google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Sejarah Konflik Israel – Palestina: Perebutan Wilayah dan Gerakan Zionisme (Bag. I)

konflik israel - palestina
Sejarah Konflik Israel Palestina

Dunia kembali dibuat ramai dengan konflik penuh kekerasan yang terjadi antara Israel dan Palestina. Sejak tahun 1900-an dua negara itu sudah dilanda peperangan, yang memperebutkan wilayah yang berada di sepanjang pantai timur laut Mediterania itu. Perebutan tanah yang menjadi sengketa, selalu diwarnai dengan aksi kekerasan yang mengakibatkan korban jiwa berjatuhan. 

Tanah tersebut merupakan tanah penting bagi sejumlah agama besar di dunia, di mana terdapat Masjid Al-Aqsa yang menjadi tempat suci umat Islam, Tembok Ratapan yang menjadi tempat suci kaum Yahudi dan Gereja Suci Makam Kudus yang menjadi tempat suci umat Kristen. 

Sudah tidak terhitung berapa banyak konflik yang telah terjadi, dan sebagian besar terjadi secara tidak seimbang, di mana Israel begitu mendominasi dengan peralatan militer yang jauh lebih canggih. Sementara pihak Palestina hanya mengandalkan dari kelompok-kelompok militer seperti Hamas, dan juga mobilisasi warga yang bersenjatakan batu. 

Negara-negara dunia bukan tidak tinggal diam melihat apa yang terjadi antara Israel dan Palestina, tetapi kecaman juga kerap dilontarkan, khususnya kepada Israel yang begitu agresif dalam merampas tanah yang dimiliki oleh Palestina. Sayangnya, kecaman-kecaman tersebut hanya sejauh ini hanya sebatas retorika, di balik kecaman itu, kerjasama ekonomi dan diplomatik masih dilakukan dengan Israel. 

Perebutan Wilayah Palestina Sejak Sebelum Masehi

Jika ingin memahami lebih jauh mengenai konflik antara Israel dengan Palestina, maka sangat penting untuk menarik benang merah jauh ke belakang, mulai dari bagaimana Palestina itu sendiri terbentuk. 

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa nama Palestina itu berasal dari bahasa Yunani yakni, Philistia. Ini adalah penjelasan dari sebuah literatur kuno Yunani yang membahas mengenai seluk-beluk wilayah tersebut di abad ke-12 SM. Wilayah Palestina termasuk dalam salah satu peradaban tertua di dunia. 

Philistia merupakan bentuk konfederasi dari sejumlah kota yang berada di pinggiran laut Mediterania. Kota-kota yang tergabung dalam wilayah tersebut yakni Ashdod, Ashkelon, Ekron, Gath, Gaza dan Jaffa (kini Tel Aviv). 

Philistia pada masa tahun 2500 SM dihuni oleh bangsa Kanaan yang mayoritas mendiami bagian tenggara, dan kemudian memberi nama wilayah itu dengan nama Yerusalem. Nama tersebut merupakan adopsi dari nama Dewa bangsa Kanaan. Lalu di 2000 SM datang bangsa Amorit berdampingan mendiami wilayah tenggara, yang disusul oleh bangsa Fenisia. 

Pada tahun 1200 SM, bangsa Filistin Pendo bermukim di bagian selatan, dan di tahun ini juga datang Bani Israel yang keluar dari Mesir bersama dengan Nabi Musa dan Nabi Harun yang kemudian menempati bagian timur dari Laut Mati. Kedatangan Bani Israel ini mendesak bangsa Kanaan yang lebih dulu menempati kawasan tersebut, dan akhirnya menjadi awal kekuasaan pertama raja-raja dari bangsa Israel. Dalam masa ini terdapat kerajaan Yehuda di bangsa Israel, yang nantinya melahirkan istilah bangsa Yahudi untuk menyebut penduduk kerajaan itu, dan akhirnya meluas menjadi istilah umum untuk menyebut bangsa Israel. 

Perang terjadi antara bangsa Filistin Pendo dengan bangsa Israel pada tahun 1010 SM, yang berakhir kemenangan oleh bangsa Filistin yang kemudian juga berhasil merebut Tabut Perjanjian. Sepuluh tahun berikutnya, Nabi Daud melakukan penaklukkan terhadap kota Yerusalem yang kemudian menjadikannya sebagai ibu kota dari wilayah kekuasaan Bani Israel. 

