google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Sejarah Konflik Israel – Palestina: Berdirinya Israel dan Perang Arab (Bag. 2)

Serangan Udara Israel ke Palestina

Inggris berhasil menguasai wilayah Palestina dalam Perang Dunia I dari tangan Mesir melalui mandat yang diberikan oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1922. Tujuan berikutnya Inggris adalah mengembalikan wilayah itu kepada Kekaisaran Ottoman. Namun karena Kekaisaran Ottoman sendiri sedang berada di ujung tanduk, nasib wilayah Palestina pun semakin tidak jelas.

Di sisi lain muncul Gerakan Zionisme yang menuntut sebagian tanah di wilayah Palestina sebagai tanah air bangsa Yahudi. Tuntutan ini pun mendapatkan persetujuan dari Inggris yang memiliki mandat untuk menguasai wilayah Palestina. Akhirnya, Inggris membagi wilayah Palestina menjadi dua, di mana sebagian untuk bangsa Arab dan sebagian untuk bangsa Yahudi. 

Bangsa Yahudi yang selama ini tinggal di berbagai belahan dunia berbondong-bondong melakukan migrasi ke tanah baru yang telah dijanjikan itu. Mereka pun bermukim di wilayah yang telah diberikan oleh Inggris tersebut sebelumnya.

Hal ini mendapatkan penolakan dari bangsa-bangsa Arab, yang kemudian memicu konflik-konflik awal dari rentetan peperangan paling berdarah antara Israel dengan Palestina hingga sekarang ini. Perang sipil pun tidak terhindarkan.

Inggris pun kewalahan dengan konflik dan aksi kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut. Mereka akhirnya memutuskan untuk mencabut mandat yang diberikan oleh Liga Bangsa-Bangsa sebelumnya pada tahun 1947. Yang mengakhiri kekuasaan mereka di wilayah Palestina itu. 

Perang pun semakin besar antara bangsa Arab dengan Yahudi, yang akhirnya PBB merekomendasikan untuk memecah wilayah Palestina menjadi dua negara, seperti yang dilakukan oleh Inggris sebelumnya. Satu untuk bangsa Arab dan satu untuk bangsa Yahudi. 

Kembali, rencana dari PBB itu ditolak oleh bangsa Arab. Pasalnya rekomendasi dari PBB itu menyebutkan bahwa bangsa Yahudi mendapatkan sebanyak 55 persen dari total wilayah Palestina, padahal populasi mereka tidak lebih dari 30 persen dari total seluruh populasi penduduk di wilayah tersebut. 

Konflik yang awalnya menempatkan bangsa Yahudi dalam posisi bertahan, dengan berbekal rekomendasi PBB itu bangsa Yahudi mulai beralih ke posisi menyerang. Perang pun bergejolak dalam skala yang lebih besar. Akhirnya ekonomi pun runtuh dan berujung pada pengusiran dan pengungsian sekitar 250 ribu warga arab yang ada di Palestina. 

Berdirinya Negara Israel dan Perang Arab

Tepatnya tanggal 14 Mei 1948, atau satu hari sebelum berakhirnya mandat Inggris, bangsa Yahudi memproklamasikan kemerdekaan mereka dan mendirikan negara bernama Israel. Hal ini memicu perang yang lebih besar yang mengawali kemerdekaan Israel. 

Gabungan lima negara Arab, yang terdiri dari Mesir, Yordania, Irak, Lebanon dan Suriah menolak berdirinya Negara Israel di atas tanah Palestina. Perang Arab-Israel pun terjadi. Bantuan militer pun berdatangan dari negara-negara Arab lainnya seperti Maroko, Sudan, Yaman dan juga Arab Saudi. 

Pasukan Israel di Perang Arab 1948

Oleh Israel, perang ini kemudian mereka sebut sebagai Perang Kemerdekaan atau Perang Pembebasan. Sementara bagi orang-orang Arab yang mendiami Palestina ini menjadi awal rangkaian peristiwa yang kemudian mereka sebut sebagai bencana. 

Digempur oleh gabungan negara-negara Arab, nyatanya tidak membuat Israel terpojok. Malahan, Israel berhasil memenangkan perang yang bergulir selama satu tahun itu. Mereka bahkan berhasil memperluas wilayah mereka, dan menguasai 70 persen dari total luas tanah yang tertuang dalam mandat PBB. Sebanyak 711 ribu lebih orang Arab di Palestina mengungsi dan banyak kaum Yahudi lainnya yang ada di negara-negara Arab terusir. 

