Sinyal Jokowi Duetkan Prabowo dan Ganjar di Pilpres 2024

Momen Kunjungan Kerja Jokowi, Prabowo dan Ganjar Meninjau Panen Raya di Kebumen
Momen Kunjungan Kerja Jokowi, Prabowo dan Ganjar Meninjau Panen Raya di Kebumen

Presiden Joko Widodo pada hari Kamis, 9 Maret 2023 melakukan kunjungan kerja ke Desa Lajer, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kunjungan tersebut salah satu agendanya adalah meninjau kegiatan panen raya oleh para petani di desa tersebut. Menariknya, dalam kesempatan itu Jokowi turut mengajak Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Dalam sela-sela rangkaian kegiatan, ketiga tokoh tersebut sempat melakukan sesi foto bareng, yang kemudian dibagikan oleh Sekretariat Presiden. 

Jokowi dalam foto tersebut tampak memakai kemeja warna putih, seragam dengan Prabowo. Sedangkan Ganjar mengenakan seragam dinas gubernur berwarna coklat. Selain itu, mereka juga ikut mengajak para petani yang sedang beraktivitas di sawah untuk berfoto. 

Seperti yang diduga, momen tersebut pun mendapatkan banyak tanggapan dari banyak pihak. Mayoritas menilai bahwa agenda ketiga tokoh politik itu seakan menjadi sinyal bagi Jokowi untuk kemudian menduetkan Ganjar dengan Prabowo dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang akan datang. 

Jika merujuk pada sejumlah hasil survei yang diterbitkan beberapa lembaga, nama Ganjar dan Prabowo memang sangat potensial untuk mampu memenangkan kontestasi politik yang akan digelar tidak lama lagi itu. 

Indonesia Polling Station (IPS) misalnya, pada akhir Februari kemarin mengatakan bahwa duet Prabowo dan Ganjar mendapatkan elektabilitas mencapai 58,5%. Sementara Charta Politika Indonesia pada akhir tahun lalu mengatakan bahwa elektabilitas Ganjar dan Prabowo mencapai 45,3%. 

Dalam kunjungan kerja tersebut, tampak juga hadir Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan juga Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi. Usai mengunjungi kegiatan panen raya, rombongan Presiden Jokowi selanjutnya peresmian Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) yang ada di Desa Plesung, Karangrejo, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. 

Sinyal Kuat Koalisi

Mikhael Rajamuda Bataona yang merupakan pengamat politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang menyebut bahwa kunjungan yang dilakukan Jokowi bersama Ganjar dan Prabowo memberikan dampak besar dalam arah koalisi partai politik menjelang Pilpres 2024.

“Menurut saya, kunker presiden yang membawa serta Prabowo dan Ganjar, di mana mereka begitu tampil akrab dalam mendampingi JOkowi, adalah sebuah sinyal kuat arah koalisi partai politik, khususnya PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), KIR (Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya) dan KIB (Koalisi Indonesia Bersatu),” tutur Mikhael saat dimintai keterangannya oleh wartawan Antara. 

Terlebih, dalam kesempatan itu Jokowi juga melakukan foto bersama Prabowo dan Ganjar, sehingga sinyal yang ada pun semakin terasa begitu kuat bahwa PDIP dan KIR maupun KIB akan membentuk koalisi baru guna menghadapi Pilpres mendatang. 

Dalam pandangannya, Mikhael menilai bahwa opsi koalisi besar antara ketiga pihak itu untuk bersaing melawan Anies Baswedan yang diusung oleh Koalisi Perubahan, tinggal menunggu hasil simulasi survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga terkait. 

Pergerakan politik partai politik bakal ditentukan oleh seberapa kuat pengaruh yang dimiliki oleh Jokowi. Pasalnya, baik PDIP, KIB dan juga KIR adalah para pendukung pemerintahan Jokowi, atau yang lebih kerap disebut All President’s Men. 

Potensinya pun sangat besar mengenai kekuatan yang dimiliki Jokowi yang mampu menentukan para ketua partai politik di koalisi tersebut dalam mengarahkan dukungan dari partainya. 

Di sisi lain, ada kemungkinan juga jika sinyal yang ditunjukkan Jokowi dalam kunjungan kerja itu merupakan sebuah konfirmasi jika mantan Wali Kota Solo itu juga tengah mengupayakan adanya sebuah opsi alternatif lain bagi PDIP, KIR dan juga KIB. 