Tahun 800 SM, bangsa Asiria melakukan penaklukkan terhadap wilayah Palestina, yang kemudian diambil alih oleh Babilonia pada tahun 601 SM. Pada masa penguasaan Babilonia ini, terjadi penghancuran besar-besaran, yang menyebabkan hampir seluruh riwayat keberadaan bangsa Palestina lenyap. 

Kekuasaan Babilonia sendiri hanya bertahan selama 62 tahun, sebelum akhirnya takluk dari kerajaan Persia. Alexander Agung dari Yunani kemudian mengambil alih pada akhir tahun 330 SM, yang mengawali periode Helenisasi. Ini adalah perubahan kultural, di mana pengaruh dari kebudayaan Yunani begitu dominan. 

Pada akhir abad ke-2 SM, sebagian besar wilayah Palestina berhasil dikuasai oleh kerajaan Hashmonayim, yang merupakan salah satu dari kerajaan bangsa Israel. Namun secara lambat tapi pasti, wilayah Palestina itu menjadi vasal dari kekaisaran Roma, yang selanjutnya melakukan aneksasi penuh terhadap Palestina di tahun 63 SM. 

Kekuasaan Romawi mendapatkan pemberontakan dari bangsa Yahudi, yang kemudian direspon dengan pembantaian bangsa Yahudi, membuat bangsa Yahudi akhirnya mengungsi ke sejumlah wilayah di dunia. Pada masa kekuasaan Romawi, Palestina menjadi pusat kekristenan dunia. 

Masjid Al Aqsa

Pada tahun 636 sampai dengan 640 M, secara bertahap kerajaan-kerajaan Islam berhasil menguasai beberapa wilayah Palestina. Dalam masa ini dibangunlah Dome of Rock (Kubah Shakhrah) dan juga Masjid Al-Aqsa oleh Kekhalifahan Umayyah dan juga Kekhalifahan Rasyidin. 

Tahun 1099 terjadi Perang Salib pertama dan dimenangkan oleh Tentara Salib yang berhasil merebut dan mendirikan Kerajaan Yerusalem. Namun kemudian berhasil ditaklukkan oleh Dinasti Ayyubiyah dalam Perang Salib kedua di tahun 1187. Perang Salib Ketiga terjadi setelahnya, di mana Tentara Salib gagal merebut kembali Yerusalem. 

Wilayah Palestina sempat berada dibawah kekuasaan kerajaan Mongol, setelah Kesultanan Ayyubiyah dikalahkan pada tahun 1260. Lalu pada tahun 1516, Kekaisaran Ottoman menguasai penuh wilayah Palestina. Kejatuhan Kekaisaran Ottoman kemudian membuat wilayah Palestina dikuasai oleh Mesir pada tahun 1832. 

Tahun 1920 terjadi Perang Dunia I, di mana saat itu Liga Bangsa-Bangsa kemudian memberikan mandat kepada Inggris Raya untuk mengembalikan wilayah Palestina kepada Kekaisaran Ottoman sebagai penguasa yang sah. Sayangnya, perubahan demografis besar-besaran saat itu, memunculkan gerakan Zionisme yang ingin mengembalikan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi. 

Anti Semit dan Munculnya Zionisme

Bangsa Yahudi yang tersebar ke seluruh penjuru dunia akibat konflik-konflik di masa lalu, rupanya tidak mendapatkan sambutan yang hangat di negara-negara yang mereka tinggali itu. Bangsa Yahudi mendapatkan perlakuan yang kasar, penganiayaan, dan bahkan tindakan tidak manusiawi dari bangsa lainnya. 

Sikap dan tindakan kebencian yang mendalam terhadap bangsa Yahudi ini kemudian dikenal dengan Anti Semit. Ada banyak penyebab, mengapa bangsa Yahudi waktu itu begitu dibenci dan dimusuhi. 

Teori pertama adalah karena masalah rasial, di mana bangsa Yahudi dianggap sebagai ras inferior atau rendah, karena kebanyakan adalah pengungsi karena konflik dari tempat asal mereka. Namun, karena begitu banyak bangsa Yahudi yang kemudian tinggal di negara-negara lain, mereka rupanya juga mampu mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan, yang pada akhirnya menimbulkan kesenjangan dengan warga tuan rumah. Padahal jumlah bangsa Yahudi yang dianggap kaya dan penguasa ini tidak sebanding dengan jumlah bangsa Yahudi lain yang hidupnya sangat miskin.

Budaya yang dibawa oleh bangsa Yahudi juga menimbulkan konflik dengan masyarakat di negara yang mereka tuju, sehingga ada anggapan mereka membawa nasib buruk dan kerap dijadikan kambing hitam atas beragam masalah yang muncul. 

