google-site-verification=If6OFp2AVlBc1ozhWbqP0TAD0qIlciYAMuPY1RVWjtI

Tim Densus 88 Tangkap Tiga Pemuka Agama Terkait Terorisme

Tim Densus 88 Tangkap Terduga Teroris

Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Republik Indonesia (Densus 88), melakukan penangkapan terhadap tiga orang yang diduga terlibat tindak terorisme. Penangkapan tersebut dilakukan di daerah Bekasi, Jawa Barat pada hari Selasa 16 November 2021. Kabar ini pun dikonfirmasi oleh Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan.

“Benar, ada tiga orang terduga teroris yang ditangkap Densus,” katanya. 

Lebih lanjut, ketiga orang terduga teroris yang ditangkap Densus 88 itu berinisial FO, ZA dan AA. FO merujuk pada Ustaz Farid Okbah yang merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI), ZA adalah Zain An-Najah dan kemudian AA merupakan Anung Al-Hamat. 

Zain An-Najah diketahui merupakan salah satu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Merujuk pada data yang dimiliki MUI melalui situs resminya di mui.or.id, nama Zain An-Najah masih tercantum dalam daftar kepengurusan. Dia dalam daftar itu tercatat sebagai anggota Komisi Fatwa MUI Pusat dengan nomor anggota 24. 

Penangkapan Ahmad Zain An-Najah

Diketahui salah satu yang diamankan terkait kasus terorisme itu adalah Ahmad Zain An-Najah. Rupanya, Zain yang ditangkap lebih dulu yakni menjelang Subuh pukul 04.29. Dia ditangkap di rumahnya yang berada di perumahan kawasan Pondok Melati. 

Ahmad Zain An-Najah Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88

Proses penangkapan Zain dikatakan tidak berlangsung lama, tim Densus 88 mampu menangkap Zain di rumahnya itu hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Setelah menangkap Zain dan melakukan penggeledahan di rumahnya itu, tim Densus 88 pun kemudian bergerak menangkap terduga lainnya, yakni Ustaz Farid Okbah dan Anung Al-Hamat. 

Penangkapan Ustaz Farid Okbah

Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI), Ustaz Farid Okbah diketahui ditangkap di kediamannya yang berada di daerah Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Waktu penangkapannya diketahui setelah yang bersangkutan selesai melaksanakan ibadah salat Subuh, pagi tadi. 

Ketua Umum PDRI Ustaz Farid Okbah

Penangkapan Ustaz Farid Okbah ini dibenarkan oleh anggota Tim Pembela Muslim, Achmad Michdan. Tidak hanya melakukan penangkapan, menurut Michdan, tim Densus 88 Antiteror juga melakukan penggeledahan di sekitar rumah Farid Okbah. 

“Yang bersangkutan ditangkap di kediamannya, penggeledahan juga dilakukan di rumah tersebut. Kejadiannya pas selesai salat Subuh,” kata Achmad Michdan saat dimintai keterangan oleh wartawan. 

Michdan menambahkan bahwa usai melaksanakan salat Subuh, Farid hendak berangkat ke Cirebon untuk menghadiri sebuah acara, dan saat itu tim Densus 88 mendatangi rumahnya dan melakukan penangkapan serta penggeledahan untuk menemukan barang bukti terkait. 

Penangkapan Anung Al-Hamat

Selain Ustaz Farid Okbah, tim Densus 88 Antiteror juga mengamankan pria lain yang diketahui bernama Anung Al-Hamat. Berdasarkan data yang dimiliki baruaja.net, Anung adalah penulis buku yang membahas mengenai ajaran yang menyimpang, serta dia juga merupakan seorang lulusan Jurusan Hadits dari Universitas Al Azhar Kairo. 

Anung ditangkap di rumahnya yang berada di kawasan RT 01 RW 03, Jati Melati, Pondok Gede, Bekasi. Sidik Rustaman selaku Ketua RT wilayah setempat mengkonfirmasi kabar ini, dan dia juga ikut mendampingi tim Densus 88 saat melakukan penangkapan terhadap Anung. 

Anung Al-Hamat Terduga Teroris Yang Ditangkap Densus 88

“Polisi sebelumnya meminta izin, ‘Pak RT tolong mohon didampingi ada salah satu warga anda yang rumahnya akan dilakukan penggeledahan,’ tapi waktu itu saya tidak bertanya dalam rangka apa polisi sampai mau melakukan penggeledahan dan penangkapan itu,” kata Sidik. 

Diketahui, sejumlah anggota tim Densus 88 itu saat melakukan penangkapan tidak menggunakan seragam resmi, namun memakai pakaian warga biasa, termasuk juga hanya satu orang yang terlihat membawa senjata laras panjang. 

