google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Wajib Diketahui Calon Penerima Vaksin, Seputar Reaksi Alergi Vaksin Covid-19

Seputar Reaksi Alergi Vaksin Covid-19

Proses distribusi vaksinasi Covid-19 sekarang ini sedang berlangsung di Indonesia yang cukup membawa kabar baik bagi kita semua. Banyak pula kalangan masyarakat yang bergiliran agar memeroleh suntikan vaksin virus corona. Meskipun demikian adanya, masih ada rasa khawatir mengenai efek samping dari vaksin Covid-19 ini kepada para kelompok yang memiliki penyakit komorbid tertentu, terutama untuk reaksi alergi.

Sebagain dari para peserta vaksinasi pun dilaporkan pernah mengalami reaksi alergi sesudah mendapatkan suntikan dosis vaksin pertama virus corona. Lantas bagaimana para penyedia layanan kesehatan dalam hal mengantisipasi hal serupa?

Cara Sederhana Untuk Menghadapi Reaksi Alergi Pada Kandungan Vaksin Covid-19

Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM selaku spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi memberikan penjelasan lengkapnya untuk cara mengatisipasi dan juga penanganan untuk reaksi alergi pada saat seseorang menerima vaksinasi Covid-19.

‘’Bila Anda sedang mengalami reaksi alergi dengan kategori cukup parah setelah disuntikkan vaksin, maka harus segera mendapatkan perawatan secara medis. Secepatnya jangan lagi ditunda- tunda.’’ Tulis Prof. Zubair dalam keterangan dari akun sosial medianya.

Alergi parah seperti yang dimaksudkan di atas ini sesuai dengan apa yang telah didefinisikan oleh CDC atau Pusat Pengendalian Penyakit Menular Amerika Serikat yaitu apabila seseorang harus segera dilarikan ke rumah sakit dan juga perlu penanganan dan pengobatan epinephrine.

Epinephrine ini merupakan jenis obat yang dipergunakan dalam kondisi gawat darurat untuk bisa mengobati reaksi alergi cukup berat. Biasanya obat ini pun akan dipakai untuk alergi parah yang diakibatkan oleh sengatan serangan, obat – obatan, makanan hingga zat bahaya lainnya.

Adapun tanda – tanda dari reaksi alergi yang cukup parah dari kandungan vaksin Covid-19 ini di antaranya adalah

  • Muncul ruam pada permukaan kulit
  • Rasa gatal – gatal
  • Lidah atau bibir menjadi bengkak
  • Tenggorokok membengakak atau gangguan pada saluran napas

Lantas Bagaimana Dengen Kelanjutan Vaksinasi Covid-19 Setelah Munculnya Reaksi Alergi?

Di Turki sempat juga dilaporkan terjadinya kasus alergi yang tengah dialami oleh para tenaga kesehatan sesudah memeroleh dosis pertama vaksin Covid-19 jenis Sinovac. Petugas kesehatan ini ternyata mempunyai alergi terhadapa penisilin dan juga mengalami serangan anafilaksis selama kurang lebih 15 menit. Tetapi, ia dapat segera pulih setelah mendapatkan penanganan dengan cepat.

Yang paling dikhawatirkan dari reaksi alergi berat terhadap vaksin Covid-19 ini ialah anafilaksis atau suatu kondisi syok diakibatkan oleh reaksi alergi berat. Alergi berat ini pun biasanya terjadi pada saat adanya reaksis sistem imun tubuh secara mendada ketika terpapar pemicu atau alergen.

Efek yang ditimbulkan juga bisa membahayakan penderitanya bahkan dapat berujung pada kematian. Tetapi, bisa pula berlangsung dengan aman tanpa meninggalkan kerusakan yang bersifat permanen bila selama masa darurat tersebut segera mendapatkan penanganan cepat dan juga tepat.

‘’Pada prinsipnya, semua orang yang sudah memeroleh vaksin Covid-19 jenis apapun tetap harus dipantau selama berada di lokasi vaksinasi. Setidaknya dipantau kurang lebih selama 15 menit,’’ jelas Prof. Zubairi.

Hal tersebut juga sesuai dengan alur pemberian vaksin Covid-19 yaitu para penerima vaksinasi ini terlebih dahulu harus menunggu selama 30 menit sesudah disuntikkan vaksin. Hal ini juga dilakukan guna mengamati reaksi dan juga antisipasi bila terjadi kemungkinan alergi yang cukup parah.