Di sisi lain, mereka membanggakan diri sebagai ‘Umat Pilihan Allah’ seperti yang tertulis dalam kitab suci. Hal ini yang kemudian membuat bangsa Yahudi menjadi jumawa dan arogan sehingga akhirnya menimbulkan kebencian. 

Holocaust Oleh Nazi Jerman

Salah satu sikap anti-semit yang paling terkenal adalah yang dilakukan Adolf Hitler dengan tentara Nazi-nya yang membantai jutaan kaum Yahudi yang kemudian dikenal dengan peristiwa Holocaust. 

Keinginan untuk terbebas dari penderitaan dan penyiksaan akibat sikap anti-semit, membuat sejumlah kaum Yahudi yang memiliki pengaruh kuat untuk menggaungkan Gerakan Zionisme. Kata Zionis sendiri berasal dari bahasa Ibrani Zion yang merujuk pada Gunung Sion di Yerusalem yang disebut dalam Kitab Yesaya. 

Mereka yang membentuk Gerakan Zionisme menyebut bahwa sangat mendesak untuk segera mendirikan sebuah negara yang merdeka untuk bangsa Yahudi, agar terlepas dari segala bentuk penindasan. Keyakinan ini diperkuat utamanya didasari oleh peristiwa penjajahan Nebukadnezar di bawah Kerajaan Babilonia yang membuat bangsa Yahudi harus mengungsi secara besar-besaran dari tanah sah mereka. Serta juga didasari oleh kepercayaan bahwa mereka telah dijanjikan tanah abadi di Palestina oleh Tuhan, seperti yang tertulis dalam kitab suci mereka.

Menariknya, Theodor Herzl yang menjadi ketua gerakan tersebut, mengusulkan untuk mendirikan negara Israel di wilayah Afrika Timur. Jurnalis kenamaan Yahudi itu menyebut teritorial Uganda sebagai wilayah yang dekat dengan sejarah bangsa Israel. Usulan ini tidak murni keluar dari pemikiran Herzl, melainkan juga karena ada pembahasan dengan menteri urusan kolonial Inggris saat itu yakni Joseph Chamberlain. 

Hubungan Inggris dengan bangsa Yahudi saat itu cukup harmonis, karena mereka memberikan bantuan yang terhitung sangat besar kepada Inggris dalam upaya peperangan dengan Kekaisaran Ottoman untuk merebut wilayah Palestina. 

Inggris pun kemudian menyiapkan rencana untuk memberikan solusi penampungan terhadap bangsa Yahudi di Afrika Timur itu. Tanah seluas 15.500 kilometer persegi itu pun telah disiapkan beserta dengan segala dokumen resmi pendukung serta susunan pemerintahan nantinya yang dijabat oleh orang-orang Yahudi. Sebagai informasi, wilayah Afrika Timur tersebut kala itu menjadi bagian dari teritorial Inggris.

Inilah kemudian yang dibawa oleh Herzl sebagai usulan di Kongres Zionis Keenam yang diadakan di Basel pada tanggal 26 Agustus 1903. Sayangnya usulan ini ditolak mentah-mentah oleh anggota Gerakan Zionis lainnya karena dianggap tidak sesuai dengan dasar pembentukan negara Israel yang menuntut Tanah Perjanjian di Palestina. 

Theodor Herzl Ketua Gerakan Zionisme Pertama

Hal ini juga menjadi pemicu perpecahan besar di tubuh Gerakan Zionisme. Perpecahan ini sampai menimbulkan beberapa peristiwa berdarah dan yang paling diingat adalah peristiwa penembakan Max Nordau, Wakil presiden Organisasi Yahudi dan juga tangan kanan Theodor Herzl. 

Pada Kongres Zionisme Ketujuh di tahun 1905, usulan untuk menempati wilayah Afrika Timur itu ditolak, dan organisasi pun menyatakan ketegasannya untuk berkomitmen kembali mendirikan negara di wilayah Palestina. Herzl sendiri telah meninggal dunia satu tahun sebelum kongres ketujuh digelar, sehingga penolakan itu pun berjalan dengan mulus. 

Sementara itu, wilayah di Afrika Timur seluas 15 ribu km yang tidak jadi digunakan sebagai pemukiman bangsa Yahudi itu kini menjadi bagian dari negara Kenya. 

Sebenarnya, selain wilayah Afrika Timur, ada beberapa wilayah lain yang sempat diusulkan. Seperti sebuah wilayah di Turki, Uni Soviet, wilayah pendudukan Jepang, Madagaskar, sebelah timur Semenanjung Arab (Al-Hasa).