“Pakaiannya pakai pakaian preman aja sih, tidak banyak yang bawa senjata laras panjang, cuman satu saja yang bawa,” tambah Sidik. 

Menurut Ketua RT tersebut, peristiwa penangkapan Anung dilakukan pada sekitar pagi hari pukul 06.00 WIB, dan perkiraan anggota tim Densus 88 yang melakukan penangkapan 10 orang lebih. Mereka juga terlihat membawa sejumlah barang yang diduga akan digunakan sebagai alat bukti. Barang-barang yang diamankan itu mayoritas berupa buku, yang dibawa dalam dua kantong plastik. 

Anung ditangkap sendirian dari dalam rumahnya, dan tentunya peristiwa itu sempat membuat heboh dan kaget tetangga dan warga sekitar. Selama ini menurut warga Anung dikenal sebagai sosok yang baik dengan lingkungan sekitar.

Diceritakan Sidik, warga mengenal Anung sebagai seorang ustaz dan juga berprofesi sebagai dosen. Namun warga tidak begitu paham di mana tempat Anung mengajar, dan menjelaskan bahwa istri Anung juga seorang dosen. Di rumah itu, Anung sudah tinggal selama sekitar 10 tahun bersama dengan istri dan kedua anaknya. 

Beberapa jam setelah penangkapan, kediaman Anung terlihat sepi dan bangunan dengan cat tembok berwarna ungu itu terlihat tertutup tidak ada aktivitas. Kemungkinan penghuni rumah lainnya sudah meninggalkan rumah tersebut, karena pagar tampak telah dirantai dan digembok.

MUI Mengkonfirmasi Penangkapan

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi mengkonfirmasi bahwa Zain An-Najah yang ditangkap oleh tim Densus 88 Antiteror adalah anggota dari Komisi Fatwa MUI. Di mata Jaidi, Zain merupakan sosok seorang yang memiliki ilmu pengetahuan hukum agama yang sangat baik. Karena kemampuannya itu, Zain seringkali terlibat dalam sejumlah kegiatan Komisi Fatwa MUI dan juga Dewan Syariah Nasional MUI. 

Namun pihaknya menegaskan bahwa selama ini tidak memiliki hak dan kewenangan untuk mengatur seseorang melakukan kegiatan lainnya di luar MUI, karena hal tersebut menjadi urusan dan tanggung jawab pribadi tersebut masing-masing. 

“Sekarang kan kami kalau mengadakan rapat dilakukan lewat aplikasi telekonferensi Zoom, karena masa pandami. Beliau juga secara pemahaman agama sangat baik, makanya terlibat di Komisi Fatwa dan DSN MUI,” jelas Abdullah Jaidi. 

Terkait kabar penangkapan Zain, pihaknya masih akan meminta kejelasan lebih mendetail kepada pihak kepolisian, khususnya tim Densus 88 yang melakukan penangkapan tersebut. Jaidi juga tidak begitu paham apakah pihak Densus 88 selama ini memang sudah mengkaji atau melakukan penelusuran yang mendalam tentang sosok Zain atau tidak. 

“Jadi kami akan meminta informasi yang lebih detail kepada BNPT ataupun Densus, mengenai penyebab para ulama itu kenapa sampai ditangkap. Mungkin masing-masing dari mereka memiliki alasan sendiri-sendiri hingga ditangkap. Kalau terlibat, itu terlibatnya seperti apa, kita sama sekali tidak tahu soal itu. Sekarang masih belum jelas, informasi yang ada masih gamang,” ungkap Jaidir menambahkan. 

Sementara itu mengenai kabar yang menyebut bahwa Ustaz Farid Okbah adalah anggota dari Komisi Fatwa MUI, Wakil Ketua MUI Anwar Abbas membantah informasi tersebut. Dirinya mengaku bahwa Farid Okbah tidak pernah terlihat dalam setiap acara yang diselenggarakan MUI, baik itu yang digelar secara virtual maupun tatap muka langsung, selama satu tahun terakhir. 

“Saya rasa kabar itu tidak benar, karena sudah hampir satu tahun pimpinan baru ini beraktivitas, saya belum sama sekali melihat kehadiran beliau, baik itu offline maupun online. Saya pribadi begitu sangat tercengang dan kaget, mendengar kabar beliau ditangkap oleh Densus 88 terkait kasus terorisme,” jelas Anwar Abbas.

Polisi Ungkap Peran Terduga

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan membeberkan perang dari ketiga terduga teroris yang ditangkap tersebut. Menurut Ahmad Ramadhan, ketiga orang itu memiliki peran yang cukup vital di dalam organisasi Jamaah Islamiyah (JI). 

Dijelaskan bahwa Ahmad Zain An-Najah memiliki peran sebagai Dewan Syuro dari kelompok teroris Jamaah Islamiyah. Zain juga memiliki peran lain sebagai Ketua Dewan Syariah Lembaga Amal Zakat baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA). 