“Ada pandangan juga jika Jokowi tampaknya tidak menginginkan Pilpres berjalan sampai dua putaran. Maka dirinya pun berupaya menduetkan Ganjar-Prabowo atau Prabowo-Ganjar, sehingga Pilpres hanya cukup berjalan dalam satu putaran saja,” imbuh Mikhael. 

Dengan latar belakang sosok yang berasal dari tanah Jawa, Jokowi juga cenderung bermain dengan halus, tidak mengambil langkah-langkah politik secara verbal dan lugas, melainkan lewat sejumlah pesan politis, seperti yang dia lakukan dalam kunjungan kerja tersebut. 

Tidak ada hal lain, tujuan utamanya tentu guna mendongkrak citra politik Prabowo dan Ganjar, sebagai sosok yang selama ini menjadi pendukungnya. 

“Diakui juga jika tingkat kesukaan publik terhadap Jokowi masih berada di angka 70% ke atas. Sehingga akan mudah bagi Jokowi untuk mencitrakan tokoh politik siapapun. Prabowo dan Ganjar terlebih juga orang Jokowi, sehingga itu sengaja dijadikan sebagai sebuah etalase supaya rakyat bisa menilai dan memutuskan,” terang Mikhael seperti melansir dari Antara.

Duet Paling Ideal

Tidak dipungkiri, potensi duet antara Ganjar dan Prabowo atau sebaliknya dalam Pilpres 2024 memang diharapkan masyarakat. Kedua nama itu belakangan juga terus jadi sorotan, dan dijodoh-jodohkan supaya bisa maju ke Pilpres tahun depan. 

Namun dari semua kemungkinan mengenai kedua tokoh tersebut, yang paling banyak diperbincangkan adalah soal siapa yang bakal jadi Calon Presiden (Capres) atau Calon Wakil Presiden (Cawapres). 

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo berusul supaya yang menjadi Capres adalah Prabowo sedangkan Ganjar menjadi Cawapresnya. 

“Saya rasa akan terbuka apabila Pak Ganjar mau ikut Pak Prabowo. Catatannya adalah Pak Prabowo Capres, dan saya rasa juga sudah tidak mungkin jika Pak Prabowo menjadi Cawapresnya,” ujar Hashim seperti mengutip dari Tribunnews. 

Sedangkan PDIP sendiri, menegaskan bahwa sosok capres harus berasal dari internal kader partainya. Walaupun tidak menyebut nama Ganjar Pranowo dalam pernyataannya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dengan jelas kembali menekankan bahwa capres yang diusung partainya adalah dari kader sendiri. 

“Penawaran mengenai kerjasama tentu saja dalam rangka pengusungan calon presiden, harus berasal dari PDI Perjuangan,” ujarnya saat berada di daerah Sentul, Kabupaten Bogor awal pekan ini. 

Dalam membahas mengenai cawapres, hal tersebut bisa menyesuaikan konfigurasi politik yang ada, serta kerjasama antar parpol. Terlebih, seperti yang telah diamanatkan oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang menegaskan bahwa capres harus berasal dari partainya.

“Partai akan mengusung capres dari kader internal partai. Itulah yang tengah kami perjuangkan saat ini,” pungkasnya.

Di sisi lain, dalam berbagai simulasi yang telah dilakukan, pasangan Ganjar sebagai capres dan Prabowo sebagai cawapres memiliki tingkat keterpilihan lebih tinggi dibandingkan Prabowo sebagai capres dan Ganjar sebagai cawapres. 

Bagi Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, dari simulasi yang ada, nama Ganjar dan Prabowo bisa menjadi sebuah simbol kekuatan yang sangat besar. Apalagi jika dilihat dari kacamata matematika politik, keduanya selalu berada di urutan tiga besar. 

“Bahkan dari kecenderungan tren belakangan ini, nama Pak Prabowo mampu kembali menyalip Anies Baswedan,” terang Yunarto kepada wartawan Tribunnews. 

Yang menarik dari pasangan ini, menurut Yunarto adalah baik Ganjar maupun Prabowo sama-sama mempunyai variabel komplementer tersendiri. Mayoritas para pemilih Jokowi di sejumlah survei cenderung memilih Ganjar. Sedangkan Prabowo walau sekarang posisinya menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi, pemilihnya masih banyak yang berasal dari investasi elektoral dalam dua pemilu sebelumnya. 

Kondisi kedua nama itu apabila digabungkan memiliki daya ungkit yang sangat besar, apabila dibandingkan dengan Prabowo yang diduetkan dengan Anies Baswedan.