Dari total 21 laporan kasus reaksi anafilaksis pada penerima vaksinasi, ada 5 orang yang sudah diketahui alergi terhadap makanan serta 3 orang di antaranya mempunyai riwayat alergi obat – obatan.

PAPDI atau Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia sudah mengeluarkan rekomendasi terbarunya pada tanggal 9 Februari 2021 lalu, menyatakan para penerima vaksin Covid-19 jenis Sinovac untuk dosis yang pertama ternyata mengalami anafilaksis tidak boleh menerima dosis kedua vaksin Sinovac.

Kriteria Dari Kerayakan Para Penerima Vaksin Covid-19 Sinovac Rekomendasi Dari PAPDI

PAPDI sudah resmi mengeluarkan rekomendasi terbaru sesudah mengamati proses vaksinasi yang sudah berjalan sejak tanggal 14 Januari 2021 lalu.

Berikut ini ada beberapa dari kriteria seseorang yang belum boleh menerima vaksinasi Covid-19 produksi perusahaan Sinovac :

  • Memiliki reaksi alergi ini seperti anafilaksis dan juga reaksi alergi cukup berat yang diakibatkan oleh vaksin Covid-19 Sinovac ketika suntikan dosis yang pertama. Seseorang yang sedang mempunyai riwayat anafilaksis yang diakibatkan oleh komponen tertentu yang ada di dalam kandungan vaksin Sinovac.
  • Sedang memiliki penyakit autoimun sistemik, seperti hanya SLE atau systemic lupus erytematosus, Sjogren,  rheumatoid arthritis, dan juga vaskulitis. Sementara khusus untuk para penderita penyakit autoimun hematologic, tiroid autoimun, IBD atau inflammatory bowel disease layaknya vaksinasi selama remisi, terkontrol dan juga berkonsultasi dengan dokter spesialis.
  • Seseorang yang tengah mengalami infeksi akut. Bila infeksi ini sudah diatasi maka bisa pula memeroleh vaksin Covid-19 Sinovac. Untuk pasien TB tuberculosis bisa mendapatkan vaksin ini dengan persyaratan sudah menjalani pengobatan OAT atau obat anti TB selama minimal dua minggu.
  • Seseorang yang sedang mengonsumsi obat sitostatika, radioterapi dan juga imunosupresan.
  • Pengidap penyakit kanker darah, kanker tumer padat, kelainan pada darah seperti halnya imunohematologi, hemofilia, gangguan koagulasi, thalassemia, boleh dapat vaksin bisa sudah mendapatkan persetujuan dari dokter spesialis. Terlebih dahulu harus berkonsulatasi dengan dokter supaya bisa diketahui penyakitnya.
  • Penyakit kronik seperti halnya penyakit jantung, penyakit metabolic, hipertensi, asma dan PPOK, serta gangguan ginjal yang tengah dalam keadaan akut atau pun belum bisa dikendalikan.

PAPDI pun juga menjelaskan, untuk setiap orang yang sedang berada di luar kriteria di atas layak memeroleh suntikan vaksin Covid-19 Sinovac. Selain itu juga, para penyintas covid pun harus telah dinyatakan sembuh minimal 3 bulan juga masuk ke dalam kriteria layak menerima vaksin.

Kelompok Lansia Boleh Dapat Vaksin Covid-19

Badan POM secara resmi telah mengeluarkan izin penggunan darurat vaksin Covis-19 produksi Sinovac untuk kelompok lansia. Proses vaksinasi kelompok usia di atas 59 tahun ini pun sudah berlangsung sejak bulan Februari 2021 dengan mendahulukan para tenaga medis kesehatan.

Akan tetapi lansia yang boleh mendapatkan suntikan vaksin ini, selain harus terpenuhi beberapa kriteria di atas, juga harus memenuhi kriteria dari kondisi frailty atau kerapuhan.

Sebelum memeroleh vaksin, mereka juga wajib mengisi beberapa lembar kuesioner dengan berbagai macam pernyataan seputar penapisan sindrom kerapuhan. Bila nilainya di atas 2 maka seseorang belum boleh divaksin.