Perang itu diakhiri dengan kesepakatan gencatan senjata. Perjanjian yang terbentuk dari peristiwa itu adalah bahwa bagian Tepi Barat dan Yerusalem Timur dianeksasi oleh Yordania, kemudian Mesir mendapatkan bagian penguasaan atas Jalur Gaza. Pada tanggal 11 Mei 1949, Israel mendapatkan persetujuan untuk menjadi anggota PBB. 

Perang di Awal Kemerdekaan Israel

Usai perang Arab-Israel yang dimenangkan oleh Negeri Zionis itu, tercatat peningkatan populasi yang begitu meledak di Israel. Dari 800 ribu menjadi 2 juta dalam kurun waktu sepuluh tahun mulai dari 1948 sampai dengan 1958. Peningkatan populasi ini tidak lepas dari terus berdatangannya orang-orang Yahudi dari negara lain. 

Mereka yang datang tidak serta-merta bisa mendapatkan tempat tinggal, melainkan harus ditempatkan terlebih dahulu di perkemahan yang kemudian dikenal dengan nama Ma’abarot. 

Politik di Israel di masa-masa kemerdekaanya didominasi oleh Gerakan Zionisme yang dipimpin oleh David Ben-Gurion yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Israel. Masalah yang dihadapi kepemimpinan Ben Gurion di awal kemerdekaan Israel adalah para pengungsi yang kembali dan tidak mendapatkan tempat tinggal yang layak. 

Sementara itu, kelompok-kelompok militer Palestina mulai melakukan serangan pada tahun 1950 an. Mereka memanfaatkan Jalur Gaza yang saat itu dikuasai oleh Mesir untuk mengirimkan serangan ke Israel. 

Sepanjang tahun 1950-an itu setidaknya terjadi 7 serangan fatal yang dilakukan oleh kelompok militan Palestina terhadap Israel. Di antaranya adalah: 

  • Serangan Yehud pada tanggal 12 Oktober 1953 yang dipimpin oleh kelompok Fedayeen. Mereka berhasil menyusup lewat Yordania, dan kemudian melemparkan bom ke rumah-rumah warga sipil Israel. Tiga orang yang merupakan Ibu dan dua orang anaknya menjadi korban dalam serangan ini. 
  • Kemudian terjadi Serangan Beit Hanan pada tanggal 29 Agustus 1955, yang kembali dimotori oleh kelompok Fedayeen ke desa Beit Hanan dan menewaskan lima orang warga Israel. Serangan dilakukan dengan menggunakan tembakan dari senjata api. 
  • Pada 11 April 1956, terjadi penyerangan di Sinagoge Shafrir yang juga dilakukan oleh kelompok Fedayeen. Dalam serangan ini mereka menyerang sebuah Sinagog dan menewaskan enam orang yang terdiri dari lima anak-anak dan seorang pekerja. 
  • 18 Hari setelah penyerangan Sinagoge Shafrir, kembali terjadi penyerangan fatal yang menewaskan Roi Rotberg, seorang petugas keamanan Israel. Dia terjebak dalam sebuah serangan yang direncanakan oleh orang Arab. Tubuhnya diseret sampai ke jalur Gaza, oleh pelaku yang kemudian diidentifikasi sebagai anggota polisi Mesir dan petani Palestina. Tubuhnya baru bisa dikembalikan ke keluarga setelah dimutilasi, dan itu pun berkat bantuan dari intervensi PBB.
  • Tanggal 16 Agustus 1956 kembali menjadi hari yang kelam bagi Israel, karena terjadi penyerangan terhadap bus yang melaju dari Tel-Aviv menuju Eliat. Bus yang dipenuhi warga Israel itu diserang oleh kelompok Fedayeen, mengakibatkan empat orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka. 
  • Seorang anggota Fedayeen menyusup ke wilayah Israel dan melakukan serangan ke fasilitas Ein Ofarim pada tanggal 12 September 1956. Tiga penjaga keamanan ditikam hingga meninggal dunia dalam peristiwa itu. Israel kemudian membalas dengan mengirimkan pasukan IDF untuk menyerang pos polisi Arendall, dan menewaskan 16 tentara Yordania. 
  • Serangan kembali dilancarkan oleh kelompok militer Fedayeen pada siang hari di tanggal 4 Oktober 1956. Mereka kemudian melakukan penembakan di jalan tol Negev. Empat orang meninggal dunia, dan hanya satu orang selamat yang diketahui adalah orang Amerika. Serangan ini juga mendapatkan balasan di Israel, dengan mengirimkan pasukan IDF untuk menyerang sebuah kantor polisi di Qalqilya, yang kemudian dikenal dengan Operasi Samaria. 18 Tentara IDF tewas, sementara korban tewas di pihak tentara Yordania diketahui sebanyak 68 orang. 

