google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Sejumlah Merek Besar Mode Bergabung dalam Inisiatif Daur Ulang Eropa Gagasan Fashion for Good

Sorting for Circularity Project (Foto: eminetra.com)

Sejalan dengan gencarnya kampanye mode berkelanjutan, sejumlah nama besar turut ambil bagian dalam pergerakan baru daur ulang tekstil melalui pelucuran Sorting for Circularity Project. Seperti namanya, proyek yang digagas oleh Fashion for Good ini bertujuan untuk meningkatkan penyortiran tekstil, sehingga lebih banyak tekstil bekas yang dapat didaur ulang alih-alih dibuang.

Beberapa merek dan pengecer ternama ikut serta dalam proyek mulia ini, termasuk Bestseller, Adidas, serta Zalando sebagai mitra merek. Kemudian ada Inditex yang bergabung sebagai mitra eksternal, serta Arvind, Birla Cellulose, Levi Strauss & Co, Otto dan PVH yang menjadi bagian dari kelompok kerja yang lebih luas.

Perusahan pakaian asal Denmark, Bestseller, berbagi mengenai keterlibatannya dalam proyek ini. Mereka mengatakan bahwa ini menjadi upaya mereka dalam memajukan daur ulang tekstil Eropa. Dapat dikatakan bahwa sistem penyortiran tekstil saat ini memang sangat bergantung pada input manual dan tidak dapat memberikan wawasan yang akurat, sebab label pakaian yang sering tidak dapat diandalkan.

Maka dari itu, Fashion for Good beserta mitra utama lainnya mengungkapkan bahwa pergerakan ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dari terlalu sedikitnya tekstil yang digunakan kembali. Tentu upaya ini dilakukan dalam skala yang lebih besar dari pada sebelumnya.

Siklus Proyek (Foto: fashionforgood.com)

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, proyek ini akan melakukan analisis limbah tekstil secara komprehensif dengan menggunakan teknologi Near Infrared (NIR). Teknologi yang dinilai akurat dan inovatif ini sekaligus akan memetakan kemampuan pendaur ulang tekstil.

Sorting for Circularity Project ini akan mengarah pada platform digital terbuka untuk mencocokkan limbah tekstil dari penyortir dengan pendaur ulang. Sehingga, memungkinkan terjadinya keselarasan dan pembangunan infrastruktur menuju sirkularitas yang harapannya menjadi lebih besar di tahun-tahun mendatang.

Menariknya, proyek ini juga berhasil menyatukan industri penyortir tekstil terbesar di kawasasan Eropa Barat Laut, termasuk Grup Boer, I: CO, JMP Wilcox, dan TEXAID. Organisasi lingkungan terakreditasi Prancis Extended Producer Responsibility (EPR), Refashion, turut serta menjadi mitra utama proyek. Refashion berperan dalam memberi masukan ke dalam metodologi serta memimpin kalibrasi pemindai NIR.

Esensi dari langkah ini berarti lebih banyak niat baik yang diterjemahkan melalui tindakan positif agar lebih sedikit limbah tekstil yang dibuang ke TPA, sebab akan kembali ke sistem. Dengan demikian, maka akan lebih sedikit tekanan pada sumber daya yang digunakan untuk membuat tekstil baru dan juga menekan polusi.

Bestseller (Foto: apparelresources.com)

Kepala karya keberlanjutan Bestseller, Dorte Rye Olsen, menyatakan bahwa label raksasa mode tersebut berharap agar investasi serta partisipasinya dalam proyek mulia ini akan mengidentifikasi cara-cara untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara industri pemilahan dan juga daur ulang.

Perwakilan dari Bestseller tersebut juga berharap agar upaya ini dapat menunjukkan bahwa limbah tekstil juga dapat dikomersialkan, sekaligus menciptakan model bisnis baru untuk penyortir. Tentunya, Sorting for Circularity Project ini juga diharapkan dapat meningkatkan tingkat sirkularitas di seluruh industri.

Sejalan dengan pemikiran dari Bestseller, Katrin Ley yang merupakan MD Fashion for Good menyatakan bahwa proyek selama 18 bulan ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang lebih erat antara penyortir dan pendaur ulang tekstil. Harapannya hal ini juga mampu merangsang pasar daur ulang tekstil serta dapat menghasilkan aliran pendapatan baru bagi para penyortir.

“Secara tradisional, industri penyortiran menghasilkan pendapatan melalui penjualan tekstil yang dapat digunakan kembali, dengan sisanya didaur ulang, dibakar atau ditimbun. Untuk mencapai sistem melingkar, dibutuhkan pasar akhir baru untuk tekstil yang tidak dapat digunakan kembali, dengan infrastruktur dan sistem pencocokan digital yang dapat mendukung aktivitas penyortir dan pendaur ulang,” ungkap Katrin