google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Sering disalahartikan, ‘Sakit Jiwa’ Itu Ternyata Banyak Jenisnya

Persoalan hidup yang begitu berat dihadapi oleh semua orang tentu akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Bila tidak ditangani dengan maksimal, kesehatan mental yang buruk dapat berisiko berkembang menjadi sakit jiwa. Akan tetapi, sakit jiwa ini begitu banyak jenisnya, mulai dari kecanduan dengan obat – obatan terlarang sampai dengan gangguan kepribadian. Ini semua tentu harus diperhatikan dengan detail oleh masyarakat luas.

Sakit jiwa dapat diartikan sebagai gangguan mental yang berdampak pada mood atau suasana hati, pola pikir sampai dengan tingkah laku secara umum. Individu yang disebut mengalami sakit jiwa ini, apabila gejala dan juga tanda dari gangguan jiwa yang dialami membuatnya merasa tertekan dan juga tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari – hari secara normal.

Ciri – ciri dari seseorang yang mengalami sakit jiwa ini sebenarnya berbeda – beda tergantung dari jenisnya. Namun pada umumnya, individu yang mengalami gangguan jiwa ini bisa dikenali dari beberapa gejala tertentu saja, seperti halnya perubahaan mood atau suasana hati secara dratis dari terlalu sedih hingga menjadi sangat senang atau pun sebaliknya, merasa takut secara berlebihan, sengaja menarik diri dari lingkungan sosial, merasa sangat marh sampai suka sekali melakukan kekerasan serta mengalami delusional.

Kadang, untuk gejala ini pun sering kali diiringin dengan gangguan fisik lainnya, seperti halnya sakit kepala, nyeri pada punggung, sakit perut, atau pun nyeri pada bagian tubuh lainnya yang sulit dijelaskan.

Mengenal Penyebab Dari Sakit Jiwa

Masyarakat kita sangat sulit sekali mengetahui penyebab dari sakit jiwa. Ternyata, sakit jiwa ini bisa dilatarbelakangi oleh banyak hal. Pada umumnya disebabkan oleh faktor genetik, faktor dari lingkungan sekitar, atau pun perpaduan dari berbagai faktor yang lainnya, di antaranya adalah :

  • Senyawa kimia alami di bagian otak yang bernama neurotransmitter yang berfungsi sebagai pembawa pesan ke bagian tubuh dan juga otak. Perubahan reaksi kimia ini bisa berdampak pada mood serta berbagai aspek kesehatan mental lainnya.
  • Mempunyai keluarga sedarah yang riwayat sakit jiwa. Genetik tertentu ini bisa meningkatkan risiko seseorang dapat mengalami sakit jiwa. Kemunculannya pun bisa dipicu oleh persoalan kehidupan yang sedang dialami oleh penderitanya.
  • Terpapar virus, racun, konsumsi minum minuman keras, serta obat – obatan ketika berada di dalam kandungan bisa dihubungkan dengan penyebab dari sakit jiwa.
  • Mengalami gejala yang sangat traumatis, seperti menjadi korban pemerkosaan.
  • Penggunaan obat – obatan terlarang.
  • Menjalani kehidupan yang penuh dengan tekanan, seperti faktor keuangan yang sulit, terjadi perceraian, kesedihan akibat ada anggota keluarga meninggal.
  • Mengalami penyakit kronis, seperti halnya kanker.
  • Mengalami kerusakan pada otak.
  • Memiliki sedikit atau bahkan tidak memilik teman dan merasa sendirian.
  • Sebelumnya sudah pernah mengalami sakit jiwa.

Hal di atas ini merupakan faktor risiko yang bisa membuat individu lebih mungkin untuk menderita sakit jiwa. Segera temukan solusi secepatnya, bila Anda atau pun orang di sekitar Anda mengalami salah satu dari beberapa kondisi di atas ini, untuk bisa mencegah kondisi supaya tidak memburuk sampai menjadi sakit jiwa.

Kategori Sakit Jiwa, Seperti Apa?

Pada kenyataannya, ada banyak sekali kondisi kesehatan yang bisa dikategorikan sebagai sakit jiwa. Masing – masing kelompoknya dapat dibagi menjadi jenis – jenis yang lebih spesifik lagi. Berikut ini ada beberapa kondisi yang kerap kali terjadi :

1. Gangguan Kecemasan

Individu yang sedang mengalami gangguan kecemasan ini merespons objek atau pun situasi tertentu dengan munculnya perasaan ketakutan, berkeringat, panik, serta detak jantung menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Yang dikatakan gangguan ini, apabila gejala – gejala di atas bisa tidak bisa mereka kendalikan dan sudah mengganggu aktivitas sehari – hari. Gangguan kecemasan juga bisa berupa fobia terhadap kondisi maupun situasi tertentu, gangguan kecemasan sosial, atau pun gangguan panic.

Sebagian orang pun mempunyai fobia terhadap hal yang lebih spesifik, seperti halnya fobia darah, fobia air atau tenggelam, serta fobia dengan ketinggian.

2. Gangguan Kepribadian

Individu yang tengah mengalami gangguan kepribadian ini, pada umumnya mempunyai karakter yang ekstrem dan cenderung kaku, tidak sesuai dengan kebiasaan dan norma bermasyaratakat, seperti halnya antisosial atau pun paranoid.

3. Gangguan Afektif atau Gangguan Mood

Seseorang yang sedang mengalami gangguan mood ini bisa terus – menerus merasakan kesedihan, merasa selalu bergembira dalam periode atau waktu tertentu, atau pun mempunyai perasaan yang terlalu senang dan juga sebaliknya yang bergantian secara tidak teratur.