Banyaknya peristiwa serangan di tahun 1956, memicu pihak Israel untuk bertindak agresif. Mereka kemudian membentuk sebuah aliansi rahasia bersama Inggris dan Prancis. Misinya adalah untuk merebut Terusan Suez yang telah dinasionalisasi oleh pemerintah Mesir. 

Adapun kepentingan Inggris dan Prancis dalam perebutan ini adalah sebagai respon, mereka tidak lagi menjalankan operasional atas terusan itu, setelah pihak Mesir melakukan nasionalisasi. 

Dari sisi militer, aliansi Israel – Inggris – Prancis itu berhasil menguasai kembali Terusan Suez, namun dari sisi politik hal itu menimbulkan bencana baru. Mereka mendapatkan tekanan dari Amerika Serikat untuk menarik pasukan dengan ganti rugi mendapatkan jaminan hak pelayaran Israel di Laut Merah dan Terusan Suez. Amerika turut campur dalam masalah ini, karena mereka enggan untuk terlibat perang dengan Uni Soviet yang saat itu mengancam perang jika kepentingan Mesir diusik. 

Krisis Terusan Suez

Penolakan atas berdirinya negara Israel pun terus dilakukan oleh negara-negara Arab. Bahkan muncul Gerakan Nasionalisme Arab pada tahun 1967 oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasir. Gerakan melahirkan aliansi Republik Arab Bersatu yang mengambil kebijakan untuk menutup perbatasan Mesir, Suriah dan Yordania dengan Israel dan kemudian meminta pasukan perdamaian dari PBB untuk meninggalkan negara-negara itu. Gerakan ini juga melakukan blokade akses Israel terhadap Laut Merah. Perbatasan pun disiagakan dengan menerjunkan angkatan bersenjata.

Israel kemudian membalas tindakan negara-negara Arab itu dengan melakukan serangan ke pangkalan udara Mesir. Israel beralasan bahwa Mesir merencanakan invasi ke negaranya. Hal tersebut pun memicu terjadinya Perang Enam Hari. 

Angkatan udara Mesir mengalami rusak parah, dan menjadikan Israel berada di atas angin. Israel pun menggempur Mesir tanpa ada perlawanan yang berarti dari angkatan udara Mesir yang telah dilumpuhkan sebelumnya.

Gamal Abdul Nasir pun kemudian menarik pasukannya dari Semenanjung Sinai, yang kemudian berhasil dikuasai oleh pasukan Israel. Dia kemudian meyakinkan Suriah dan Yordania untuk menyerang Israel, dengan mengklaim bahwa serangan udara Israel berhasil dipatahkan. 

Sayangnya, serangan Suriah dan Yordania tidak membuahkan hasil. Israel malah berhasil membuat Yordania dan Suriah untuk menyerahkan wilayah Yerusalem Timur dan Tepi Barat, serta Dataran Tinggi Golan. 

Perang Enam Hari ini diakhiri dengan kesepakatan gencatan senjata di tanggal 11 Juni 1967. Kekuatan militer Mesir, Suriah dan Yordania dikalahkan oleh Israel. Sebanyak 20.000 pasukan militer dari aliansi Republik Arab Bersatu gugur, sementara Israel kehilangan 1.000 pasukan militernya. 

Kemenangan Israel ini diyakini karena buruknya strategi militer yang dibangun oleh aliansi Republik Arab Bersatu. Atas kemenangan ini, nama Israel pun menjadi semakin disegani di mata dunia internasional dan mempermalukan Mesir, Yordania dan Suriah.