“Jika digabungkan, dua sosok itu lebih punya daya ungkit, ketimbang misalnya kalau Pak Prabowo bergabung dengan Anies Baswedan. Mereka ini cenderung berada di ceruk yang sama,” imbuh Yunarto.

Namun, masih menurut Yunarto, apabila yang ditanyakan adalah antara Prabowo-Ganjar dan Ganjar Prabowo yang lebih tingig mana, maka memang simulasi Ganjar-Prabowo adalah yang lebih tinggi. Pasalnya, dalam hasil survei yang ada, nama Ganjar lebih unggul. 

Walaupun demikian, masa pendaftaran capres-cawapre masih cukup lama, sehingga segala sesuatunya masih bisa berubah karena dunia perpolitikan yang selalu dinamis. Yunarto pesimis jika kesepakatan pengusungan nama Ganjar dan Prabowo bisa terjadi dalam waktu dekat. 

“Dari hitung-hitungan saya, kesepakatan ini tidak mungkin akan terjadi dalam waktu dekat, di saat ada kesamaan ego untuk bisa menjadi yang paling nomor satu di antara kedua sosok yang sama-sama kuat dan berasal dari dua partai yang besar itu,” pungkasnya. 

Fokus Tugas Gubernur Jateng

Lantas, bagaimana Ganjar bereaksi atas kemungkinan dirinya berduet dengan Prabowo Subianto? Ganjar menjawab pertanyaan para awak media terkait kabar penjodohan bersama Prabowo dengan guyonan. 

Saat ditanyai, Ganjar memberikan respon dengan guyonan jika dirinya berduet saja dengan Achmad Albar, yang merupakan vokalis band legendaris Godbless. 

“Saya duetnya sama Achmad Albar saja,” ujarnya dengan tawa kepada wartawan Kompas yang meliput. 

Sementara soal potensi untuk menjadi cawapres di Pilpres yang akan datang, dirinya menjawab dengan ketidakpastian. Dirinya berkilah bahwa saat ini masih banyak pekerjaan rumah sebagai seorang Gubernur Jawa Tengah yang harus dituntaskan, termasuk mengenai tingginya elektabilitas sebagai capres.

“Wakil? Mengurusi musrenbang saja. Jawa Tengah ini PR-nya masih banyak. Kalau survei ya dibaca, tapi kan survei besok itu juga bisa turun-naik,” ujarnya dengan santai. 

Ganjar-Prabowo Cukup Satu Putaran

Political Weather Stations (PWS) baru saja merilis hasil survei terbaru mereka, yang mensimulasikan pasangan capres dan cawapres yang paling diinginkan masyarakat. Hasilnya, nama Prabowo dan Ganjar menjadi yang difavoritkan, dan jika keduanya maju sangat berpotensi Pilpres 2024 hanya berjalan dengan satu putaran. 

“Prabowo-Ganjar jauh lebih difavoritkan masyarakat ketimbang pasangan Ganjar-Erick Thohir yang belakangan juga ramai diperbincangkan,” ujar Peneliti Senior dari PWS, Sharazani MA melalui keterangan tertulisnya. 

Simulasi dimulai dengan mencari siapa sosok cawapres yang paling pas dalam mendampingi nama teratas dalam elektabilitas capres, yaitu Prabowo, Ganjar dan Anies. Selanjutnya, simulasi dilakukan soal capres yang diikuti oleh tiga pasang kandidat. 

Dari simulasi tersebut, sebanyak 24,5% publik menyebutkan nama Ganjar, kemudian ada Ridwan Kamil sebanyak 15,6%, Sandiaga Uno 12,8%, Erick Thohir 11,2% dan Khofifah 10,1%. Sedangkan nama Muhaimin Iskandar dan Puan Maharani hanya disebut tidak lebih dari 2% responden. 

Kemudian soal siapa yang cocok menjadi cawapres pendamping Ganjar, 21,5% responden memilih Ridwan Kamil, 16,3% Sandiaga Uno dan 12,8% Erick Thohir. Sementara, sosok yang pantas dalam mendampingi Anies adalah Agus Harimurti Yudhoyono yang dipilih oleh 19,9% responden. 

Di sisi lain, calon pemilih atau konstituen dari PDIP lebih cenderung memilih pasangan Prabowo-Ganjar, yakni sebanyak 55,6% pemilih. Begitu juga dengan para pemilih Gerindra, tampak solid dalam mendukung pasangan Prabowo-Ganjar, dengan 80,8%. Disusul oleh pemilih PKB sebanyak 65,5%, sekalipun Muhaimin Iskandar tidak dipilih sebagai cawapres oleh KIR.