Bentuk yang paling umum terjadi pada kondisi ini adalah gangguang bipolar, gangguan kiklomitik, serta depresi, yang mana terdapat perubahan mood atau suasana hati dari senang ke sedih tetapi masih dalam kadar yang ringan saja.

4. Gangguan Ketidakmampuan Untuk Mengontrol Keinginan

Individu dengan gangguan satu ini tidak bisa menolak dorongan yang ada di dalam dirinya untuk melakukan suatu hal yang padahal membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Untuk gangguan jiwa yang masuk dalam kelompok ini, di antaranya adalah piromania atau suka menyulutkan api, kleptomania atau dorongan untuk selalu mencuri barang – barang berukuran kecil, kecanduan konsumsi minuman keras serta obat – obatan terlarang.

5. Gangguan Psikosis

Pada gangguan satu ini dapat mengacaukan pikiran serta kesadaran manusia. Halusinasi dan delusi merupakan dua bentuk gejala yang paling sering terjadi untuk kondisi ini. Orang yang sedang mengalami halusinasi akan merasakan seolah – olah melihat atau pun mendengar suara yang pada kenyataannya tidak ada.

Sedangkan untuk delusi ini adalah hal yang tidak benar yang dipercayai oleh penderita sebagai suatu kebenaran, semisalnya delusi kejar, yang mana para penderitanya selalu merasa diikuti oleh seseorang. Contoh dari gangguang psikosis ini yang paling terkenal adalah skizofrenia.

6. Gangguan Pola Makan

Para penderita pada gangguan ini akan mengalami perubahan kebiasaan, perilaku, dan juga emosi yang berkaitan erat dengan berat badan serta makanan. Contoh dari gangguan ini yang paling umum adalah anorexia nervosa, yang mana penderita tidak akan mau makan dan memiliki ketakutan yang abnormal terhadap kenaikan berat badan.

Sementara itu untuk contoh yang lainnya adalah bulimia nervosa, yang mana penderitanya makan secara berlebihan, lalu akan memuntahkan kembali dengan sengaja. Ada pula kondisi binge – eating atau kondisi ketika individu makan secara terus – menerus dalam porsi yang banyak dan merasa tidak dapat berhenti, namun tidak disertai dengan memuntahkan makanannya kembali.

7. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD)

Untuk gangguan satu ini, pikiran dari penderita OCD akan selalu dipenuhi oleh ketakutan atau pun mikiran mengganggu yang disebut dengan istilah obsesif. Kondisi ini akan membuat penderitanya melakukan suatu perilaku yang terjadi secara terus – menerus atau berulang, disebut dengan istilah kompulsif.

Sebagai contohnya, seseorang yang secara terus menerus mencuci tangan dikarenakan ketakutan secara berlebihan kepada kuman.

8. Gangguang Pasca-Trauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD)

PTSD ini adalah gangguan mental yang terjadi setelah individu mengalami kejadian yang traumatis, seperti halnya kematian dari orang tercinta, pelecehan seksual maupun bencana alam.

9. Gangguan Penyesuaian atau Sindrom Respons Stress

Untuk gangguan satu ini terjadi saat seseorang menjadi sangat emosional dan mengalami perubahan perilaku setelah berada di kondisi di bawah tekanan, seperti halnya kondisi kritis, perceraian, kehilangan pekerjaan hingga bencana alam. Terkadang, gangguan ini pun bisa membuat seseorang menjadi berperilaku menyimpang.

10. Gangguan Disosiatif

Gangguan disoasiatif ini penderitanya akan mengalami gangguan yang cukup parah pada ingatan, identitas, serta kesadaran akan diri sendiri dan juga lingkungannya. Gangguan ini pun sering kali dikenal dengan kepribadian ganda.

11. Gangguan Seksual dan Gender

Sementara itu, untuk gangguan ini bisa berdampak pada gairah serta perilaku seksual bagi penderitanya, seperi halnya gangguan identitas gender serta paraphilia.

12. Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform ini akan mengalami nyeri atau pun sakit pada bagian tubuhnya, meskipun dokter tidak menemukan adanya gangguan medis apa pun.

Selain beberapa kondisi di atas, ada pula beberapa kondisi yang lain, seperti demesia Alzheimer dan juga gangguan tidur, keduanya dikelompokkan sebagai sakit jiwa dikarenakan melibatkan gangguan pada bagian otak.

Penyakit ini pada umumnya tida bisa membaik dengan sendiirnya atau bahkan dapat menjadi buruk bila tidak segera mendapatkan penanganan. Adapun penanganan akan disesuaikan dengan jenis, tingkat keparahan dan juga penyebab gangguan tersebut.

Sementara itu, untuk pengobatannya digunakan obat – obatan seperti halnya, antidepresi, antipsikosis, anticemas dan juga penstabil mood.

Bagi penderitanya aka langsung mendapatkan salah satu atau pun beberapa dari terapi berikut ini, seperti psikoterapi. Psikoterapi ini akan menstimulasi otak untuk menangani gangguan mental dan juga depresi, atau pun mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa.

Di samping itu juga, untuk perawatan secara medis, dukungan dari keluarga pasien, pasangan serta kondisi lingkungan yang nyaman bakalan menjadi faktor penentu dari kesembuhan penderita sakit jiwa supaya bisa kembali beraktivitas normal seperti sedia kala.