Lalu untuk Farid Okbah, dijelaskan memiliki peran sebagai tim sepuh atau Dewan Syuro di Jamaah Islamiyah. Sementara di LAZ BM ABA, Farid juga menjadi anggota Dewan Syariah. Pada tahun 2018, Farid diketahui pernah menggelontorkan dana sebesar Rp10 juta kepada Perisai Nusantara Esa. 

Farid Okbah juga diketahui memberikan saran kepada Arif Siswanto yang sebelumnya juga sudah ditangkap atas kasus yang sama, di mana dia menyarankan untuk membentuk sebuah wadah baru bagi para anggota Jamaah Islamiyah yang masih eksis. Pada akhirnya, dibentuklah Partai Dakwah Rakyat Indonesia atau PDRI. 

Kemudian untuk Anung Al-Hamat, diketahui menjabat sebagai anggota Pengawas Perisai Nusantara Esa pada tahun 2017, dan juga pengawas kelompok Jamaah Islamiyah. 

Polisi Amankan Ratusan Kotak Amal Danai Terorisme

Pengembangan Kasus Kotak Amal Teroris

Penangkapan ketiga orang terduga teroris itu, rupanya merupakan buntut dari pengungkapan kasus Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf. Lembaga ini adalah yang sebelumnya menyebarkan ratusan kotak amal di wilayah Lampung, di mana penggalangan dana tersebut ditujukan untuk sejumlah kegiatan terorisme. Penggalangan dana itu juga diketahui dilakukan melalui perkebunan kurma. 

Seperti yang diketahui, tim Densus 88 Antiteror Polri melakukan penyitaan terhadap 400 kotak amal pada hari Kamis, tanggal 4 November yang lalu. Lokasi penyitaan itu berada di daerah Pekon Klaten, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu. Penyelidikan awal polisi mengklaim bahwa ada setidaknya dua ribu kotak amal yang disebarkan oleh LAZ BM ABA, dan diperkirakan lembaga itu bisa mengumpulkan dana sampai dengan Rp70 juta dalam kurun waktu satu bulan. 

Nantinya dana itu utamanya digunakan untuk mengirimkan sejumlah kader Jamaah Islamiyah ke daerah-daerah yang sedang konflik, dan kegiatan ini memiliki nama program Jihad Global. Negara yang dituju biasanya adalah Suriah, Afghanistan sampai dengan Irak. 

Profil Farid Okbah dan Zain An-Najah

Ahmad Zain An-Najah dikenal sebagai sosok yang sangat memahami hukum-hukum agama, seorang ahli ilmu Syariah. Berdasarkan data dari situs pribadinya, Zain An-Najah adalah seorang lulusan Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Dia lulus dengan predikat Cum Laude pada tahun 2007 dan disertasi yang dia buat berjudul Qadhi Husen dan Pengaruhnya Dalam Bidang Fiqh. 

Zain An-Najah merupakan pria kelahiran tahun 1971 di Klaten, Jawa Tengah dan menikah tahun 2001. Dari pernikahan tersebut, Zain dikaruniai 3 orang anak. Latar belakang pendidikannya adalah S1 di Universitas Islam Madinah, mengambil jurusan Syariah Islamiyah dari tahun 1982 sampai 1996. Lalu dia melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo dengan mengambil fakultas Studi Islam Jurusan Syariah dari tahun 1997 sampai 2001. 

Sementara itu, Ustaz Farid Okbar merupakan pria kelahiran Bangil tanggal 5 Mei 1963. Dia adalah lulusan Akademi Bahasa Asing pada tahun 1987. Lalu di tahun 2002, dia mendapatkan gelar S2 di bidang Politik Islam. Farid selama ini cukup aktif di media sosial Instagram di akun pribadinya @fariokbah_official, dan kerap mengunggah aktivitas keseharian dan hadis. 

Farid adalah sosok yang sangat aktif dalam kegiatan berorganisasi. Dia adalah salah satu tokoh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), dan juga pendiri organisasi tersebut. Saat ini dia merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI). 

Ustad Farik Okbah (Kedua Dari Kiri) Saat Bertemu Jokowi

Kegiatannya sering diisi dengan menjadi pembicara sejumlah acara dakwah, bahkan dirinya juga pernah bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada bulan Juni tahun 2020 lalu di Istana Negara, dan dalam pertemuan itu dia menyempatkan memberi nasihat kepada Jokowi, seperti menegakkan salat, keadilan dan kebenaran, memilih orang yang tepat dalam pemerintahan, membasmi korupsi dan mengupayakan pemerataan ekonomi agar tidak terjadi kesenjangan sosial.