2,4 miliar orang yang masuk dalam kategori miskin. Sementara di Indonesia sendiri, besaran masyarakat yang termasuk dalam kelompok miskin jumlahnya mencapai 10% dari populasi. 

SBY mencontohkan bahwa skenario gelap akan terjadi apabila pertumbuhan ekonomi di suatu negara hanya bertujuan untuk mengejar gaya hidup yang serakah. 

“Misalnya, ekonomi kita hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang semata-mata atau kita mempertahankan gaya hidup yang serakah. Bukan kebutuhan yang kita kejar, melainkan sifat keserakahan. Not need but greed,” ungkap SBY. 

SBY memperingatkan bahwa sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sekarang ini jumlahnya semakin terkuras, dan bumi pun semakin panas. Apabila tidak ada political will dari para elite politik dan kebijakan nasional serta internasional yang dimiliki lemah, maka masa depan akan menjadi sangat suram. 

“Kalau masa depan suram secara moral para pemimpin tidak bertanggungjawab, tidak bermoral untuk anak cucunya, untuk generasi di masa mendatang,” katanya. 

Praktik ekonomi yang diadopsi pemerintah sejak abad 17 telah memberikan dampak yang begitu luar biasa terhadap kondisi alam. Revolusi industri, pertanian, sampai dengan revolusi teknologi terus menguras berbagai macam sumber kehidupan. Dampaknya adalah lingkungan menjadi tercemar, bumi semakin panas, ketimpangan dan ketidakadilan juga semakin lebar. 

Menurut SBY, selama ini telah terjadi kesalahan dalam sistem ekonomi, dengan pengembangan yang dilakukan. Oleh karenanya, SBY pun mendorong tentang adanya program dan kebijakan dalam pembangunan yang berkelanjutan. Dirinya mendukung adopsi praktik green economy. Pasalnya bagi SBY, ekonomi yang dilandasi kapitalisme hanya untuk mengejar pertumbuhan berdasarkan aspek hukum dan mekanisme pasar yang absolute, yang memberikan ancaman terhadap kehidupan manusia dan tentunya bumi yang ditinggali. 

SBY pun mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk mau turut serta melakukan transformasi besar-besaran untuk menuju green economy dan pembangunan secara berkelanjutan. Nantinya, bagi siapa saja yang tidak mampu berubah akan tertinggal dan bahkan tersisihkan, seperti sebuah seleksi alam. Dalam hal ini, dirinya menekankan masyarakat Indonesia, dan khususnya pemerintahannya harus turut ambil bagian. 

“Oleh karena itu yang harus kita lakukan dengan segera adalah menyadari semua kewajiban dunia adalah semua bangsa di dunia, semua negara harus melakukan perubahan secara besar-besaran untuk menuju ke green economy dan menghadirkan sustainable development,” pungkas SBY.